-->

Kamis, 17 Agustus 2017

Matchmaking Part 34 (Alshill)

I dont know you guys still remember this or not wkwkwk

***

Demi kegantengan Alvin yang tiada duanya, ini baru awal hari Shilla dan Chris adalah orang pertama dari daftar orang-orang yang tidak ingin ia temui. Tapi, kenapa Tuhan justru menjatuhkan copycat bule itu di hadapannya? Berani-beraninya diaberdiri tepat di pintu rumahnya, menggoda adiknya, dan yang lebih parah memonopoli ayah dan ibunya sehingga sekarang ia ter-pak-sa, benar-benar-sangat-sangat-terpaksa kalau kalian ingin tahu lebih jelas, pergi ke Parfait diantar pemuda itu.

Sekali lagi, demi kegantengan Alvin yang mengalahkan para manusia srigala *maafkan celetukan ketinggalan jaman ini karena part ini sebenernya dibuat pas lagi jaman2nya dede2 serigala di tipi dan di mana aja + mimin males ngedit pun biar cepet jadi haplum aja yah wkwk*, ia tidak sudi berada dalam mobil milik Chris. Ia tidak sudi memakai kursi yang kemungkinan pernah atau mungkin sering digunakan oleh si bule palsu alias tidak bisa bahasa inggris (fyi, ia tahu karena dulu fakta ini sudah menjadi rahasia umum di Parfait). Ia tidak sudi harus berbagi ruangan, udara, bahkan berirama napas yang sama dengan si pemuda berotot berhati sehalus kentut (sebutan ini berasal dari kejadian Chris pingsan setelah ada cicak jatuh ke atas mejanya saat pelajaran matematika). Bahkan sudah 3 kali ia mengganti menyebut Chris dengan embel-embel buruk tapi semuanya belum cukup buruk untuk mendeskripsikan betapa buruknya pemuda itu.

Shilla melirik Chris di sebelahnya dan hal itu menjadi alasannya mendengus berkali-kali. Tiap ia melakukannya,reaksi akhirnya selalu sama. Ada banyak pertanyaan yang bergentayangan di kepalanya. Tapi, hanya dua yang membuatnya begitu ingin tahu. Kenapa baru sekarang Chris datang dan mengganggu hidupnya yang sedikit terguncang karena Alvin (akhir-akhir ini)? Apa tujuan pemuda itu? Mengejar cintanya adalah jawaban paling tidak mungkin dan yang terakhir terpikir di benaknya sekaligus membuat kuduknya merinding membayangkan itu terjadi. Lalu apa? Ia bertanya-tanya dengan perasaan gondok setengah mati.

Sementara itu, Chris melihat temannya pagi ini yang terus saja melirik ke arahnya sambil menahan senyum geli. Ia suka melihat reaksi Shilla ketika panik. Ia suka membuat Shilla kalang kabut karena ulahnya. Ia bahkan menunggu saat-saat asap-asap emosi itu mengepul dari seluruh lubang yang ada di wajahnya. Semuanya tampak lucu dan menggemaskan. Meski kadang ia merasa bersalah karena ia akan menjadi alasan gadis itu bertambah tua lebih cepat. Tapi rasa sukanya lebih tinggi daripada rasa bersalahnya.

“Segitu senengnya gue anter sampe lo ga berenti ngeliatin gue?” godanya yang langsung disambut wajah sinis Shilla.

“Jangan sampe lo gue lempar keluar dari mobil bangke lo ini!” Kata-kata kejam Shilla tsb malah dibalas dengan wajah sumringah Chris. Shilla sampai berjengit heran. “Gue anggap itu sebagai ungkapan betapa bahagianya lo pagi ini berangkat sama gue.” Katanya sungguh tak tahu diri seraya mengedipkan sebelah mata.

Shilla memandang hal itu ngeri sambil mengerucutkan bibir. Ingin menangis rasanya berbicara dengan Chris. Ia frustasi. Apa yang harus ia katakan agar pemuda itu ‘mengerti’ ucapannya? Dan bagaimana ia bisa membuat pemuda itu mengerti kalau setiap kata-kata tidak menyenangkan yang ia katakan akan selalu diartikan sebaliknya?

“Terserah!” pasrah Shilla pada akhirnya. Tak ada gunanya berbicara dengan orang gila.

***

Untuk 3 hari ke depan sepertinya Alvin harus bolak-balik mencatatkan namanya di daftar tamu perpustakaan. Bagaimana tidak? Sebagai konsekuensi dari ketidakhadirannya dalam pelajaran bahasa Indonesia, dimana ia telah melewatkan 1 pengambilan nilai drama, 1 pengambilan nilai baca puisi, waktu untuk mengumpulkan tugas resensi serta 1 ulangan harian, gurunya tercinta itu memberikan banyak hadiah indah, katanya. Indah baginya berarti merepotkan untuk Alvin.

1.    Membuat 2 makalah masing-masing tentang perkembangan puisi dan teater yang sumbernya harus dari buku yang ada diperpustakaan dan tidak boleh dari internet sama sekali (ini nih yang bikin buta internet masih ngetrend di Indo, nyari referensi aja gaboleh).
2.    Membuat resensi novel angkatan 20 (buat gue yang pantun aja minta bikinin, ini bener-bener ujian berat).
3.    Semuanya dikumpulkan dalam 5 hari (bener-bener kriminal).
4.    Jangan lupa 2 hari lagi ulangan susulan (patah, otak gue patah).

Andai saja hari itu ia tidak berhenti dan menyebrang jalan. Febby tidak akan punya kesempatan untuk menabraknya dan membuat kakinya retak. Ah, mengingat itu membuatnya teringat akan kekesalannya pada Febby. Bukan, lebih tepatnya Oik karena gadis itu yang berada dibalik drama tabrak sengaja tersebut.

“Kalo kaki gue udah bener-bener sembuh, abis lo!” umpatnya dengan amarah tertahan, berhubung ia sedang berada di dalam perpustakaan.

“Lo sekarang udah mulai ngomong sama buku, Vin?” Suara serak khas milik Febby sayup-sayup terdengar di telinganya. Alvin menoleh ke samping di posisi gadis itu berada, berdiri sambil memegang dua minuman kaleng di tangannya, menatapnya bingung sekaligus ngeri. Sekedar info, perpustakaan sekolahnya memperbolehkan membawa minuman namun tidak untuk makanan. Ia menyambar salah satunya, membukanya dengan segera dan meneguknya hingga hamper setengah. Entah sejak kapan hubungannya dengan gadis itu menjadi damai seutuhnya begini.

“Gue mesti ngerjain apa? Kerangka makalahnya udah lo bikin? Udah sampe mana? Ide puisinya udah ada? Novelnya udah ketemu? Apa aja?” Pertanyaan membabi buta dari Febby membuat nafas Alvin tersendat-sendat. Ia baru sadar sudah membuang-buang waktu dengan merutuki nasib dan mempertanyakan kenapa semua itu bisa terjadi. Sementara hal itu tidak akan membuat tugas-tugasnya terselesaikan.

Alvin meringis lalu membenturkan dahinya pelan ke rak buku di depannya. Melihat itu Febby justru tersenyum geli. Mungkin Alvin harus banyak-banyak belajar darinya. Bagaimana menyelesaikan banyak hal dalam waktu singkat. Ia harus membuat laporan praktikum dan belajar untuk ulangan kimia esok hari sedangkan sepulang sekolah sampai malam hari ia harus bekerja di restoran. Ajaibnya semuanya dapat selesai dengan hasil yang baik. Meskipun nilai ulangannya hanya mencapai angka 7 tapi ia sudah sangat lega dan bangga dengan hasil yang ia terima. Masa-masa sulit seperti itu tidak hanya sekali dua kali terjadi. Untung ada Goldy yang bisa membantunya belajar, jadi masalah akademisnya bisa terselesaikan.

Mendadak ada denyut tidak nyaman di balik dadanya ketika menyebutkan nama Goldy. Ia sadar sampai sekarang ia tidak bisa melepas bayang-bayang pemuda itu dari pikirannya. Ia belum bisa melupakan perasaannya. Perasaan sedih, marah, kecewa…dan sayang.

Pletak!

Kepala Febby berjengit bersamaan dengan rintihan dari mulutnya. Tangannya mengusap dahinya yang mulai memerah lalu memandang Alvin kesal. Sementara Alvin hanya berdecak malas. “Apaan sih?!”

“Bantuin orang itu yang fokus! Ga pake galau di tengah-tengah. Fokus, fokus!” ujar Alvin sambil menggerakkan telapak tangannya yang tegak menyamping di tengah wajahnya maju mundur. Febby memberengut sambil mendengus pelan. Kesal sekaligus berterimakasih karena diselamatkan dari pikiran bodohnya beberapa saat lalu.

Lo selalu jadi penyelamat gue, Vin. Doain gue dapet duit ya, biar bisa traktir lo kapan-kapan hehe.

***

Shilla meremas-remas tali tasnya sambil terus berjalan menyusuri lorong sekolahnya. Mukanya bertekuk beratus kali lipat dari sebelumnya. Kata-kata Chris sebelum ia keluar dari mobilnya terus saja berputar di kepalanya.

‘Semangat sekolahnya, Cantik!’

Hanya kalimat sederhana sebenarnya. Akan tetapi, entah kenapa Shilla tetap merasa sebal dan sialnya terus saja teringat olehnya. Bahkan mendetail dari ekspresi wajah Chris, nada suaranya, gerak-gerik tubuhnya, semuanya terpatri jelas di pikiran Shilla. Oh! Ia bisa gila! Ini tidak bisa dibiarkan!

Shilla lantas berhenti berjalan. Ia harus menemui Chris dan memberi peringatan serius padanya. Benar-benar serius sampai pemuda itu mengerti untuk tidak mengganggunya lagi dan menjauh dari hidupnya yang tenang meskipun seringkali galau. Tapi, cukup. Ia hanya galau karena Alvin dan jangan ditambah dengan yang lain.

Beberapa meter sebelum ia berada di hadapan Chris, ia kembali berhenti. Ada pemandangan aneh yang sedang berlangsung di sana. Pemuda yang hendak ditemuinya itu tengah berbicara dengan seorang perempuan yang ia tahu merupakan mantan kekasih pemuda itu. Lala.

Dari mukanya, sepertinya suasana sedang tegang. Keduanya tampak tidak nyaman berhadapan satu sama lain. Atau mungkin sepertinya Lala yang paling tidak nyaman ada di sana. Matanya berkeliling ke sana kemari entah mencari apa dan tak pernah fokus menatap Chris. Sementara Chris memandangi Lala lamat-lamat. Ia mencermati tatapan Chris dan menemukan banyak hal bercampur menjadi satu. Amarah, rasa kecewa, terluka, dan..rindu? Apa mereka udah bubar?

