-->

Minggu, 03 September 2017

Matchmaking Part 35 (Alshill)

When you said you needed time, I heard goodbye – I Heard Goodbye (Dan + Shay)

***

Semua mengalir begitu saja, salah satu di antaranya adalah hubungan Alvin dan Febby. Semenjak Alvin menawarkan diri untuk menjadi saudara laki-lakinya, Febby tak pernah absen menggoda pemuda itu dengan selalu memanggil ‘Kak Alvin’ diiringi nada manja yang amat menyebalkan.

Meski kerap jengkel, sebenarnya dalam hati Alvin merasa senang. Jujur ia begitu menyukai kedekatannya dengan Febby, begitu pula sebaliknya. Keduanya tenggelam dalam peran baru masing-masing tanpa menyadari kalau mereka bisa saja terperangkap pada situasi yang mereka sendiri tidak ingin itu terjadi.

Suatu malam, Alvin terbangun dengan sosok Febby di sampingnya yang masih terlelap. Hari itu mereka baru saja menyelesaikan minggu yang cukup berat. Kelas mereka sedang dilanda ulangan beruntun. Semalaman mereka belajar bersama hingga lewat tengah malam. Beruntung soal ujian yang keluar tidak terlalu susah. Setidaknya bagi Febby, ia masih bisa mengerjakannya meskipun ia tidak janji nilainya bisa lebih dari 70. Kebetulan dirinya juga tidak pernah berharap mendapat skor tinggi. Yang penting lulus, pikirnya.

Setelah pulang sekolah, Alvin awalnya berniat mampir sejenak ke kamar Febby berhubung kamar Febby lebih dekat dari pintu masuk rumahnya. Tanpa disengaja mereka justru sama-sama tertidur di atas ranjang kamar Febby. Ketika lebih dulu terbangun, Alvin mencuri kesempatan untuk memperhatikan Febby tanpa sepengetahuan gadis itu.

Alvin memandang wajah lelap Febby dengan kepala dipenuhi berbagai hal. Ulasan-ulasan ketika baru pertama kali bertemu, dari yang awalnya benci setengah mati sampai terbentuk hubungan kakak-adik seperti saat ini, berputar-putar di benaknya. Kalau saja ibu Alvin tidak punya ide unik untuk membawa Febby ke rumah mereka, hari-hari pertemuannya dengan Febby sudah pasti diisi oleh perseteruan.

Mungkin hal itulah yang menjadi alasan mengapa mereka berdua merasa nyaman dengan keakraban mereka. Setidaknya, mereka akan menjalani hari demi hari dengan damai tanpa perlu menguras energi meregangkan urat-urat di wajah. Walau makin ke sini, baik Alvin maupun Febby sama-sama merasa aneh dengan rasa nyaman tersebut. Namun, keduanya memilih menyimpan hal yang ‘mengganjal’ tersebut pada diri masing-masing. Karena bila mereka saling terbuka, hal ‘mengganjal’ tersebut justru akan terasa lebih nyata.

“Kalo lo diem di sini cuma ngeliatin muka gue doang, balik sana ke kamar! Gue pengen tidur tenang.” gumam Febby dengan mata masih tertutup rapat.

Alvin menumpu sikunya ke bantal dan menyandarkan sebalah wajahnya pada telapak tangan dengan pandangan justru makin intens mengarah pada wajah Febby.

“Kenapa? Kayak lo bakal grogi aja kalo gue liatin!” ejek Alvin. Niatnya, sih, bergurau. Namun, tanpa disangka Febby membuka mata dan menatap Alvin seraya memasang air muka serius. Gadis itu bergeming dan terus menatapnya tanpa berkedip hingga membuat Alvin sadar akan situasi bahaya yang sedang terjadi.

Sumpah demi Tuhan, setelah Shilla, tatapan Febby saat ini adalah hal kedua yang membuat jantungnya berdegup tidak sabaran. Bila Shilla membuat hatinya bergetar bahagia, Febby justru membuatnya takut tujuh turunan. Ia takut kalau Febby ternyata menyukainya. Tidak, tidak. Biar ia coba perbaiki faktanya. Ia bukan takut dengan kenyataan Febby menyukainya. Namun, ia merasa takut karena dugaan Febby menyukainya membuat denyut jantungnya menjadi tidak karuan. Masalahnya, dulu Febby sudah pernah menyatakan cinta terang-terangan kepadanya, meskipun hanyalah rekayasa belaka, dan seluruh dirinya tidak bereaksi apa-apa. Tapi sekarang, ia justru berdebar.

Febby menutup matanya kembali dalam diam yang membuat fantasi Alvin menjadi semakin liar. Pikiran tentang Febby menyukainya tidak bisa ia enyahkan dari otaknya. Pada akhirnya ia memilih menyerah dan memutus jalannya drama yang sedang berlangsung. Ia tidak memerlukan pembenaran dari mulut Febby karena itu sama sekali tidak membantu menstabilkan hubungan di antara mereka yang tengah tergoncang.

Alvin menegakkan tubuhnya segera dan turun dari ranjang. Ia mulai melangkahkan kaki hendak beranjak. Akan tetapi, langkahnya yang belum seberapa itu harus berhenti karena Febby tiba-tiba bersuara.

“Ga nanya kenapa gue grogi?”

Sial. Alvin mengumpat tertahan dalam hati. Ia sungguh tidak berharap apapun keluar dari mulut Febby sekarang. Jangan bilang kalo sekarang dia mau nembak gue lagi? Mati gue. Mati.

Buk!

Tiba-tiba suasana tegang tadi sirna seketika. Bukan pernyataan cinta seperti yang sudah ia wanti-wanti sebelumnya, Alvin justru menerima lemparan bantal dari Febby. Wajah gadis itu menyeringai penuh kemenangan.

“Gue cuma ga suka tidur diliatin. Muka bantal gue kan ga manusiawi bego!” keluh gadis itu.
Saat itu juga umpatan melaju keluar begitu saja dari mulut Alvin tanpa sempat lagi di rem. “Asu! Gue kira lo mau nembak gue, ‘njing!” Ia menggerutu namun dengan ekspresi lega di wajahnya. Ia tersenyum lemah sukses terbodohi oleh trik Febby, untuk kesekian kalinya. Gadis itu benar-benar harus ia beri pelajaran kapan-kapan.

Febby terkekeh pelan di tempatnya. Alvin lantas memungut bantal ‘penyelamat’ tadi dan mengembalikannya ke kasur. Ia tidak benar-benar menaruhnya melainkan membiarkan benda tersebut sedikit melayang di udara dan akhirnya terjatuh tepat di atas muka Febby.

“Awas ya. Tunggu pembalasan gue!” Alvin memberikan peringatan yang sekaligus menjadi ucapan selamat tinggalnya sebelum keluar dari kamar Febby dan kembali menuju kamarnya. Febby hanya tersenyum miring ke arahnya.

Ketika keduanya tak lagi bertatap muka atau berada di tempat yang terjangkau oleh pandangan masing-masing, mereka sesaat membeku dan diam-diam menghela napas lega. Alvin bersandar pada pintu kamarnya yang telah tertutup lalu kemudian beranjak memasuki kamar seraya geleng-geleng kepala.

Sementara Febby tetap ditempatnya dan memilih melanjutkan tidurnya yang terpotong beberapa saat lalu.

“Selamet, selamet!” gumamnya pelan.

***

Shilla duduk di salah satu kursi kosong di dalam cafe sebuah mall sambil menunggu frappucino pesanannya selesai. Hari ini moodnya sedang kurang bersahabat. Kali ini bukan karena Alvin, walaupun pemuda itu juga mengambil porsi beberapa persen, tapi karena Ify. Ia masih kesal dengan keputusan sahabatnya untuk mundur dari jabatan kapten sekaligus tidak lagi menjadi anggota club cheers yang sudah dipimpinnya hampir setahun dan sudah mereka ikuti dari tahun pertama sekolah. *yah jadi spoiler kan*

Yang membuatnya kesal lebih tepatnya adalah karena tindakan yang Ify pilih adalah tindakan yang paling tepat. Ia kesal karena tidak ada yang bisa diperbuat agar Ify bisa bertahan. Bagaimana bisa temannya itu bertahan kalau 80% penghuni clubnya menginginkan Ify mundur? Satu suara darinya tidak akan ada gunanya. Maka dari itu ia kesal karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu sahabatnya.

Di samping itu, seperti biasanya, ia juga terganggu dengan kekasihnya tercinta akhir-akhir ini. Entah kenapa, ia mulai merasakan keanehan pasca pembicaraan lewat ponsel waktu itu. Ia merasa sikap Alvin ikut berubah. Pemuda itu terasa tidak sehangat biasanya. Dia juga seperti berusaha menghindarinya dengan mempersingkat durasi komunikasi mereka lewat telepon. Alasannya selalu sama, yaitu Alvin harus belajar untuk ulangan susulan atau mengerjakan tugas. Ia juga cukup sering mendapati kekasihnya seperti sedang termenung sehingga tidak mendengar ucapannya. Yang paling menarik perhatiannya adalah ketika ia bercanda bertanya apakah pemuda itu mencintainya, Alvin terdengar kaget dan menjawab dengan gelagapan.

Ia tidak berani untuk bertanya langsung atau bertukar pendapat soal perubahan tersebut dengan Alvin. Ia sendiri yang waktu itu bertekad ingin berubah menjadi lebih kalem namun ia sendiri pula yang merasa tidak yakin dan was-was. Ia tidak tahu apa memang ada sesuatu yang terjadi pada Alvin atau ini hanyalah bagian dari masa transisi perubahan sikapnya sehingga hatinya menjadi jarang terasa tenang.

