-->

Minggu, 25 Maret 2012

Matchmaking Part 9

Assalamu’alaikum! Hehe, gak ngaret kaaan? *PLAK* Cerbung ini semakin antah-berantah saja, ckckck. Part panjang lagi -__- Eh tapi part ini emmm *jelekiya* haha baca sajalah.
Ya sudah, langsung saja yaw! Semoga tidak mengecewakan pemirsah!
***
Sebelum beranjak ke kelas, Ify menyempatkan diri membeli ice cream di kantin. Sekalian membelikan untuk ke 2 sahabatnya. Loh kok 2? Yaiyalah, Via kan masih sakit dan tidak mungkin berada di sekolah. Karena itu, tak heran kalau Agni dan Shilla menatapnya curiga. Secara, Ify jarang-jarang berbaik hati seperti ini. Dan juga, Ferdi, Papa Ify, tidak memperbolehkan dirinya mengkonsumsi makanan beku nan lezat itu terlalu sering. Agni dan Shilla pun tahu, pasti ada yang tidak beres dengan Ify. Pasti!
“Nih, buat lo berdua. Mumpung gue lagi baik, hehe..” Cengir Ify, seperti biasa. Ia langsung mengambil tempat duduknya di depan Shilla dan Agni, seperti biasa pula. Baik Agni maupun Shilla tak langsung mengambil ice cream itu. Mereka hanya memandangi Ify. “Kenapa lo?” Tanya Agni langsung. Matanya memicing ke arah Ify. Shilla pun tak jauh beda. Ia melipat kedua tangannya di dada seperti menuntut penjelasan. Ditatap seperti itu, Ify jadi gelagapan sendiri. “Aa..eh..ya udah kalo gak mau!” Elak Ify. Ia mengambil kembali ke dua ice cream itu dan menaruh di mejanya.
Shilla dengan segera berpindah ke kursi kosong di sebelah Ify dan memutar tubuh gadis itu menghadapnya. Sementara Agni tetap pada posisinya semula. “Kenapa?!” Desak Shilla. Ify menatap Agni dan Shilla bergantian. Ia masih belum mau menjelaskan apapun pada mereka. “Emm..ee..eh gue lupa dipanggil Bu Okky!” Ujar Ify yang sudah mengambil ancang-ancang berdiri. Tapi tetap saja, Shilla menarik tangannya dan membuat Ify –terpaksa– duduk kembali. Ify menatap Agni dan Shilla bergantian, lagi. Pada akhirnya ia hanya menghela nafas, pasrah dengan kedua sahabatnya.
***
“Sekarang udah istirahat, kita udah di kantin dan lo gak bisa ngeles lagi. Jelasin saat ini juga!!” Suruh Agni. Shilla hanya manggut-manggut mengiyakan. “Iss, ini tuh gak penting-penting amat tahu!” Ify masih setia mengelak. Agni melengos sementara Shilla memutar kedua bola matanya malas. “Apa susahnya ngomoong?” Rutu Shilla. Ify lagi-lagi menghela nafas. “Rrr, iya-iya! Gue jelasin!” Serah Ify. Mendengar itu, Agni menjentikkan jari antusias. “Nah! Sok mangga, gue dengerin!” Ujarnya.
“Tapi..ini tuh beneran gak penting..” Ify mencoba mengelak sekali lagi. “IFY!” Geram Agni dan Shilla. Ify terlonjak mendengar itu dan terpaksa ia benar-benar menjelaskan apa yang terjadi padanya. “Hhh, ini cuma masalah batalnya perjodohan gue sama Rio. Puas?! Udah, gak penting kan?” Jelas Ify, akhirnya. Seketika mata Agni membelalak sementara mulut Shilla menganga dan nafasnya tercekat mendengar penuturan Ify barusan. “Kok bisa?” Kata mereka kompak. Ify gantian memutar kedua bola matanya malas. “Kok bisa?” Tukas Ify meniru reaksi kedua sahabatnya.
“Heh, jawab aja! Kok bisa? Secepat ini lagi?” Paksa Agni. Begitupun Shilla. “Gak ada alasan untuk tetep melanjutkan perjodohan.” Jawab Ify santai. Ia beralih memainkan BB-nya. Mereka diam beberapa saat. Sejurus kemudian Agni merebut BB Ify tanpa permisi. “Lo cinta banget ya sama Rio?” Tanya Agni. Ify menoleh sebentar seraya mengambil BB nya kembali. “Emang kalo gue jawab gak lo bakal percaya?” Tanya Ify balik. Agni mendengus kesal. “Lo jawab aja kenapa sih?” Rutunya.
Ify tak terlalu mengindahkan dan lebih fokus memandang ke layar BB. “Rio gak suka sama gue.” Katanya datar membuat Agni mengangkat sebelah alisnya. Lalu Shilla? Ia terlihat gugup sekarang. Ia tiba-tiba saja ingat akan kejadian di mobil Rio. Yah meskipun hanya bohong belaka, tapi kan menurutnya Ify tidak tahu akan hal itu. Ia mulai ragu Ify mendengar atau tidak pengakuan Rio padanya. Shilla lalu menatap Ify lekat-lekat. Agni  tak sengaja menoleh ke arah Shilla dan mendapati gadis itu sedang memandangi Ify. Dan menurutnya itu aneh.
“Shill, lo ngeliatin Ify begitu amat. Kenapa?” Kejut Agni. Shilla terlonjak dan dengan segera mengalihkan pandangan. “Hah? Eng..enggak kenapa-kenapa kok! Iya, gak kenapa-kenapa.” Ujarnya gelagapan. Agni menyipitkan matanya tak percaya. Tentu saja, untuk apa Shilla memandangi Ify yang notabenenya masih satu jenis. Memangnya gadis itu punya perasaan lebih ke Ify? Kan gak mungkin. “Lo sama aja nih sama Ify!” Tuding Agni. Shilla hanya nyengir seraya menggaruk-garuk tengkuknya. “Jelasin!” Paksa Agni, kali ini untuk Shilla.
Shilla bingung harus menjawab apa. Bukannya tidak mau menjelaskan tapi kan disana masih ada Ify. Tidak mungkin ia mengatakannya sekarang, secara itu bisa saja membuat Ify sakit hati nanti. Ia menunjuk-nunjuk ke arah Ify melalui matanya. Seperti memberi isyaratlah kepada Agni. “Nanti aja gue jelasin.” Bisik Shilla. Meskipun begitu, Ify masih bisa mendengar dan –pura-pura– ikut tak mengerti. “Eh kok bisik-bisik? Kok gue gak dikasih tahu? Kok gue gak boleh tahu?” Tanya Ify beruntun. Ia sudah beralih dari ponsel ke Shilla dan Agni. Tak lupa, bibirnya pun ia manyunkan.
“Kasih tahu gak yaa?” Goda Agni seraya menyenggol lengan Shilla pelan. Mereka terkekeh melihat kadar manyun temannya itu bertambah. “Udahlah jangan bahas itu. Eh besok olahraga, materinya basket kan?” Kata Agni semangat. Shilla dan Ify saling berpandangan bingung. Tiba-tiba Shilla tersenyum. “Eciee, roman-romannya ada yang lagi kesemsem nih?” Goda Shilla. Saat itu pula, pipi Agni sedikit merona. Bahasa kerennya salting lah. “Eh eh siapa? Siapa? Kok gue gak tahu? Tuh kan lo berdua main rahasia-rahasiaan lagi!” Dumel Ify tak terima. Kali ini, ia memang benar-benar tidak tahu.
“Hmm, gue laper. Fy, lo pesen makanan sana!” Ujar Agni mengalihkan pembicaraan. Melihat itu, Shilla hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Sementara Ify, ia terlihat kesal bukan main. Ia lalu berdiri dan pergi memesan makanan + minuman tentunya. Ia sengaja meninggalkan ponsel toh kepergiannya hanya sebentar. Tiba-tiba saja kantin terdengar agak riuh dari sebelumnya, terutama di bagian tempat masuk ke kantin. Agni dan Shilla iseng-iseng menoleh lalu melengos seketika.
Disana terlihat Cakka, Iel dan Rio berjalan memasuki kantin. Hmm, pemandangan biasa. Setidaknya bagi Agni dan Shilla. “Eh itu Agni sama Shilla bukan?” Tunjuk Cakka pada meja yang ditempati Agni dan juga Shilla. Iel melihat ke arah yang ditunjuk Cakka. Ia mendesah malas. Dalam hati ia berdoa agar kedua gadis disana sudah ‘tidur’. Rio hanya diam memandang meja itu dan sesekali mengedarkan sorotan mata ke arah lain. Yap! Fokusnya berhenti pada seorang gadis yang berdiri dan terlihat sedang memesan makanan. Ia memandang gadis itu lama.
Cakka menoleh sekaligus mengikuti arah pandangan mata Rio. “Lagi ngeliatin Ify yaa? Ehm..ehm..beneran dapat PM nih kita!” Goda Cakka. Iel hanya ikut terkekeh. Rio tersadar dan langsung beralih pandang pada mereka. “Gue lagi liat daftar menu.” Kata Rio datar tanpa membalas. “Ya deh terserah lo. Eh gue capek bediri mulu, duduk sana yok!” Ajak Cakka yang sudah bergerak duluan ke meja Agni dan Shilla. Diikuti juga oleh Iel dan Rio. “Kita boleh duduk sini kan?” Izin Cakka. Mm, tak bisa dibilang izin juga, toh ia sudah mengambil posisi duduk di sebelah Agni dan Shilla. Begitu pula dengan Rio dan Iel yang mengambil posisi duduk di depan mereka, yang kebetulan tempat dimana Ify tadi duduk. Tergeletak pula ponsel Ify disana.
Shilla sempat memandang Rio sinis lalu kemudian membuang muka. Rio tak terlalu mengindahkan. Tidak terlalu penting baginya. Dalam suasana baru itu, tiba-tiba saja ponsel Ify berdering. Semua serentak menoleh ke arah sana. Deringannya hanya satu kali, itu tandanya hanya sebuah pesan masuk. “Yo, buka gih!” Suruh Agni. Shilla hanya diam namun sepertinya setuju dengan Agni. “Kenapa gue?” Bingung Rio. Shilla mendengus lalu bersuara. “Lo yang paling deket kan? Buka aja, Ify gak bakalan marah. Dia polos dan jujur, bakal dikasih tahu juga sama kita-kita.” Ujarnya yang terkesan menyindir bagi Rio.
Dengan terpaksa Rio membuka isi pesan yang masuk ke ponsel itu. Hanya ada sms kosong dari nomor tak dikenal. “Cuma sms kosong.” Kata Rio datar seraya memperlihatkan layar benda itu ke yang lain. Ia lalu menaruh ponsel Ify ke tempat semula. Beberapa saat kemudian, Ify kembali dari memesan makanan. Ia agak kaget karena penghuni disana sudah berkembang biak (?), lebih-lebih ada Rio yang duduk di sebelah tempatnya. “Eh Fy, ada sms tuh! Sorry kita buka tadi, hehe.” Cengir Shilla. Ify hanya tersenyum seraya menggeleng pelan. “No problemo!”
Ify lalu duduk dan segera mengecek isi BB-nya. Ia mengumpat kesal mengetahui siapa pengirim sms itu. “Siapa, Fy?” Tanya Agni yang kelihatan bingung dengan reaksi Ify. “Orang aneh!” Umpat Ify kesal. Sepertinya ia tidak ingin menjelaskan lebih lanjut. Agni dan segenap teman-temannya yang lain hanya bisa menyimpan rasa penasaran masing-masing, termasuk Rio. Belum lama setelah itu, BB Ify kembali berdering. Kali ini lebih lama. Pandangan mata kembali tertuju pada benda itu. Ify pun terlihat melirik sekilas lalu kemudian mengedarkan pandangan ke sekitar. Seperti sedang mencari sesuatu. “Lo nyari apaan, Fy? Buruan angkat!” Ujar Agni.
“Eh eh bantuin gue dong, liatin siapa aja orang-orang disini yang lagi nelpon.” Pinta Ify. Semuanya lagi-lagi bingung dengan tingkah Ify. Tapi, mereka tetap melakukan apa yang Ify pinta. Ify langsung menjawab panggilan masuk di BB-nya. Ify diam dan tak mau berbicara duluan. “Hai, Ify manisku! Masih ingat kan sama gue?” Ujar orang itu seenaknya dan membuat Ify kembali mengumpat –benar-benar– kesal. “Heh, lo yang entah siapa namanya, I’m not yours!!” Sentak Ify. Orang yang menelpon Ify terkekeh. “But you will!” Balas orang itu.
Ify mendengus. “Haha, it’s just a dream in your dreams in your dreams again!” Sungut Ify yang membuat kekehan orang itu semakin keras. “But i’m sure that you eager to know who i am, right?” Ify mendengus lagi sambil menggigit bawah bibirnya. “Oh ya? Haha, sorry i don’t and i don’t care!” Ify langsung memutus panggilan mengganggu itu. Ia meletakkan BB-nya kasar dan menumpu dagu dengan kedua tangan. Shilla dan yang lain saling berpandangan kembali. “Pioong, siapa sih?” Tanya Agni penasaran.
“Tahu! Dari kemaren gangguin gue!” Jawab Ify asal. Shilla diam dan berfikir sebentar. Kemudian, ia tiba-tiba menjentikkan jari seperti mengingat sesuatu. “Hah! Jangan-jangan dia orang yang ngirim memo waktu itu!” Duga Shilla. Agni menoleh sebentar dan mengangguk setuju. “Bener juga! Sihiii, yang punya secad! Ehm..ehm..lahan bagus tuh, Fy!” Ledek Agni diikuti dengan gelak tawa yang lain, kecuali..Rio. Pemuda ini tampak diam tak bereaksi. Tapi sejujurnya, dalam hati ia mendengus. Sial! Batin Rio mengumpat. “Lo kira mau bercocok tanam apa?!” Dumel Ify.
Rio lantas berdiri dan beralasan hendak membeli minuman. Panas pemirsa, panas! Cakka menyenggol lengan Iel pelan dan tersenyum penuh arti. “Yo, mau beli minum kan? Beliin gue juga, Yo. Panas nih! Haha..” Ledek Cakka. Rio tak sedikitpun menoleh dan tetap berjalan. Meskipun begitu, tangan kanannya sudah mengepal. Awas lo, Cicak! Batinnya lagi. Cakka dan Iel tertawa puas. Tanpa peduli dengan wajah-wajah keheranan dari ketiga gadis di sebelah mereka. “Ketawa tuh bagi-bagi, woy!” Gerutu Agni.
Cakka dan Iel segera tersadar dan berhenti tertawa. Ketiga gadis ini sudah ‘bangun’ kembali. Pikir mereka berdua. Beberapa menit berjalan, hanya keheningan yang singgah disana sebelum Iel akhirnya memberanikan diri bersuara. “Emm.. Via gimana? Dia baik-baik aja kan?” Tanya Iel hati-hati sekaligus merasa bersalah. Tepat pada saat itu, Rio datang dan kembali duduk setelah sebelumnya memberikan sebotol pocari sweat pada Cakka. “Thank’s!” Ujar Cakka dan langsung meminum pocari itu tanpa memeriksa lagi. Akibatnya, baru seteguk, ia langsung memuntahkannya keluar. “Beeh, lo ngasih gue apaan yo?!” Rutu Cakka.
Rio menoleh sebentar dan tersenyum miring. “Lo gak bisa baca?” Cakka melihat kembali botol minuman di tangannya. Disana menunjukkan bahwa itu memang pocari sweat. “Pocari apaan ni?” Herannya. Iel ikut menoleh ke arah Cakka. “Emang kenapa, Cak?” Tanya Iel bingung. “Sepet!” Jawab Cakka langsung. “Oh, tadi airnya gue ambil dari bekas cuci piring.” Kata Rio santai dan meminum seteguk pocari sweat asli, miliknya. “APA?! Asem lo, dasar!” Kaget Cakka di antara tawa yang lain. Ia lantas membuang minuman itu beserta botol-botolnya ke tong sampah. Cukup jauh dari tempatnya dan kebetulan sekali tepat sasaran.