Ah! Ia ingat saat pertama kali mereka bertemu kembali. Salah satu teman Chris sempat berbicara walau terpotong. Kata-katanya menyiratkan memang sedang ada masalah di antara Chris dan Lala. Mungkin sekarang mereka sedang membahas itu dan mencoba mencari penyelesaian. Shilla berharap penuh dalam hati semoga masalah di antara mereka selesai dan Chris tidak lagi mengganggunya.

“Lala?”

Shilla mengalihkan pandangan pada orang yang baru saja menyerukan nama Lala. Seorang pemuda yang juga bertampang bule menghampiri Lala dan Chris yang tengah bersitegang. Atau mungkin kata-katanya berlebihan. Ekspresi lega seketika mencuat di wajah Lala. Entah lega karena bertemu pemuda itu atau lega karena dapat terhindar dari Chris. Menurutnya mungkin yang kedua. Alasannya? Karena Chris itu sangat menyebalkan sehingga tidak akan ada orang yang betah di dekatnya berlama-lama. Salah satunya Shilla.

Shilla tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Lala pada Chris sebelum pergi. Ia juga tak sengaja memandang ke arah Chris yang mendadak termenung. Tatapannya kosong. Wajahnya tampak kaku dan jauh berbeda dari Chris yang ia hadapi baru-baru ini. Berhubung Shilla adalah orang yang amat sensitif jadi ia mengerti apa yang tengah dirasakan Chris. Meskipun ia tidak tahu masalahnya, tapi ia dapat melihat dengan jelas perasaan Chris pada Lala dan pemuda itu sedang sedih sekarang.

Shilla menggigit bibirnya menimbang apa yang harus ia lakukan. Kemudian kakinya lebih dulu mengambil keputusan. Ia mencicit langkah menghampiri Chris hingga sudah berada di hadapan pemuda itu. Telunjuknya bergerak ragu-ragu hendak menyentuh lengan pemuda itu.

“K-kak?” lirihnya. Chris tampaknya masih belum sadar. Ia akhirnya mendaratkan ujung jari telunjuknya yang lentik di atas lengan Chris dan sedikit memberi tekanan. Upayanya tersebut membuahkan hasil.

Chris tersentak kaget dan melihat sekelilingnya lalu menjatuhkan pandangan pada Shilla. Tapi, pikirannya masih belum kembali ke tempat semula sepenuhnya. Perasaannya amat kacau dan ia tidak mampu berpikir banyak. Ia menyentakkan tangan Shilla dan tanpa sadar berbicara cukup keras pada gadis itu.

“Minggir!” ujarnya dingin. Ia membuka pintu mobilnya dan masuk ke dalam. Beberapa saat kemudian mobil Chris sudah melaju meninggalkan halaman parker Parfait sekaligus meninggalkan Shilla.

Shilla mengedipkan matanya beberapa kali, sedikit syok. Lalu kemudian ia kembali tersadar. Apa-apaan itu barusan? Chris bersikap keras padanya disaat ia baru saja berniat baik?! Dasar keris bengkok buluk! Gue gaakan maafin lo!! Eh—bukannya itu yang ia inginkan? Setelah ini Chris tidak akan mengganggunya lagi, bukan?

YES I LOVE U ALVIN! Ga nyambung? Bodo!

***

Mata sipit Alvin dipaksa membuka lebih lebar oleh empunya. Dahinya berkerut karena ia tengah berusaha berpikir keras. Jemarinya menggenggam erat novel angkatan 20 yang sedang ia (coba) baca dengan seksama. Pupil matanya bergerak aktif menyusuri satu per satu kata yang tertera pada halaman yang terbuka lalu mencoba memahami apa maksud dari kalimat yang terbentuk. Hasilnya…ia benar-benar tidak mengerti.

Ini lebih susah daripada mengerjakan latihan soal reading dalam ujian TOEFL. Ia bisa menggunakan aplikasi translate untuk kalimat-kalimat dalam bahasa Inggris. Setidaknya bisa memberikan sedikit pencerahan. Nah, kalau kalimat teramat sastra begini ia harus men-translate pakai apa? Translatenya ya hanya dirinya sendiri. Sialnya, ia sangat-sangat lemah untuk urusan tulisan-tulisan begini.

Jemarinya yang sempat tegang seketika melemas, berikut juga saraf-saraf di otaknya. Tidak, ia belum menyerah hanya beristirahat sejenak. Menghirup udara dengan santai sejenak siapa tahu otaknya yang memang sedang kurang oksigen sehingga kerjanya menjadi kurang prima. Alhasil, ia tidak berhasil-berhasil mengerjakan tugas.

Matanya tak sengaja melihat ke jam dinding dan ia lekas tersadar kalau ia belum menghubungi Shilla hari ini. Ia pulang sekolah 3 jam yang lalu dan sudah 3 jam pula ia terlambat. Ia lantas memutuskan beralih mengerjakan tugas wajib khusus tersebut sebelum kembali pada tugas yang sebenarnya.

Alvin mengambil ponsel dan langsung mendial nomor Shilla. Tak sampai sepuluh detik, ia sudah mendengar suara Shilla mendayu-dayu di telinganya.

“Viiiiiiiiin!” Shilla berseru panjang dan seketika mengembangkan senyum di wajah Alvin. Andai semua tugasnya dapat membuatnya tersenyum senang begini. Tugas lain juga membuatnya tersenyum, sih, tersenyum miris.

“Ayaaaaang!” Alvin membalas dengan sebutan yang paling menyebalkan menurut Shilla. Shilla memang suka hal yang cute dan romantis. Akan tetapi entah kenapa ia sangat tidak suka dengan panggilan tersebut.

“Ish!” dumelnya kesal sedang Alvin malah terkekeh tanpa dosa.

“Ngapain aja, sih, daritadi? Kenapa lama banget baru nongol? Pasti main game, kan? Ckck, bukannya belajar!” Shilla masih lanjut mendumel yang sebenarnya hanya pura-pura mendumel dan bukan bermaksud marah dan mencurigai Alvin.

Akan tetapi, dengan pengaruh mood Alvin yang sudah buruk sebelumnya, ujaran Shilla barusan menjadi terdengar sinis. Ia juga sedikit tersinggung dengan tuduhan Shilla. Seharian ini tidak sekalipun ia sempat mengalihkan pikiran ke hal lain selain belajar alias mengerjakan tugas. Namun, dengan mudahnya orang lain menuduhnya hanya melakukan hal sia-sia. Ia pun teringat dengan hawa-hawa frustasinya beberapa saat lalu dan membuat ambang marahnya tercapai.

“Kenapa, sih, langsung nuduh gue gitu aja? Emangnya gue keliatan kayak orang yang isi otaknya cuman main-main doang?” Kesal Alvin dengan tanpa sadar agak meninggikan suaranya.

“Bu—bukan gitu maksudnya..” cicit Shilla namun sama sekali tidak membantu. Mood Alvin masih belum membaik dan justru makin parah.

“Kita udah bukan baru jadian lagi dan bukan hari pertama jalanin LDR. Udah bukan waktunya lagi gue harus nelfon atau chat lo tiap jam. Kita juga bukan anak SMP lagi pacaran yang dikit-dikit ngambek cuma karena telat telfonan. Kita udah mau tamat SMA, Shill.”

Shilla tidak bersuara beberapa saat entah apa alasannya Alvin tidak tahu karena saat ini pikirannya hanya dipenuhi amarah dan rasa kesal. Suara Shilla kembali muncul tak lama kemudian.

“Sorry..” kali ini dengan nada lirih.

Alvin menutup mata seraya memijat dahi serta menghela napas. Ia tengah berusaha mendinginkan kepala. “Gue tutup dulu.” Putusnya sepihak. Ia benar-benar mematikan sambungan dengan Shilla dan meletakkan ponselnya asal. Ia sadar situasinya akan menjadi lebih buruk kalau ia teruskan sehingga mau tidak mau ia harus mengakhiri chit chatnya bersama Shilla yang belum lama dimulai.

Tangan Alvin terkulai lemas diikuti dengan badannya yang tadinya bersandar sekarang perlahan merosot hingga posisinya berbaring di atas ranjang. Napasnya sedikit memburu namun berangsur-angsur reda. Matanya yang tadi tertutup kemudian terbuka. Kepalanya tanpa sengaja tertoleh dan ia kembali harus melihat novel yang menjadi biang kerok perusak moodnya tadi bahkan masih hingga sekarang.

Tubuhnya seketika tegak kembali. Air mukanya yang semula datar tiba-tiba berubah mengerikan. “ELO! Gara-gara LO! ELO!” teriaknya seraya menunjuk-nunjuk novel di hadapannya.

Di lain tempat, Shilla masih terbengong memandang ponselnya. Keningnya mengernyit dan kemudian kepalanya mengedik ke kanan-kiri. Sambungan panggilan Alvin pada ponselnya sudah dimatikan oleh pemuda itu sendiri secara tiba-tiba.

“Abis nginjek tai ni orang? Galak amat.” Celetuknya pelan.

Shilla mengangkat bahunya dan meletakkan begitu saja ponselnya di atas meja belajar. Ia memilih, mencoba, tak mau ambil pusing terhadap tingkah atau pun ucapan Alvin tadi sebelum sambungannya mati. Ia lantas kembali pada kegiatannya mengerjakan PR fisika.

Selang beberapa menit kemudian, tangan Shilla yang tengah menulis sejenak berhenti. Ia sudah berkomitmen untuk menganggap lalu namun apa mau dikata ucapan Alvin beberapa saat lalu akhirnya melintas kembali di benaknya.

Udah bukan waktunya lagi gue harus nelfon atau chat lo tiap jam. Kita juga bukan anak SMP lagi pacaran yang dikit-dikit ngambek cuma karena telat telfonan. Kita udah mau tamat SMA, Shill.

Tidak, ia tidak sedang bersedih. Ia hanya merasa perlu untuk memikirkan kata-kata Alvin tersebut. Entah kenapa ia merasa...setuju. Ucapan Alvin sepertinya ada benarnya. Sekarang bukan lagi masanya ‘lovey dovey’. Tahun ini bahkan bukan lagi anniversary pertama untuk ia dan Alvin.

“Ckckck..kok gue baru nyadar sekarang, ya?” Proses berpikirnya diakhiri dengan pertanyaan yang ia ajukan untuk dirinya sendiri.

***

Tok tok tok...