Lantas, itulah yang membuat kakinya melangkah menuju cafe segera setelah jam pulang sekolah. Ia butuh sedikit suasana cerah dan minuman menyegarkan untuk membersihkan noda-noda pikiran. Ia juga sengaja tidak meminta ditemani siapa pun karena ia butuh merefleksikan diri. Bagaimanapun, hal yang mengganjal benaknya berasal dari pemikirannya sendiri sehingga yang bisa menyelesaikan tentunya dirinya sendiri pula.

“Kak Shilla!” Pelayan akhirnya menyerukan namanya dan Shilla tanpa menunda lagi langsung menghampiri sang pelayan dan mengambil frappucino pesanannya.

Setelah mengucapkan terimakasih, Shilla beranjak hendak keluar dari cafe. Ketika sudah melewati pintu, mata Shilla tanpa sengaja menangkap sosok Chris duduk seorang diri di kursi luar cafe. Tampilannya rapi seperti biasa namun tetap tampak casual. Pemuda yang sebelumnya mengganggu harinya itu seperti sedang menunggu seseorang.

Setelah rutin mendatangi dan membuat hari-harinya seperti banyak masalah, Chris tiba-tiba menghilang. Setelah kejadian Chris dan Lala yang waktu itu ia lihat di sekolah, pemuda itu mendadak tidak ada kabar. Ia sebenarnya sungguh sangat tidak keberatan kalau Chris tidak lagi muncul di depan matanya. Namun, ia tidak bisa mengelak kalau ia jadi penasaran dengan pemuda itu. Bagaimana pun, ia juga butuh tahu alasan pemuda itu tiba-tiba datang dan pergi.

Kaki Shilla melangkah secara otomatis mendekat ke meja Chris bahkan duduk di salah satu kursinya tanpa menyapa. Chris tampat kaget akan kehadirannya sementara ia hanya memasang tampang penuh tanya pada pemuda itu. Tidak seperti sebelumnya, melihatnya justru membuat Chris mendengus dan melenguh pelan.

“Ganggu gue nya jangan sekarang, ya, tolong..” pinta pemuda itu dengan ekspresi agak frustasi.

Shilla menaikkan sebelah alisnya makin bingung pada Chris. Yakin? Gue? Yang ganggu dia? Pikirnya sedikit takjub.

“Shit!”

Belum sempat ia menjawab, Chris tiba-tiba menarik tangannya hingga ia berdiri dari kursi dan membawa serta menempatkannya dengan paksa pada meja di sampingnya. Chris lalu buru-buru kembali ke mejanya dan bertepatan dengan itu seorang gadis menghampiri mejanya dan duduk di salah satu kursi. Gadis itu tak lain adalah Lala, entahlah sang pacar atau sang mantan. Kemungkinan besar sih mantan karena saat pertemuan di sekolah waktu itu, Lala bersama pemuda lain. Dikarenakan meja mereka bersebelahan, Shilla dapat mencuri dengar obrolan Chris dan Lala.

“Kenapa lagi?” tanya Lala yang kedengaran agak emosi.

“Kamu mau mesen apa?” tawar Chris yang segera disambut balasan datar dari Lala. “Gue dateng bukan niat mau ngedate sama lo.”

Senyuman di wajah Chris sedikit mengendur meskipun wajahnya tetap tenang. Pemuda dengan paras bule itu menghela napas pelan. *sebenernya gue agak kurang srek gitu sama ini orang aslinya tapi karena sudah terlanjur dijadikan tokoh sebelumnya mau gimana lagi, kalo tetiba gue ganti mimi peri kan ntar pada kaget*

“Salahnya ada di aku atau kamu, sih, La?” Chris mengawali diskusi ‘hangat’ mereka dengan halus.

Shilla merasa rambut-rambut tipis di sekitar lengannya berdiri. Aura Chris dan nada bicaranya benar-benar berbeda dari yang sudah pernah ia dengar selama ini. Seramah-ramahnya Chris padanya, suaranya ketika mengajak Lala bicara benar-benar sangat lembut. Itu juga yang membuatnya berpikiran kalau pemuda itu masih menyimpan perasaan yang besar pada Lala. Umm..ia jadi sedikit simpati.

Lala mengalihkan pandangan dan memperhatikan orang-orang di sekitar sekilas sebelum menjawab pertanyaan Chris padanya. “No..no one. We’re just...not meant for each other.”

“Jangan nyoba-nyoba jadi lebih pinter dari Tuhan, La.” ujar Chris sarkastik. Ia berusaha sebisanya menahan emosi dan menjaga suaranya agar tetap terdengar bersahabat.

“Okay, then it’s me! Gue yang salah. Gue yang udah ga mau sama lo. And please stop your aku-kamu thing. It’s annoying when we’re not in a relationship anymore.” Lala belum mau menyerah.

Chris lantas kembali bertanya dengan cepat. “Then, why? What makes him better?”

“Chris, lo harus tau, ga semua hal itu harus ada alesannya. Yang perlu lo ngerti adalah kita udah selesai, udah LAMA, dan gue udah gak lagi dalam posisi bebas ngebahas hubungan gue sama lo terus-terusan. Chris, I have had a man now, yang mesti gue jaga perasaannya.”

Chris tertawa kering sekering hatinya saat ini. Mengetahui Lala begitu memikirkan pria barunya membuat mata air dalam dirinya seketika menyusut. “Like you have ever mind to take care of mine, huh?”

Lala mendengus kesal. Ia kelihatan sudah tidak tahan untuk lebih lama bersama Chris. Ia benar-benar ingin menghilang saat ini juga. “Stop. Kalo kayak gini ga bakal ada abisnya. Chris, ini terakhir kali gue bersedia lo hubungin dan lo minta temuin. Kita udah selesai dan diskusi kita hari ini gue anggap juga udah selesai. Sebelum gue ngomong yang enggak-enggak, gue permisi. Kalo lo masih mau bahas soal ‘kita’, jangan coba-coba buat hubungin atau nemuin gue lagi. Fix your mind first, please!”  

Tanpa mendengar jawaban Chris terakhir kali, Lala segera angkat kaki tanpa menolehkan kepala sedikit pun. Chris duduk pasrah tanpa melakukan sesuatu yang berarti untuk menghentikan mantan kekasihnya itu. Kebetulan memang ia tidak lagi punya sesuatu yang bisa menarik gadisnya kembali.

Shilla menyeruput sedikit frappucino miliknya untuk membasahi mulutnya yang terasa hambar. Drama nyata yang ia saksikan benar-benar seru hingga dapat membuatnya betah duduk diam dan menonton sampai habis. Bahkan sampai kedua peran utama meninggalkan tempat kejadian. Chris tak lama kemudian menyusul Lala, kurang tahu benar-benar menyusul atau tidak, meninggalkan cafe tempat mereka tadi berbicara.

Shilla kini benar-benar duduk seorang diri. Selain dirinya, tidak ada lagi orang lain yang juga sedang menempati meja cafe di bagian luar. Alhasil, Shilla akhirnya memutuskan untuk undur diri pula dari tempat tersebut. Ia sampai di depan lift yang masih tertutup dan setelah menekan tombol, ia berdiri menunggu sampai pintunya terbuka.

Ting!

Lift akhirnya terbuka dan tanpa disangka sudah ada sosok Chris di dalam sana. Pemuda itu bersandar sambil melipat kedua tangannya dan menatap Shilla datar. Shilla awalnya sempat ragu namun pada akhirnya tetap menaiki lift yang sama dengan Chris tersebut. Entah kebetulan atau tidak, tidak ada orang lain lagi yang masuk dan itu artinya mereka akan turun menggunakan lift yang sama.

Shilla hendak menekan tombol tujuan namun Chris menahannya duluan. Chris menahan tangannya dan mewakilinya menekan tombol yang akan membawa mereka menuju parkiran mall. Ia lantas memandang pemuda itu bingung.

“Biar gue anter.” tukas Chris. Ucapannya bersifat tidak terima penolakan dan kali ini Shilla memilih tidak protes. Catat ya, hanya untuk kali ini.

Setelah itu, mereka kembali membisu. Shilla diam karena mendadak merasa canggung sedangkan Chris sedang berusaha meredakan semua kepulan asap yang memenuhi kepalanya.

“Minuman lo kayaknya enak,” tiba-tiba Chris menyeletuk.

Shilla cukup kaget lantas menoleh pada Chris lalu minumannya secara bergantian. Ia kemudian menyodorkan minumannya tersebut pada pemuda itu. “Masih ada setengah,” tawarnya.

Chris tanpa babibu meraih frappuccino milik Shilla yang diberikan kepadanya dan meminumnya hingga tak bersisa. Bahkan, suara-suara tetesan terakhir begitu terdengar jelas membuat Shilla sedikit merasa geli dalam hati. Abis putus mah bawaannya aus emang. Pikirnya.

Ketika mobil Chris sudah beranjak meninggalkan mall, baik Chris maupun Shilla masih belum ada yang bersuara. Shilla mencuri pandang beberapa kali pada Chris. Hanya sekedar memastikan pikiran pemuda itu masih tersisa untuk menyetir dengan benar. Ia tidak mau mati konyol karena kecelakaan bersama pemuda jomblo nyeleneh seperti Chris.

Namun, Shilla ternyata dapat menangkap ekspresi lain yang dicetak Chris pada wajahnya. Tanpa perlu bicara pun ia tahu saat ini pemuda itu benar-benar sedih. Ia juga dapat memastikannya lewat napas pemuda itu yang sedikit tidak teratur. Kepala Shilla memikirkan sesuatu yang mesti ia lakukan namun ide tersebut amat bertentangan dengan nuraninya. Ia mencoba berpikir berulang kali hingga akhirnya ia menyerah.