Ify yang melihat itu pun terkagum-kagum. “Wah, kok bisa masuk? Hebaat!” Puji Ify dengan mata berbinar. Mendengar itu, kali ini Rio benar-benar mendengus. “Gue juga bisa!” Ujarnya pelan. Tapi tetap saja, Cakka dapat mendengar itu meski tidak terlalu jelas. “Lo bilang apa, Yo?” Tanyanya memastikan. “Hah? Gak ada!” Bantah Rio segera. Ia kembali meneguk pocarinya, dan terlihat tidak sabaran. “Eh tadi lo nanya Via kan? Nah kebetulan nanti gue mau ke rumah dia. Lo mau ikutan gak?” Tawar Ify. Iel berfikir sebentar lalu mengangguk setuju. “Nah! Gue nebeng yaa? Hehe..” Cengir Ify. Itu memang tujuan Ify sebenarnya. Selain menghindar dari pulang bersama –yang terakhir kali– dengan Rio, ia juga bisa sekalian menjenguk Via.
Sementara Rio sendiri, entah kenapa ia begitu kesal. Benar-benar sampai ke ubun-ubun. Ia lantas berdiri kembali dan kali ini ia memang ingin pergi dari perkumpulan itu. “Gue balik ke kelas!” Pamit Rio tanpa menunggu respon dari Cakka maupun Iel sekaligus Ify dkk. Cakka dan Iel saling pandang dan tiba-tiba saja tertawa lagi. “HAHAHA!” Mereka kemudian ikut menyusul Rio ke kelas. “Eh kita duluan ya! Ni, jangan lupa pulang sekolah latihan!” Pamit Cakka. Agni dkk hanya mengangguk mendengar itu. “Ehm..ehm..” Goda Shilla pada Agni sesaat setelah Cakka dan Iel pergi. “Batuk?” Ujar Agni pura-pura tak mengerti. “Minum konidin, hehe..” Timpal Ify. Mereka serentak tertawa menggantikan Cakka dan Iel.
***
“ALVIN!” Bagi Alvin, pekikan namanya itu sudah resmi menjadi bel kesialannya setiap hari. Pengingatnya akan seorang gadis yang menurutnya begitu menyebalkan. Gadis yang selalu muncul tiba-tiba dan menampakkan diri dimana pun ia berada, saat di sekolah. Karena gadis itu pula, ia susah bergaul dengan teman-temannya yang lain. Alvin seperti menjadi seorang yang mengidap jantung lemah setiap mendengar seruan gadis itu. Ia beberapa kali menghela nafas serta menepuk-nepuk dada menenangkan diri. “Vin, gue cabut duluan deh. Selamat bersenang-senang, haha..” Goda seorang teman Alvin yang pada saat itu bersamanya. Alvin mendelik tajam ke arah pemuda itu.
“Hai, Vin!” Sapa Febby, gadis tadi, ramah. Alvin menoleh sebentar pada gadis itu lalu menghela nafas. “Hai..” Balas Alvin malas. Ia beralih memainkan ponselnya. Ia berniat menghubungi Shilla. Setidaknya hal itu jauh lebih baik dibanding harus mendengarkan kicauan sumbang dari gadis yang sudah duduk di depannya. Melihat itu, Febby melongos dan merebut ponsel Alvin begitu saja. “BB lo gue sita!” Ujar Febby seraya berdiri berkacak pinggang. “Apa-apaan sih lo? Balikin BB gue?!” Jutek Alvin seraya menengadahkan telapak tangan kanannya meminta kembali BB yang disita Febby.
Febby kemudian diam menatap Alvin, membuat Alvin sedikit..salting. Ia lalu menggeleng cepat dan kembali lagi pada sikap ketusnya pada gadis itu. “Balikin BB gue!” Pinta Alvin, datar. Ia tak menoleh pada Febby. Entah kenapa kesaltingannya itu masih bersisa sampai saat ini. Febby masih diam dan itu membuat Alvin hilang akal. “Arrggh, cepet balikin!” Pinta Alvin lagi. Ia mulai meraih-raih tangan Febby yang memegang ponselnya. Febby tentu tak membiarkan Alvin meraihnya dengan mudah. Jadilah, aksi rebut-rebutan itu menjadi tontonan yang cukup seru terutama bagi kaum hawa di tempat itu, di kantin.
“STOP!” Seru Febby tiba-tiba. Alvin mau tak mau menghentikan aksi perebutan kembali ponselnya.  Febby tersenyum jail. “Bilang gue cantik!” Ujarnya. Seketika mata Alvin sedikit melebar dari sebelumnya. “Hah?! OGAH!” Tolak Alvin mentah-mentah. Febby tersenyum kecut mendengar penolakan Alvin itu. “Sebelum lo ngomong itu, BB lo jadi milik gue untuk sementara!” Ancam Febby kemudian. Alvin tetap keras kepala tidak ingin mengatakan apa yang Febby pinta. “Mau BB lo balik atau gak?” Goda Febby seraya memain-mainkan BB Alvin dihadapan pemiliknya.
Alvin mengerang kesal. “Gak!” Tolaknya lagi. Febby tak mengindahkan dan tetap memanas-manasi Alvin. BB tersebut tanpa diduga bergetar. Seseorang hendak melakukan pembicaraan dalam benda itu. Febby mengangkatnya tanpa memeriksa sekaligus tanpa permisi. Sementara Alvin, ia mengira bahwa gadis itu sedang mengolok-oloknya lagi. “Haloo!” Sapa Febby ramah pada si penelepon. Ia diam sebentar lalu kembali bersuara. “Gue? Gue Febby, Febby Rastanty!” Ujar Febby tersenyum manis.
Alvin melihatnya malas. Ia akhirnya menyerah pada gadis itu. “Hhhh, cantik balikin BB gue doong?!” Pinta Alvin dengan intonasi lembut dipaksakan. Febby beralih pada Alvin tanpa memutus panggilan. “Aaaa, akhirnyaa!” Ujar Febby girang bukan main. Ia menoleh ke sekeliling. “Heh, lo, lo dan lo, denger tuh! Alvin bilang gue cantik!” Pamernya pada sekelompok anak cewek yang sedari tadi mencibirinya. Febby mengembalikan kembali BB Alvin dengan senang hati. “Nih!” Serah Febby. Alvin mengambilnya kasar dan memeriksa kembali benda itu. Ia menghela nafas lega karena merasa tidak ada yang tidak beres. “Eh tadi ada yang nelpon! Sorry gue angkat, hehe..” Cengir Febby.
Alvin mengangkat sebelah alisnya. Ia belum merasa percaya dengan perkataan gadis itu. “Ya udah kalau gak percaya!” Kata Febby lagi. Alvin segera memeriksa panggilan masuk di ponselnya. Sekali lagi, matanya seketika melebar lebih-lebih dari sebelumnya. Mulutnya pun terlihat ikut-ikutan. “APA?!..FEB LO..ARRGH!!” Gerutu Alvin. Febby hanya garuk-garuk kepala tak mengerti.
***
  Rio terlihat uring-uringan siang ini. Ia melajukan mobilnya entah kemana. Yang penting maju sajalah. Pikir Rio. Ia sendiri tak tahu apa yang membuat mood-nya sekusut sekarang. Ia kemudian memberhentikan serta menepikan mobilnya di sebuah jalan sepi. Ya, benar-benar sepi! Tak ada satu pun kendaraan yang lewat, kecuali mobilnya. Baguslah, ia bisa menyendiri sekarang. Rio kemudian turun dari mobil dan duduk di bagian samping. “Sepi..” Gumamnya seraya menoleh ke kanan-kiri memperhatikan kedua ujung jalan. Hmm, ternyata masih ada juga tempat seperti ini di Jakarta.
Kemudian pandangannya tertuju pada ujung jalan yang satunya. Dari situ, fantasi alam bawah sadar Rio dimulai. Ia tiba-tiba saja membayangkan dari sana mobil milik Iel bergerak maju hingga melewatinya. Ia lalu melihat 2 manusia yang duduk di depan dan bercengkrama dengan bahagianya. Dan mereka tak lain adalah Iel beserta..Ify. Rio kini seolah-olah melihat gadis itu sedang tertawa lepas. Sementara Iel, tangan kirinya bergerak menuju puncak kepala Ify dan mengusapnya lembut. Melihat itu, ada sesuatu yang membuat hatinya tergelitik. Tapi, tak bisa dibilang tergelitik juga karena gelitikan itu menimbulkan sedikit rasa nyeri.
Tunggu! Memangnya kenapa kalau itu Ify dan Iel? Dan juga kenapa harus mereka yang gue fikirin? Pertanyaan-pertanyaan itu seketika bermunculan di benak Rio, sekaligus membuat pemuda ini harus rela angkat fikiran dari fantasinya barusan. Rio meremas rambutnya kuat dan mengerang pelan. Ia frustasi dengan hal-hal asing yang merasuk hatinya beberapa waktu ini. Ify, Ify dan selalu Ify. Gadis itu terus saja mengusik ketenangan benda berjiwa itu. Kenapa dia? Kenapa harus dia? Sampai sekarang pun belum ia ketahui jawabannya. Lagipula, ia juga tidak berani mencoba menemukan apa jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Rio lantas kembali masuk ke dalam mobil dan kemudian melajukannya kembali. Kecepatannya cukup tinggi dan bisa dibilang ia sedang ngebut sekarang. Tujuannya kali ini sudah menunjukkan kejelasan. Rumahnya. Ia ingin kembali ke tempat itu alias ia ingin pulang. Ya, gue mau pulang! Batin Rio lirih.
***
Shilla sudah sampai di rumahnya dan kini ia pun sudah berleha-leha (?) di atas tempat tidur. Menghirup udara sejuk kamarnya sejenak sekaligus beristirahat. Ia menutup mata seraya menikmati berkurangnya sedikit demi sedikit volume kepekatan sendi tubuhnya akibat beraktifitas seharian. Merasakan aliran-aliran oksigen yang tanpa malu menelusup ke dalam lapisan-lapisan kulit. Ia menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. “Gue harap bisa seperti ini tiap hari..” Gumamnya.
Shilla lalu membuka matanya kembali dan mengambil ponsel yang tadi ia hempaskan begitu saja di kasur. Ia meraba-raba sebelah kanan kasurnya dan mendapati benda itu tergeletak disana. Seperti biasa, ia ingin memeriksa, sudahkan Alvin menghubunginya siang ini? Ah mungkin lebih tepatnya hari ini. Ya, karena sejak pagi hari pemuda itu belum menampakkan serangkaian nomor maupun namanya di ponsel Shilla.
Shilla menghunuskan nafasnya keluar. Ia mungkin harus lebih bersabar menghadapi kekasihnya ini. Kesekian kalinya, Shilla selalu mendahului perkontakan di antara mereka. Ia dengan cekatan mencari nama Alvin, yang sudah ia rubah dari Sipitrese menjadi Sipitunyu *halah* kemarin, di daftar kontaknya. Dengan segera ia melakukan panggilan. Ia sedikit kaget karena kali ini ia tak harus menunggu terlalu lama agar panggilan itu di respon. Baguslah, berarti ada kemajuan bukan? “Ha..”
“Haloo!” Shilla tercekat mendengar sapaan itu. Niatnya semula untuk memuji perubahan sikap –yang ia kira– Alvin harus ia urungkan. Tentu saja, suara yang menyapanya bukanlah milik Alvin. Itu suara perempuan. “Halo..lo..siapa ya?” Tanya Shilla pelan. Pikirannya sudah melenceng kemana-mana. “Gue? Gue Febby, Febby Rastanty.” Sahut gadis itu, yang mengaku bernama Febby. Apa? Febby? Febby Rastanty? Shilla terdiam. Tak tahu harus bicara apalagi. Ia kembali teringat pada gosip yang baru saja ditimpakan pada Alvin, kekasihnya. Namun, sepertinya kekagetan Shilla akan bertambah lebih besar lagi.
“Hhhh, cantik balikin BB gue doong?!” Nah, itu baru suara Alvin. Tapi kenapa harus kata-kata tadi yang pemuda itu ucapkan? Bukankah itu panggilan sayangnya untuk Shilla? Otak Shilla blank beberapa saat setelah memutus panggilan. Entah kenapa ia langsung mematikan ponsel dan menaruhnya begitu saja. Ia kembali menarik nafas mencoba menetralisir debaran jantung serta sakit di kepalanya yang tiba-tiba saja muncul. “Gue harus...tidur..” Lirih Shilla. Ya, mungkin otaknya itu harus dipejamkan sejenak. Tak hanya mata, bukan? Pada dasarnya, kerja otak itu lebih melelahkan daripada mata. Karena pada saat mata memejam, belum tentu sang otak mengikuti apa yang dilakukan mata.
***
Rio sampai di rumahnya dan melihat ada kendaraan asing yang terparkir disana. Yang jelas, itu bukan milik Papa atau Mamanya. Ia mencoba memperjelas pandangan memeriksa plat kendaraan, yang merupakan sebuah mobil, tersebut. Seketika itu pula, sebelah alisnya terangkat. Iel? Batin Rio. Ia bingung kenapa ada mobil Iel disana. Ya, biasanya kan Iel atau teman-temannya yang lain jika bertamu ke rumahnya akan permisi atau setidaknya memberitahu dirinya lebih dulu. Dengan segera ia melangkahkan kaki memasuki rumah yang boleh dibilang cukup megah itu.
Rio kemudian mendapati Iel sedang duduk santai di sofa ruang tamu. “Yel?” Panggil Rio. Iel menoleh menyahut seperti biasa. “Woy, lo udah balik? Kemana aja?” Tanya Iel sekedar basa-basi. Rio berjalan mendekat dan kemudian ikut duduk. “Tumben?” Ujar Rio yang sudah mengambil posisi bersender di badan sofa. “Oh, tadi gue..” Belum sempat Iel berbicara panjang lebar, tiba-tiba harus terpotong oleh Amanda, Mama Rio, yang tiba-tiba datang pula. “Yo, kok pulang telat?” Tanya Amanda yang terlihat khawatir. Rio menoleh sebentar ke arah mamanya itu. “Jalan-jalan sebentar..” Jelas Rio sekenanya.
“Kamu ini! Mama kira kamu bakal sama Ify kesini!” Rutu Amanda. Rio tersentak mendengar nama itu disebut. Ify..lagi? Pikirnya. “Gak usah bicarain dia kenapa sih?” Keluh Rio yang tiba-tiba dingin. Raut wajahnya tak lagi santai seperti tadi. Terkesan..marah. Amanda memandang anaknya heran. “Loh kenapa? Eh eh kamu gak tahu kan? Ify itu pinter masak loh! Dia tadi..”
“Mama gak ngerti Rio bilang apa? Gak usah bicarain dia! RIO TUH GAK SUKA SAMA IFY!” Potong Rio kalap yang berakhir dengan sedikit membentak pada Amanda. Sesaat Amanda terdiam melihat anaknya berbicara keras seperti itu. Ia kaget karena baru kali ini Rio membentaknya. Begitu juga Iel, ia memang sudah biasa dibentak oleh Rio. Tapi, kali ini kan beda. Itu Amanda, Mama Rio. Dan sepertinya kurang sopan seorang anak membesarkan volume suara saat berbicara dengan orang tua. Apalagi hanya karena masalah sepele.
Disaat yang bersamaan, seorang gadis baru saja keluar dari toilet. Terdapat bekas-bekas kemerahan di bagian bawah hidungnya. Bisa ditebak bahwa ia pasti mimisan dan sudah pasti tadi ia membersihkan noda-nodanya di dalam toilet. Ia berjalan sambil menengadahkan kepala, takut cairan merah itu mengalir kembali. Belum selangkah memasuki ruang tamu, langkahnya terhenti begitu saja mendengar sebuah seruan keras yang sangat berkaitan dengan dirinya. Seruan itu tidak mengenakkan bahkan sangat tidak mengenakkan baik didengar maupun dirasa.