Seseorang mengetuk pintu kamar Febby ketika gadis itu masih terlelap. Ketukan tadi kembali terdengar tak lama setelah yang pertama tidak ada sambutan. Kali ini Febby sedikit tertarik dari alam bawah sadarnya. Telinganya dapat samar-samar mendengar hanya saja tubuhnya masih lebih memilih untuk melanjutkan aktivitas rehat sejenak dari dunia yang penat.

TOK TOK TOK!

Kali ini sang pelaku mengetuk tak sabaran. Hal ini serta merta menarik Febby seutuhnya menuju alam sadar tanpa rasa kasihan. Ia terbangun sekaligus terduduk di kasur dengan pandangan masih buram. Ia menguap seraya menggaruk-garuk kepala mencoba lebih menyadarkan diri. Setelahnya ia segera turun dari kasur dan berjalan mendekati pintu. Kebetulan karena sang tamu kembali mengetuk.

Pandangan Febby sudah lebih jelas sekarang sehingga ia bisa melihat sosok Alvin sedang berdiri di depannya. Pemuda itu juga yang telah berjasa membangunkannya beberapa saat lalu. Dibanding jengkel, Febby lebih merasa kaget dan bertanya-tanya. Ini adalah kali pertama Alvin menghampirinya langsung ke kamar. Bahkan pemuda itu tampak begitu tidak sabar.

“Bantuin gue.” Pinta Alvin dengan intonasi dan ekspresi datar.

Febby menguap tanpa malu sambil terus menatap Alvin. “Apaan?” tanyanya kemudian.

Senyum di wajah Alvin seketika mengembang. Ia mengangkat novel yang menjadi enemy of the day nya sehingga menjadi sejajar dengan wajahnya. Ia tidak mengatakan apa-apa hanya memberi isyarat lewat ekspresi wajahnya.

Febby menguap sekali lagi baru kemudian menanggapi permohonan Alvin. Ia lalu mengajak Alvin masuk ke kamarnya dengan menunjuk bagian dalam kamarnya menggunakan ibu jari, sama-sama tanpa bicara sepatah kata pun. Alvin tanpa pikir panjang menerima undangan Febby tersebut. Ia mengikuti langkah Febby lalu memilih duduk di kursi meja belajar di dalam kamar gadis itu.

Setelah permisi sebentar untuk mencuci muka, Febby kembali dari kamar mandi dan duduk kembali di atas kasur dan berhadapan dengan Alvin.

“Gue belom bikin tugas makalah sama laporan praktikum. Lo mau barter tugas? Lo ngerjain makalah sama laporan, gue ngerjain resensi? Itung-itung biar cepet beres semuanya,” Ia mencoba membuat kesepakatan.

Alvin diam dan berpikir sejenak. Ia kemudian kembali buka suara dengan kalimat persetujuan.

“Oke.” Katanya to the point. Makalah dan laporan bukanlah masalah besar sementara membaca novel tahun 20-an adalah mimpi buruk yang nyata. Membaca kalimat-kalimat di lembaran novel jauh lebih menguras tenaga dibandingkan harus berkutat dengan unsur-unsur senyawa dan sejarah.

Febby menyalakan laptop dan membuka file laporan yang sempat ia kerjakan sedikit sebelum ia mengantuk dan memutuskan tidur sesaat. Walau pada kenyataannya ia justru bablas dan sejujurnya merasa bersyukur Alvin datang dan membangunkannya kembali.

“Gue udah sempet ngejain beberapa. Sayang kalo dihapus. Lo lanjutin aja dulu selagi gue nyelesein baca novel. Lumayan ngurangin tugas ngetik.”

Setelah itu, keduanya tenggelam pada tugas masing-masing. Febby tenggelam dalam alur kisah dalam novel sementara Alvin asyik bercengkrama bersama laporan dan makalah.

Keduanya masih berada di tempat yang sama yang tak lain adalah kamar Febby. Ruangan benar-benar sunyi karena keduanya sama sekali tidak berkomunikasi dalam bentuk apa pun. Bahkan sekedar senandung kecil dari mulut Alvin atau Febby pun nihil.

Setengah jam kemudian Alvin berhasil menyelesaikan laporan. Ia mencoba meregangkan badan. Ia merasa kerongkongannya sedikit kering dan memutuskan mencari minuman keluar kamar. Febby tidak menyadari kepergiannya, entah karena terlalu fokus atau karena memang kebetulan ia juga tidak pamit.

Ketika telah sampai di dapur dan mengambil sebotol jus dari dalam kulkas, Alvin menuangkan isinya ke dalam gelas dan segera meminumnya hingga setengah. Ia kembali mengisi gelasnya hingga penuh dan menaruh kembali botol yang masih terisi lebih dari setengah ke dalam kulkas.

Namun sebelum pintu lemari pendingin tersebut benar-benar tertutup, Alvin tiba-tiba teringat akan Febby dan tugas yang sedang gadis itu kerjakan. Ia lalu teringat masa-masa sulitnya membaca novel yang bahasanya sulit sekali dipahami. Gadis itu sangat mungkin merasa lelah sekarang.

Alvin tidak jadi menutup pintu kulkas dan kembali mengeluarkan botol jus yang tadi ia letakkan. Ia mengambil dan mengisi gelas lain untuk Febby dengan jus tersebut. Baru setelah itu ia benar-benar mengembalikan botol tadi ke dalam kulkas dan beranjak kembali ke kamar sambil membawa dua buah gelas berisi jus.

Langkah Alvin terhenti di depan pintu kamar Febby yang sudah ia buka. Pemandangan di depannya tanpa sadar membuatnya berhenti dan menggodanya untuk memperhatikan sejenak. Saat ini ia dapat melihat sosok Febby sedang fokus membaca novel dan menulis di atas kertas secara bergantian. Rambutnya masih tercepol tidak begitu rapi namun tidak terlihat mengganggu. Sebuah kacamata berbentuk bulat berjaga di depan matanya yang justru membuat citra polos pada wajahnya. Pemandangan yang cukup indah.

“Buset, mikir apaan gue barusan?”

Alvin menggelengkan kepala seketika merasa geli dengan komentar yang barusan terbit di benaknya. Karena pikiran warasnya telah kembali, Alvin melanjutkan langkahnya masuk ke kamar. Ia berhenti untuk terakhir kali di dekat kasur yang Febby tempati seraya menyodorkan minuman yang ia bawa.

Febby sukses teralihkan dengan kemunculan tiba-tiba gelas di depan wajahnya yang sedikit merunduk. Ia mengikuti garis lengan yang memegang benda tersebut dan mendapati Alvin berdiri di sampingnya.

“Minum dulu minum!” ujar pemuda itu.

Febby melepas pulpen di tangannya begitu saja dan menerima gelas pemberian Alvin tanpa banyak protes. Ia langsung meminum jus yang ada di dalamnya sementara Alvin kembali duduk di kursi meja belajar. Meski begitu, pikirannya tak sepenuhnya beralih dari novel. Terbukti pandangannya sekarang kembali tertuju pada benda persegi panjang dengan lembar cukup tebal tersebut.

Alvin memfokuskan matanya menatap Febby sambil menyesap jus bagiannya. Dari air mukanya ia seperti ingin menanyakan sesuatu namun masih ragu-ragu. Pada akhirnya, ia memutuskan mengutarakan apa yang tersembunyi di benaknya.

“Gue kepo, nih. Lo kira-kira mau jawab gak?” pendahuluannya sebelum bertanya ke intinya.

Febby menoleh ke arahnya dengan kening mengerut. “Tentang?” Dalam hati ia bertanya-tanya apa yang telah terjadi pada Alvin hari ini. Setelah bertamu ke kamarnya dan meminta bantuan, pemuda itu juga mengajaknya berbincang. Atau jangan-jangan sebenernya gue masih tidur lagi makanya alam nyata gue agak meleset gini?

“Lo pernah punya nyokap?” Tanya Alvin tanpa disangka-sangka.

Hmm, gue beneran udah bangun. Febby bergumam dalam hati. Ia meneguk sekali jus yang masih terdapat di dalam gelas pemberian Alvin. Ia menoleh kembali pada pemuda itu sekedar untuk menjawab pertanyaan.

“Mungkin,” Febby memberi jeda sejenak sementara Alvin dengan sabar menunggu, “Semua perempuan di hidup gue itu problematik. Sebelum Oik di adopsi, bokap sempet bawa perempuan ke rumah. Dia bilang itu istrinya dan bakal jadi ibu gue. Dia bilang gue mesti nurut sama perempuan itu tapi nyatanya perempuan itu sendiri ga nurut sama dia. Pulang tengah malem besok siangnya udah ilang sedangkan pagi-pagi jadi jadwal mereka berantem. Yang kena imbasnya gue. Bokap jadi makin emosian. Sampe akhirnya si ‘istri’ kabur sama selingkuhan dan ga pernah balik lagi. Gue awalnya bersyukur setidaknya bokap gaada temen berantem dan jadi kurang emosian. Tau-tau dia pulang bawa Oik. Kayaknya dia punya penyakit mental deh. Ada aja orang asing yang di bawa pulang.”

Alvin mendengarkan penjelasan panjang lebar Febby dengan seksama. Kepalanya mengangguk-angguk ketika penjelasan tersebut berakhir. Meski begitu, masih ada yang membuatnya penasaran.

“Lo pernah nyari tau kabar orangtua kandung lo?” Alvin lantas meluncurkan senjata keduanya dengan sukses.

Febby memicing menatapnya curiga. “Lo mau bantu nyariin biar gue cepet-cepet pindah? Jangan-jangan lo masih ga ikhlas gue numpang di sini?”

Alvin memutar kedua bola matanya karena menjadi yang tertuduh. Padahal ia sungguh hanya penasaran. Ia pikir mungkin akan menarik untuk mendengarkan kisah Febby setelah ia tahu beberapa kejadian luar biasa yang dialami atau ia alami karena gadis itu.

“Udah gue bilang, gue cuma kepo. Gamau jawab juga ga masalah, sih, sebenernya.” Tukasnya.

Febby tersenyum tipis. Di samping Goldi, Alvin adalah satu-satunya orang yang seingintahu itu tentang dirinya. Ia jarang bergaul saat di sekolah apalagi di rumah. Kerja paruh waktu yang ia jalani cukup membuatnya lelah dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk tidur di perpustakaan, kadang-kadang di kelas kalau sedang tidak ada guru dan tidak boleh keluar kelas. Hal ini juga yang menjadi awal mula ia dekat dengan Goldi, si kutu buku perpustakaan di sekolahnya.

Ah, jadi bahas yang aneh-aneh..