Shilla tiba-tiba menyuruh Chris menepikan mobilnya ketika memasuki jalan yang sepi dan tidak ada larangan untuk parkir atau berhenti sebentar. Chris menunjukkan wajah kebingungan namun menuruti saja apa yang ia perintahkan. Setelah mobil sudah benar-benar berhenti, ia menoleh pada pemuda di sampingnya.

“Sini!” Perintah Shilla pada Chris kembali. Ia memberi isyarat lewat tangannya agar Chris mendekat.

Chris lantas menatapnya curiga. “Mau ngapain lo?”

Setelah sekian lama, baru kali ini Chris bersikap kurang ramah padanya. Namun, Shilla tidak ambil pusing karena sekarang ia justru hendak berbuat baik pada pemuda itu.

“Nurut aja!” Tegas Shilla.

Di tengah kebingungan, Chris kemudian perlahan mendekatkan dirinya pada Shilla. Tiba-tiba, tanpa sempat terpikir olehnya, Shilla mengalungkan kedua lengannya di sekitar leher dan bahunya. Gadis itu memeluknya. Ajaib. Kemarin-kemarin, hanya dengan menyapa gadis itu, ia sudah mendapatkan beribu cacian. Sekarang, dengan sadar penuh dan atas inisiatif gadis itu sendiri, Shilla memeluknya.

“Jangan salah sangka. Gue cuma mau membantu atas dasar rasa kemanusiaan. Lo pasti ga mungkin bisa nangis kalo sama temen-temen cowok lo, kan? Yaudah, puas-puasin sekarang. Gue ga bakal nanya apa-apa.” jelas Shilla agar tidak timbul kesalahpahaman dari Chris, juga dirinya sendiri. Melakukan hal ini sungguh adalah pertimbangan berat baginya.

Chris sesaat bergeming tapi kemudian kedua tangannya perlahan bergerak menyambut perlakuan Shilla. Pemuda itu menjatuhkan wajahnya di bahu Shilla dan tertawa kecil. “I’m so touched.” gumamnya pelan.

Shilla mengangkat separuh bibirnya lalu memutar kedua bola matanya malas. Ia tidak membalas apapun. Hanya tangannya yang ritmis bergerak menepuk pelan punggung Chris, menjadikannya sebagai pengiring isakan pemuda itu yang akhirnya benar-benar keluar. Chris menangis tanpa suara membuat Shilla jadi merenungkan dirinya sendiri.

Putus segitu sedihnya, ya? Apa gue juga bakal kayak gini nanti?

Sekelebat bayangan tak mengenakkan seketika menghentakkan kesadaran Shilla. Ia kemudian menggelengkan kepala pelan berusaha menghalau pikiran-pikiran tidak masuk akal yang menyapa dirinya.

Mikir apa gue barusan?

***

Setelah kejadian ‘bercanda’ di kamar Febby waktu itu, Alvin sekarang justru berusaha menghindari gadis itu. Biasanya ia kerap berkunjung ke kamar Febby atau Febby yang mendatangi kamarnya. Tapi saat ini, bahkan untuk sekedar melewati area kamar Febby pun tidak. Tiap Febby datang ke kamarnya ia akan berpura-pura tidur. Ia juga jadi sering mengunci kamarnya sehingga orang lain menjadi tidak bebas masuk tanpa sepengetahuannya.

Setiap hari ia merenungi dirinya, lebih tepatnya perasaannya. Ia memikirkan Shilla dan ia juga memikirkan Febby. Dua gadis itu berhasil membuat pikirannya kelabakan sendiri. Perasaannya pada Shilla masih tetap sama dan tidak berubah sekali. Namun, yang ia tidak mengerti adalah bagaimana perasaannya pada Febby. Gadis itu tahu-tahu berhasil mencuri ‘perhatian’ yang membuatnya bingung sendiri bagaimana menerjemahkan apa yang ia rasakan.

Alvin pikir ia hanya merasa iba pada Febby namun lambat laun timbul rasa ingin melindungi yang akhirnya ia perjelas menjadi rasa sayang. Damn. Ia tidak bisa berbohong. Ia memang telah menyayangi Febby. Tapi, ia sendiri tidak yakin ke arah mana perasaan tersebut. Ia berusaha meyakinkan diri kalau ia hanya menganggap gadis itu sebagai adiknya. Namun, ia sendiri tidak bisa bersikap tegas pada dirinya sendiri sehingga sampai sekarang ia masih bertanya-tanya.

Sementara itu, Febby menyadari keganjilan di antara dirinya dan Alvin. Ia sadar betul ada yang berubah pada hati masing-masing. Namun sama seperti Alvin, ia juga tidak paham dan bisa menentukan perasaan apa yang menghinggapi mereka saat ini. Ia hanya tahu kalau dirinya punya perasaan sayang pada Alvin, begitupun sebaliknya. Ia berusaha tidak mengungkit hal ini supaya hubungan mereka tidak berjarak lebih jauh lagi. Tapi, sekarang ia sudah tidak tahan. Semakin ia pendam, jarak di antara mereka justru makin renggang. Ia harus bertindak. Tidak, mereka berdua harus melakukan sesuatu untuk memperbaiki situasi ini.

Febby membuka pintu kamar Alvin yang kebetulan tidak terkunci dan masuk begitu saja tanpa permisi lebih dulu. Ia menemukan Alvin tengah berbaring bersandar di atas ranjang dengan sebuah komik di tangan. Pemuda itu menoleh ke arahnya dan kelihatan sedikit panik mendapati kedatangannya yang tiba-tiba. Itu cukup untuk membuktikan kalau Alvin selama ini memang berniat menghindarinya.

“Ketok dulu kali! Gue kirain maling tadi!” Seru Alvin. Ia berusaha mati-matian menyembunyikan perasaan groginya saat ini dengan pura-pura syok.

Febby diam dengan pandangan datar dan lurus mengarah padanya. Gadis itu lagi-lagi tanpa permisi duduk di tepi kasurnya lalu beralih menatapnya serius. Saat itu juga dunia Alvin terasa terguncang.

“We both know we do have something to talk, seriously.” Febby membuka diskusi dengan nada serius dari awal.

Alvin diam dan seketika menghela napas berat. Ia sudah tidak bisa melarikan diri lagi. Ia sungguh skak mat sekarang.

“Tapi kita juga sama-sama ga ‘ngerti’, kan?” Balas Alvin tak kalah mencekam.

Febby tak langsung menjawab melainkan menajamkan pandangannya pada Alvin membuat Alvin meriang di tempat. Matanya kemudian memicing. “No. Kita ‘ngerti’, kok. Bener-bener ngerti.”

Alvin menelan ludahnya yang mendadak terasa pahit. Sepahit kenyataan yang tiba-tiba dilontarkan oleh Febby.

“We fall for each other.”

***

Shilla menatap ponselnya datar. Ia tidak mengerti lagi apa yang sudah terjadi dengan hubungannya dengan Alvin akhir-akhir ini. Seingatnya mereka sedang tidak punya masalah besar yang membuat mereka harus berjarak beberapa saat. Ia hanya sedikit merasa ada yang berubah dari suasana dalam hubungan mereka namun itu tidak benar-benar menjadi masalah untuknya. Yang harusnya juga untuk Alvin sehingga pemuda itu tidak perlu tiba-tiba berhenti menghubunginya 4 hari belakangan.

Ya, ia benar-benar lost contact dengan Alvin selama 4 hari. Alvin pun tidak sedang ada jadwal manggung di mana pun dan ia sudah mengonfirmasi hal tersebut dengan Rio, baik langsung maupun tidak langsung lewat Ify. Alvin bukan tipe yang aktif di sosial media sehingga ia benar-benar tidak tahu bagaimana cara mengetahu kabar pemuda itu. Rio, Cakka, dan Gabriel juga kesulitan menghubungi pemuda itu 4 harian ini.

Awalnya Shilla curiga namun sekarang ia malah jadi khawatir. Ia khawatir telah terjadi sesuatu yang buruk pada Alvin sama seperti cedera kakinya dulu. Ia sudah menunggu dan tidak mencoba menghubungi lebih dulu. Ia kan sudah bertekad ingin berubah menjadi tidak terlalu posesif. Namun, hari ini adalah batas terakhir kesabarannya. Ia harus menghubungi kekasihnya dan menanyakan langsung apa alasan masuk akal yang bisa membenarkan tindakan Alvin padanya.

Shilla mendial nomor ponsel Alvin dan menunggu sampai nada sambung berhenti, tepatnya sampai Alvin menjawab panggilannya. Percobaan pertama gagal dan ia kemudian mencoba untuk yang kedua kali. Namun, hasilnya masih tetap sama. Alvin, masih dugaan, mengabaikan teleponnya. Kalau sampai ia tetap gagal untuk yang ketiga kali, ia akan benar-benar mendatangi langsung rumah pemuda itu.

“Halo?”

Shit, suara perempuan. 4 hari tanpa kabar dan yang pertama kali ia dengar justru suara perempuan. Yang lebih menyedihkan, ia hapal betul suara tersebut. Suara serak milik Febby. Jadi...Alvin sedang bersama Febby? Alvin menghilang darinya namun tetap ada untuk Febby? Atau Alvin selama ini bersama Febby dan tidak ada waktu menghubunginya? Cih, semuanya kedengaran sama aja, sama jahatnya.

Mata Shilla mulai terasa lembab dan ia yakin mulai memerah sekarang. Ia cukup dibuat repot ketika harus menjaga nada suaranya yang tertahan. God, kelewat cepet kah kalo sekarang gue udah merasa sedih?