(Galau dimulai, Butiran Debu On haha ~Boleh lagu lain kok~)
Hatinya mencelos. Memang benar, mendengar pernyataan dibalik punggung itu akan terasa lebih menyakitkan. Akan lebih terasa kejujuran dalam setiap untaian kalimat yang keluar. Maka akan semakin dalam mengoyak relung batin orang yang mendapat uji kebesaran hati menerima hal itu. Seperti Ify sekarang. Ini bukan yang pertama kali. Boleh dibilang sudah berkali-kali ia dibiarkan berkesempatan mendengarkan keluh kesah Rio akan dirinya. Rata-rata bahkan hampir semua perkataan pemuda itu menjurus kepada ketidaksukaan. Apa gue terlalu kuat sehingga Tuhan selalu membiarkan gue berdiri di waktu-waktu kejam kayak gini? Kenapa gue berjodoh dengan mereka?
Ia menurunkan kepalanya tanpa peduli cairan di hidungnya akan keluar lagi atau tidak. “Tante..” Lirihnya. Suaranya terdengar pelan. Ia masih berusaha bersikap biasa dan memaksakan diri menyungging senyum. Semua yang ada disana serentak menoleh pada gadis ini dan mereka pun tak kalah kaget melihatnya berdiri disana. “Ify..” Ujar Iel tak menduga, apalagi Amanda. Lidahnya makin kelu walau untuk sekedar mengatakan ‘ya’. Ify, gadis malang tadi, berjalan perlahan mendekati Amanda, Iel dan tentunya Rio. Sedikitpun ia tak mau menoleh pada pemuda itu.
Sreet! Benar saja, cairan merah itu kembali mengalir ke luar. “Ify, hidung kamu masih..” Kata Amanda menggantung seraya menunjuk-nunjuk ke arah hidung Ify. Ify kembali meraba bagian bawah hidungnya dan mendapati ujung jarinya mengalami bercak-bercak merah. Ia kemudian berbalik badan dan berlari menuju toilet kembali. Saat itu pula, ada cairan lain yang mengalir di bagian wajahnya. Kali ini cairan itu tidak berwarna. Bening layaknya air mata. Yap! Bisa dipastikan ia menangis. Ia sendiri bingung kenapa butir-butir itu begitu mudah untuk melepaskan diri.
Ify mengunci pintu toilet rumah Rio rapat-rapat. Ia tak langsung membersihkan noda merah di hidungnya. Ia diam menatap bayangan dirinya di cermin. Ia dapat menyaksikan sendiri bahwa cairan-cairan itu keluar semakin banyak dari matanya. Ia sulit menahan laju aliran itu karena terurai begitu saja. Kali ini ia benar-benar merasakan bagaimana terpuruk itu. Ia membiarkan kesedihannya tertumpahkan dalam setiap air mata yang ia teteskan. Ia menunduk dan terus saja menangis meski tanpa mengeluarkan suara. Hal ini begitu menyilukan hati dan sepertinya sudah layak menjadi alasan isakan-isakan darinya.
“Sakit..” Lirihnya yang masih terisak. Tuhan..aku sudah menyerah. Tapi kenapa rasanya masih sakit? Batin Ify parau. Beberapa kali Ia menepuk dadanya yang entah kenapa ikut terasa sakit serta sesak. Bukan hanya dada, perut dan hampir seluruh tubuhnya juga dan kini semua itu seakan lemah sekali. “Salah gue apa..?” Lirih Ify lagi. Ia tak habis pikir akan nasibnya dengan pemuda itu, Rio. Kenapa lo terlalu sering mengaku, Yo? Kenapa harus di depan gue? Kenapa selalu ada gue saat lo mengatakan itu? Kenapa gue selalu denger? Kenapa telinga gue dibuat terbuka menyambut itu semua? Kenapa cuma kata-kata menyakitkan yang keluar dari mulut dan hati lo? Apa gak ada sedikitpun kata-kata pelipur lara yang bisa lo sampaikan? Meski gak sampai satu kalimat setidaknya ada satu hal indah yang membekas di telinga dan terutama disini Yo, di hati gue.
***
Seorang gadis terlihat ditarik paksa oleh seseorang menuju suatu tempat. Sepertinya itu bagian belakang dari sebuah kelas. Mereka pun masih terlihat mengenakan seragam, seragam SMA. “Goldi! Lepasin tangan gue!” Ronta gadis itu seraya berusaha melepaskan tangannya dari genggaman orang yang ia sebut Goldi, sekaligus pelaku penarikan paksa tadi. Karena merasa sudah aman, Goldi akhirnya membebaskan pergelangan gadis di hadapannya. Ia menatap gadis itu tajam. “Sampai kapan?” Tanya Goldi dingin.
Gadis di hadapannya bersikap seperti pura-pura tidak mengerti. “Sa..sampai kapan apanya?” Kata gadis itu seraya balik bertanya. Goldi mendengus lalu memegang bahu gadis itu kuat. “Kapan...SAMPAI KAPAN GUE MESTI MENYAKSIKAN LO BERSAMA ORANG LAIN?!” Bentak Goldi yang sudah habis kesabaran. Gadis di hadapannya sontak kaget dan menunduk ketakutan. “Ja..jangan..bentak..gue..” Lirihnya. Ia tiba-tiba saja menangis. Hal itu membuat Goldi merasa bersalah. Ia lupa akan gadis itu yang tak bisa dibentak sama sekali. Ia lantas merutuki dirinya sendiri karena superegonya tidak berjalan dengan baik. “Ma..maaf, gue terlalu emosi..” Sesal Goldi.
Gadis tadi masih saja sesenggukan menangis. Goldi mengangkat wajah gadis itu kembali sembari mengusap kedua pipinya yang basah karena air mata. “Sorry!” Kata Goldi selembut mungkin. Gadis tadi menatap Goldi sebentar. “Lo tahu kan untuk apa gue ngelakuin ini? Apa lo mau liat gue mati disiksa, hah?” Goldi hanya bisa pasrah mendengar perkataan gadis itu. Ia tidak bisa lagi berontak jika kata-kata itu sudah keluar dari mulut kekasihnya. “Lo tahu kan apa yang Oik bakal lakuin sama gue? Sejujurnya gue udah capek. Gue lelah terus-terusan diperalat kayak gini. Tapi gimana? Gue gak dikasih pilihan untuk itu. Gue..gue..”
Goldi seketika langsung memeluk gadisnya. Ia tahu gadis itu sudah kehabisan kosakata untuk diucapkan. “Iya-iya, kan gue udah minta maaf. Gue yang salah..” Ujar Goldi lagi. Ia mengusap-ngusap kepala gadisnya pelan. Mereka membiarkan menit-menit kesunyian melintasi waktu begitu saja. Tak ada masalah dengan itu karena sepertinya mereka pun menikmati suasana yang mereka buat. Hingga sang gadis berhenti mengaliri pipinya dan menatap Goldi. “Sabar, gue mohon..” Lirih gadis itu. Goldi tersenyum dan menatap balik gadisnya lembut. “Iyaa..” Katanya mantap seraya kembali mengusap-ngusap pipi gadis itu. “Gue cuma..cemburu..” Jujur Goldi kemudian menunduk.
“Gue akan secepatnya menyelesaikan tugas gue!” Sang gadis akhirnya dapat membiarkan kecerahan mencuat di wajahnya. Ia tersenyum dan menatap Goldi haru. “Gue..cinta sama lo..” Ucapnya. Goldi tersenyum jail. “Gue gak denger, ulang!” Pintanya yang pura-pura tidak mendengar. Sang gadis tertunduk malu disertai dengan merona di pipinya. Goldi mengangkat wajah gadis itu lagi seraya tetap memegangi pipinya. “Ulangi!” Pinta Goldi. Gadis itu tersenyum sipu dan ragu-ragu untuk berkata lagi. “Gu..gue..”
“Gue apa?” Goda Goldi membuat kemerahan di wajah sang gadis semakin kentara. Dengan gerakan cepat ia memeluk pinggang kekasihnya sehingga hanya menyisakan ruang beberapa centi saja. Entah refleks atau karena sudah terlalu malu sang gadis langsung menutup mata. Tak sampai 5 detik, ia kemudian merasakan ada sesuatu yang tanpa ragu berpagut dengan bibirnya. Yap, Goldi menciumnya dan melumatnya beberapa kali (??) Ini perdana Goldi melakukan itu. Ia dapat merasakan kerinduan Goldi padanya. Ia tak punya kekuatan untuk menolak *-___-juststoryV,V* karena ia juga merasakan hal yang sama. Tangannya bergerak mengalung ke leher Goldi seraya sesekali membalas perlakuan pemuda itu.
***
Alvin sudah terbebas dari gangguan Febby. Entah kemana gadis itu pergi. Tapi tidak masalah. Alvin tentu sangat bersyukur akan hal itu. Tapi, ia masih belum bisa tenang. Benar-benar tidak tenang. Ia justru kelihatan lebih panik sekarang. Lagi-lagi karena seorang gadis. Tapi dengan gadis yang berbeda. Ia berkali-kali mencoba menghubungi gadis itu dan berkali-kali pula ia gagal. Setiap ia melakukan panggilan, malah gadis lain yang menyahut sambil terus mengucapkan kalimat-kalimat yang sama. ‘Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. Cobalah beberapa saat lagi!’. Begitulah kira-kira.
“Shillaa, aktif dong pliiiisss!!” Ujar Alvin frustasi. Ia takut sekali Shilla, gadis tersebut, marah padanya. Ia mulai merutuki dirinya sendiri karena sudah bertingkah bodoh hari ini. Kenapa ia harus mengabulkan permintaan Febby? Itulah yang sedari tadi menggerogoti isi kepalanya. “Arrgh! Febby sialan!” Umpat Alvin kesal. Ia kemudian mencoba mengirim pesan singkat pada Shilla. Tapi, hal itu pun masih belum ada pengaruhnya karena Shilla tak jua merespon. Jadilah, seharian itu ia habiskan hanya untuk mengirimi pesan singkat pada Shilla dengan harapan hati gadis itu akan tergerak dan segera membalas.
***
 Cukup lama Ify mengurung diri di toilet dan akhirnya menguatkan diri untuk keluar. Ia terkejut melihat ada 3 orang yang terlihat cemas menungguinya. Ah tepatnya 2 orang, ya karena ia hanya memperhatikan 2 dari 3 orang itu. Sekeras hati ia mencoba menghindar untuk bertukar pandang dengan 1 di antaranya, Rio. Entah apa ekspresi pemuda itu sekarang. Apakah ia sedang khawatir, cemas, merasa bersalah atau malah setia dengan sikap cueknya seraya berpesta kebahagiaan dalam hati. Yang jelas, ia tidak mau melihat Rio saat ini.
“Ify, sayang, kamu baik-baik aja kan?” Tanya Amanda cemas. Ia yang terlihat paling khawatir. Amanda berdiri paling depan bersama Iel sementara Rio berada di paling belakang. Samar-samar, tersirat jugalah raut kegelisahan di wajah Rio. Matanya tak berkedip memandang gadis yang tanpa sengaja disinggungnya. Rasa bersalah itu kembali muncul dan malah dengan jumlah yang semakin besar. Kali ini, ia memang tidak sengaja melakukannya. Ia sendiri bingung mengapa kata-kata ‘menusuk’ itu kembali terucap olehnya. Ia baru mengakui perkataannya tadi tidak sepenuhnya benar. Buktinya ia merasa bersalah sekarang. Yah mungkin sampai saat ini, hanya itu yang dapat ia simpulkan untuk masalah perasaannya pada Ify.
“Hah? Baik..ya baik..” Jawab Ify seraya tersenyum paksa. “Emm..Ify pulang sekarang aja ya, Tante. Ify kan mau jenguk Via lagi, hehe..” Cengir Ify dan mencoba mencairkan suasana. Amanda tak berusaha menahan karena ia turut merasa bersalah pada Ify. Ia lalu mengambil rantang berisi makanan yang sengaja dipersiapkan agar gadis itu dapat membawanya pulang. Ia memberikannya segera. “Bawa ini, salam buat Papa kamu ya..” Kata Amanda canggung. Ify tersenyum menerimanya dan langsung pamit. Iel hanya mengikuti Ify dari belakang. Ia juga tidak mau ikut campur dalam masalah internal 2 keluarga ini.
Ify melewati Rio tanpa menoleh sedikitpun. Ia bersikap pura-pura tidak melihat pemuda itu. “Gue gak ikut campur!” Ujar Iel pelan saat berjalan di depan Rio. Sementara Rio, tangannya sudah bergerak sedari tadi. Dalam hati, sudah ada niatan untuk menahan kepergian gadis itu. Tapi, sepertinya antara pemikiran dengan alat motoriknya tidak berkooperasi dengan baik. Kaki Rio tetap kaku dan terpaksa diam di tempat. Ia hanya memandangi bagian belakang tubuh Ify yang kini sudah menghilang di balik pintu rumahnya.
“Ify baik-baik aja, Yo.” Ujar Amanda yang terkesan menyindir. Ia segera beranjak dari tempatnya semula dan bergerak menuju kamar. Perasaan kecewa menggeluti sebagian kecil hatinya. Rio hanya bisa menghembuskan nafas pasrah dan kemudian ia juga berjalan menuju kamar. Huft, I’ve made hurt in her heart, again. Really! Lirihnya dalam hati. Pikirannya kacau saat ini. Ya, benar-benar kacau!
***
(Ungu – Kuingin Selamanya On, menurut admin sih tapi boleh lagu lain kok~)
Pulang sekolah, itu berarti waktu bagi Agni kembali mengikuti latihan basket bersama Cakka, dan anggota lain tentunya. Kali ini yang hadir lebih banyak termasuk para senior. Masing-masing senior bertanggung jawab atas satu junior. Kebetulan jumlah senior dan junior yang hadir seimbang. Kebetulan lagi, Cakka menjadi senior yang akan melatih Agni. Hati Agni sedikit berbunga mengetahui itu. Hmm, bagian itu kini tak secuek dulu dan menonjolkan sisi feminim Agni yang sesungguhnya di dalam sana. Meski, bahasa tubuh ‘laki’ atau lebih tepatnya tomboy itu tidak bisa dilepas dari dirinya. Akan tertempel selamanya di benak setiap orang yang melihat gadis ini.
Cakka menyuruh Agni berlatih drible. Agni pun mulai memantul-mantulkan bola basket di tangannya seraya membawa benda itu berjalan dari ujung lapangan yang satu ke ujung lapangan tempat Cakka berdiri. Ia melakukan itu dengan cukup baik, bahkan bisa dibilang sangat baik. Tentu saja, ia kan bukan tidak bisa bermain basket? Cakka melihat itu tersenyum puas. Ia juga memuji kecepatan menangkap dari Agni. Ia mulai menyimpulkan gadis ini pasti akan sangat mudah mencapai tahap kemahiran. Hmm, kau belum tahu anak muda, gadis ini penipu! Ia bahkan mungkin lebih tinggi tingkat keahliannya dari pada dirimu.
“Waah, hebat lo!”  Puji Cakka. Agni hanya tersenyum menanggapi pujian Cakka padanya. Meski ada sedikit rasa bersalah dirasakannya saat melihat pemuda di hadapannya. “Nah, sekarang lo drible bolanya lagi. Gue akan nyoba ngerebut dan lo harus bisa ngindarin gue. Ngerti?” Ujar Cakka lagi. Agni mengedikkan bahunya. Ia lalu mendrible bola basket kembali. Cakka menghalaunya dari depan. Matanya begitu serius memperhatikan gerak-gerik bola. Agni tak dapat menahan tawanya saat melihat wajah lucu Cakka. “Mata lo biasa aja dong! Nih bola udah kayak cewek yang mau lo tembak, tahu gak? haha..” Tawa Agni. Cakka ikut terkekeh dan menyadari sikapnya yang memang agak berlebihan.