“Ga pernah. Ga sempet.” Soal mencari keberadaan orangtua kandung, Febby memang benar-benar tidak punya waktu. Sudah ia katakan kalau untuk bergaul saja susah apalagi meluangkan banyak waktu berkeliling ke sana kemari mencari alamat, hey, hey~ *maapkeunefekstresbikinskripsi*
Alvin meminum tegukan terakhir jusnya dan kembali bertanya namun tanpa menatap Febby secara langsung. “Apa benci sama mereka masuk juga jadi alasannya?”

Febby melirik Alvin dengan sebelah alis terangkat. Bukan tersinggung, ia justru agak bingung. Memikirkan orangtua kandungnya saja ia jarang apalagi untuk menyimpan rasa benci. Otaknya hanya terisi oleh hidupnya. Bagaimana ia bisa bertahan dengan bagaimanapun keadaannya. Menanam rasa benci hanya akan membuat hatinya menjadi berat. Ia sudah cukup dengan ayah dan saudara tirinya bahkan Goldi, mungkin. Ia tidak ingin memperpanjang daftar.

“Ga salah kalo gue seandainya benci mereka. Tapi, enggak lah. Benci harus ada alasan dan gue ga punya. Ga cukup cuma dengan merasa terbuang karena gue ga tau pasti gue beneran dibuang apa enggak. Siapa yang tau waktu itu kehidupan mereka lagi susah-susahnya trus mereka ngasih gue ke yang lebih mampu. Atau barangkali gue ga sengaja ilang dari pandangan mereka dan sampe sekarang mereka justru nyariin gue sementara gue malah ga punya waktu nemuin mereka. Gue sendiri ga pernah cari tau tentang mereka jadi gue ga bisa ngeyakinin diri buat benci mereka. Gue gamau ngejudge yang ga perlu dan nantinya gue sesalin. Kalo pun misalnya gue anak yang ga diharapin, at least mereka masih punya hati buat ga ngebunuh gue.”

Febby mengakhiri ucapannya dengan helaan napas disertai senyuman hangat. Tidak di duga-duga hatinya terasa lebih ringan. Untuk orang lain, semua pertanyaan Alvin akan terdengar mengganggu. Ia bisa saja merasa tersinggung. Akan tetapi, ia justru merasa nyaman berbicara. Ia kurang tahu poinnya ada pada Alvin atau pada kesempatan berbagi cerita. Nanti kalau ia sudah punya waktu baru akan ia cari tahu.

“Nice story.” Balas Alvin santai seraya mengedikkan bahu. Rasa penasarannya sudah lumayan terbayar. Satu hal yang ia tidak bisa pungkiri dari Febby adalah optimisme gadis itu. Ia bersyukur tidak mendengar kalimat-kalimat cacian atau umpatan atau justru tangisan haus simpati keluar dari mulut Febby. Ia senang gadis itu tumbuh dengan pondasi pikiran dan raga yang kokoh.

Setelah itu, keduanya kembali tenggelam pada tugas masing-masing. Namun, tak lama Febby kembali buka suara. “Thanks ya. Sharing sama orang lain ternyata enak juga,” ujarnya tulus tanpa mengalihkan fokusnya pada novel.

Alvin mengambil gelasnya yang sudah kosong lalu berdiri menghampiri Febby. Ia menyodorkan tangan bermaksud mengambil gelas yang isinya akan habis dalam sekali teguk. “Brother. You can think of me as your brother.” Entah darimana pikiran itu tetapi ia sama sekali tidak keberatan.

Febby meminum jusnya hingga habis lalu membalas senyuman pada Alvin seraya memberikan gelas. Hari ini harus ia catat sebagai salah satu hari bersejarah dalam hidupnya. Ia punya kakak.

***

Shilla menumpu dagunya di atas lengannya yang melipat. Ia beristirahat setelah PR fisikanya selesai dikerjakan. Sebenarnya ia sedang tidak punya pikiran untuk melakukan apalagi. Ia tidak mengantuk tapi tubuhnya juga terlalu malas untuk melakukan hal lain termasuk beranjak dari kamar. Biasanya saat ini ia pasti sedang mengobrol dengan Alvin. Akan tetapi, hal itu sudah ia lakukan beberapa jam yang lalu dengan begitu singkatnya. Ia tidak berani menghubungi kekasihnya itu lagi mengingat bagaimana akhir dari telepon mereka sebelumnya.

Ditambah ia juga tidak lagi menunggu dihubungi. Kalimat penutup Alvin memang mujarab. Ia bukan kecewa atau sedih. Ia hanya merasa tertampar oleh kenyataan yang selama ini sebenarnya sudah sangat jelas namun ia masih terus menutup mata. Jadilah ia hanya menumpu wajah di atas meja belajar tanpa melakukan apapun.

Di tengah kekosongan idenya, ponsel Shilla berbunyi dan layarnya menyala-nyala menampilkan nama Alvin sang pacar. Ia menyentuh dan menggesek pelan layar ponselnya perlahan, lebih tepatnya tanpa niat. Selanjutnya ia menyapa dengan nada teramat santai.

“Haaloo?” ujarnya pelan.

“Hello sweetheart?” balas Alvin romantis.

Shilla tersenyum tipis seraya memiringkan wajahnya yang masih setia menumpu lengannya di atas meja belajar. “We’re not even in monthsarry date,”

“Emangnya romantis cuma boleh pas lagi ngerayain sesuatu doang, hm?”

“But you said we’re not in ‘that phase’ again? Wkwk,” Sungguh ini bukanlah ucapan sarkastik atau pun sindiran. Ia tidak punya maksud tertentu sama sekali.

Akan tetapi, sepertinya Alvin menganggap ucapannya serius. Pemuda itu buka suara setelah beberapa menit diam. “I-am-sorry...Aku ga bermak—“

Namun sebelum penyampaian maaf dan alibinya selesai, Shilla menyela begitu saja. “I know I know. Becanda gue mah, lo tumbenan baper?”

“Are you really sure? It’s okay?” Alvin bertanya dengan nada amat cemas tanpa bisa disembunyikan.

Shilla memandang ponselnya lalu menghela napas berat. “Sesensitif itu ya gue? Ckck,”

“No, Sayang. Marah wajar, kok. Omongan gue emang agak kelewatan.” Alvin masih setia mengaku dosa pada Shilla yang sebenarnya tidak lagi memedulikan kesalahan tersebut.

“Enggak, Vin. Omongan lo emang bener, lagi!” balas Shilla lagi yang membuat Alvin diam kembali. Kali ini bahkan lebih lama sampai-sampai ia harus kembali buka suara. “Kita pacaran udah lewat 2 tahun tapi gue masih childish aja kayak baru jadian. Sorry, hehehe..”

“Sayang, please?” Sepertinya Alvin tidak percaya kalau dirinya tidak terganggu dengan ucapannya sebelumnya. Nada suara pemuda itu masih terdengar khawatir.

Sementara Shilla belum menyerah meyakinkan Alvin. “It’s really okay. I’m really okay and 100% agree with you. Gue janji ga bakal se-annoying itu lagi.”

“Siapa yang mau lo berubah? I like your annoying acts. That makes me feel you are near.” Sekarang giliran Alvin yang menyela segera ucapan Shilla dan membuat Shilla sesaat kehilangan kata-kata.

“C—can I?” balas Shilla terbata. Suaranya menunjukkan kalau gadis itu belum lepas dari rasa takjub.

“Babe..” Alvin justru membalas dengan panggilan sayang. Shilla yang tidak mengerti hanya menyahut apa adanya. “H—huh?”

“Call me ‘babe’. Gue belum denger panggilan sayang lo hari ini.” Pinta Alvin dengan lembut dan sabar.

Shilla menegakkan kepalanya dengan kedua telapak dangan menutupi masing-masing pipinya. Ia tersipu. Sepertinya setiap saat memang terasa seperti saat pertama jadian untuknya. Ia bahkan masih tersipu dengan momen receh seperti ini.

“Pacar bisa aja!” sahut Shilla ringan.

Alvin membalas dengan perasaan puas. “That’s it!”


Sayang namun sayang, keadaan tidak benar-benar kembali seperti semula. Tanpa mereka ketahui, kerenggangan di antara mereka bermula dari ucapan jujur Alvin tersebut.

***

I know I know. Kalian mau bilang kalian bingung kan dengan akoeh? Sama, ku juga sama bingungnya. Kadang kalo dipikir-pikir, ini anak-anak yang jadi tokohnya udah pada gede semua, udah saling punya pacar, tapi ini cerita masih juga belom tamat padahal ngomong bakal tamat udah dari taun kapan.

Diriku tidak berharap banyak soal respon update-an cerita ini. Yang daku harapkan cuma satu, supaya ini bisa tamat!! Mau tamat doang susah amat:') Mana lagi nyusun skripsi lagi *tuhkanadaajaalesannyaHAHAHAHAHA*

Btw kok tumben lanjutin kopel lain biasanya Rify...Nah kebetulan nemu ide yang bisa mempercepat kopel ini tamat. So jadi agak ambisius deh langsung diketik trus di post. Mudah-mudahan kuota rajinnya belum abis jadi bisa update terus. Yah mudah-mudahan ya wkwk~

Untuk dirimu dirimu yang masih saja setia membaca, ga kapok-kapok ku nistakan *halah*, diriku mengucapkan terimakasih banyak dari lubuk hati terdalam. Semoga kalian selalu diberkati dengan hal-hal indah dalam hidup kalian setelah wasting time baca postingan ala-ala di sini. Sumpah, makasih banyak ya:'')

Rabu, 28 September 2016

JUAL BUKU KEDOKTERAN SECOND HAND (ANATOMI & DORLAND)

JUAL BUKU KEDOKTERAN SECOND HAND (ANATOMI & DORLAND)

Kamus Kedokteran Dorland Edisi 31 Penerbit Buku EGC
Kondisi disampul plastik bening, mulus, rapi, belum pernah dicoret-coret, persis seperti buku baru.
Harga : 450.000


Atlas of Human Anatomy Sobotta English Version 15th Edition
Kondisi disampul plastik bening, mulus, rapi, belum pernah dicoret-coret, persis seperti buku baru.
Harga : 1.300.000 Masih bisa nego




Harga yang tercantum sudah jauh lebih murah dibanding lapak lain guys, insyaAllah. Masing-masing cuma ada 1 ya. Yuk dibeli yuk biar gue dapet traktiran hehehe

CP : 083877508102 a.n Natasya


Sabtu, 20 Agustus 2016

Matchmaking Part 33 (Rify)