“Al—Alvinnya ada?” Shilla bertanya tanpa mengeluarkan nada yang bersifat konfrontir. Ia benar-benar tidak ingin mendengar suara Febby lebih lama jadi ia berusaha menyudahi dialog mereka sesegera mungkin.

Febby tidak langsung menjawab dan membuat Shilla gemas sendiri di tempatnya. Ia tampak meremas seprei kasurnya. Air matanya rasanya ingin tumpah sekarang.

“Gue mau ngomong sesuatu sama lo..tentang Alvin.” Febby akhirnya bersuara.

Jantung Shilla yang tadi sudah huru-hara sekarang semakin berdenyut tidak karuan. Sialan, yang gue butuhin Alvin! Mana Alvin, woy?!! Hatinya berteriak sekerasnya namun tak ada satu pun yang dapat mendengar selain dirinya sendiri.

“Gue tau Alvin ngilang beberapa hari ini. Tenang, dia baik-baik aja. Dia cuma..menghindar. Dia ga tau gimana harus ngadepin lo sekarang. Semuanya karena gue. Gue ga bisa diem aja. Gue ga mau makin merasa bersalah dan ngebiarin lo tersiksa dalam kebingungan karena Alvin ga juga bisa ambil tindakan yang jelas.”

Kepala Shilla terasa berputar karena Febby yang berbicara berbelit-belit. Dadanya terasa begitu sesak. Sedikit lagi, semua pertahanannya akan runtuh. Hal ini akan menjadi sangat buruk ketika semua emosinya tumpah namun Alvin tak juga muncul. Ia sungguh akan mengutuk pemuda itu nanti.

“Alvin punya perasaan yang sama kayak yang dia punya buat lo...ke gue...begitupun sebaliknya. Karena itu dia jadi ga bisa ngadepin lo. Dia merasa bersalah, termasuk gue. I’m deeply sorry..”
A—apa?

Shilla menjawab lirih dalam hati. Ia bahkan tidak punya tenaga untuk mengutarakannya secara langsung. Pikirannya yang tadi penuh sekarang terasa kosong. Ia merasa sesaat menghilang dari dunia tempatnya berada. Ia terdiam dan merasa terpukul seorang diri di kamarnya. Ia bahkan tidak lagi merasakan mendarat di atas kasur yang empuk. Ia merasa seperti tengah melayang.

“Brengsek. Apa yang udah lo lakuin?!!”

Keinginan Shilla tadi untuk mendengar suara Alvin akhirnya terpenuhi. Pemuda itu tiba-tiba muncul dengan suara sedikit berteriak. Sayangnya, semuanya terlambat. Shilla sekarang tidak lagi menginginkan suara tersebut. Mendengarnya sekarang justru membuat hatinya pecah berkeping-keping. Ia merasa rindu namun suara itu juga membuatnya merasakan kesedihan mendalam di saat yang bersamaan.

“He..cheated..on me?” parau Shilla. Akhirnya ia bisa mengeluarkan suara namun terdengar bergetar hebat. Ia sekarang sudah kembali pada kenyataan. Ia merasakan pendaratan begitu keras tanpa kasihan setelah merasa melayang beberapa saat lalu.

“Shill, gue—dengerin gue dulu, ya? Please?” Suara panik Alvin kemudian menggema di telinga Shilla.

Shilla mengedipkan matanya sekali mengeluarkan air mata yang sudah menumpuk. Ia menggigit bibirnya menahan suara isakannya agar tidak ikut keluar.

“Sayang, dengerin gue. Gue—tadi itu—bukan-bukan, 4 hari ini gue ga ngehubungin lo karena gue—uhm gue...Damn, I’m so sorry..” Di seberang sana Alvin kalang kabut mencari kata-kata yang tepat. Ini benar-benar tiba-tiba dan ia tidak bisa mengarang alasan dalam waktu sesingkat ini ditambah pada situasi yang berbahaya seperti sekarang.

Benar saja, ucapannya justru membuat Shilla semakin bergeming. Sorry? Jadi emang bener adanya?

“It’s true, right? What she said is true..” Dalam satu ucapan, Shilla bertanya dan menjawabnya sendiri. Ia memang sedang tidak berbicara atau membalas omongan siapapun. Ia berbicara pada dirinya sendiri. Ia sedang meyakinkan dirinya sendiri.

Alvin menghela napas berat. Kepalanya terasa berdenyut. Satu-satunya hal yang bisa dan harus ia lakukan adalah menemui kekasihnya secara langsung. “Tunggu gue ya, gue bakal dateng nemuin lo. We will talk then, babe.”

Babe? Panggilan itu terasa sangat tidak masuk akal sekarang. Sepenggal lirik dari lagu yang sewaktu keluar sangat sering Shilla nyanyikan sekarang benar-benar terjadi pada dirinya sendiri.

‘But when you call me baby, I know I’m not the only one’

Dan dia bilang mau nemuin gue? Mau ngomong? Yang bener aja! Shilla menggelengkan kepalanya keras lalu segera membalas ucapan Alvin.

“Enggak, gausah. Gue gak mau ketemu. Gue gak mau ngomong. Gue mau sendiri. Jangan coba-coba dateng.”

Sesaat setelah jawabannya selesai, Shilla lekas memutus sambungan. Ia mengakhiri begitu saja pembicaraannya dengan Alvin yang sudah lama ia tunggu-tunggu. Sekarang ia justru berharap lost contact itu terus berlangsung sampai entah kapan. Kehadiran Alvin nanti tidak lagi menjadi kehadiran paling ia tunggu. Tidak ada kebahagian jungkir balik, hanya dunianya saja yang menjadi jungkir balik dan berantakan.

Gue bahkan belum putus, tapi udah sesedih ini..

***

Dududu~ Nungguin ya? HAHAHA pertanyaan paling ngeselin banget kan ya?
Alhamdulillah ya Allah, sempet juga 1 part. Berdoa lagi ya semoga part lain bisa segera menyusul.

Btw, akhirnya ify punya saingan nyesek wkwk. Gak sih, rify tiada duanya kan yak? wkwk

Kamis, 17 Agustus 2017

Matchmaking Part 34 (Alshill)

I dont know you guys still remember this or not wkwkwk

***

Demi kegantengan Alvin yang tiada duanya, ini baru awal hari Shilla dan Chris adalah orang pertama dari daftar orang-orang yang tidak ingin ia temui. Tapi, kenapa Tuhan justru menjatuhkan copycat bule itu di hadapannya? Berani-beraninya diaberdiri tepat di pintu rumahnya, menggoda adiknya, dan yang lebih parah memonopoli ayah dan ibunya sehingga sekarang ia ter-pak-sa, benar-benar-sangat-sangat-terpaksa kalau kalian ingin tahu lebih jelas, pergi ke Parfait diantar pemuda itu.

Sekali lagi, demi kegantengan Alvin yang mengalahkan para manusia srigala *maafkan celetukan ketinggalan jaman ini karena part ini sebenernya dibuat pas lagi jaman2nya dede2 serigala di tipi dan di mana aja + mimin males ngedit pun biar cepet jadi haplum aja yah wkwk*, ia tidak sudi berada dalam mobil milik Chris. Ia tidak sudi memakai kursi yang kemungkinan pernah atau mungkin sering digunakan oleh si bule palsu alias tidak bisa bahasa inggris (fyi, ia tahu karena dulu fakta ini sudah menjadi rahasia umum di Parfait). Ia tidak sudi harus berbagi ruangan, udara, bahkan berirama napas yang sama dengan si pemuda berotot berhati sehalus kentut (sebutan ini berasal dari kejadian Chris pingsan setelah ada cicak jatuh ke atas mejanya saat pelajaran matematika). Bahkan sudah 3 kali ia mengganti menyebut Chris dengan embel-embel buruk tapi semuanya belum cukup buruk untuk mendeskripsikan betapa buruknya pemuda itu.

Shilla melirik Chris di sebelahnya dan hal itu menjadi alasannya mendengus berkali-kali. Tiap ia melakukannya,reaksi akhirnya selalu sama. Ada banyak pertanyaan yang bergentayangan di kepalanya. Tapi, hanya dua yang membuatnya begitu ingin tahu. Kenapa baru sekarang Chris datang dan mengganggu hidupnya yang sedikit terguncang karena Alvin (akhir-akhir ini)? Apa tujuan pemuda itu? Mengejar cintanya adalah jawaban paling tidak mungkin dan yang terakhir terpikir di benaknya sekaligus membuat kuduknya merinding membayangkan itu terjadi. Lalu apa? Ia bertanya-tanya dengan perasaan gondok setengah mati.

Sementara itu, Chris melihat temannya pagi ini yang terus saja melirik ke arahnya sambil menahan senyum geli. Ia suka melihat reaksi Shilla ketika panik. Ia suka membuat Shilla kalang kabut karena ulahnya. Ia bahkan menunggu saat-saat asap-asap emosi itu mengepul dari seluruh lubang yang ada di wajahnya. Semuanya tampak lucu dan menggemaskan. Meski kadang ia merasa bersalah karena ia akan menjadi alasan gadis itu bertambah tua lebih cepat. Tapi rasa sukanya lebih tinggi daripada rasa bersalahnya.

“Segitu senengnya gue anter sampe lo ga berenti ngeliatin gue?” godanya yang langsung disambut wajah sinis Shilla.

“Jangan sampe lo gue lempar keluar dari mobil bangke lo ini!” Kata-kata kejam Shilla tsb malah dibalas dengan wajah sumringah Chris. Shilla sampai berjengit heran. “Gue anggap itu sebagai ungkapan betapa bahagianya lo pagi ini berangkat sama gue.” Katanya sungguh tak tahu diri seraya mengedipkan sebelah mata.