Setelah itu, Cakka terlihat lebih santai. Sekarang tak hanya bola, ia pun sesekali memperhatikan wajah si pemegang. Tujuannya hendak menghalau bola tak juga terlaksana. Ia hanya sibuk menatap bola dan Agni bergantian. Sementara Agni, ia mulai sadar bahwa Cakka sedari tadi meliriknya. Sesekali pula ia melihat pemuda itu tersenyum. Entah apa maksud dari senyuman itu. Membuat jantungnya ikut memantulkan diri seirama dengan pantulan bola yang berada di tangannya. “Lo kapan ngerebut bolanya sih?” Gerutu Agni mencoba bersikap biasa.
Cakka kelihatan sedikit tersentak. “Hehe, gue lupa..” Cengir Cakka seraya garuk-garuk kepala. Agni kembali terkekeh melihat itu. Namun, sepertinya kegiatan perebutan bola itu harus ditunda pelaksanaannya. Awan-awan mendung yang sempat mengatapi bagian atas lapangan tiba-tiba saja menumpahkan beban-beban yang ada di dalamnya. Hujan. Yap, bagian bumi di sekitar itu seketika dibuat basah. Tanah-tanah terlihat merecah akibat penjatuhan air. Cakka, Agni dan anggota lain segera mencari peneduhan.
Akan tetapi, Cakka terlihat malas-malasan ketika disuruh lari. Membuat salah satu dari anggota disana meneriakinya agar segera menyusul. Mau tak mau ia berlari ke tempat dimana anggota-anggota lain berada sekarang. Mereka memutuskan kembali ke ruang basket. Di dalam, ada yang kemudian melanjutkan latihan dan adapula yang beristirahat. Cakka sendiri memilih berdiri di depan pintu sambil memandang ke arah luar. Melihat betapa derasnya hujan turun. Bingung melihat anggota lain berlatih, ia akhirnya mengikuti kegiatan Cakka dan berdiri di samping pemuda itu. “Lo suka hujan?” Tanya Agni tiba-tiba.
Niatnya sih hanya sekedar basa-basi karena ia merasa sudah tahu apa jawaban Cakka nanti. Cakka menoleh sebentar lalu kembali menatap hujan. “Sangat!” Ujar Cakka mantap dan tersenyum senang. Seketika Agni terdiam. Ia begitu kaget mendengar pernyataan Cakka barusan. Agni bahkan tidak mengharapkan jawaban tersebut keluar dari mulut Cakka. Ia sedikit merasa kecewa. “Kenapa?” Lirih Agni. Ia tak memandang pemuda itu lagi melainkan ikut-ikutan memandangi sang hujan. “Hujan membuat gue merindukan seseorang..” Jawab Cakka pelan. Ia masih setia dengan senyumnya. “Lalu, lo? Suka hujan?” Tanya Cakka balik. Agni melewatkan waktu sebentar dan setelah itu –berusaha– menjawab. “Gak..” Kata Agni pelan.
Cakka menoleh dan kelihatan bingung. “Kenapa?” Kali ini ia yang menanyakan itu pada Agni. Agni menghembuskan nafasnya singkat. “Gue kehilangan seseorang saat hujan..” Jawab Agni. Cakka membiarkan matanya melihat gadis itu sebentar lalu kemudian kembali memandang hujan. Mereka menciptakan keheningan dengan kesibukan dalam fikiran masing-masing. Agni udah punya pacar? Batin Cakka bertanya-tanya. Setidaknya ada sedikit ketidaksukaan saat ia memikirkan itu. Sementara Agni, ia masih memikirkan jawaban Cakka tadi. Jadi, Cakka suka hujan? Tapi..Aga gak suka hujan. Lirih Agni dalam hati. Sama seperti Cakka, ia juga tidak suka memikirkan hal yang sedang ia pikirkan saat ini.
***
 Ify dan Iel akhirnya sampai di rumah Via. Sebelum keluar dari mobil, Ify dengan segera menyimpan kesedihan yang masih menderanya. Ia kemudian turun seraya mengembangkan senyum di wajah. Iel hanya diam melihat tingkah Ify. Sudahlah, gadis itu punya cara sendiri mengatasi masalahnya. Pikir Iel. Mereka masuk dan disambut baik oleh Lilis, pembantu di rumah Via. “Bi, Via gimana? Udah mendingan kan?” Tanya Ify. Lilis hanya nyengir seraya menjawab. “Hehe, Bibi juga kurang tahu, Neng. Tuh, Non Vianya lagi diperiksa sama Bu Keke.” Jelas Lilis.
“Tante Keke datang kesini?” Tanya Ify lagi. Ia agak kaget mendengar nama itu. Lilis mengangguk dan kemudian permisi ke belakang. Ify dan Iel langsung beranjak menuju kamar Via. Tapi, sebelum itu mereka terlebih dahulu bertemu dengan Keke, psikolog yang biasa menangani Via, yang kebetulan baru keluar dari kamar gadis itu. “Tante!” Sapa Ify seraya tersenyum ramah. Begitu juga Iel, meskipun ia belum mengetahui siapa wanita cantik di depannya. “Eh kamu Ify. Lama gak ketemu?” Balas Keke.
“Iya nih. Via jarang kambuh sih, hehe..” Kata Ify nyengir. Keke hanya geleng-geleng kepala mendengarnya. Ia lalu menoleh pada Iel. “Kamu..pacarnya Via?” Tanya Keke lagi yang membuat Iel gelagapan. Ify tersenyum melihat tingkah aneh Iel itu. “Calon, Tante!” Celetuknya. Iel langsung mendelik ke arah Ify tak terima. “Eh bu..bukan, Tante! Saya temennya kok!” Bantah Iel cepat. Keke terkekeh kecil melihat kedua muda-mudi di hadapannya. “Pacar juga gak papa kok..” Timpal Keke. Iel hanya bisa garuk-garuk kepala, malu. Ia tidak berusaha membantah lagi.
“Emm, Via gimana? Dia baik-baik aja kan?” Tanya Ify kemudian. Air muka Keke tiba-tiba berubah menjadi agak serius. Sedetik kemudian ia kembali tersenyum dan mengangguk. “Iya. Dia baik-baik aja kok!” Mendengar itu, Ify pun dapat bernafas lega begitu juga dengan Iel. “Tapi..sepertinya dia kehilangan memori tentang kejadian yang dia alami sekitar seminggu ini. Hmm, biasalah efek trauma.” Jelas Keke lagi. Ify manggut-manggut mendengar penjelasan Keke sementara Iel, ia makin merasa bersalah. Ia tidak mengira perbuatannya itu akan memberikan efek kejiwaan seperti ini dan kini harus dialami Via.
Setelah perbincangan itu, Ify dan Iel pun masuk ke kamar Via dan mendapati gadis itu sedang membaca novel. Kegiatan rutinnya saat tidak ada kerjaan di rumah. Ia tersenyum melihat Ify namun sedetik kemudian ia bingung karena Ify tidak datang sendirian. Iel? Batin Via bingung. Ia merasakan jantungnya berdebar, lumayan cepat. Apalagi dengan Iel yang masuk sambil tersenyum ke arahnya. Wajah Iel terlihat sangat tampan saat ini. Setidaknya menurut Via. Ify kemudian duduk di tepi tempat tidur Via. “Ciee yang udah berani bolos!” Ledek Ify. Ia berhasil menutup rapat-rapat celah kesedihan dalam dirinya. “Apaan sih lo?!” Rutu Via seraya memukul pundak Ify pelan.
Via menaruh novel yang tadi ia baca ke samping. “Eh eh gue kenapa sih? Kok Tante Keke sampe datang kesini ngejenguk gue?” Bingung Via. Maklum, ia kan tidak ingat apa saja yang ia alami. Tahu-tahu, ia bangun dan sudah berada di kamar. Bisa dibilang, Via mengalami amnesia kecil jadi tidak tahu apapun tentang penyebab ia terbaring sekarang. “Lo? Lo habis bunuh orang tahu gak? haha..” Bohong Ify. Tawanya meledak melihat Via manyun. Iel yang melihat itu langsung menoleh pada Ify dan tersenyum tipis ke arahnya. Good girl! Batinnya memuji. Ia kagum akan ketegaran Ify itu.
Gadis itu cukup kuat juga. Padahal dari luar, ia terlihat seperti dedaunan kering yang sekali diinjak akan langsung merekah dan dengan mudah memisah menjadi bagian-bagian kecil. Jarang-jarang ada gadis yang seperti ini. Menurut Iel sih. Sementara Via, tak sengaja menoleh ke arah Iel dan mendapati pemuda itu sedang tersenyum sambil memandang Ify. Hatinya seperti tersengat menyaksikan pemandangan miris itu. Seolah-olah menunjukkan Iel yang memendam ketertarikan terhadap Ify. Maklum, ia belum pernah melihat Iel memandangi orang seperti itu sebelumnya. Ia menatap Iel miris. Jadilah, di ruang itu, masing-masing penghuninya memilih fokus yang berbeda. Ify pada Via, Via pada Iel sementara Iel menjadikan Ify sebagai pilihan.
***
Hulalaa, selesai juga part ini. Sekali lagi, saya gak tahu feelnya dapat atau gak. Dan jangan minta pertanggung jawaban kepada saya akan hal itu. Next, ngaret lagi tak apa yaa. Udah masuk sekolah lagi sih hoho o,o
Jelek ya? Haha, saya tahu kok. Maklum saya bukan penulis. Maafkan ke gajean dan ketidakbagusan cerita, ini hanyalah fiksi belaka. Makasih =)

Matchmaking Part 8

Part panjang kembali datang. Bosan ya bosan ya? Kalo iya biar tak tamatin aja hehe. Part ini agak galau, so persiapkanlah lagu yang galau juga sembari membaca.
Hop hop langsung saja yaw, semoga isinya tidak mengecewakan pemirsah!
***
Mati deh guee!! Teriak Via dalam hati. Ia panik bukan sekedar karena terkunci di ruang musik melainkan dengan siapa ia terkunci. Yap, bersama Iel. Itu jauh lebih membuatnya panik. Via menarik nafas dalam-dalam sambil mencoba menenangkan dirinya sejenak. Ia kembali mencoba membuka pintu di hadapannya. Dan, yah memang pintu itu benar-benar di kunci dari luar. Via meringis sambil menempelkan keningnya di permukaan pintu.
“Vi, lo ngapain berdiri depan pintu? Mendingaan, lo duduk di sebelah gue dan nyanyiin lagi tuh lagu.” Ujar Iel seraya menepuk-nepuk kursi seperti menyuruh Via mendudukinya. Via menegakkan kembali kepalanya dan berbalik badan. Ia tak punya pilihan lain. Ia lalu mengikuti saran Iel untuk kembali duduk di kursi itu. Via berjalan gontai hingga benar-benar sampai dan duduk.
Via menghentakkan telapak kaki kanannya ke lantai. Ia kesal, niatnya ke ruang ini kan hanya untuk menghilangkan kebosanan? Bukan untuk terkurung bersama Iel. “Heh, lo kayak TKW disiksa tahu gak cemberut gitu?” Ledek Iel. Ia terkekeh sambil mengatakan itu. Via menatapnya sinis. “Dan gue bakal bikin lo ngerasain jadi TKW itu, mau lo? Hah?” Mangas Via. “Yee santai aja kali!” Balas Iel. Ia berdiri menghadap Via dengan kedua tangan yang dimasukkan ke saku. Ia memandang gadis yang kini sedang menumpu dagu itu heran.
“Lo kenapa sih? Juteek mulu! Salah gue apa coba?” Via sedikit terkesiap mendengar itu. Ia menoleh dan menatap remeh Iel. Salah lo? Yel, Yel, apapun salah lo ke gue, lo juga gak bakal peduli! Batinnya miris. “Lo gak merasa salah kan? Ya udahlah!” Kata Via melengos ke arah lain. “Justru itu, gue nanya salah gue apa ke lo? Kenapa lo tiba-tiba jutek sama gue?” Desak Iel. Ia kembali duduk di kursi. “Iss, gak nganggu lo juga kan? So what?!” Kata Via mengelak.
“Gak nganggu gimana? Tiap ketemu gue, lo buang muka. Tiap ada gue, lo pergi. Gue risih kali!” Ujar Iel tak terima. Via menatapnya datar. Risih? Oh..cuma itu. Kirain, ckck. Batin Via. “Hmm, inget-inget sendiri lah salah lo apa. Gue malas jelasin. Ujung-ujungnya lo bakal bilang ‘Oh’ dan ‘Ya udah gue minta maaf’. Ckck, basi tahu gak!” Via mengambil Ipodnya lagi dan mulai memilih-milih lagu. Iel menyerah terus memaksa Via mengatakan kesalahannya. Ia akhirnya berusaha sendiri dengan mengingat-ngingat kejadian-kejadian yang melibatkan dirinya dan gadis itu.
Ia pun ingat kejadian di koridor lalu saat Via menabraknya yang berakhir dengan sorakan-sorakan orang di sekitar. Ia sudah tahu kesalahannya sekarang. “Jadi lo marah karena kejadian di koridor itu?” Tanya Iel memastikan. “Hmm, pinteer!” Jawab Via malas seraya tersenyum dipaksa. Iel menghela nafas singkat. “Yaelah, itu kan cuma masalah sepele?” Via menoleh kembali dan kali ini benar-benar tersenyum.
“Sepele? Hmm, berdiri di depan umum, di soraki habis-habisan. Kemanapun lo melangkah, setiap pasang mata memandang lo, mencibir lo, meledek lo bahkan ada yang mencerca lo. Haha, menjadi bahan tertawaan memang masalah sepele.” Kata Via tertawa hambar. Ia melipat kedua tangannya di dada. Sedetik kemudian, ia meraba-raba bagian kantongnya hendak mengambil ponsel. Tapi sialnya, ia baru ingat tadi pagi ia menaruhnya di tas. Ia hanya bisa meringis meratapi kemalangannya hari ini.
“Okedeh gue ngaku salah meskipun gue ngerasa gak salah!” Ujar Iel terpaksa. Ia tidak melihat ke arah Via karena sudah agak jengkel dengan perilaku gadis itu. “Hh, apa nih? permintaan maaf?” Cerca Via. Ia jadi ikut jengkel, lebih parah malah. Ia geleng-geleng kepala sendiri melihat pemuda di sampingnya itu.
“Vi, tolonglah! Gue berasa jadi pelaku tindak kriminal tahu gak?!” Sungut Iel yang mulai putus asa menghadapi Via. Via sendiri hanya menatapnya tanpa ada rasa bersalah sedikitpun. Ya jelas, toh pemuda ini yang bersalah bukan dirinya. “Lah, hubungannya sama gue apa?” Balas Via. Iel melengos dan membuang nafasnya kesal. “Iss, lo kayak anak kecil aja sih ngambek-ngambekan?!” Ujar Iel lagi.
“Yee, emang gue masih anak kecil! Kalo gue udah gede, gue udah punya anak kali!” Kata Via mengiyakan saja. Iel melongo memandang gadis ini dengan tatapan tak percaya. Ya biasanya kan kalo cewek dibilangin seperti itu langsung mencak-mencak dan marah-marah gak jelas. Tapi kali ini beda, sang cewek malah bersikap biasa dan asal terima tudingan itu. “Argh gue frustasi gimana lagi ngadepin lo! Lebih-lebih dari ujian nasional ini mah, ckck..” Serah Iel dan geleng-geleng kepala sendiri.
“Siapa suruh?!” Sungut Via lagi-lagi ia melengos. Ia masih setia melipat kedua tangannya di dada. “Nih ya, daripada lo frustasi ngadepin gue, ngomel-ngomel gaje, mending lo telpon siapa kek gitu, suruh tuh orang ngeluarin kita dari sini!” Lanjut Via. Ia kembali berdiri dan menghadap ke arah Iel. Iel balas menatapnya sambil berkacak pinggang. “Maafin gue dulu!” Sungut Iel yang terkesan memaksa. Via lalu menatapnya datar. “Ada palu gak?” Tanya Via dengan nada datar pula.