“Gaada lagi yang ketinggalan kan, Bi?” Tanya Ify memastikan sambil memperhatikan sekeliling ruang rawat inap Ferdi, untuk yang terakhir kali. Semoga saja.
Ify lalu memandang ke arah Ferdi yang masih duduk di atas tempat tidur. Ia tersenyum hangat, begitu pula sebaliknya.
Masih terekam jelas di benaknya apa yang dikatakan oleh dr Obiet padanya. “Satu-satunya hal yang akan sangat membantu menstabilkan kondisi papa kamu adalah kamu sendiri. Dukungan dari kamu akan sangat bermakna buat papa kamu dalam menghadapi masa-masa sulitnya setelah ini. Penyakitnya, kondisinya, peraturan yang harus ia ikuti untuk menjaga agar tubuhnya tetap stabil, menjadi beban buat orang di sekitarnya, pasti akan menjadi pikiran berat bagi Ferdi. Tugas kamu adalah mencegah itu.”
Ify tersenyum makin lebar mengingat itu. Pa, Ify gaakan ngeluh sama Tuhan. Ify cuma berharap semoga waktu kita berdua masih banyak. Juga, Papa jangan pergi tanpa pamit.
Sementara itu, Ferdi berusaha keras bersikap tegar dan hangat di hadapan Ify. Meski terasa amat susah baginya. Ia sadar betul limit tubuhnya. Ia hanya masih belum sanggup membayangkan kalau ia bisa tiba-tiba saja meninggalkan gadis kecil kesayangannya itu sendirian. Ia belum percaya pada siapapun bahwa mereka akan menjaga Ify-nya dengan baik, seperti dirinya menjaganya.
Juluran tangan Ify membuat Ferdi sekali lagi memandang lamat-lamat wajah anaknya. Ah..semoga waktu kita berdua masih banyak, nak.
“Kita pulang sekarang?” Muka Ify kelihatan bersinar. Ia tampak sangat senang saat ini. Ferdi sesaat diam lalu kemudian mengembang senyum di wajahnya.
“Iya, kita pulang.”

***

Ify menatap nanar pengacara pribadi Ferdi yang diundang Ferdi untuk ke rumahnya. Ia marah tapi tidak bisa mengungkapkan. Ia juga merasa dongkol karena menyadari penyebabnya adalah Ferdi, Papanya. Astaga, mereka bahkan baru sampai ke rumah setelah dari rumah sakit!
Ia berdiri dan beranjak tanpa pamit bahkan sekedar menoleh sebentar pada Ferdi apalagi si pengacara sialan. Biar. Biarkan ia mengumpatnya karena ia tidak mungkin mengumpat Papanya sendiri.
Sampai di dapur, Ify membuka pintu freezer kulkas dan mengambil sekotak berisi ice cream persediannya. Ia butuh makanan manis itu untuk mendinginkan kepalanya yang mendidih.
Ia meletakkan kotak tersebut di atas meja pantry dan membuka tutupnya dengan tergesa-gesa. Belum sempat ia menyendok ice cream, ia lebih dulu merasakan remasan lembut di kedua bahunya. Tangannya otomatis berhenti dan lantas menghela asal ice cream yang tadi ingin ia makan. Ia membalikkan badannya seraya menghela napas.
Kehadiran Rio saat ini justru membuatnya tak bisa menahan tangis. Ia merasa punya tempat mengadu. Air matanya satu persatu keluar dan ia mulai menangis walau tanpa suara. Gigitan di bibirnya terasa percuma karena toh air bening itu tetap saja berjatuhan ke pipinya.
Rio menyodorkan bungkus tissue ke hadapannya. Ia mendongak melihat wajahnya seraya memasang tatapan bertanya. Ia agak heran kenapa tissue itu ada padanya. Rio hanya tersenyum polos.
“Feeling.” Balasnya. Ify lantas menerima bungkusan tissue dengan pasrah. Kebetulan benda itu cukup atau mungkin sangat berguna. 
Rio memilih berdiri di sebelahnya sambil melingkarkan tangan di sekitar bahunya. Ia merasakan elusan jari pemuda itu di sana. Saat itu juga ia mulai meracau.
“Kita baru sampe. Gue akhirnya bisa liat Papa lagi di rumah. Gue bisa bawa Papa pulang. Tapi, kenapa…kenapa Papa malah bikin semuanya keliatan jelas?!”
Rio hanya diam membiarkan Ify meluapkan semua perasaannya, berharap rasa sedihnya ikut terbuang. Ia juga bingung harus memberikan masukan apa.
“Di saat gue mau berusaha bersikap seakan-akan semuanya normal, Papa baik-baik aja, dan gaada hal buruk yang mengancam dalam waktu dekat. Astaga! Kasih tau gue gimana caranya gue ga nethink kalo Papa mendadak ngomongin warisan?! Coba, gimana caranya?!”
Srooot~
Rio menoleh pada Ify yang kelihatan puas mengeluarkan ingus dari hidungnya. Bibirnya berkedut menahan tawa geli. Di sebelahnya, Ify mengangkat kepala melihat ke arahnya dan menyadari apa yang berusaha ia sembunyikan itu. Gadis itu mendelik kesal.
“Jauh-jauh sana!” usir Ify seraya menepis tangannya yang melingkari tubuh mungil gadis itu.
Bukannya merasa bersalah, Rio malah melepas tawanya bahkan hampir terbahak. Tapi, melihat ekspresi wajah Ify yang bertambah menyeramkan, ia cepat-cepat menelan kembali tawa tersebut dan hanya berani menyisakan senyum di wajah.
“Sekarang kasih tau gue gimana caranya gue ga ketawa ngeliat lo mewek-mewek, marah-marah, eh trus tiba-tiba nyemprot ingus? Hayo, ga lucunya di mana coba?”
Ify memberengut sedih sekaligus malu. “Muka gue pasti jelek banget ya?” Ringisnya.
Rio mengambil selembar tissue yang di pegang Ify. “Gapapa. Biar gue ada motivasi.” Balasnya seraya menghapus bekas air mata di wajah kekasihnya.
“Motivasi?” Kening Ify mengerut bingung. Rio kemudian menepuk-nepuk kepalanya pelan. “Motivasi supaya ga pernah bikin lo nangis kayak gini lagi. Soalnya muka lo jelek.” Katanya diakhiri kekehan tanpa dosa.
Ify merasa senang sekaligus jengkel. Ia menepis tangan Rio dari tangannya sambil mencibir pelan. “Rakus banget, sih? Gombal-gombal aja, nyela-nyela aja!”  Rio kembali tertawa walau hanya sekilas.
“Gue lagi sedih, Rio.” Ify menghela napas berat. Membawa hawa kesedihan beberapa saat lalu. “Kok diketawain, sih?” rutunya, entah pada siapa.
Rio memasukkan tangannya ke saku celana lalu memandang Ify. “Tadi katanya mau bikin semuanya keliatan biasa aja? Gue udah biasa aja, nih! Eh, malah lo yang baper.”
“Ya Papa bagi warisan gitu siapa yang tenang coba?!” Ify masih ngotot. Ia mengeluarkan ingusnya sekuat tenaga ke dalam tissue. Rio membantu membuang tissue malang tersebut ke dalam tong sampah tanpa banyak protes.
“Jangan dipikirin macem-macem makanya! Lupain kalo Om Ferdi lagi sakit parah. Dia sekarang udah pulang. Artinya, dia udah sehat. Jadi, gaada alasan yang bikin ngomongin warisan sama lo jadi salah.” Kedengarannya memang Rio tengah berbicara santai. Namun, dari matanya Ify tahu pemuda itu sedang serius dan tidak ada keinginan lain selain ia menuruti apa yang dia ucapkan.
Ify menghela napas lalu mengangguk sebagai balasan dan disambut senyum senang Rio. Hati Ify menghangat setiap kali melihat Rio tersenyum seperti itu. Setiap kali Rio melakukannya, ia langsung takjub sendiri. Ia masih tidak percaya kalau pemuda itu tersenyum karenanya. Pemuda itu kini adalah kekasihnya. Pemuda itu bukan cinta sepihaknya lagi. Pemuda itu menyimpan cinta yang sama untuknya.
“Terpesona, hm? Emang, sih. Kegantengan gue bertambah beratus kali lipat kalo lagi senyum. Hehe,” kata Rio pede. Ify tak ayal meninju pelan lengan pemuda itu lalu tertawa.
Keduanya lalu sama-sama diam. Ify kemudian merasa ada yang melingkupi tangan dan jemarinya. Ia melirik ke bawah melihat tangannya dan Rio saling bertautan. Hatinya menghangat lagi. Itu adalah hal kedua yang ia anggap mustahil selama ini. Alangkah senangnya karena itu menjadi kenyataan sekarang.
“Gue pacar lo..masih kerasa gak masuk akal.” Ujar Ify pelan dengan nada keheranan, membuat Rio menoleh.
“Setelah apa yang udah gue perbuat sama lo dan lo masih mau nerima gue. Gak masuk akal emang.” Rio menjawab dengan sama herannya.
Tidak ada kata-kata yang lebih manis menurut Ify dari apa yang baru saja Rio ucapkan. Ia merasa begitu tersanjung dan makin meningkatkan rasa takjub dalam hatinya.
Yah, semoga saja ini akan tetap menjadi kenyataan untuk seterusnya, tidak benar-benar menjadi hal mustahil seperti yang ia pikirkan.
“Fy..”
Ify menoleh karena Rio tiba-tiba memanggil. “Hm?”
Rio memberi jeda sesaat lalu berkata dengan tampang polos. Sementara Ify merasa dunianya runtuh saat itu juga setelah mendengar apa yang ia ucapkan. “Besok ulangan fisika.”
“Mampus. Ngapain aja gue seminggu ini?!! Huwaaa, gimana dong? Nilai gue bakal telor rebus Iagi, dong?”
Rio menyungging senyum senang di wajahnya. “Lebay. Kan ada gue!”
Ify hanya menoleh sebentar lalu meringis sambil menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangan. Mengapa sekedar menghafal rumus rasanya lebih susah dibandingkan menghafal not-not dalam sheet pianonya yang berlembar-lembar?
“Kita kan duduk sebelahan. Soalnya kan beda. Dan juga..astaga, ibunya kan galak banget! Bikin orang mau ngedip aja sangsi. Nah, gimana gue mau nyontek lo, Yo?” Ify terus berceloteh sementara Rio memasang wajah datar padanya. Pemuda itu setengah kesal setengah gemas karena ia tidak menangkap arti ucapannya sebelumnya.
“Lo tuh ya! Pacar lo ini kan pinter, Sayaang..”
Ify tergagap akibat bingung bercampur malu. Sampai sekarang ia belum terbiasa setiap kali Rio memanggilnya dengan sebutan khusus. Sebutan yang ehm..romantis.
“Yang pinter kan pacar gue bukan gue nya, Rio!” katanya pura-pura bersungut. Sesungguhnya ia hanya menutupi dirinya yang kini sedang salah tingkah.
“Maksud gue, gue nginep di sini buat ngajarin lo, bukan jadi tempat contekan buat besok. Ck, padahal gue pengennya lo yang request.”
Ify mengangkat kepala melihat Rio yang memberengut. Ia memikirkan kata-kata pemuda itu sejenak lalu berseru paham.
“Oh iya ya! Gue kan bisa minta diajarin, hehe..” Ify menyengir polos membuat Rio susah untuk pura-pura merajuk.
“Punya pacar pinter kok lupa cara makenya.”
Ify membalasnya dengan senyuman lugu di wajahnya. “Gue tuh cuma masih ga percaya kalo lo, Rio, orang paling pinter seangkatan, paling cakep satu sekolahan, artis idola gue..beneran pacar gue yang otaknya lebih kecil daripada upil ini.”
Rio terdiam sambil menatap mata Ify yang terlihat indah saat ini. Seindah kata-kata yang barusan dia ucapkan. Ia merona.