Shilla memandang hal itu ngeri sambil mengerucutkan bibir. Ingin menangis rasanya berbicara dengan Chris. Ia frustasi. Apa yang harus ia katakan agar pemuda itu ‘mengerti’ ucapannya? Dan bagaimana ia bisa membuat pemuda itu mengerti kalau setiap kata-kata tidak menyenangkan yang ia katakan akan selalu diartikan sebaliknya?

“Terserah!” pasrah Shilla pada akhirnya. Tak ada gunanya berbicara dengan orang gila.

***

Untuk 3 hari ke depan sepertinya Alvin harus bolak-balik mencatatkan namanya di daftar tamu perpustakaan. Bagaimana tidak? Sebagai konsekuensi dari ketidakhadirannya dalam pelajaran bahasa Indonesia, dimana ia telah melewatkan 1 pengambilan nilai drama, 1 pengambilan nilai baca puisi, waktu untuk mengumpulkan tugas resensi serta 1 ulangan harian, gurunya tercinta itu memberikan banyak hadiah indah, katanya. Indah baginya berarti merepotkan untuk Alvin.

1.    Membuat 2 makalah masing-masing tentang perkembangan puisi dan teater yang sumbernya harus dari buku yang ada diperpustakaan dan tidak boleh dari internet sama sekali (ini nih yang bikin buta internet masih ngetrend di Indo, nyari referensi aja gaboleh).
2.    Membuat resensi novel angkatan 20 (buat gue yang pantun aja minta bikinin, ini bener-bener ujian berat).
3.    Semuanya dikumpulkan dalam 5 hari (bener-bener kriminal).
4.    Jangan lupa 2 hari lagi ulangan susulan (patah, otak gue patah).

Andai saja hari itu ia tidak berhenti dan menyebrang jalan. Febby tidak akan punya kesempatan untuk menabraknya dan membuat kakinya retak. Ah, mengingat itu membuatnya teringat akan kekesalannya pada Febby. Bukan, lebih tepatnya Oik karena gadis itu yang berada dibalik drama tabrak sengaja tersebut.

“Kalo kaki gue udah bener-bener sembuh, abis lo!” umpatnya dengan amarah tertahan, berhubung ia sedang berada di dalam perpustakaan.

“Lo sekarang udah mulai ngomong sama buku, Vin?” Suara serak khas milik Febby sayup-sayup terdengar di telinganya. Alvin menoleh ke samping di posisi gadis itu berada, berdiri sambil memegang dua minuman kaleng di tangannya, menatapnya bingung sekaligus ngeri. Sekedar info, perpustakaan sekolahnya memperbolehkan membawa minuman namun tidak untuk makanan. Ia menyambar salah satunya, membukanya dengan segera dan meneguknya hingga hamper setengah. Entah sejak kapan hubungannya dengan gadis itu menjadi damai seutuhnya begini.

“Gue mesti ngerjain apa? Kerangka makalahnya udah lo bikin? Udah sampe mana? Ide puisinya udah ada? Novelnya udah ketemu? Apa aja?” Pertanyaan membabi buta dari Febby membuat nafas Alvin tersendat-sendat. Ia baru sadar sudah membuang-buang waktu dengan merutuki nasib dan mempertanyakan kenapa semua itu bisa terjadi. Sementara hal itu tidak akan membuat tugas-tugasnya terselesaikan.

Alvin meringis lalu membenturkan dahinya pelan ke rak buku di depannya. Melihat itu Febby justru tersenyum geli. Mungkin Alvin harus banyak-banyak belajar darinya. Bagaimana menyelesaikan banyak hal dalam waktu singkat. Ia harus membuat laporan praktikum dan belajar untuk ulangan kimia esok hari sedangkan sepulang sekolah sampai malam hari ia harus bekerja di restoran. Ajaibnya semuanya dapat selesai dengan hasil yang baik. Meskipun nilai ulangannya hanya mencapai angka 7 tapi ia sudah sangat lega dan bangga dengan hasil yang ia terima. Masa-masa sulit seperti itu tidak hanya sekali dua kali terjadi. Untung ada Goldy yang bisa membantunya belajar, jadi masalah akademisnya bisa terselesaikan.

Mendadak ada denyut tidak nyaman di balik dadanya ketika menyebutkan nama Goldy. Ia sadar sampai sekarang ia tidak bisa melepas bayang-bayang pemuda itu dari pikirannya. Ia belum bisa melupakan perasaannya. Perasaan sedih, marah, kecewa…dan sayang.

Pletak!

Kepala Febby berjengit bersamaan dengan rintihan dari mulutnya. Tangannya mengusap dahinya yang mulai memerah lalu memandang Alvin kesal. Sementara Alvin hanya berdecak malas. “Apaan sih?!”

“Bantuin orang itu yang fokus! Ga pake galau di tengah-tengah. Fokus, fokus!” ujar Alvin sambil menggerakkan telapak tangannya yang tegak menyamping di tengah wajahnya maju mundur. Febby memberengut sambil mendengus pelan. Kesal sekaligus berterimakasih karena diselamatkan dari pikiran bodohnya beberapa saat lalu.

Lo selalu jadi penyelamat gue, Vin. Doain gue dapet duit ya, biar bisa traktir lo kapan-kapan hehe.

***

Shilla meremas-remas tali tasnya sambil terus berjalan menyusuri lorong sekolahnya. Mukanya bertekuk beratus kali lipat dari sebelumnya. Kata-kata Chris sebelum ia keluar dari mobilnya terus saja berputar di kepalanya.

‘Semangat sekolahnya, Cantik!’

Hanya kalimat sederhana sebenarnya. Akan tetapi, entah kenapa Shilla tetap merasa sebal dan sialnya terus saja teringat olehnya. Bahkan mendetail dari ekspresi wajah Chris, nada suaranya, gerak-gerik tubuhnya, semuanya terpatri jelas di pikiran Shilla. Oh! Ia bisa gila! Ini tidak bisa dibiarkan!

Shilla lantas berhenti berjalan. Ia harus menemui Chris dan memberi peringatan serius padanya. Benar-benar serius sampai pemuda itu mengerti untuk tidak mengganggunya lagi dan menjauh dari hidupnya yang tenang meskipun seringkali galau. Tapi, cukup. Ia hanya galau karena Alvin dan jangan ditambah dengan yang lain.

Beberapa meter sebelum ia berada di hadapan Chris, ia kembali berhenti. Ada pemandangan aneh yang sedang berlangsung di sana. Pemuda yang hendak ditemuinya itu tengah berbicara dengan seorang perempuan yang ia tahu merupakan mantan kekasih pemuda itu. Lala.

Dari mukanya, sepertinya suasana sedang tegang. Keduanya tampak tidak nyaman berhadapan satu sama lain. Atau mungkin sepertinya Lala yang paling tidak nyaman ada di sana. Matanya berkeliling ke sana kemari entah mencari apa dan tak pernah fokus menatap Chris. Sementara Chris memandangi Lala lamat-lamat. Ia mencermati tatapan Chris dan menemukan banyak hal bercampur menjadi satu. Amarah, rasa kecewa, terluka, dan..rindu? Apa mereka udah bubar?

Ah! Ia ingat saat pertama kali mereka bertemu kembali. Salah satu teman Chris sempat berbicara walau terpotong. Kata-katanya menyiratkan memang sedang ada masalah di antara Chris dan Lala. Mungkin sekarang mereka sedang membahas itu dan mencoba mencari penyelesaian. Shilla berharap penuh dalam hati semoga masalah di antara mereka selesai dan Chris tidak lagi mengganggunya.

“Lala?”

Shilla mengalihkan pandangan pada orang yang baru saja menyerukan nama Lala. Seorang pemuda yang juga bertampang bule menghampiri Lala dan Chris yang tengah bersitegang. Atau mungkin kata-katanya berlebihan. Ekspresi lega seketika mencuat di wajah Lala. Entah lega karena bertemu pemuda itu atau lega karena dapat terhindar dari Chris. Menurutnya mungkin yang kedua. Alasannya? Karena Chris itu sangat menyebalkan sehingga tidak akan ada orang yang betah di dekatnya berlama-lama. Salah satunya Shilla.

Shilla tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Lala pada Chris sebelum pergi. Ia juga tak sengaja memandang ke arah Chris yang mendadak termenung. Tatapannya kosong. Wajahnya tampak kaku dan jauh berbeda dari Chris yang ia hadapi baru-baru ini. Berhubung Shilla adalah orang yang amat sensitif jadi ia mengerti apa yang tengah dirasakan Chris. Meskipun ia tidak tahu masalahnya, tapi ia dapat melihat dengan jelas perasaan Chris pada Lala dan pemuda itu sedang sedih sekarang.

Shilla menggigit bibirnya menimbang apa yang harus ia lakukan. Kemudian kakinya lebih dulu mengambil keputusan. Ia mencicit langkah menghampiri Chris hingga sudah berada di hadapan pemuda itu. Telunjuknya bergerak ragu-ragu hendak menyentuh lengan pemuda itu.

“K-kak?” lirihnya. Chris tampaknya masih belum sadar. Ia akhirnya mendaratkan ujung jari telunjuknya yang lentik di atas lengan Chris dan sedikit memberi tekanan. Upayanya tersebut membuahkan hasil.

Chris tersentak kaget dan melihat sekelilingnya lalu menjatuhkan pandangan pada Shilla. Tapi, pikirannya masih belum kembali ke tempat semula sepenuhnya. Perasaannya amat kacau dan ia tidak mampu berpikir banyak. Ia menyentakkan tangan Shilla dan tanpa sadar berbicara cukup keras pada gadis itu.