“Gak usah ngalihin pembicaraan! Buat apa nyari palu-palu?” Bantah Iel.
“Buat ngetok kepala lo tuh, biar gak keras! Biar sekalian gue buat lo amnesia dan gak nganggu gue lagi, lahir batin!” Via melangkah turun kembali dari panggung. Ia malas berdebat lagi dengan Iel. “Lo kate suami-istri bawa-bawa lahir batin segala?” Serah Iel. Ia hanya memandangi kemana gadis itu melangkahkan kaki. “Amin!” Celetuk Via namun samar-samar terdengar oleh Iel. “Lo ngomong apa barusan? Amin?” Tanya Iel langsung. Via langsung menutup mulutnya dan tak berusaha menoleh ke arah Iel.
“Bukan! Gue bilang Tukimin!” Bantah Via asal. Kening Iel mengernyit bingung. “Siapa tuh, pacar lo?” Celetuk Iel. GUBRAK! Batin Via. Ia menepuk jidatnya heran. “Serah, pacar pacar deh..” Sahutnya yang terdengar pasrah. Pacar? Ahelah muka kota, pacar orang dusun! Gak, gue gak rela. Enak aja mainan gue diambil?! Sama siapa lagi tuh tu..tu apa? Tukimin? Ah serah deh Tukimin kek, Parmin kek, Paijo ah pokoknya gue gak rela! Batin Iel berontak. Ia ikut turun menyusul Via yang sudah duluan.
 “Vi..” Panggil Iel. Via seketika berhenti mendengar itu. Suara Iel terdengar dingin dan..sedikit membuatnya merinding. Ia mencoba bersikap biasa dan berbalik badan menghadap Iel. “Ap..” Kata-katanya terpotong melihat Iel yang menatapnya datar namun tajam dan terus saja mendekat. Ia menelan salivanya sendiri dan mulai merasa ketakutan. Ia masih diam dan mencoba berfikir jernih. “Apaan sih?” Tanya Via pura-pura jutek. Iel terus saja mendekat tanpa mengindahkan pertanyaan Via.
Melihat itu perlahan-lahan kaki Via melangkah mundur satu demi satu. “Lo..lo kenapa?” Via mulai kelihatan panik dan takut-takut. Ia masih berjalan mundur sementara Iel makin maju mendekatinya. Iel masih saja setia dengan tatapan ‘mematikan’ itu. “Eh lo..lo jangan..macem-macem ya? Gue laporin lo ke..”
“Lapor ke siapa? Lo bisa apa dengan terkunci disini sekarang hah?” Potong Iel. Ia menatap Via makin tajam, setajam silet mungkin (?) Buset dah ni anak mau ngapaiin?! Tukimiiin eh siapapun tolongin gue! Batin Via ngelantur. Ia memegang tengkuknya yang sudah merinding dari tadi berikut sekujur tubuhnya. “Lo..lo..mau..ngapain?” Kata Via terbata mengingat ia semakin dekat ke dinding. Iel tersenyum nakal. “Gue? Gue mau lo!” Ujarnya.
Dan tepat pada saat itu, Via sudah mentok ke dinding. Ia terpojok sekarang. Jantungnya sudah berdebar tak karuan. Ia menggeleng keras berharap pikiran buruknya tidak benar-benar kejadian. Air mukanya sudah sangat-sangat terlihat panik + ketakutan. Iel semakin dekat dan kini tangan kanannya menumpu di dinding. Sementara tangan yang satu lagi bergerak mengelus-ngelus wajah Via mulai dari kening sampai pipi. Ia sesekali menghalau rambut Ify yang menjuntai ke depan dan yang ia rasa ‘mengganggu’.
“Heh, lo mau ngapain?!” Bentak Via yang sudah kalap. Ia ingin menepis tangan Iel dari wajahnya namun malah tangannya yang tertangkap. Ia masih berusaha tenang karena masih ada satu lagi tangannya yang bebas. Via kembali berusaha melepas cengkraman Iel pada tangan kanannya dengan menggunakan tangan kiri. Sial! Bener-bener mati deh gue! Batin Via. Ia sudah pasrah kini. Ya, mau buat apalagi? Kedua tangannya sudah tergenggam.
Iel kemudian menghentakkannya ke dinding. Jadilah, Via seperti tawanan sekarang. “SIAPAPUN DI LUAR TOLONGIN GUE!!” Teriak Via berusaha meminta tolong. Iel kembali menatapnya tajam. “Diem atau gue berbuat ‘lebih’ dari ini?!” Ancam Iel. Via tersentak dan diam seketika. Ia ketakutan melihat Iel. Ia membuang muka dan membuat Iel geram. “Liat gue!” Paksanya. Via hanya menggeleng keras. “Liat atau..” Gantung Iel. Via memaksakan diri menoleh dan menatap Iel lagi. Ia sudah keringat dingin, wajahnya pun terlihat pucat ditambah dengan kulitnya yang sudah putih.
Via kemudian lebih memilih menutup mata dibanding harus melihat Iel lagi. 1..2..3 detik berikutnya.. “HAHAHA!!” Tawa Iel meledak dan sepertinya begitu terngiang di kepala Via. Ia terdiam. Tubuhnya terasa kaku. Matanya membuka seketika dan memandang dengan pandangan kosong. Kedua tangannya sudah bebas dan terjuntai ke bawah. “HAHAHA MUKA LO VI HAHA LUCU ABIS!!” Iel masih saja terbahak tanpa peduli dengan perubahan sikap Via.
Perlahan tapi pasti tubuhnya turun ke bawah. Ia berjongkok seraya menekuk lutut. Ada sesuatu yang baru beberapa detik lalu merasuki fikirannya, sesaat setelah ia mendengar Iel tertawa. Tubuhnya bergetar dan ia terlihat mulai menangis. Tak hanya itu, Via juga mengucap-ngusap beberapa bagian tubuhnya kasar. Ada sesuatu yang membuatnya jijik yang mungkin melekat di sana. Iel kemudian melihat dan mulai menyadari ada yang tidak beres dengan Via. Ia ikut-ikutan berjongkok menghadap gadis itu.
“Vi! Vi! Lo kenapa?” Panik Iel. Ia memegang pundak Via. Via menatapnya sebentar. Ia seperti orang linglung. Sejurus kemudian, ia mendorong keras Iel agar menjauh darinya. “Vi, lo..lo kenapa? Gue cuma bencanda lagi!” Jelas Iel. Via tak peduli dan masih meringkuk di dekat dinding. Ia berhenti mengusap dan kembali memeluk lutut seraya menundukkan kepala.
***
“Via..” Gumam Ify tiba-tiba. Heh? Kenapa tiba-tiba inget Via? Batin Ify bingung. Ia menggaruk-garuk pelipisnya yang tak gatal. Rio menoleh dan lantas bertanya. “Kenapa?” Tanya Rio meski terlihat tidak begitu tertarik. Tapi, sebenarnya itu hanya bohong belaka. Dalam hati, ia sangat menunggu apa yang akan dikatakan gadis di sebelahnya. Hahai, sudah mulai bertunaskah rasa itu di hatimu pemuda manis? Entahlah, hanya ia dan Tuhan yang tahu.
“Ah..enggak. Gue keinget Via, gak tahu kenapa.” Jawab Ify sekaligus membuat Rio berhenti dengan aksi menunggunya. Ia tidak bereaksi lagi dan fokus menyetir. “Eh cepetan turunin gue, gue musti cepet-cepet nemuin Via. Perasaan gue gak enak.” Pinta Ify. Air mukanya terlihat gusar. Ia sudah mengambil ancang-ancang akan membuka pintu mobil. Rio menoleh sekilas. “Lo turun bareng gue di dalem!” Kata Rio datar namun terdengar tegas. Satu lagi perubahan sikap Rio padanya, yang membuat Ify makin bingung.
“Hah? Baiklah..” Serah Ify. Benar saja, Rio dengan santai memasuki sekolah dan memarkirkan mobil. Tak sampai disitu, baru saja Ify hendak membuka pintu mobil, Rio sudah terlebih dahulu membukanya dari luar. Ify sempat melongo melihat perlakuan Rio itu. Ia menatap pemuda itu dari bawah ke atas. Rio yang bingung dengan Ify tak juga keluar pun menoleh. “Lo mau keluar atau gue kunci?” Ujar Rio.
Ify mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali. “Eh iya-iya..” Ify lekas turun dan menunggui Rio menutup pintu mobil serta menguncinya. Rio kemudian menoleh ke arahnya dan kembali bingung. “Apa?” Tanya Rio datar. Ify tersentak dan langsung menjawab. “Hah? Eh..enggak.” Katanya salting. Ia berjalan duluan. Dari belakang, Rio terkekeh pelan melihat tingkah Ify itu. Ia pun berjalan sekitar satu meter di belakang Ify.
Ify merogoh ponsel yang ada di sakunya dan segera menghubungi Via. Ia menjentik-jentikkan jari sembari menunggu panggilannya di respon. Ini sudah kedua kalinya dan Via tak jua menyambut. Ify menghembuskan nafas panjang. Tak biasanya Via tidak mengangkat telpon darinya. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Tanpa memeriksa lagi ia langsung menjawab panggilan yang masuk ke ponselnya itu. Ya, ia kira itu Via. “Halo Vi..”
“Hai..” Kata-kata Ify terpotong oleh suara yang muncul dari dalam ponselnya. Seorang cowok. Suaranya lembut tapi..mengerikan. Ify sendiri sempat merinding saat pertama kali orang itu buka suara. Ia menatap layar ponselnya dan bukan nama Via yang tertera di sana, melainkan sebuah nomor yang tak dikenal Ify. Sementara itu, Rio sedari tadi memperhatikannya dari belakang. Ia bingung dengan Ify yang tiba-tiba berhenti.
Ify memberanikan diri menempelkan kembali ponselnya ke telinga. “Ha..halo? Si..siapa ya?” Tanya Ify takut-takut. “Gak usah takut gitulah. Eh gue bisa ngeliat lo, loh!” Seru orang itu. Ify mengernyit bingung. “Hah?” Hanya itu yang keluar dari mulutnya. “Haha, iya. Sekarang, di sebelah lo pasti ada Rio!” Kata orang itu. Ify terlonjak sedikit dan refleks melihat ke samping. Dan..benar saja, Rio sedang berdiri menatapnya heran. Ia mengalihkan pandangan ke arah lain.
“Rambut lo terurai ke samping, cantik deh!” Goda orang itu. Ify memegang rambutnya dan baru sadar rambutnya dominan berada di sisi kanannya. “Lo gak pake dasi, baju lo juga keluar. Wah nakal yaa!” Orang itu terkekeh. Kembali, Ify memandang ke bawah memastikan apa yang dikatakan stalker itu. Ify menjauhkan ponselnya dari telinga dan memandangi benda itu bingung. Ia lalu bergidik ngeri. “Lo siapa sih? Jangan ganggu gue!” Gerutu Ify. Ia memutus panggilan segera.
“Lo kenapa?” Tanya Rio yang sedari tadi bingung. Ify menoleh dan menjawab. “Ada orang aneh nelpon gue, hiii!” Ujarnya sambil mengedikkan bahu. Rio hanya geleng-geleng kepala dan kembali berjalan, begitu pula Ify. Ia menumpu dagu dengan menggunakan ponsel. Tiba-tiba benda itu kembali berdering. Ia begitu terkejut dan hampir saja menjatuhkan BB-nya. Pasti orang aneh itu lagi, hiii! Batin Ify menduga-duga.
Ify menjauhkannya segera dan memberikan BB itu pada Rio. Sedikitpun tak ada niat Ify untuk mengangkat panggilan baru di BB-nya.  “Heh, kenapa di kasih ke gue?” Ify menoleh dan menunjuk-nunjuk BB-nya. “Itu..itu pasti orang aneh tadi! Gue takut ngangkatnya.” Jelas Ify. Rio mendengus dan memeriksa BB yang berdering di tangannya. Seketika itu pula ia memutar kedua bola mata jengkel. “Ini Gabriel, bego!” Rutu Rio. Ify lagi-lagi kaget dan segera memeriksa ponselnya. Sebelum itu, ia menyempatkan diri menghela nafas karena lega.
“Halo?” Sapa Ify pada Iel yang tiba-tiba menelpon. Ia diam sebentar. Sesaat kemudian, matanya membelalak mendengar apa yang Iel katakan disana.
***
“Eh lo beneran ya mereka bakal baik-baik aja di dalam sana? Kalo sampe kenapa-kenapa, ada sahabat gue tuh!” Rutu Agni yang merasa khawatir dengan tindakan Cakka mengunci Via dan Iel di ruang musik. Cakka hanya tersenyum dan terkekeh pula. “Heh, malah ketawa nih orang! Itu nasib temen gue gimana?” Sentak Agni, menunjukkan sikap aslinya, galak dan ‘laki’. Cakka masih saja terkekeh melihat Agni. Agni menjadi bingung sendiri dan garuk-garuk kepala.
“Apaan sih lo? Gue manis? Emang iya, lo baru sadar, hah? Tapi kalo lo bilang gue cantik, gue tonjok lo! Gue tahu gue gak cantik.” *Juststory-_-V* Tawa Cakka pun meledak. Agni makin tak mengerti dengan sikap Cakka itu. “Ni anak kenapa sih?-_-” Gumamnya. Cakka sudah berhenti tertawa dan menghadap Agni. “Gila, gue baru tahu lo aslinya galak haha. Gue kira lo tuh cewek feminim tahu gak!” Ujar Cakka disisa-sisa tawanya.
“Lo baru sadar? -_- Darimana pula lo nyimpulin gue feminim? -__- Wong jalan aja ngangkang gini, ckck..” Agni geleng-geleng kepala lagi. Ia heran kenapa Cakka bisa menyimpulkan dia gadis feminim. “Nah, kalo gini kan enak. Gak ada canggung-canggungan, gak ada salting-saltingan! Haha” Tawa Cakka lagi. Agni memandangnya heran. “Salting? Emang lo salting depan gue? Kapan? Waktu lo mau nyium gue?” Tanya Agni polos.
Saat itu pula tawa Cakka meredam. Nih cewek polos bener daah! Aib gue ituu -_- Febby tahu bisa jadi bola basket ntar gue. Batinnya. Cakka lalu nyengir kembali. “Lo kali salting depan gue??” Goda Cakka. Agni, kesekian kalinya gadis ini dibuat tak mengerti. “Lah kok gue? Kan waktu itu gue yang nahan lo buat gak nyium gue? Lo yang garuk-garuk kepala kan?” Polos Agni, lagi.
GUBRAAK! Gigit meja gigit meja dah guaa -__- Batin Cakka gondok. Kalau di kartun-kartun mungkin ia sudah tertimpa besi 24 karat eh 24 kilo atau mungkin sudah terjungkang dari kursi. Sayangnya dia manusia bukan kartun dan jikalau ada yang menimpanya yang pasti bukan besi melainkan dedaunan mungkin atau malah kotoran burung yang kebetulan terbang ke arah sana. “Iya..iya serah lo deh, Ag. Nyesel pula gue bahas ini, ckck..” Serah sekaligus pasrah Cakka yang terlihat meringis.
Drrt..
BB Agni bergetar karena ada panggilan masuk. Ipii. Nama itu lagi yang muncul. Agni segera menjawab panggilan itu. “Halo, Fy?” Sapa Agni. Ia diam sebentar lalu kembali bersuara. “Ke..ke ruang musik? Ngapain?” Tanya Agni gugup. Ia langsung menoleh ke arah Cakka yang kini sedang memandang ke arahnya pula. Ia diam lagi. Sedetik kemudian matanya membelalak. “APA?!”