***

Ify berdiri bingung melihat Rio yang ikut turun dari mobil. Mereka kini ada di sekolah. Seharusnya ia saja yang punya urusan. Beberapa saat lalu, senior cheers sekolahnya, yang juga alumni Parfait, meminta semua anggota berkumpul secara tiba-tiba. Biasanya kalau begini, pasti ada suatu masalah penting yang harus dibahas. Dan sebagai kapten, ini bukan pertanda baik untuknya.
Ia sudah menolak ditemani tapi Rio memaksa ingin ikut. Sebenarnya pemuda itu sudah melarangnya datang. Pemuda itu memperingatinya bahwa ada ulangan esok hari. Tapi dengan kemampuannya meyakinkan seseorang, atau mungkin Rio saja yang tidak bisa benar-benar menolak keinginannya, mereka akhirnya sampai di sini.
“Lo mau ngapain?”
“Nemenin lo ke dalem.” Jawab Rio kalem.
Ify mengernyit lalu menggelengkan kepala tak setuju. Di perjalanan, Shilla terus-terusan membujuknya agar tidak usah datang. Sahabatnya itu tidak menjawab saat ia tanya apa alasannya. Itu justru membuatnya penasaran dan semakin ingin datang. Tapi, juga sekaligus membuat firasat tak enaknya makin kuat.
Dengan posisinya yang kemungkinan besar tidak baik ini, ia malah muncul bersama Rio…yang benar saja!
“Enggak. Lo jangan kemana-mana!” titahnya seraya menghalau jalan Rio. Sayangnya Rio bukanlah sosok pacar yang penurut.
“Iya, gue gak kemana-mana, kok. Gue bakal selalu ada dimanapun lo berada.” Jawabnya seraya tersenyum lebar.
Kalau situasinya normal-normal saja, Ify seratus persen akan tersipu. Tapi sekarang, ucapan Rio justru terdengar menyebalkan.
“Plis, Yo, gue gamau jadi pusat perhatian.” Pintanya dengan raut muka memelas.
Rio menghela napas dan menatapnya datar. “Telat. We already got people attention. Lo aja yang gak perhatian.” Rio mengalihkan pandangannya pada orang sekitar. Ify tak ayal ikut-ikutan memutar kepala dan menyadari keluputannya tersebut.
Memang tidak begitu ramai. Tapi, kebanyakan orang yang ada di sana memang sedang asyik menjadikan mereka bahan tontonan. Hanya saja, mereka buru-buru memalingkan wajah saat aksi mereka ketahuan.
Nyali Ify mendadak ciut. Ia menjadi takut sendiri dan rasanya ingin pulang saat itu juga. Tapi, itu belum seberapa dibandingkan suara dingin yang muncul dari belakangnya. Suara Rio. Mengingatkannya pada awal pertemuan mereka yang sama sekali tidak menyenangkan. Walau kini terasa berharga untuk dikenang.
“Takut?” tanya Rio dengan tatapannya yang mengintimidasi.
Ify bergeming menatapnya. Nada suaranya seperti udara dingin yang membekukan sehingga Ify tampat tidak bergerak semili pun.
“Gue juga. Gue takut lo kenapa-kenapa. Gue udah kecolongan satu no—dua kali di sekolah ini. Jadi, menurut gue, sekolah ini gak aman buat lo kalo sendirian, lagi. Gue gamau jadi orang bodoh yang ngasih peluang buat ketiga kali.”
Ify merasakan emosi yang coba ditahan Rio. Ia segera paham kekalutan pemuda itu yang bahkan melebihi rasa takutnya saat ini. Tatapan dingin itu sekarang justru membuat hatinya menghangat. Ia terharu Rio bisa mengkhawatirkannya sebesar itu.
“Gue ga nganterin sampe di tempat, kok. Gue ntar nunggu di tempat orang-orang ga bakal ngeliat gue, bahkan ga sadar lo dateng sama gue. Tapi, gue bisa ngeliat lo setiap saat. Deal?”
Tak ada hal lain yang lebih tepat selain menyetujui apa yang Rio katakan. Lagipula, ia sama sekali tidak rugi.

***

‘Kita merasa club kita terbengkalai.’
Terbengkalai bagaimana? Bukannya mereka yang justru susah untuk diajak berkumpul?
‘Ga pernah kumpul. Ga pernah latihan. Beda banget sama yang dulu.’
Kan sudah mendekati waktu ujian sekolah. Mana mungkin kegiatan masih diaktifkan! Lagipula, selama ini mereka tidak pernah menagih apa-apa padanya. Ya, seperti yang ia bilang tadi. Mereka sendiri yang malas untuk datang.
‘Koreonya gini-gini aja. Pantes aja kita udah ga pernah menang di mana-mana.’
Sembarangan! Semalam suntuk ia bersama Shilla membuat gerakan. Ia selalu bersungguh-sungguh tapi mereka terlalu banyak mau. Diberi yang mudah, protes. Diberi yang susah, malah makin jadi. Diberi yang energik, katanya kurang menantang. Lantas diberi yang seksi, mereka bilang tidak sesuai umur.
Karena sudah menyerah, ia akhirnya menawarkan memakai jasa koreografer. Mereka akhirnya tidak menuntut apa-apa lagi. Tapi, yah, kalau latihan saja jarang, mau koreografer sebagus apapun mana mungkin bisa menang.
‘Kita sering gagal ikut event. Turnamen basket kemaren aja gagal. Keseringan karena kurang dana. Padahal kita selalu bayar iuran rutin. Sponsor juga ga ada. Ya gimana mau dapet sponsor kalo menang aja ga pernah.”
Gundulmu! Turnamen basket kemaren bukan gagal, tapi memang karena turnamennya batal dilaksanakan. Lalu, kalau tidak ada yang bertanding, mau menari di hadapan siapa? Penjaga gedung? Menyemangatinya saat membersihkan gedung?
Terus…mereka menuduhnya macam-macam dengan uang kas club? Demi betisnya yang lebih banyak tulang ini, mereka sendiri yang jarang membayar. Mulutnya sampai berbusa membantu bendahara menagih mereka yang menunggak.
Lagipula, sebenarnya clubnya tidak pernah kekurangan dana kalau cuma ingin mendaftar event. Tapi, untuk memakai kostum baru setiap kali ikut lomba memang tidak selalu bisa. Selain menghemat, juga, masa ingin ganti baju terus? Kostum-kostum mereka bukan sembarang kostum yang sehari jadi. Kostum yang ia pilih selalu punya kualitas yang sebanding dengan harganya. Makanya, sangat sayang kalau hanya dipakai untuk satu waktu.
Masalah sponsor. Sponsor sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Mereka tidak berniat menjadi tuan rumah suatu acara sehingga butuh dana besar. Tapi, ia bukan tidak pernah mencari. Ia dan Shilla selalu berkeliling mencari sampai dapat apabila memang dibutuhkan. Misalnya, ketika kas defisit dan ia sudah lelah menutupi kekurangan yang ada. Sedangkan mereka butuh uang untuk pendaftaran, transportasi, uang makan, dan uang kostum serta upah koreografer.
Dan benar apa yang mereka katakan. Bagaimana mau dapat sponsor kalau tidak ada prestasi? Bagaimana mau dapat prestasi kalau usahanya minim?
Ify memperhatikan satu persatu anggotanya yang mengajukan perlawanan. Ditambah seniornya yang entah kenapa sudah berubah haluan dan tidak memihaknya lagi seperti dulu. Semua jawabannya terus saja disanggah. Apapun yang ia katakan, seberapapun nyatanya kebenaran yang ia katakan, mereka tidak mau terima. Mereka terus mencari hal yang bisa dijadikan kesalahan dari dirinya.
Ia menatap Shilla yang sudah berdiri dengan muka masam di sampingnya. Untung dia bukan Agni. Kalau sampai Agni yang mendampinginya sekarang, ia khawatir keesokan harinya semua orang yang menentangnya sekarang tidak lagi dapat berbicara. Akan tetapi, keahlian bela diri yang diwariskan Agni padanya sedikit banyak membuatnya khawatir.
“Sekarang lo udah tau unek-unek anggota lo. So, kalian semua, sekarang maunya gimana?” Ata, seniornya itu, bertanya pada semua anggota yang berkumpul.
Hebat sekali. Anggotanya bisa hadir lengkap. Ia merasa sepertinya mereka sudah merencanakan ini sejak awal. Tapi, ia tidak tahu apakah Ata ikut terlibat atau tidak.
“Kita mau pemilihan kapten baru.” Regu yang berkonfrontasi dengannya tiba-tiba menjawab serentak. Ify sampai berjengit kaget. Tapi kemudian, ia hanya diam. Menunggu apa yang akan mereka lakukan setelah ini.
“Karena udah 50% yang setuju jadi keputusannya kita akan milih ulang kapten. Ify calon pertama, berikutnya siapa?”
Regu itu diam sebentar. Mereka tampak sedang berdiskusi. Hingga kemudian salah satu dari mereka menjawab.
“Dea.” Ucapnya dengan suara bulat.
Membuat hati Ify mencelos. Ia menoleh pada gadis yang dicalonkan itu. Sedaritadi dia memang tidak banyak bergelagat. Dia hanya menjadi penonton. Ketika namanya disebut, raut wajahnya sontak terlihat bingung.
Ify mengerang dalam hati. Dia tampak bingung. Tapi..kenapa ia tidak bisa percaya? Ini tidak boleh. Ia tidak boleh terus berprasangka begini. Tapi..
“Gu—gue? Kok gue?” raut wajahnya kini menunjukkan penolakan. Ia menoleh pada Ata lalu seketika menunduk segan.
“O—oke.” Katanya pelan. Dia juga menghela napas.
Apa dia benar-benar tidak terlibat kali ini? Ify terus bertanya-tanya dalam hati.
“Oke. Gue kasih waktu satu hari buat mikirin siapa yang mau kalian pilih. Besok kita voting. Dan gue harap kapten baru nanti ga bikin masalah lagi. Lo tau, gue jadi telat nemuin dosen karena masih harus ngurusin kalian. Yaudah, itu aja kan? Gue balik dulu. Kalian silahkan mau balik juga atau mau latihan.”
Ify sama sekali tidak takut atau terganggu dengan nada sinis dari seniornya itu. Rasa hormatnya sudah hilang. Ia tidak terlalu peduli apa yang dia katakan.
Kepergian Ata diikuti oleh gerombolan yang tadi berniat menggulirkan Ify dari jabatannya. Mereka juga bersikap sama seperti Ify pada Ata. Tidak ada rasa hormat atau segan sama sekali. Meskipun Ify tidak menunjukkannya secara terang-terangan. Mereka pergi tanpa permisi seraya mengangkat wajah dengan angkuh.
Tersisa beberapa anggota yang tinggal, termasuk Dea. Gadis itu menghampirinya dengan wajah tak enak hati. “Maaf ya, Kak..”
Ia tersenyum tipis. Ia masih tidak nyaman bertemu dengannya apalagi berbicara seperti ini. Tapi, ia mau tidak mau harus mengesampingkan masalah mereka waktu lalu. “Gapapa. Bukan salah kamu.” Balasnya seraya tersenyum tipis. Itu adalah usaha terbaik yang bisa ia lakukan. Dea lantas pamit lebih dulu.
Setelahnya, ia mendapati Shilla mencak-mencak di tempatnya. Ia tahu dia sudah menahan emosi daritadi. “Sumpah ya, pengen gue jahit mulutnya satu-satu. Nyalahin orang tapi gasadar diri! Itu juga senior baru. Sok banget! Kerajinan banget ngurusin junior. Kita butuh juga enggak, hih!”
Mendapat pembelaan seperti itu membuat Ify mengucap syukur dalam hati. Di saat ada masalah baru yang akan segera menghantuinya, Tuhan masih memberikan keringanan. Ia punya pendukung yang siap menyediakan pelipur lara kapan saja.
Kepalanya tanpa sengaja terangkat dan membuatnya bertatapan langsung dengan Rio. Pemuda itu juga sedang melihat ke arahnya. Mulutnya lalu bergerak-gerak seperti mengatakan sesuatu.
“Pulang sekarang?” Tanyanya, kalau Ify tidak salah menerjemahkan.
Ia menghela napas. Semoga Rio juga tetap menjadi pelipur lara untuknya. Ia lantas menganggukkan kepala sebagai jawaban untuk pertanyaan Rio padanya.