“Minggir!” ujarnya dingin. Ia membuka pintu mobilnya dan masuk ke dalam. Beberapa saat kemudian mobil Chris sudah melaju meninggalkan halaman parker Parfait sekaligus meninggalkan Shilla.

Shilla mengedipkan matanya beberapa kali, sedikit syok. Lalu kemudian ia kembali tersadar. Apa-apaan itu barusan? Chris bersikap keras padanya disaat ia baru saja berniat baik?! Dasar keris bengkok buluk! Gue gaakan maafin lo!! Eh—bukannya itu yang ia inginkan? Setelah ini Chris tidak akan mengganggunya lagi, bukan?

YES I LOVE U ALVIN! Ga nyambung? Bodo!

***

Mata sipit Alvin dipaksa membuka lebih lebar oleh empunya. Dahinya berkerut karena ia tengah berusaha berpikir keras. Jemarinya menggenggam erat novel angkatan 20 yang sedang ia (coba) baca dengan seksama. Pupil matanya bergerak aktif menyusuri satu per satu kata yang tertera pada halaman yang terbuka lalu mencoba memahami apa maksud dari kalimat yang terbentuk. Hasilnya…ia benar-benar tidak mengerti.

Ini lebih susah daripada mengerjakan latihan soal reading dalam ujian TOEFL. Ia bisa menggunakan aplikasi translate untuk kalimat-kalimat dalam bahasa Inggris. Setidaknya bisa memberikan sedikit pencerahan. Nah, kalau kalimat teramat sastra begini ia harus men-translate pakai apa? Translatenya ya hanya dirinya sendiri. Sialnya, ia sangat-sangat lemah untuk urusan tulisan-tulisan begini.

Jemarinya yang sempat tegang seketika melemas, berikut juga saraf-saraf di otaknya. Tidak, ia belum menyerah hanya beristirahat sejenak. Menghirup udara dengan santai sejenak siapa tahu otaknya yang memang sedang kurang oksigen sehingga kerjanya menjadi kurang prima. Alhasil, ia tidak berhasil-berhasil mengerjakan tugas.

Matanya tak sengaja melihat ke jam dinding dan ia lekas tersadar kalau ia belum menghubungi Shilla hari ini. Ia pulang sekolah 3 jam yang lalu dan sudah 3 jam pula ia terlambat. Ia lantas memutuskan beralih mengerjakan tugas wajib khusus tersebut sebelum kembali pada tugas yang sebenarnya.

Alvin mengambil ponsel dan langsung mendial nomor Shilla. Tak sampai sepuluh detik, ia sudah mendengar suara Shilla mendayu-dayu di telinganya.

“Viiiiiiiiin!” Shilla berseru panjang dan seketika mengembangkan senyum di wajah Alvin. Andai semua tugasnya dapat membuatnya tersenyum senang begini. Tugas lain juga membuatnya tersenyum, sih, tersenyum miris.

“Ayaaaaang!” Alvin membalas dengan sebutan yang paling menyebalkan menurut Shilla. Shilla memang suka hal yang cute dan romantis. Akan tetapi entah kenapa ia sangat tidak suka dengan panggilan tersebut.

“Ish!” dumelnya kesal sedang Alvin malah terkekeh tanpa dosa.

“Ngapain aja, sih, daritadi? Kenapa lama banget baru nongol? Pasti main game, kan? Ckck, bukannya belajar!” Shilla masih lanjut mendumel yang sebenarnya hanya pura-pura mendumel dan bukan bermaksud marah dan mencurigai Alvin.

Akan tetapi, dengan pengaruh mood Alvin yang sudah buruk sebelumnya, ujaran Shilla barusan menjadi terdengar sinis. Ia juga sedikit tersinggung dengan tuduhan Shilla. Seharian ini tidak sekalipun ia sempat mengalihkan pikiran ke hal lain selain belajar alias mengerjakan tugas. Namun, dengan mudahnya orang lain menuduhnya hanya melakukan hal sia-sia. Ia pun teringat dengan hawa-hawa frustasinya beberapa saat lalu dan membuat ambang marahnya tercapai.

“Kenapa, sih, langsung nuduh gue gitu aja? Emangnya gue keliatan kayak orang yang isi otaknya cuman main-main doang?” Kesal Alvin dengan tanpa sadar agak meninggikan suaranya.

“Bu—bukan gitu maksudnya..” cicit Shilla namun sama sekali tidak membantu. Mood Alvin masih belum membaik dan justru makin parah.

“Kita udah bukan baru jadian lagi dan bukan hari pertama jalanin LDR. Udah bukan waktunya lagi gue harus nelfon atau chat lo tiap jam. Kita juga bukan anak SMP lagi pacaran yang dikit-dikit ngambek cuma karena telat telfonan. Kita udah mau tamat SMA, Shill.”

Shilla tidak bersuara beberapa saat entah apa alasannya Alvin tidak tahu karena saat ini pikirannya hanya dipenuhi amarah dan rasa kesal. Suara Shilla kembali muncul tak lama kemudian.

“Sorry..” kali ini dengan nada lirih.

Alvin menutup mata seraya memijat dahi serta menghela napas. Ia tengah berusaha mendinginkan kepala. “Gue tutup dulu.” Putusnya sepihak. Ia benar-benar mematikan sambungan dengan Shilla dan meletakkan ponselnya asal. Ia sadar situasinya akan menjadi lebih buruk kalau ia teruskan sehingga mau tidak mau ia harus mengakhiri chit chatnya bersama Shilla yang belum lama dimulai.

Tangan Alvin terkulai lemas diikuti dengan badannya yang tadinya bersandar sekarang perlahan merosot hingga posisinya berbaring di atas ranjang. Napasnya sedikit memburu namun berangsur-angsur reda. Matanya yang tadi tertutup kemudian terbuka. Kepalanya tanpa sengaja tertoleh dan ia kembali harus melihat novel yang menjadi biang kerok perusak moodnya tadi bahkan masih hingga sekarang.

Tubuhnya seketika tegak kembali. Air mukanya yang semula datar tiba-tiba berubah mengerikan. “ELO! Gara-gara LO! ELO!” teriaknya seraya menunjuk-nunjuk novel di hadapannya.

Di lain tempat, Shilla masih terbengong memandang ponselnya. Keningnya mengernyit dan kemudian kepalanya mengedik ke kanan-kiri. Sambungan panggilan Alvin pada ponselnya sudah dimatikan oleh pemuda itu sendiri secara tiba-tiba.

“Abis nginjek tai ni orang? Galak amat.” Celetuknya pelan.

Shilla mengangkat bahunya dan meletakkan begitu saja ponselnya di atas meja belajar. Ia memilih, mencoba, tak mau ambil pusing terhadap tingkah atau pun ucapan Alvin tadi sebelum sambungannya mati. Ia lantas kembali pada kegiatannya mengerjakan PR fisika.

Selang beberapa menit kemudian, tangan Shilla yang tengah menulis sejenak berhenti. Ia sudah berkomitmen untuk menganggap lalu namun apa mau dikata ucapan Alvin beberapa saat lalu akhirnya melintas kembali di benaknya.

Udah bukan waktunya lagi gue harus nelfon atau chat lo tiap jam. Kita juga bukan anak SMP lagi pacaran yang dikit-dikit ngambek cuma karena telat telfonan. Kita udah mau tamat SMA, Shill.

Tidak, ia tidak sedang bersedih. Ia hanya merasa perlu untuk memikirkan kata-kata Alvin tersebut. Entah kenapa ia merasa...setuju. Ucapan Alvin sepertinya ada benarnya. Sekarang bukan lagi masanya ‘lovey dovey’. Tahun ini bahkan bukan lagi anniversary pertama untuk ia dan Alvin.

“Ckckck..kok gue baru nyadar sekarang, ya?” Proses berpikirnya diakhiri dengan pertanyaan yang ia ajukan untuk dirinya sendiri.

***

Tok tok tok...

Seseorang mengetuk pintu kamar Febby ketika gadis itu masih terlelap. Ketukan tadi kembali terdengar tak lama setelah yang pertama tidak ada sambutan. Kali ini Febby sedikit tertarik dari alam bawah sadarnya. Telinganya dapat samar-samar mendengar hanya saja tubuhnya masih lebih memilih untuk melanjutkan aktivitas rehat sejenak dari dunia yang penat.

TOK TOK TOK!

Kali ini sang pelaku mengetuk tak sabaran. Hal ini serta merta menarik Febby seutuhnya menuju alam sadar tanpa rasa kasihan. Ia terbangun sekaligus terduduk di kasur dengan pandangan masih buram. Ia menguap seraya menggaruk-garuk kepala mencoba lebih menyadarkan diri. Setelahnya ia segera turun dari kasur dan berjalan mendekati pintu. Kebetulan karena sang tamu kembali mengetuk.

Pandangan Febby sudah lebih jelas sekarang sehingga ia bisa melihat sosok Alvin sedang berdiri di depannya. Pemuda itu juga yang telah berjasa membangunkannya beberapa saat lalu. Dibanding jengkel, Febby lebih merasa kaget dan bertanya-tanya. Ini adalah kali pertama Alvin menghampirinya langsung ke kamar. Bahkan pemuda itu tampak begitu tidak sabar.

“Bantuin gue.” Pinta Alvin dengan intonasi dan ekspresi datar.

Febby menguap tanpa malu sambil terus menatap Alvin. “Apaan?” tanyanya kemudian.

Senyum di wajah Alvin seketika mengembang. Ia mengangkat novel yang menjadi enemy of the day nya sehingga menjadi sejajar dengan wajahnya. Ia tidak mengatakan apa-apa hanya memberi isyarat lewat ekspresi wajahnya.