***
“Vi..Vi..lo kenapa?” Tanya Ify lembut yang langsung berjongkok memastikan keadaan Via. Via perlahan mendongak dan menoleh pada Ify. Melihat Ify, Via langsung saja memeluk gadis itu dan menangis. Ify yang tak tahu apa-apa hanya menepuk-nepuk punggung Via agar segera tenang. Tapi ia salah, tangisan Via makin keras seiring dengan semakin kuat pelukan Via padanya. Ify menatap garang Iel seakan-akan bertanya ‘Lo apain temen gue?!’. Dipandang seperti itu, Iel pun jadi takut sendiri. Ketakutannya double sekarang.
“Gu..gue cuma becanda, Pii. Sumpah!” Ujar Iel takut-takut sambil menyembulkan jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf V. Ify menghela nafas singkat dan masih menepuk-nepuk punggung Via. Tak lama kemudian, Shilla, Agni dan juga Cakka datang. Shilla dan Agni tentu saja langsung panik melihat salah satu sahabatnya menangis ketakutan. “Yong, Piem kenapa? Kok jadi gini sih?” Tanya Agni. Ify menoleh dan menatapnya kesal. “Yong-yong, emang gue keong apa?!” Sungut Ify tak terima.
Agni mendesah dan balik menatap Ify malas. “Leletnya sih mirip.” Cibirnya. “Apa lo bilang?!” Mangas Ify. Samar-samar ia mendengar cibiran Agni itu. “Ck, lupakan! Sekarang fokus sama Via. Kenapa nih anak?” Tanya Agni lagi, mulai serius. Ia sudah berjongkok seperti Ify begitu juga Shilla yang hanya manggut-manggut dari tadi. “Tuh, tanya sama tuh orang!” Tunjuk Ify pada Iel menggunakan dagunya. 
Agni langsung berdiri dan menghampiri Iel. “Heh, lo apain temen gue?! Lo pasti udah macem-macem kan? Ngaku lo!” Desak Agni seraya berkacak pinggang menghadap Iel. Kedua lengan bajunya sudah ia naikkan. Hmm, jiwa premanismenya keluar deh! Iel berkali-kali buka mulut tapi tak ada satupun kata-kata yang terlontar. “Gu..gue..arghhh!” Frustasi Iel. Ia bingung haruskah ia jelaskan apa yang tadi ia lakukan bersama Via? Haruskah ia beri tahu tadi ia hendak..emm hendaaak...
***
 Ify, Shilla dan Agni beserta Cakka dkk mengantarkan Via pulang ke rumahnya. Ify tentunya juga Via dan Shilla ikut di mobil Rio. Sementara Agni dan Iel ikut dengan Cakka. Lain mobil, lain ceritanya. Di mobil Rio, Ify hanya diam sambil mendengarkan Rio dan Shilla mengobrol. Tepatnya Rio yang mengajak Shilla melakukan itu. Via sudah berhenti menangis namun ia masih saja lengket pada Ify dan tertidur di bahu gadis itu. Mungkin karena terlalu lelah.
Ify beberapa kali menghela nafas dan memegang perutnya. Perutnya itu sebentar-sebentar terasa ‘sakit’. Ia merutuki dirinya sendiri. Kenapa ia tak seberani Agni? Jika ia seperti itu kan ia bisa saja menerobos masuk ke dalam obrolan yang sepertinya sangat mengasyikkan bagi Rio itu. Kenapa ia tak secuek Via? Jika ia seperti itu kan tak ada masalah baginya Rio melakukan apapun kini meskipun tanpa mengikut sertakan dirinya. Dan terakhir, kenapa ia tak seberuntung Shilla? Bisa mendapatkan seseorang yang benar-benar mencintai dirinya dengan tulus.
Ia lalu meraba-raba saku Via. Seet, ia mengambil Ipod beserta headset yang tersembunyi disana. Pinjem yah! Hehe.. Batin Ify. Ia memasangkan headset itu ke telinga sambil memilih-milih lagu yang menarik minat untuk didengarkan.
***
Via dibaringkan di kasurnya oleh Agni. Shilla langsung menutupi tubuh gadis itu dengan selimut. Sementara Ify memeriksa laci-laci yang ada di kamar itu, mencari obat, obat biasa ketika Via ‘kambuh’. Ini memang bukan kejadian yang pertama kali, tapi bukan berarti hal ini sering terjadi. Lebih tepatnya sekarang adalah kedua kalinya Via ‘kambuh’. Setelah berhasil ditemukan, Ify mengambil satu dari puluhan pil yang ada di dalam botolnya. Ia lalu menyuruh Via meminum itu.
Dengan cepat, Via tertidur kembali. Ify, Shilla dan Agni sedikit merasa tenang. Sedikit? Tentu saja, karena sejurus kemudian mereka sama-sama meringis dan menghela nafas pasrah. Rio, Cakka dan sudah pasti Iel hanya melongo melihat ketiga gadis di hadapan mereka. “Bakal budek gue seharian. Pulang-pulang periksa THT deh!” Celetuk Agni. “Lo budek gue apa? Kenyang ini perut, gak makan gak makan gue ntar siang.” Miris Ify. Ia yang paling terlihat tersiksa di antara mereka bertiga. “Gue..gue gak tahu mau ngomong apa hehe..” Cengir Shilla tapi tetap saja mukanya meringis.
“Lo udah hubungin Tante Fira? *ngarangya*” Tanya Agni menoleh pada Ify. Ify mengangguk lemah. “Gue hari ini jadi orang lain bisa gak? Jadi apa aja, banci pun asal jangan jadi Ify. Sehari aja ya Allah!” Ify mulai ngelantur dengan berdoa gak jelas sangking stresnya. “Gue ikutan!” Agni geleng-geleng kepala mengingat hadiah ‘besar’ akan segera datang. “Seseorang harus tanggung jawab soal ini..” Kata Shilla tiba-tiba. Agni, Ify maupun Shilla serentak menoleh ke satu orang. “LO!” Tunjuk mereka pada Iel. Iel cengo melihat ketiga gadis itu serentak menunjuknya.
***
“Yo..” Panggil Cakka. Rio hanya berdehem singkat. “Kasihan Iel, ckck..” Ujarnya pura-pura sedih. Rio mengernyit bingung. “Heh? Kenape?” Tanya Rio. Ia menoleh ke arah Cakka. “Gue gak percaya dia bakalan pergi secepat ini..” Lantur Cakka. “Lo kira dia mau mati apa? Jahat lo, ngedoain temen sendiri!” Cakka hanya nyengir dan Rio sudah maklum akan hal itu. “Hehe, canda yo! Lagian, tuh anak udah kayak jadi santapan tuh cewek bertiga. Sangar mamen! Gak ngebayangin ntar punya istri kayak gitu, bisa gak ganteng lagi gue!” Kata Cakka narsis.
Alhasil, hal itu membuat Rio menganugerahinya sekali toyoran. Tak ayal, Cakka pun meringis sambil mengusap-ngusap bagian kepalanya itu. “Emang loe ganteng? Gue kemana-mana kali!” Ujar Rio ketularan. Mendengar itu, bukannya membalas, Cakka malah tersenyum. “Ngeh, kenapa lo? Kesambet? Sorry, gue masih normal!” Rio bergidik ngeri dan bergeser selangkah agar menjauh dari Cakka. “Ciee yang udah bisa narsis. Jarang-jarang lo kayak gini. Cie-cie ada apakah gerangan? Suka sama cewek ya? Ngaku lo! Atau jangan-jangan lo udah mulai suka nih sama Ify? Eciee, besok bagi-bagi PM, Yo! Pajak move on haha..” Ledek Cakka. Ia terkekeh pelan melihat ekspresi Rio sekarang.
“Eh eh apaan sih lo? Gak nyambung, konslet malahan! Ify? Hhh, sampe gak ada cewek lagi di dunia ini juga gak bakal kejadian gue suka sama dia!” Tolak Rio mentah-mentah. Ia melipat kedua tangannya di dada. “Heh, kalo dia denger gimana? Parah banget lo triwear deh!” Komentar Cakka. Ia mendecak melihat sahabatnya itu. “Bodo amat! Udahlah, gue mau menikmati pertunjukan. Mendingan lo diem!” Suruh Rio. Ia kembali fokus melihat Iel. “Tadi bilangnya gue yang parah sama temen sendiri. Trus lo apaan? Hah?” Sungut Cakka tak terima. “Sekali-kali. Habis, dia mulu yang nyela gue. Gue juga boleh dong, haha!” Cakka hanya bisa geleng-geleng kepala lagi dan lagi. “Ape lu kate dah!”
“Sekarang lo jelasin, kenapa Via sampai kayak gitu!” Perintah Agni. Ia menatap Iel tajam. Sekedar informasi, mereka sudah berada di ruang tengah rumah Via dan menempati sofa yang ada di sana. “Tapi..” Iel hendak membantah tapi terurung melihat tatapan-tatapan ‘dahsyat’ dari ketiga cewek di depannya. Pasrah, akhirnya ia pun menceritakan kronologis kejadian hingga Via seperti sekarang. Ify, Agni dan Shilla melengos mendengar penjelasan Iel. Mereka tidak tahu lagi harus berkomentar apa tentang nasib mereka jika nanti Fira, Mama Via..
“VIAA!!” Datang. Yap, itu suara Fira. Ia masuk ke dalam rumah dan melihat semua berkumpul di ruang tengah, kecuali Via. Ia menghampiri gerombolan itu dan duduk di sova. “Bismillah deh, amin!” Celetuk Ify. “Ngeh, doa apaan tuh?” Tanya Agni bingung. “Entah, gak tahu juga gue.” Jawab Ify seraya garuk-garuk kepala. “IFY! AGNI! SHILLA!” Sentak Fira membuat semuanya terkejut. “Hah? Nambah satu lagi?!” Bisik Cakka tak menduga. Rio hanya mengisyaratkan sekali lagi agar ia diam. “Iya tante!” Sahut IAS lemas namun kompak. Seperti sudah terbiasa melakukan hal ini. “Kalian ini gimana sih, tante kan suruh kalian jagain Via. Sekarang kenapa dia sampai kambuh lagi?” Kata Fira mulai mengoceh. “Tapi tante..” Kata mereka kembali namun segera dipotong oleh Fira. “Tante belum selesai ngomong!” Ujarnya yang membuat IAS semakin menunduk. “Iya tante!” Kompak mereka lagi. Mereka benar-benar pasrah menerima semua omelan dari wanita itu.
Sekitar setengah jam mereka duduk di sova dan disuguhi dengan nyanyian-nyanyian ‘indah’ Fira. Untunglah, ia sudah bosan ngomel dan beranjak ke atas. Yah meskipun awalnya marah-marah, tapi pada akhirnya ia melunak dan meminta maaf pada ketiga teman anaknya yang sudah berbaik hati mendengarkan nyanyian itu. IAS bisa bernafas lega. Sejurus kemudian, Agni menatap Iel tajam. “Lo..sekali lagi..gak selamet lo! Dunia akhirat!” Ancam Agni. Iel menelan salivanya cepat-cepat. Benar-benar, cewek satu ini membuatnya ketakutan.
“Wah, Fy, salut gue! Tahan lo diomelin gitu, mana lo pula yang paling panjang ckck..” Kagum Cakka. Ify hanya tersenyum miring. “Udah biasa.” Kata Ify sekenanya. Ia kemudian bersender di badan sofa sambil menengadahkan kepala dan menutup mata. Too tired guys.. Batinnya lirih. “Tunggu, gue masih belum ngerti. Si Via emang kenapa sih?” Tanya Iel memberanikan diri. Shilla memberi isyarat agar Agni saja yang menjelaskan. Agni menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. “Dulu, Ify sama Via itu diculik. Nah disana, Via hampir diperkosa sama penculiknya. Maka jadilah dia seperti ini.” Jelas Agni. Cakka hanya membulatkan mulutnya sementara Rio tetap diam tapi pandangannya tertuju pada Ify.
“Sebenarnya yang mau diculik itu Ify. Kebetulan dia sama Via jadi..ya begitulah..” Lanjut Agni. “Terus Ify gak diapa-apain?” Tanya Iel lagi. Masih ada raut kebingungan terpancar di wajahnya. “Karena dia sasaran, dia disekap. Dipukuli habis-habisan karena Mamanya telat datang bawa tebusan. Mungkin karena itu dia jadi lemot kayak gini haha..” Jawab Agni dan terkekeh kecil. Ia melirik ke arah Ify yang tak bereaksi. Agni kemudian menoleh ke Shilla bingung. “Kenape?” Tunjuk Agni pada Ify tanpa mengeluarkan suara. Shilla melirik Ify sebentar dan mengedikkan bahu. Tapi ekspresi wajahnya terlihat gugup.
“Eh gue cabut dulu. Yel, Ni, lo bedua ngikut gak?” Pamit Cakka sekaligus bertanya pada Agni dan Iel. “Gue ikut!” Sahut Iel cepat. Ia kapok lama-lama di ruang itu, di rumah Via. “Gue..ya udah deh..” Serah Agni. Mereka bertiga pun pamit dari situ. Tinggalah kini Ify, Shilla dan Rio. Shilla dan Rio terihat sama-sama canggung sementara Ify, ia masih diam. “Emm..Fy!” Panggil Shilla pelan. Ia masih saja gugup. Ify hanya berdehem ria menjawab panggilan Shilla. “Lo..beneran gak denger kan tadi?” Tanya Shilla hati-hati. Ify membuka matanya sebentar memikirkan pertanyaan Shilla barusan.
***
 “Shill..” Panggil Rio. Shilla terlonjak dan melirik Ify sebentar. Ia mendapati Ify sedang memandang ke arah jendela mobil. “Hah..i..iya?” Jawab Shilla takut-takut. Baru kali ini seorang Rio mengajaknya ngobrol. “Lo..udah berapa lama sama Alvin?” Tanya Rio. Shilla menatapnya bingung. Untuk apa Rio menanyakan tentang hubungannya dengan Alvin? Bukankah Rio pasti sudah tahu?
“6 bulan. Lo kan udah tahu.” Jawab Shilla lagi. “Ngapain lo nanya-nanya tentang Alvin?” Lanjutnya. Rio tersenyum tipis. Sesekali ia melirik ke kaca di sampingnya, memperhatikan reaksi seseorang. “Gak ada topik lain.” Ujar Rio. Gantian Shilla yang tersenyum dan menatap Rio tak percaya. “Lagian, tumben-tumbennya lo ngajak gue ngobrol? Hmm, seorang Rio ternyata bisa juga kayak gini Haha..” Tawa Shilla. Rio pun tak jauh beda. Ia terkekeh sebentar.
Sedetik kemudian, kadar tawanya berkurang mengingat ada Ify di belakang. Ia melirik ke gadis itu sekali lagi dan didapatinya Ify telah memakai headset sambil memegang Ipod. Ify terlihat menggerak-gerakkan kepalanya menikmati lagu. Ia sedikit bernafas lega. “Shill..” Panggil Rio lagi. Kali ini nadanya terdengar serius. “Lo kenapa sih? Aneh banget!” Heran Shilla sembari geleng-geleng kepala. “Gue masih suka sama lo!” Kata Rio terdengar yakin. Masih? Rio pernah suka sama Shilla?
Tring! Shilla cengo mendengar pengakuan Rio itu. *Halahceritanyakokjdgini-_-* Pengakuan itu benar atau hanya sebuah kebohongan, entahlah ia pun tak tahu. Ia masih larut dalam keterkejutannya. Ia lalu melihat ke Ify yang sepertinya tidak mendengar perkataan Rio karena masih terhipnotis oleh lagu pada Ipod. Sekali lagi, ia dapat bernafas lega. “Fy!” Panggil Shilla. Ify masih belum mendengar. “Fy! Ify!” Panggil Shilla lagi. Ify akhirnya tergerak. Ia melepas headset di telinganya. “Hah? Apa? Kenapa?” Heboh Ify. Shilla hanya geleng-geleng kepala. Dalam hati ia bersyukur bahwa gadis itu tak mendengar sama sekali perbincangannya dengan Rio. Dari situ, terjadi keheningan dalam mobil. Masing-masing tak ada lagi yang mau bicara.