***

Duk! Duk! Prang! *apadeh*
Ify menoleh mendengar suara benda terjatuh di sampingnya. Ia sebelumnya sempat melihat ada seorang karyawati supermart yang ia datangi sedang menyusun barang. Ia tidak terlalu memperhatikan benar wajahnya hingga bunyi nyaring seperti kaleng jatuh itu terdengar.
Ia membelalak kaget ketika mengetahui siapa wanita tersebut. Dia Angel. Ia sampai meneliti pada label baju yang dia kenakan untuk lebih memastikan yang ia lihat benar-benar Angel seniornya di sekolah. Kakak kelasnya yang sangat penuh misteri itu.
Yang membuatnya bertanya miris dalam hati adalah apakah dia juga harus sampai seperti ini? Setelah semua hal buruk yang menimpanya, sekarang dia juga harus bekerja sebagai karyawan di supermart. Apa selama ini dia membiayai hidupnya, dan mungkin juga adiknya, seorang diri? Kalau benar, ayah tiri gadis itu benar-benar tidak bisa diampuni.
Angel menghela napas mengetahui dirinya harus menyusun ulang lagi barang-barang yang tadi sempat tertata. Salah satu kaleng permen yang jatuh menggelinding hingga berhenti di depan kaki Ify.
Ify merunduk mengambil kaleng tersebut lalu beranjak mendekat untuk menyerahkan benda tersebut. Angel mengangkat wajahnya dan geraknya berhenti sesaat. Ia menerima barang yang disodorkan itu dengan muka datar. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Ia melanjutkan tugasnya tadi dalam diam tanpa menggubris keberadaan Ify.
Rio berdecak di belakang Ify. Ia berjalan menghampiri gadis itu sekaligus Angel. Ia bersidekap sambil menatap Angel sengit. “Perlu gue ajarin cara ngomong makasih gak? Udah dibantuin juga!”
Lagi-lagi Angel bergeming. Dia justru mempercepat geraknya menyusun barang hingga semuanya sudah tertata sesuai tempatnya. Dia buru-buru berbalik badan dan beranjak pergi.
Tapi, Rio tidak begitu saja membiarkannya dengan tenang. “Heh, cewek rusak!” Kata-kata kejam itu spontan keluar dari mulut Rio. Sudah tabiatnya dari dulu. Kalau sedang marah, ia banyak mengucapkan kalimat-kalimat tidak menyenangkan dan bisa membuat orang kena serangan jantung. Salah satunya Ify saat ini, mungkin juga Angel. Ify berjengit dengan mata melotot sementara Angel menghentikan langkahnya.
“Yo..” gumam Ify masih diliputi rasa terpana. Rio masih sama seperti tadi. Dia tidak peduli. Dia masih ingin menjadikan Angel sebagai sasaran emosinya. Berhubung hal yang dilakukan gadis itu memang sangat-sangat memancing emosi.
Sebenarnya amarahnya saat ini hanya puncak dari rasa tidak terimanya beberapa saat lalu. Ia tidak bodoh. Ia punya mata dan telinga untuk bisa melihat dan mendengar dengan jelas bagaimana kekasihnya tercinta diadili dengan semena-mena. Ia benci harus melihat langsung orang-orang menyakiti Ify. Dan yang lebih membuatnya marah pada diri sendiri adalah firasatnya yang mengatakan kalau apa yang terjadi pada Ify tadi juga ada kaitannya dengan dirinya.
Dengan mendadak bertemu Angel di sini, amarahnya itu menguap lagi. Di mana sebelumnya sudah hampir berhasil ia redam perlahan. Sikap tak acuh gadis itu menjadi rangsangan terbesar baginya.
“Gue gak akan minta maaf atas ucapan gue tadi karena itu emang pastes buat lo. Sekali lagi lo—“
Namun, kali ini, aksi kejam Rio itu harus terhenti sampai di sini. Mendadak muncul seorang pemuda dari arah belakangnya dan juga Ify yang menyelanya begitu saja. Ia menoleh dan sedikit bingung seraya mengingat-ingat di mana ia pernah bertemu pemuda itu.
Sementara itu, Tristan, pemuda yang menyela Rio itu, menatap makhluk di depannya dengan dingin.
Ify yang sudah hafal tingkah Tristan merasa keadaan ini tidak boleh terus dipertahankan. Ini amat sangat berbahaya. Khususnya, untuk Rio.
“Jangan sekali-kali lo ulangin omongan lo barusan.” Ujar Tristan dengan tatapan menusuk.
Rio memicing masih mencoba mengingat-ngingat siapa pemuda yang berkata dingin barusan. Ia lalu ingat kalau pernah bertemu Tristan di restoran bersama Ify dan Debo. Ia lantas menormalkan kembali ekspresi wajahnya. Tapi, tidak dengan suasana hatinya. Kepalanya justru terasa makin panas mengingat pemuda ini adalah salah satu saingannya selain Debo perihal Ify. Walaupun kenyataannya di sini ia lah pemenangnya.
“Oh lo pacarnya? Wah, pas banget. Rusak ketemu rusak. Aha! Jangan-jangan dia bunting sama lo ya?”
“Astaga Rio..” Ify merasa ada yang mencekiknya sehingga ia kesulitan berbicara. Rasa takjubnya berkali-kali lipat dibandingkan sebelumnya. Di samping itu, ia benar-benar marah. Lebih-lebih merasa kecewa. Ini kedua kalinya Rio membuka rahasia Angel pada orang lain. Dan..di sini bukan hanya ada mereka berempat. Mereka mulai jadi pusat perhatian orang sekitar. Terutama saat…
Plak!
Hk...sekarang apa?!
Angel baru saja menampar keras pipi Rio. Rio sendiri sesaat tercengang lalu perlahan rasa nyeri merambat di pipinya yang malang.
Tristan menyadari salah seorang remaja putri di belakang Angel sudah menyalakan ponselnya dan mengarahkannya pada Angel dan Rio, mungkin juga padanya dan Ify. Dia merekam apa yang mereka lakukan. Khususnya bagian yang paling menakjubkan barusan. Bagian saat Angel menampar Rio.
Ia berjalan cepat ke arah gadis itu dan merebut ponselnya dengan mudah karena gadis itu tidak menduga dan belum siap menghindar. Ia cepat menghapus, bukan, tapi memformat semua file yang ada dalam benda itu.
“Sorry ke format. Sengaja.” Katanya sinis. Gadis di hadapannya tidak protes melainkan menunduk takut.
Setelah itu, Tristan berjalan dan kemudian berdiri di samping Angel. Ia berbicara pada Ify sementara tatapannya tajam terhunus pada Rio. Rio merasa tertantang dan malah mengangkat dagu setinggi-tingginya.
“Bawa dia pergi, Fy. Sebelum gue abisin sekarang juga.”
Ify yang paling tahu kalau itu bukanlah ancaman kosong. Seperti yang sudah ia bilang, ia tahu benar siapa Tristan.
“Yo, ayo pulang. Sekarang. Kalo gak, gue naik taksi.”
Ify beranjak lebih dulu di saat Rio belum sempat menjawab apa-apa. Rio mengerang kesal dan mau tidak mau pergi menyusul Ify sebelum dia benar-benar pulang dengan taksi.
Rio berhasil mengejar Ify dan langsung menangkap pergelangan tangan gadis itu. Itu berhasil membuat Ify berhenti dan menghadap ke arahnya. Saat itu juga, ia melihat ada yang tidak beres dengan Ify. Dia menangis.
“lo—nangis?! Ma—maaf Fy, gue salah ya? Maafin gue, Fy, maafin gue!” ujarnya panik. Ia membuat nada suaranya selembut mungkin berharap kelembutan itu berhasil membuat Ify berhenti dari tangisnya.
Tapi, hasilnya tidak seperti yang ia harapkan. Isakan Ify justru makin hebat. Ia mengusap pipi gadis itu dengan setumpuk rasa bersalah dalam hati.
“Iya, gue salah—salah banget. Maafin gue, maafin gue! Fy, jangan nangis dong. Gue bingung..” bujuknya yang lama-lama terdengar frustasi.
Ify mengarahkan pandangannya pada Rio lalu melengos. “Gue mau pulang.” Katanya ketus seraya berjalan meninggalkan Rio kembali menuju mobil.
Rio menggaruk-garuk kepalanya benar-benar bingung apa yang harus ia lakukan. “Baru juga baikan, hadeuuh..”