Febby menguap sekali lagi baru kemudian menanggapi permohonan Alvin. Ia lalu mengajak Alvin masuk ke kamarnya dengan menunjuk bagian dalam kamarnya menggunakan ibu jari, sama-sama tanpa bicara sepatah kata pun. Alvin tanpa pikir panjang menerima undangan Febby tersebut. Ia mengikuti langkah Febby lalu memilih duduk di kursi meja belajar di dalam kamar gadis itu.

Setelah permisi sebentar untuk mencuci muka, Febby kembali dari kamar mandi dan duduk kembali di atas kasur dan berhadapan dengan Alvin.

“Gue belom bikin tugas makalah sama laporan praktikum. Lo mau barter tugas? Lo ngerjain makalah sama laporan, gue ngerjain resensi? Itung-itung biar cepet beres semuanya,” Ia mencoba membuat kesepakatan.

Alvin diam dan berpikir sejenak. Ia kemudian kembali buka suara dengan kalimat persetujuan.

“Oke.” Katanya to the point. Makalah dan laporan bukanlah masalah besar sementara membaca novel tahun 20-an adalah mimpi buruk yang nyata. Membaca kalimat-kalimat di lembaran novel jauh lebih menguras tenaga dibandingkan harus berkutat dengan unsur-unsur senyawa dan sejarah.

Febby menyalakan laptop dan membuka file laporan yang sempat ia kerjakan sedikit sebelum ia mengantuk dan memutuskan tidur sesaat. Walau pada kenyataannya ia justru bablas dan sejujurnya merasa bersyukur Alvin datang dan membangunkannya kembali.

“Gue udah sempet ngejain beberapa. Sayang kalo dihapus. Lo lanjutin aja dulu selagi gue nyelesein baca novel. Lumayan ngurangin tugas ngetik.”

Setelah itu, keduanya tenggelam pada tugas masing-masing. Febby tenggelam dalam alur kisah dalam novel sementara Alvin asyik bercengkrama bersama laporan dan makalah.

Keduanya masih berada di tempat yang sama yang tak lain adalah kamar Febby. Ruangan benar-benar sunyi karena keduanya sama sekali tidak berkomunikasi dalam bentuk apa pun. Bahkan sekedar senandung kecil dari mulut Alvin atau Febby pun nihil.

Setengah jam kemudian Alvin berhasil menyelesaikan laporan. Ia mencoba meregangkan badan. Ia merasa kerongkongannya sedikit kering dan memutuskan mencari minuman keluar kamar. Febby tidak menyadari kepergiannya, entah karena terlalu fokus atau karena memang kebetulan ia juga tidak pamit.

Ketika telah sampai di dapur dan mengambil sebotol jus dari dalam kulkas, Alvin menuangkan isinya ke dalam gelas dan segera meminumnya hingga setengah. Ia kembali mengisi gelasnya hingga penuh dan menaruh kembali botol yang masih terisi lebih dari setengah ke dalam kulkas.

Namun sebelum pintu lemari pendingin tersebut benar-benar tertutup, Alvin tiba-tiba teringat akan Febby dan tugas yang sedang gadis itu kerjakan. Ia lalu teringat masa-masa sulitnya membaca novel yang bahasanya sulit sekali dipahami. Gadis itu sangat mungkin merasa lelah sekarang.

Alvin tidak jadi menutup pintu kulkas dan kembali mengeluarkan botol jus yang tadi ia letakkan. Ia mengambil dan mengisi gelas lain untuk Febby dengan jus tersebut. Baru setelah itu ia benar-benar mengembalikan botol tadi ke dalam kulkas dan beranjak kembali ke kamar sambil membawa dua buah gelas berisi jus.

Langkah Alvin terhenti di depan pintu kamar Febby yang sudah ia buka. Pemandangan di depannya tanpa sadar membuatnya berhenti dan menggodanya untuk memperhatikan sejenak. Saat ini ia dapat melihat sosok Febby sedang fokus membaca novel dan menulis di atas kertas secara bergantian. Rambutnya masih tercepol tidak begitu rapi namun tidak terlihat mengganggu. Sebuah kacamata berbentuk bulat berjaga di depan matanya yang justru membuat citra polos pada wajahnya. Pemandangan yang cukup indah.

“Buset, mikir apaan gue barusan?”

Alvin menggelengkan kepala seketika merasa geli dengan komentar yang barusan terbit di benaknya. Karena pikiran warasnya telah kembali, Alvin melanjutkan langkahnya masuk ke kamar. Ia berhenti untuk terakhir kali di dekat kasur yang Febby tempati seraya menyodorkan minuman yang ia bawa.

Febby sukses teralihkan dengan kemunculan tiba-tiba gelas di depan wajahnya yang sedikit merunduk. Ia mengikuti garis lengan yang memegang benda tersebut dan mendapati Alvin berdiri di sampingnya.

“Minum dulu minum!” ujar pemuda itu.

Febby melepas pulpen di tangannya begitu saja dan menerima gelas pemberian Alvin tanpa banyak protes. Ia langsung meminum jus yang ada di dalamnya sementara Alvin kembali duduk di kursi meja belajar. Meski begitu, pikirannya tak sepenuhnya beralih dari novel. Terbukti pandangannya sekarang kembali tertuju pada benda persegi panjang dengan lembar cukup tebal tersebut.

Alvin memfokuskan matanya menatap Febby sambil menyesap jus bagiannya. Dari air mukanya ia seperti ingin menanyakan sesuatu namun masih ragu-ragu. Pada akhirnya, ia memutuskan mengutarakan apa yang tersembunyi di benaknya.

“Gue kepo, nih. Lo kira-kira mau jawab gak?” pendahuluannya sebelum bertanya ke intinya.

Febby menoleh ke arahnya dengan kening mengerut. “Tentang?” Dalam hati ia bertanya-tanya apa yang telah terjadi pada Alvin hari ini. Setelah bertamu ke kamarnya dan meminta bantuan, pemuda itu juga mengajaknya berbincang. Atau jangan-jangan sebenernya gue masih tidur lagi makanya alam nyata gue agak meleset gini?

“Lo pernah punya nyokap?” Tanya Alvin tanpa disangka-sangka.

Hmm, gue beneran udah bangun. Febby bergumam dalam hati. Ia meneguk sekali jus yang masih terdapat di dalam gelas pemberian Alvin. Ia menoleh kembali pada pemuda itu sekedar untuk menjawab pertanyaan.

“Mungkin,” Febby memberi jeda sejenak sementara Alvin dengan sabar menunggu, “Semua perempuan di hidup gue itu problematik. Sebelum Oik di adopsi, bokap sempet bawa perempuan ke rumah. Dia bilang itu istrinya dan bakal jadi ibu gue. Dia bilang gue mesti nurut sama perempuan itu tapi nyatanya perempuan itu sendiri ga nurut sama dia. Pulang tengah malem besok siangnya udah ilang sedangkan pagi-pagi jadi jadwal mereka berantem. Yang kena imbasnya gue. Bokap jadi makin emosian. Sampe akhirnya si ‘istri’ kabur sama selingkuhan dan ga pernah balik lagi. Gue awalnya bersyukur setidaknya bokap gaada temen berantem dan jadi kurang emosian. Tau-tau dia pulang bawa Oik. Kayaknya dia punya penyakit mental deh. Ada aja orang asing yang di bawa pulang.”

Alvin mendengarkan penjelasan panjang lebar Febby dengan seksama. Kepalanya mengangguk-angguk ketika penjelasan tersebut berakhir. Meski begitu, masih ada yang membuatnya penasaran.

“Lo pernah nyari tau kabar orangtua kandung lo?” Alvin lantas meluncurkan senjata keduanya dengan sukses.

Febby memicing menatapnya curiga. “Lo mau bantu nyariin biar gue cepet-cepet pindah? Jangan-jangan lo masih ga ikhlas gue numpang di sini?”

Alvin memutar kedua bola matanya karena menjadi yang tertuduh. Padahal ia sungguh hanya penasaran. Ia pikir mungkin akan menarik untuk mendengarkan kisah Febby setelah ia tahu beberapa kejadian luar biasa yang dialami atau ia alami karena gadis itu.

“Udah gue bilang, gue cuma kepo. Gamau jawab juga ga masalah, sih, sebenernya.” Tukasnya.

Febby tersenyum tipis. Di samping Goldi, Alvin adalah satu-satunya orang yang seingintahu itu tentang dirinya. Ia jarang bergaul saat di sekolah apalagi di rumah. Kerja paruh waktu yang ia jalani cukup membuatnya lelah dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk tidur di perpustakaan, kadang-kadang di kelas kalau sedang tidak ada guru dan tidak boleh keluar kelas. Hal ini juga yang menjadi awal mula ia dekat dengan Goldi, si kutu buku perpustakaan di sekolahnya.

Ah, jadi bahas yang aneh-aneh..

“Ga pernah. Ga sempet.” Soal mencari keberadaan orangtua kandung, Febby memang benar-benar tidak punya waktu. Sudah ia katakan kalau untuk bergaul saja susah apalagi meluangkan banyak waktu berkeliling ke sana kemari mencari alamat, hey, hey~ *maapkeunefekstresbikinskripsi*
Alvin meminum tegukan terakhir jusnya dan kembali bertanya namun tanpa menatap Febby secara langsung. “Apa benci sama mereka masuk juga jadi alasannya?”

Febby melirik Alvin dengan sebelah alis terangkat. Bukan tersinggung, ia justru agak bingung. Memikirkan orangtua kandungnya saja ia jarang apalagi untuk menyimpan rasa benci. Otaknya hanya terisi oleh hidupnya. Bagaimana ia bisa bertahan dengan bagaimanapun keadaannya. Menanam rasa benci hanya akan membuat hatinya menjadi berat. Ia sudah cukup dengan ayah dan saudara tirinya bahkan Goldi, mungkin. Ia tidak ingin memperpanjang daftar.