***
“Denger apaan?” Tanya Ify seperti biasa. Dari nada bicaranya sepertinya ia memang tidak tahu. Shilla menghela nafas lagi lalu menggeleng dan tersenyum. “Gak, lebih baik lo gak denger. Hehe..” Cengir Shilla. Ify cuma garuk-garuk kepala tak mengerti. “Eh gue liat Via dulu ya, ntar gue kena semprot lagi hehe..” Cengir Ify. Ia langsung berlari ke atas menuju kamar Via. Dan kini, Rio dan Shilla benar-benar berdua di ruang itu. “Shill, soal yang tadi..itu bohongan.” Ujar Rio mengaku. Shilla mendengus. “Gue tahu! Gue tahu lagi siapa yang lo suka dan mati-matian lo kejar. Lo cuma pengen Ify ngindarin lo kan?” Serah Shilla. Ia lalu menatap Rio sinis.
Rio tak menjawab dan mengalihkan pandangan ke arah lain. “Yo, Ify tuh sahabat gue. Dia anak baik, polos, gak pantes lo gituin! Lo bisa ngomong baik-baik kan?” Ujar Shilla lagi. Rio beralih menatapnya. “Gue udah pernah ngomong baik-baik sama dia dan lo liat. Dia masih pura-pura polos sampe sekarang.” Balas Rio. “Yo, Yo, Ify itu emang polos! Setidaknya masih ada cara lain. Lo bisa aja ngancurin persahabatan gue sama Ify tahu gak?!” Kesal Shilla. Ia benar-benar geram dengan tingkah pemuda ini. “Udahlah gak usah dibahas.” Serah Rio. Mereka kembali diam, ya karena tak ada lagi yang mesti dibicarakan.
***
“Jadi apa yang mau lo omongin sama gue? Tumben, biasanya kan gue mulu yang ngajak lo ketemuan hehe..” Cengir Febby. Ia tersenyum menatap pemuda berwajah khas asia di depannya. Siapa lagi kalau bukan Alvin. “Gue minta..lo jauhin gue!” Kata Alvin tegas. Ia menatap lurus ke arah Febby. Seketika senyum Febby luntur. Ia tak menduga bahwa Alvin akan mengatakan itu padanya. “Ke..kenapa?” Lirih Febby. Suaranya bergetar. Ia meremas rok bagian sampingnya kuat-kuat.
“Gue gak mau hubungan gue sama Shilla goyah lagi. Jadi pliss, jauhin gue. Lupain perasaan lo itu ke gue, karena lo salah orang.” Pinta Alvin. Ia memalingkan wajahnya tak sanggup melihat Febby yang mungkin sudah menangis sekarang. Entah kenapa, hatinya sedikit nyeri jika melihat Febby seperti itu. “Gue gak mau!” Tentu saja Febby menolak keras permintaan Alvin padanya. Dengan terpaksa, Alvin menoleh lagi ke arah Febby. “Feb, dewasa sedikit bisa? Hati gue udah terisi dan udah jadi milik orang lain.” Pinta Alvin, lagi.
Febby tetap tak terima. Matanya sudah memerah memaksa butiran-butiran itu agar segera terjun keluar. “Gue gak bisa. Gue gak bisa jadi dewasa. Gue egois. Itu semua karena cinta gue ke lo, Vin!” Sungut Febby. Ia mengusap air matanya yang baru saja keluar. Alvin tak tahu harus jawab apalagi. Febby keras kepala, sebanyak apapun kata mutiara yang keluar dari mulutnya tak akan berpengaruh apa-apa. “Feb, gue mohon sekali lagi, lo..”
Tiba-tiba Febby langsung memeluk Alvin, erat sekali. Ia menangis dalam pelukannya itu. Alvin kaget dan sempat berontak. “Feb, lo..apa-apaan sih?!” Ronta Alvin seraya mendorong Febby agar menjauh darinya. Ia pun terlepas dari pelukan gadis itu. Dan kini, Febby menatapnya tajam. “Lo jahat! Lo kejam, Vin! Lo tega sama gue!!” Pekik Febby dan langsung berbalik badan pergi. “Jahat, kejam, tega? Berat banget kayaknya salah gue? Arrghh!!” Kesal Alvin. Ia meremas kuat rambutnya. Entah bisikan dari siapa, ia seolah disuruh mengejar gadis itu.
Terpaksa atau tidak, Alvin juga tidak tahu. Yang jelas ia sudah menyusul Febby. Ia memutar tubuh Febby agar menghadapnya. “Apa lagi, hah?! Gue udah nurutin kemauan lo kan?” Bentak Febby. Ia menepis kasar tangan Alvin yang memegang bahunya. Alvin mendengus. “OK OK! Lo gak perlu jauhin gue..” Pasrah Alvin. Febby mendongakkan kepalanya dan menatap Alvin. “Lo boleh deket-deket sama gue, tapi untuk perasaan lo, sorry gue gak bisa bales. Lo tahu kan alasannya?” Kata Alvin lagi.
Febby mengusap cepat basahan bekas air matanya. “Beneran kan? Gue gak mesti jauhin lo kan?” Tanya Febby. Alvin mendecak kesal. “Iyaa, kan udah gue bilang tadi.” Geram Alvin. Febby kembali memeluknya. Kali ini tidak menangis, melainkan tersenyum senang. Alvin semula ingin berontak tapi Febby tetap saja memeluknya. Ia pasrah dan tidak bisa berbuat apa-apa. Gadis ini sangat dan sangat membuatnya jengkel. “Makasih Vin. Gue bisa deket-deket sama lo aja gue udah seneng. Makasih Vin, makasih!” Haru Febby.
Alvin geleng-geleng kepala dan akhirnya ia bisa membuat gadis itu menjauh. “Iya-iya serah deh. Tapi, jangan pernah peluk gue lagi! Gue gak suka dipeluk kecuali sama cewek gue. Ngerti lo?!” Kata Alvin jutek. Febby tak begitu mengindahkan. Ia hanya mengangguk dan masih saja tersenyum. Tadi nangis, sekarang senyum. Bener-bener nih cewek, bikin gue pusiiing!! Gerutu Alvin dalam hati. Ia kemudian berjalan meninggalkan Febby berharap gadis itu tidak mengikutinya. Tapi tetap saja Febby menyusul. So, ia bisa apa sekarang?
***
(Galau dimulai. Setel lagu Soyu SISTAR – Should i confess aja, ost playfull kiss itu lo, menurut admin sih.)
Malam hari sekarang sudah resmi menjadi saat galaunya para remaja. Seperti 2 sejoli berlainan jenis ini. Mereka sama-sama termenung di tempat tidur masing-masing. Berbeda hal yang mereka fikirkan namun masih berkaitan satu sama lain. Mari kita telusuri apa yang dilakukan si gadis. Ia menatap langit-langit kamar yang sepertinya selalu terlihat menarik saat melamun. Tak lupa tangannya juga bergerak memelintir baju. Ya, dia Ify.
Ify mengingat kembali apa yang ia alami tadi siang. Mulai dari Rio menjemputnya, emm hampir menciumnya, mengantarnya ke sekolah, membukakan pintu untuknya dan semua perubahan sikap Rio padanya. Ia tersenyum lirih. “Itu saat lo baik.” Gumam Ify. Beberapa saat kemudian, ia mengingat kembali kejadian di dalam mobil Rio saat mengantar Via. Seketika lengkungan di bibirnya melurus. Kata-kata Rio berputar-putar di fikirannya.
“Lo suka sama Shilla, ckck.” Gumam Ify lagi. Loh, kenapa ia bisa tahu? Bukannya ia tidak dengar? Ify menghunuskan nafasnya keluar. “Gue denger, Shill. Gue denger semuanya..” Lagi-lagi Ify bergumam. Ya, sebenarnya Ify mendengar apa saja yang Shilla dan Rio bicarakan tadi siang baik di mobil maupun di rumah Via. Saat di mobil, Ipod Via tiba-tiba macet. Pada saat yang bersamaan pula Rio memberikan pengakuannya. Sesaat Ify terpaku mendengar itu. Namun, ia berusaha kembali seperti biasa dan pura-pura tidak mendengar. Beruntung usahanya berhasil.
Lalu kemudian di ruang tamu. Saat ia mengatakan hendak melihat Via, Ify tidak benar-benar melakukan itu. Ia hanya ingin menghindari Shilla agar tidak bertanya macam-macam. Ia lantas memperhatikan Shilla dan Rio dari atas. Ia pun dapat mendengar dan sekarang tahu Rio benar-benar tidak menyukainya. Ditambah lagi, tanpa disangka, ia juga mendengar apa yang Rio katakan pada Cakka di ruang itu pula. Mendengar bahwa pemuda itu tidak akan pernah menyukainya. Garis bawahi, tidak akan pernah. “Itu saat lo jahat..” Gumam Ify yang kesekian kali.
“Lo kenapa sih? Sebentar-sebentar baik, sebentar-sebentar jahat? Kalo jahat-jahat aja, jangan pernah jadi baik. Jangan ngasih gue harapan untuk berharap.” Lirih Ify. Ia menghembuskan nafas berat. Hari ini lelah sekali ya? Setidaknya bagi Ify. Tanpa sadar, setetes air mata Ify menitik. Ia mengangkat tangannya perlahan dan memegang ujung matanya. Basah. Ia menatap jarinya yang ikut berair. “Hah? Apaan nih? Gue...nangis?” Katanya tak percaya.
Sudahlah, mari kita lihat insan yang satu lagi. Orang yang notabenenya membuat si gadis menitikkan air mata, Rio. Kegiatannya tak jauh beda. Berbaring di atas kasur, menatap langit-langit dan melamunkan kejadian akan dirinya dan Ify. Ia mengingat kembali masa-masa ia dengan gadis itu yang kebanyakan memang menonjolkan bahwa ia seorang yang jahat. Kejadian tadi pagi kemudian menjadi pusat pemikirannya. Yang paling ia fikirkan ialah saat ia hendak mencium Ify.
“Apa yang sudah gue lakuin? Gue mau nyium Ify, hah?” Ujar Rio pada dirinya sendiri. Ia tak habis fikir dengan apa yang sudah ia lakukan itu. Setan apa pula yang merasuk dalam dirinya? Ia juga tidak tahu. “Ify..Ify..” Gumamnya beberapa kali. Ia mengingat-ngingat lagi akan gadis itu. Saat itu pula ia sadar, saat bersamanya, gadis itu jarang sekali tersenyum. Kebanyakan hanya ekspresi sedih, kesal bahkan ketakutan. Ah pernah! Ya, Ify pernah tersenyum yakni saat ulangan matematika. Ya, hanya itu sepertinya. “Apa gue udah keterlaluan jahat ya sama tuh anak?” Tanya Rio pada dirinya lagi. Rio mendecak dan geleng-geleng kepala.
Selanjutnya, ia teringat akan kejadian di mobilnya hingga ke rumah Via. Ia mengingat semua yang ia katakan yang mungkin sangat menyakitkan jika didengar Ify. Lalu, pertanyaan Cakka yang menghawatirkan itu terjadi kembali diingatnya. “Bener juga, kalo sempat Ify dengar gimana?” Ia pun terlihat khawatir sekarang. Ia bangun dari tidurnya dan duduk sambil menggaruk-garuk kepala kesal. “Arrghh, bego!” Gerutu Rio. “Hah, bego? Kenapa sama gue?” Rio lagi-lagi bingung akan perubahan sikap serta mungkin hatinya. Ia kembali berbaring dan menatap langit-langit kamar.
Cukup lama ia diam dan berfikir. Apa hati gue udah mulai berubah? Batin Rio bertanya-tanya. Ia lalu mengambil sebuah foto terbingkai yang diletakkan di lemari samping tempat tidurnya. Ia memandangi foto itu lama. Fotonya bersama seorang perempuan, entah siapa itu. “Cepetan lo pulang, cuma lo yang bisa bantu gue mastiin hati gue..” lirih Rio pada foto itu.
***
Ify menuruni tangga rumahnya malas. Tak ada semangat baginya hari ini. Ia lalu melihat Ferdi tergeda-gesa keluar kamar dan hendak keluar rumah pula. Ia cepat-cepat menahan Ferdi sebelum benar-benar pergi. “Emm, PAPA!” Teriaknya. Ferdi lantas berhenti sebentar melihat anaknya itu. “Kenapa sayang? Masalah yang nganter? Papa gak bisa lagi hari ini.” Sesal Ferdi. Ify menggeleng dan mencoba tersenyum. “Pa, Ify nanya boleh gak?” Tanya Ify hati-hati. Ferdi menatapnya bingung.
Ify menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. “Papa..berharap banget ya Ify bisa sama Rio?” Ferdi sedikit kaget mendengar anaknya bertanya itu. Ia kemudian tersenyum menatap Ify dan memegang bahu anaknya itu. “Kalo kamunya gak bisa yah gak usah dipaksain.” Kata Ferdi lembut, khas seorang ayah. “Hmm, dibilang berharap yah berharap. Tapi kan kamu yang ngejalanin, kamu yang berhak milih. Jadi untuk apa Papa maksain, ya kan?” Lanjutnya.
Ify menatap Ferdi penuh rasa bersalah. Selama ini, Ferdi tidak pernah sekalipun meminta padanya. Selalu dan selalu Ify. Ia sedih disaat Papanya memiliki permintaan tapi ia tidak bisa mewujudkan hal itu. Ia ingin tapi bagaimana? Ia tidak bisa memaksa Rio menyukai dirinya. Ia pun hanya menunduk pasrah. “Maafin Ify, Pa..” Lirih Ify. Ferdi kembali bingung dan segera menegakkan kembali wajah anaknya yang ditundukkan.
“Hei, kamu gak salah apa-apa sayang. Kenapa sedih? Udahlah gak usah difikirin!” Ujar Ferdi memperlihatkan senyumnya. Sebisa mungkin Ify membalas senyum Papanya itu. “Nah gitu dong! Ya udah, Papa duluan ya!” Pamit Ferdi. Ify hanya mengangguk pelan. Setelah Papanya pergi, ia kembali masuk ke dalam. Setidaknya ia harus sarapan terlebih dahulu sembari menunggu. Ia mengambil sehelai roti yang sudah diberi selai dan memakannya. Pahit! Batin Ify lirih. Tak lama, Rio pun datang menjemput. Tanpa ba-bi-bu ia langsung berlari dan masuk ke mobil.
Sesampainya di sekolah, Ify dengan segera keluar dari mobil dan menunggui Rio keluar pula. Sepertinya ada sesuatu yang ingin ia utarakan. “Mm..Yo!” Panggil Ify karena Rio yang langsung pergi. Rio berhenti dan menoleh ke arah Ify. Seperti biasa, ia terlihat ketus pada gadis itu. “Apa? Cepetan! Gue males lama-lama sama lo.” Katanya ketus. Ify lagi-lagi menarik nafas dalam-dalam sebelum berbicara lebih lanjut. Ia lalu tersenyum menatap Rio dan mengulurkan tangan hendak berjabat dengan pemuda itu.
Karena tak jua membalas, ia lekas meraih tangan Rio dan menjabatnya sebentar. Rio menatap Ify bingung. “Selamat ya, hari ini jadi hari terakhir lo ngantar jemput gue. Mulai besok lo gak perlu repot-repot lagi. Juga, lo gak perlu pusing-pusing karena dijodohin sama gue. Gue udah bilang sama Papa buat ngebatalin itu. Gue tahu kok lo gak bakal pernah nerima gue apalagi sampai ada rasa sama gue. Jadi lo tenang aja, gue gak bakal ngusik lo lagi. Selanjutnya, kalo emang lo gak suka sama gue, anggep aja kita gak pernah kenal. Tapi, karena kita sekelas, so kenalin, gue Alyssa Saufika Umari, lo bisa manggil gue Ify.” Ify tersenyum mengatakan itu, kembali ke sifat aslinya polos dan tanpa beban.