***

Ify tertunduk lesu di atas meja belajarnya. Ia sudah satu jam mengurung diri di kamar dan belum ada materi yang bisa ia terima dalam kepalanya. Selalu saja ada pertanyaan muncul dan ia juga tidak bisa menjawab dengan tepat.
Tiba-tiba ia mengangkat kepalanya. “Bodoh.” Umpatnya untuk diri sendiri. Ia kembali menyandarkan kepala ke atas meja dengan tatapan nelangsa. “Salah lo, Fy, sok-sok ngambek. Lupa besok ujian, hah?!”
Apa gue minta ajarin aja?
Tak sampai satu detik setelah pemikiran itu muncul, Ify menegakkan badannya dan berdiri. Ia bergegas mengambil buku dan pensilnya lalu beranjak keluar kamar.
Namun, ketika sudah di luar dan menutup pintu, ia kembali meragu. Ia melongokkan kepalanya ke bawah dan melihat Rio tengah membaca buku dengan santai disertai headset menyantol di telinga. Benar-benar berbeda dengan perguncangan jiwa yang dialaminya selama satu jam belakangan.
Rasa kesal Ify datang lagi. Kalau santai begitu kenapa tidak diam di kamar saja? Ia kan jadi..iri. Atau jangan-jangan Rio memang sengaja mau pamer padanya? Cih..ia juga bisa belajar sendiri!
Ify hendak membuka pintu kamarnya tapi kemudian ia urungkan. Bukannya tadi ia memang sudah belajar seorang diri dan tidak berhasil? Masih mau mengulangi kegagalan untuk kedua kali?
“Haish..”
Sementara itu, dari bawah Rio diam-diam memperhatikan gelagat Ify. Sejak pintu kamarnya terbuka, Rio sebenarnya sudah tahu. Ia hanya pura-pura fokus pada bukunya dan sesekali mencuri pandang ketika Ify sedang tidak menoleh ke arahnya. Beberapa kali ia tersenyum geli mengetahui Ify yang kebingungan dan bolak-balik naik-turun tangga. Gadis itu pasti sedang butuh bantuannya. Hanya saja, dia gengsi karena sebelumnya mereka sedang perang dingin. Lebih tepatnya, Ify yang marah padanya.
Terakhir, Ify berhenti dan tampangnya benar-benar kacau. Gadis itu memilih masuk kembali ke kamarnya. Dalam hati Rio berhitung. Ia yakin sebentar lagi Ify pasti akan keluar.
Satu..dua..ti—
Ceklek.
“Yeah!” Rio mengerang tertahan demi mempertahankan sandiwaranya di depan Ify. Meski dalam hati, ia bersorak gembira karena dugaannya benar.
Ia dapat mendengar langkah Ify yang semakin dekat ke arahnya. Pandangan turun ketika Ify sudah duduk di sampingnya di bawah sofa. Ia pura-pura memasang tampang bingung meski dalam hati ia tersenyum senang.
Rio ikut-ikutan duduk di bawah sofa seraya menunggu Ify mengatakan sesuatu. Tapi, gadis itu tidak juga berbicara. Ify kemudian menyodorkan bukunya ke hadapan Rio.
“Yang—yang ini gimana ngerjainnya?” Dari luar tampang Ify kelihatan datar-datar saja meski ia sebenarnya menahan gugup setengah mati. Ia merasa ada bedak yang cukup tebal yang menutupi wajahnya. Tapi, apa boleh buat. Daripada ditanya macam-macam dan ia tidak jadi belajar, mending ia berpura-pura tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
Kali ini Rio akhirnya mempertontonkan senyum di wajahnya. Ia menepuk-nepuk tepat di sebelahnya meminta Ify berpindah. Ify kelihatan agak keberatan tapi kemudian mau tidak mau melakukan berpindah juga ke sisi Rio.
“Yang ini emang agak ribet, sih.”
Ify memandang buku di depannya lamat-lamat. Rasa gugup yang menerpanya sudah lenyap. Ia benar-benar fokus mendengarkan penjelasan Rio.
Hal itu kemudian menjadi awal kegiatan belajar bersama mereka selama hampir 2 jam. Setiap menitnya berlangsung tidak mudah bagi Ify. Beberapa kali Rio harus dengan sabar mengulangi penjelasannya padanya karena ia belum juga mengerti dengan penjelasan sebelumnya.
Berbeda dengan belajar bersama yang pernah mereka lakukan sebelumnya, Rio sangat-sangat menikmati waktu-waktunya mengajari Ify. Ia senang ketika harus merendahkan suaranya apabila Ify terlihat kebingungan atau mengelus kepala gadis itu ketika kesal karena tidak bisa mengerjakan soal.
Ify berkedip beberapa kali sambil menggerakkan kepalanya mencoba mengusir rasa kantuk. Elusan Rio pada kepalanya hanya menambah berat rasa kantuk yang di deranya. Tapi, ia tidak berani melarang. Bukan, lebih tepatnya ia sendiri menolak menghentikan karena ia menyukainya. Hehehe.
“Berenti aja, Fy..” Rio tiba-tiba bergumam.
“Tanggung.”
“..dari cheers.”
Komat-kamit di bibir Ify seketika berhenti. Ia menoleh pada Rio sebentar lalu kembali pada hafalannya setelah mengeluarkan jawaban yang sama. “Tanggung.”
“Kalo gue berenti sekarang, gue bakal jadi satu-satunya kapten yang ga nyumbang prestasi apa-apa dari cheers buat sekolah.” Sambungnya disela-sela hafalan.
“Emangnya kalo lo masih mau bertahan, lo yakin bisa gerakin mereka-mereka yang sama sekali gak dukung lo?”
Jadi, intinya Rio juga sama seperti anggota cheers yang menghakiminya siang tadi. Mereka sama-sama tidak percaya dengan kemampuannya. Sepayah itukah dirinya? Dengan semua yang telah ia perjuangkan selama ini?
Atau…sekarang masih tentang Dea?
Rio memperhatikan Ify yang sepertinya memikirkan ucapannya. Ia sungguh-sungguh berharap Ify berhenti saja dari club yang berisi orang-orang terkutuk itu, yang beraninya bergerombol menyerang kelinci kecil tak berdaya. Ia benar-benar benci melihat Ify terpojok sementara ia hanya bisa berdiam diri menunggu kapan hal itu berakhir. Menyadari kejadian itu terjadi karena dirinya, ia merasa makin bersalah lagi.
Ify menyandarkan punggungnya pada sofa dan menatap lurus ke depan. Tangannya masih memegang pensil dan ia mainkan di depan wajahnya.
“Gue gak meyakinkan banget, ya? Sampe-sampe cuma Shilla yang ngedukung gue. Atau mungkin karena dia temen gue aja?”
Rio menarik Ify mendekat dan mengarahkan gadis itu agar bersandar padanya. Ia tanpa sengaja meremas pelan lengan Ify yang membuat gadis itu paham kalau ia sedang gelisah memikirkannya.
“Justru karena gue tau seberapa keras usaha lo selama ini dan gue tau mereka gak akan menghargai sedikitpun perjuangan lo itu…karena gue.” Rio mengakhiri ucapannya dengan senyum sedih. Demi apapun ia sangat-sangat merasa bersalah.
Hari ini sudah dua kali Rio membuat hati Ify menghangat karena memikirkannya. Setelah dipikir-pikir, kejadian di supermart tadi bukan salah Rio sepenuhnya. Rio hanya bersalah karena mengeluarkan reaksi yang berlebihan dan membuat semua orang gemas. Termasuk dirinya.
“Gini amat pacaran ama artis.” Ify menyeletuk mencoba mengurangi rasa cemas yang melanda Rio kini. Rio tersenyum kecil dan bukan karena ia bersedih lagi. Meski perasaan bersalah itu masih tetap ada.
“Gue bingung..sama Dea.” Gumam Ify pelan yang seketika membuat Rio ketar-ketir.
“Jangan bilang lo curiga ini ulah dia lagi?” Tanya Rio was-was. Ify dengan cepat menggelengkan kepala.
“Bukan..” balasnya spontan. Atau mungkin juga tidak. Ia menarik napas dan menghembusnya pelan. “Gue bingung gimana gue sama dia sekarang. Gimana ngadepin dia. Gue jadi gaenak sama dia karena buat nurunin gue, dia jadi tiba-tiba dicalonin. Mungkin kali ini dia ga salah apa-apa tapi dia malah ikut merasa bersalah. Dia minta maaf, disaat masalah kemaren belum selesai. Gue bingung harus gimana..”
Rio merasa lega dalam hati. Ia bersyukur meski Ify masih belum bisa melupakan kesalahan Dea yang kemarin, setidaknya dia tidak lagi berpikiran negatif pada Dea. Ia bukan pihak pendukung Dea. Ia hanya ingin Ify menjadi tenang dan tidak selalu merasa cemas dengan kejadian kemarin.
“Makanya..berenti aja, ya?” Bujuk Rio seraya melembutkan nada suaranya.
Ify tidak tahu kenapa tapi ia merasa pipinya panas. Suara lembut Rio entah kenapa membuatnya tersipu.
“Gue pikir-pikir dulu, deh.”
Setelah itu, Ify hanya menatap nanar pensil yang sampai saat ini masih dipegangnya. Ia diam sementara ada perasaan lain yang berkecamuk dalam hatinya. Perasaan yang entah kenapa ia pikir harus disembunyikan. Bisa jadi ia hanya tidak tahu bagaimana mengungkapkannya pada Rio.
Lo ga akan percaya, Yo. Kemarin ataupun sekarang..semuanya emang masih tentang Dea.


***

Ku tak bisa berkata-kata..