“Ga salah kalo gue seandainya benci mereka. Tapi, enggak lah. Benci harus ada alasan dan gue ga punya. Ga cukup cuma dengan merasa terbuang karena gue ga tau pasti gue beneran dibuang apa enggak. Siapa yang tau waktu itu kehidupan mereka lagi susah-susahnya trus mereka ngasih gue ke yang lebih mampu. Atau barangkali gue ga sengaja ilang dari pandangan mereka dan sampe sekarang mereka justru nyariin gue sementara gue malah ga punya waktu nemuin mereka. Gue sendiri ga pernah cari tau tentang mereka jadi gue ga bisa ngeyakinin diri buat benci mereka. Gue gamau ngejudge yang ga perlu dan nantinya gue sesalin. Kalo pun misalnya gue anak yang ga diharapin, at least mereka masih punya hati buat ga ngebunuh gue.”

Febby mengakhiri ucapannya dengan helaan napas disertai senyuman hangat. Tidak di duga-duga hatinya terasa lebih ringan. Untuk orang lain, semua pertanyaan Alvin akan terdengar mengganggu. Ia bisa saja merasa tersinggung. Akan tetapi, ia justru merasa nyaman berbicara. Ia kurang tahu poinnya ada pada Alvin atau pada kesempatan berbagi cerita. Nanti kalau ia sudah punya waktu baru akan ia cari tahu.

“Nice story.” Balas Alvin santai seraya mengedikkan bahu. Rasa penasarannya sudah lumayan terbayar. Satu hal yang ia tidak bisa pungkiri dari Febby adalah optimisme gadis itu. Ia bersyukur tidak mendengar kalimat-kalimat cacian atau umpatan atau justru tangisan haus simpati keluar dari mulut Febby. Ia senang gadis itu tumbuh dengan pondasi pikiran dan raga yang kokoh.

Setelah itu, keduanya kembali tenggelam pada tugas masing-masing. Namun, tak lama Febby kembali buka suara. “Thanks ya. Sharing sama orang lain ternyata enak juga,” ujarnya tulus tanpa mengalihkan fokusnya pada novel.

Alvin mengambil gelasnya yang sudah kosong lalu berdiri menghampiri Febby. Ia menyodorkan tangan bermaksud mengambil gelas yang isinya akan habis dalam sekali teguk. “Brother. You can think of me as your brother.” Entah darimana pikiran itu tetapi ia sama sekali tidak keberatan.

Febby meminum jusnya hingga habis lalu membalas senyuman pada Alvin seraya memberikan gelas. Hari ini harus ia catat sebagai salah satu hari bersejarah dalam hidupnya. Ia punya kakak.

***

Shilla menumpu dagunya di atas lengannya yang melipat. Ia beristirahat setelah PR fisikanya selesai dikerjakan. Sebenarnya ia sedang tidak punya pikiran untuk melakukan apalagi. Ia tidak mengantuk tapi tubuhnya juga terlalu malas untuk melakukan hal lain termasuk beranjak dari kamar. Biasanya saat ini ia pasti sedang mengobrol dengan Alvin. Akan tetapi, hal itu sudah ia lakukan beberapa jam yang lalu dengan begitu singkatnya. Ia tidak berani menghubungi kekasihnya itu lagi mengingat bagaimana akhir dari telepon mereka sebelumnya.

Ditambah ia juga tidak lagi menunggu dihubungi. Kalimat penutup Alvin memang mujarab. Ia bukan kecewa atau sedih. Ia hanya merasa tertampar oleh kenyataan yang selama ini sebenarnya sudah sangat jelas namun ia masih terus menutup mata. Jadilah ia hanya menumpu wajah di atas meja belajar tanpa melakukan apapun.

Di tengah kekosongan idenya, ponsel Shilla berbunyi dan layarnya menyala-nyala menampilkan nama Alvin sang pacar. Ia menyentuh dan menggesek pelan layar ponselnya perlahan, lebih tepatnya tanpa niat. Selanjutnya ia menyapa dengan nada teramat santai.

“Haaloo?” ujarnya pelan.

“Hello sweetheart?” balas Alvin romantis.

Shilla tersenyum tipis seraya memiringkan wajahnya yang masih setia menumpu lengannya di atas meja belajar. “We’re not even in monthsarry date,”

“Emangnya romantis cuma boleh pas lagi ngerayain sesuatu doang, hm?”

“But you said we’re not in ‘that phase’ again? Wkwk,” Sungguh ini bukanlah ucapan sarkastik atau pun sindiran. Ia tidak punya maksud tertentu sama sekali.

Akan tetapi, sepertinya Alvin menganggap ucapannya serius. Pemuda itu buka suara setelah beberapa menit diam. “I-am-sorry...Aku ga bermak—“

Namun sebelum penyampaian maaf dan alibinya selesai, Shilla menyela begitu saja. “I know I know. Becanda gue mah, lo tumbenan baper?”

“Are you really sure? It’s okay?” Alvin bertanya dengan nada amat cemas tanpa bisa disembunyikan.

Shilla memandang ponselnya lalu menghela napas berat. “Sesensitif itu ya gue? Ckck,”

“No, Sayang. Marah wajar, kok. Omongan gue emang agak kelewatan.” Alvin masih setia mengaku dosa pada Shilla yang sebenarnya tidak lagi memedulikan kesalahan tersebut.

“Enggak, Vin. Omongan lo emang bener, lagi!” balas Shilla lagi yang membuat Alvin diam kembali. Kali ini bahkan lebih lama sampai-sampai ia harus kembali buka suara. “Kita pacaran udah lewat 2 tahun tapi gue masih childish aja kayak baru jadian. Sorry, hehehe..”

“Sayang, please?” Sepertinya Alvin tidak percaya kalau dirinya tidak terganggu dengan ucapannya sebelumnya. Nada suara pemuda itu masih terdengar khawatir.

Sementara Shilla belum menyerah meyakinkan Alvin. “It’s really okay. I’m really okay and 100% agree with you. Gue janji ga bakal se-annoying itu lagi.”

“Siapa yang mau lo berubah? I like your annoying acts. That makes me feel you are near.” Sekarang giliran Alvin yang menyela segera ucapan Shilla dan membuat Shilla sesaat kehilangan kata-kata.

“C—can I?” balas Shilla terbata. Suaranya menunjukkan kalau gadis itu belum lepas dari rasa takjub.

“Babe..” Alvin justru membalas dengan panggilan sayang. Shilla yang tidak mengerti hanya menyahut apa adanya. “H—huh?”

“Call me ‘babe’. Gue belum denger panggilan sayang lo hari ini.” Pinta Alvin dengan lembut dan sabar.

Shilla menegakkan kepalanya dengan kedua telapak dangan menutupi masing-masing pipinya. Ia tersipu. Sepertinya setiap saat memang terasa seperti saat pertama jadian untuknya. Ia bahkan masih tersipu dengan momen receh seperti ini.

“Pacar bisa aja!” sahut Shilla ringan.

Alvin membalas dengan perasaan puas. “That’s it!”


Sayang namun sayang, keadaan tidak benar-benar kembali seperti semula. Tanpa mereka ketahui, kerenggangan di antara mereka bermula dari ucapan jujur Alvin tersebut.

***

I know I know. Kalian mau bilang kalian bingung kan dengan akoeh? Sama, ku juga sama bingungnya. Kadang kalo dipikir-pikir, ini anak-anak yang jadi tokohnya udah pada gede semua, udah saling punya pacar, tapi ini cerita masih juga belom tamat padahal ngomong bakal tamat udah dari taun kapan.

Diriku tidak berharap banyak soal respon update-an cerita ini. Yang daku harapkan cuma satu, supaya ini bisa tamat!! Mau tamat doang susah amat:') Mana lagi nyusun skripsi lagi *tuhkanadaajaalesannyaHAHAHAHAHA*

Btw kok tumben lanjutin kopel lain biasanya Rify...Nah kebetulan nemu ide yang bisa mempercepat kopel ini tamat. So jadi agak ambisius deh langsung diketik trus di post. Mudah-mudahan kuota rajinnya belum abis jadi bisa update terus. Yah mudah-mudahan ya wkwk~

Untuk dirimu dirimu yang masih saja setia membaca, ga kapok-kapok ku nistakan *halah*, diriku mengucapkan terimakasih banyak dari lubuk hati terdalam. Semoga kalian selalu diberkati dengan hal-hal indah dalam hidup kalian setelah wasting time baca postingan ala-ala di sini. Sumpah, makasih banyak ya:'')

Rabu, 28 September 2016

JUAL BUKU KEDOKTERAN SECOND HAND (ANATOMI & DORLAND)

JUAL BUKU KEDOKTERAN SECOND HAND (ANATOMI & DORLAND)

Kamus Kedokteran Dorland Edisi 31 Penerbit Buku EGC
Kondisi disampul plastik bening, mulus, rapi, belum pernah dicoret-coret, persis seperti buku baru.
Harga : 450.000


Atlas of Human Anatomy Sobotta English Version 15th Edition
Kondisi disampul plastik bening, mulus, rapi, belum pernah dicoret-coret, persis seperti buku baru.
Harga : 1.300.000 Masih bisa nego




Harga yang tercantum sudah jauh lebih murah dibanding lapak lain guys, insyaAllah. Masing-masing cuma ada 1 ya. Yuk dibeli yuk biar gue dapet traktiran hehehe

CP : 083877508102 a.n Natasya