Rio terpaku mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut Ify. Secepat ini? Batin Rio tak menduga. Untuk pertama kalinya ia melihat serta benar-benar memperhatikan Ify tersenyum dan ia baru mengakui kepolosan Ify. Tapi kenapa disaat gadis ini hendak memisahkan diri darinya? Pertanyaan itu muncul seketika dan seperti menusuk dalam batin Rio. Ia sendiri tak tahu apa yang ia rasakan sekarang. Tapi, yang ia sadari, ada setitik rasa bersalah bercampur penyesalan melumer di dalam dirinya. “Hah?” Lirih Rio. Hanya itu yang mampu ia katakan.
“Lo gak perlu ngenalin diri, secara siapa sih yang gak tahu lo? Hehe.” Cengir Ify. “Oh iya, Gue minta maaf sudah merepotkan, mengesalkan, mengganggu emm apalagi yah ah pokoknya dkk deh. Juga makasih atas kerelaan hati lo melakukan itu semua. Eh gak tahu juga lo rela atau gak, yang penting makasih aja deh. Sekali lagi selamat! Gue duluan!” Ujar Ify lagi. Diawali dengan senyum, ia pun mengakhiri penuturannya dengan senyum pula. Ia berbalik badan dan segera berlalu dari hadapan Rio. Rio sempat maju selangkah ingin menahan Ify tapi tidak jadi. Ia gengsi untuk melakukan itu. Jadilah, ia hanya terdiam memandangi punggung –mantan– calon gadisnya yang semakin samar.
***
Eaea part galau, gak tahu deh feel nya dapet atau gak. terimakasih kepada kalian sudah membaca MM dari awal sampe part ini. Oh ya kalian maunya part nya panjang atau pendek? Pendek aja lah ya biar gak ngeberatin saya? Heheh :DD
Jelek ya? Haha, saya tahu kok. Maklum saya bukan penulis. Maafkan ke gajean dan ketidakbagusan cerita, ini hanyalah fiksi belaka. Makasih =)

Matchmaking Part 7

Assalamu’alaikum! Karena part ini panjang jadi langsung saja. Semoga tidak mengecewakan guys!
***
“Lo beneran gak suka dijodohin sama gue?”
Kata-kata itu terus terngiang dalam benak Rio. Entah sudah berapa menit waktu berjalan pikirannya masih saja jalan di tempat, pada hal yang sama pula. Ia terlihat beberapa kali menghela nafas dan menepuk-nepuk dada kirinya. Ada yang aneh dengan jantungnya sekarang. Akhir-akhir ini, ia seringkali berdebar. Entahlah pada saat itu ia sedang atau memikirkan apa. Tapi..mungkin jika ia sadari, apa yang sedang ia lakukan sekarang, ia sudah berhasil memperoleh satu petunjuk akan misteri debarannya itu. Sayangnya, cowok manis ini terlalu lamban meyakinkan dirinya sendiri. Ia terlalu sibuk mencari clue-clue yang lain sementara jawaban dapat dengan mudah ia temukan jika ia menyadarinya lebih cepat.
“Ya udah sih, lo udah jujur bahwa lo emang gak tertarik sama perjodohan ini. Apalagi?! Kenapa dengan lo?” Ujar Rio pada dirinya sendiri. Ia meremas rambutnya kesal. Ia frustasi menghadapi ketidakjelasan akan hatinya. Silang opini antara iya dan tidak itu terjadi di dalamnya. Rio bukannya tidak mau tahu tentang penyebab benda vital itu bergejolak. Akan tetapi, belum ada keberanian dalam dirinya menelusuri itu semua. Makanya, untuk saat ini, ia hanya berpura-pura untuk buta analisa.
***
“Lo gak tahu basket sama sekali?” Langsung Cakka sembari mendrible benda bulat, orange dan agak berat miliknya. Agni mengangguk pelan. Dalam hati, ia merutuki dirinya sendiri akan kebohongannya barusan. Kebohongan bahwa ia tidak tahu basket. Jelas, bagaimana mungkin ia tidak mengetahui permainan 5 lawan 5 itu?
Agni tahu bahkan sangat akrab sekali dengan basket. Ayah angkatnya ialah seorang basketholic, tentu sangat menyukai basket. Kiki, Rizky Patrick Egeten, dalam dunia olahraga terutama perbasketan, siapapun tahu siapa dia. Salah satu atlit basket berbakat yang sudah beberapa kali mengantongi kemenangan telak bersama timnya. Dan yang teramat penting, pemuda ini sering mengajak adik tirinya duel. Siapa lagi kalau bukan Agni? So, that’s so imposible jika Agni seorang yang awam terhadap basket.
Cakka tersenyum seperti menantang Agni. “Kalo gitu, gue bisa dong pamer kemampuan dengan lo.” Ujarnya. Agni memasang tampang tak mengerti. Alis sebelahnya terangkat. “Maksud..lo?” Tanya Agni. Cakka tak menjawab. Ia malah menyodorkan bola basket yang tadi ia pantul-pantulkan. Agni mengambilnya ragu-ragu. Namun sedetik kemudian, Cakka kembali merenggut bola itu. “Gak semudah itu!” Kata Cakka mendrible bola mendekati ring dan melakukan shooting. Masuk! 1-0 untuknya.
Agni mulai mengerti maksud Cakka. Pemuda tampan ini berniat mengajaknya duel. Cakka kembali mendrible bola dan Agni menghalaunya dari depan. “Curang!” Tuduh Agni. Ia tersenyum menatap Cakka. “Oh ya?” Tantang Cakka. Ia hendak bergerak ke kiri namun Agni dapat dengan mudah membaca hal itu. Agni dengan santainya merebut bola yang semula ada di pihak Cakka. Shooting dan yap masuk. Three point!
Cakka melongo melihat apa yang dilakukan gadis di hadapannya. Three point? Bagaimana mungkin gadis yang –pura-pura- tidak tahu basket sama sekali melakukan itu? Jangan bercanda! Pikirnya. Agni berbalik badan dan mendapati Cakka masih bengong. Ia menggaruk tengkuknya gugup. “Emm, permainan gue jelek ya?” Tanya Agni.
“Lo bohong sama gue?” Tanya Cakka balik. Agni masih pura-pura tak mengerti. “Hah?”
“Lo, bukan gak bisa main basket kan?”
“Emang gue gak bisa, kali!” Elak Agni. Cakka menggelang pelan. “Trus, yang tadi?” Kata Cakka semakin menyudutkan Agni. Agni bingung, otaknya berfikir keras mencari jawaban yang tepat. “Emm..refleks!” Kata Agni nyengir, berusaha agar Cakka tak curiga lebih lanjut.
“Refleks?” Tukas Cakka. Agni mengangguk cepat. “Yah meskipun gak tahu, tapi kan gue sering liat orang main basket. Setidaknya, gue bisa mempraktekkan apa yang gue lihat lah!” Cakka menghela nafas singkat seraya mengedikkan bahu. Setidaknya alasan Agni masih bisa diterimalah.
“Okey..” Kata Cakka tersenyum lagi. “Gue gak akan ngalah kalo gitu!” Lanjutnya. Bola itu kembali berada di bawah penguasaan Cakka. Duel pun dilanjutkan kembali. Dan kali ini, Agni tak lagi menunjukkan keahliannya. Ia sengaja mengalah. Alhasil, sepanjang pertandingan Cakka terus menerus menambahkan point. Masing-masing dari mereka terlihat sangat menikmati permainan itu, khususnya Cakka. Ia sesekali tertawa melihat air muka kelelahan dan putus asa Agni. Sekali lagi, ia sangat menikmati hal itu.
***
Nia dan Aga, mereka ibarat artis panti, panti Minuet. Mereka juga tak pernah lepas satu sama lain, dimana ada Aga pasti ada Nia, begitu pula sebaliknya. Benar-benar seperti perangko. Mereka sering membuat gaduh suasana panti. Bukan gaduh karena masalah, tapi mereka lah yang membuat panti itu selalu terasa ramai. Mereka sering menciptakan permainan dan mengajak seluruh penghuni panti memainkan bersama, bahkan Lia sang ibu asuh pun terkadang di ajak ikut serta.
Nia dan Aga dijuluki sebagai pasangan Hujan dan Matahari. Yang satu fanatik terhadap hujan sementara yang satu lagi sangat suka melihat matahari baik terbit maupun ketika hendak menyelundupkan diri. Mereka bukan pasangan satu-satunya, karena semua anak di panti minuet memiliki pasangan masing-masing. Dalam artian teman yang paling dekat satu sama lain, meski diantara mereka semua memang sudah dekat dan akrab sekali. Ada pula pasangan Semut hitam dan Semut merah, Air dan Udara, Awan dan Langit bahkan Bawang putih dan Bawang merah. Mereka sendiri yang memilih julukan itu. Namun ada juga yang dipilihkan oleh Lia, contohnya ya Nia dan Aga ini.
Suatu ketika, Lia memberikan 2 buah kalung masing-masing untuk Aga dan Nia. Itu sebagai hadiah untuk mereka sebagai pembangkit keceriaan di panti. Anak panti yang lain, satupun tidak merasa iri akan hadiah yang diberikan Lia itu. Mereka malah ikut senang seolah-olah mereka itu Aga dan Nia. Pada Nia, Lia memberikan kalung berbandulkan cincin dengan guratan garis-garis lurus di permukaan depan. Hal itu diumpamakan seperti rintik hujan karena Nia menyukai hujan. Dan di lengkungan dalamnya terukir 3 buah huruf yang tersusun menjadi sebuah nama,namanya. Dan pada Aga, Lia memberikan sebuah kalung dengan bandul berbentuk matahari sesuai kesukaannya dan ditengahnya juga terukir sebuah nama, namanya pula.
Kalung itu sangat mudah dikenali terutama kalung Aga. Mereka dengan senang menerima itu dan memakainya. “Jaga kalungnya baik-baik karena ibu gak bisa memberikannya setiap saat jika itu hilang.” Pesan Lia saat memberikan kalung itu. Nia dan Aga masing-masing mengangguk semangat. “Siap ibuku yang cantiik!” Seru Aga tersenyum lantang. Nia hanya ikut tersenyum.
Tapi, sepertinya Tuhan tidak menginginkan panti itu selalu terisi akan keceriaan. Sebulan setelah pemberian kalung itu, Aga kembali diambil oleh orang tuanya. Semula, tentu awalnya Aga sangat-sangat tidak menginginkan itu. Aga membenci orang tuanya terutama ibunya yang menurutnya tega secara sadar dan pikiran normal meninggalkannya begitu saja. Dan juga, ia tidak ingin berpisah dengan seluruh penghuni panti, khususnya Nia. Lia sendiri tidak bisa menahan Aga karena Aga masih punya orang tua. Merekalah yang paling berhak atas Aga.
Aga pada akhirnya tidak bisa berbuat apa-apa. Ia meminta kedua orang tuanya untuk menunda satu hari acara penjemputannya kembali. Ia ingin berkumpul dengan teman-teman barunya di panti, mengadakan sebuah perpisahan kecil lah bersama mereka. Kedua orangtuanya pun mau tidak mau harus menuruti permintaan malaikat kecil mereka. Jadilah, satu harian penuh itu dihabiskan Aga bersama teman-teman pantinya dan juga Lia.
  Siang itu, tak seperti biasa. Suasana mendadak sunyi. Meski semua telah berkumpul di ruang tengah, tapi tetap saja panti itu terasa sepi sekali. Tak ada wajah-wajah bahagia terlihat pada diri masing-masing. Anak-anak panti begitu sedih mengetahui siang itu adalah siang terakhir mereka bersama Aga. Teman yang meski baru mereka kenal beberapa bulan.
Lalu Nia, bagaimana dengan gadis kecil itu? Jika diperhatikan, hanya ia sendiri yang masih terlihat bersemangat. Tak ada kesedihan terlukis di lekuk-lekuk wajah manisnya. “Baiklah..” Kata Nia mulai buka suara membuat semua beralih menatapnya. “Ini siang terakhir kita bersama Aga. Setidaknya siang ini harus kita pergunakan dengan baik. Tidak boleh ada satu detikpun terlewat dan menyia-nyiakan dirinya.” Katanya menggebu-gebu. Sementara teman-temannya yang lain masih saja merunduk dan tak bersemangat sama sekali.
“Heei, ayolaah!” Pancing Nia lagi. Keadaan teman-temannya masih sama. Belum ada yang tergerak. Nia masih belum menyerah. Ia memikirkan sebuah cara yang bisa membangkitkan kembali semangat orang-orang disana. Ia lalu mendapat ide dan tahu apa yang harus ia lakukan. Nia berdiri menghadap ke semua orang-orang di depannya. Ia menatap satu-persatu dari mereka yang kini juga menatapnya.
“Dulu kita sahabat..teman begitu hangat..mengalahkan sinar mentari..”
Ia bernyanyi! Ya, dalam benaknya hanya itu yang paling mudah dan mungkin ia lakukan. Bernyanyi menurutnya merupakan cara jitu membangkitkan semangat yang terkubur dalam diri teman-temannya. Namun, mereka masih saja diam sambil memandangi Nia yang baru memulai bernyanyi. Sekali lagi, ia belum menyerah. Ia harus bisa mengembalikan keceriaan di panti itu seperti semula.  
“Dulu kita sahabat..berteman bagai ulat..berharap jadi kupu-kupu..”
Kali ini usahnya sedikit memunculkan kemajuan. Teman-temannya mulai menikmati alunan lagu yang ia lantunkan. Mungkin didukung dengan suaranya yang boleh diakui merdu itu. Mereka mulai menggerak-gerakkan kepala mengikuti irama dan tempo lagu berjudul kepompong yang ia nyanyikan.
“Kini kita melangkah berjauh-jauhan..kau jauhi diriku karena sesuatu..”
Nia tak hanya sekedar bernyanyi, ia mulai menggerak-gerakkan tubuhnya kesana-kemari membentuk sebuah tarian yang meski asal-asalan tapi masih terlihat bagus. Sedikit senyum terulas dibibir teman-temannya. Ia pun ikut tersenyum melihat itu. Semangatnya menjadi berlipat ganda sekarang.
“Mungkin ku terlalu bertingkah kejauhan..namun itu karena ku sayaang..”
Nia berhenti bernyanyi membuat semua yang ada disana memandangnya. “Semangatlah! Karena siang ini tak akan datang lagi. Tersenyumlah! Karena siang ini seharusnya menjadi siang yang menyenangkan.” Suaranya bergetar saat mengatakan itu pada seluruh anak panti. Bukannya bersemangat seperti yang ia pinta, anak-anak panti itu satu persatu malah mulai menangis, termasuk Aga. Meskipun tidak terlalu keras. Tapi ya tetap saja, kesedihan itu memang tak bisa diukur dari seberapa keras mereka mengeluarkan suara saat menangis kan?
Nia melihat pemandangan menyedihkan itu dan tak tega lebih lama menyaksikan teman-temannya menangis. Sejujurnya, ia lah yang paling sedih dengan kepergian Aga. Ia orang yang paling dekat dengan Aga, jadi bagaimana mungkin bisa ada yang mengaku merasa lebih sedih daripada dirinya. Setetes air matanya keluar dan membuat pipinya menjadi agak basah. Ia kemudian menggeleng cepat. Ia menghapus basahan di pipinya segera.
“Jangan menangis! Jangan membuat Aga atau siapapun disini menjadi lebih sedih!”
“Tapi, kita tidak mungkin bertemu dengan Aga lagi.” Kata salah satu teman Nia yang masih terisak. “Siapa bilang tidak mungkin?”
“Kita ini berbeda, tidak seperti anak-anak diluar sana yang dapat dengan mudah mengunjungi tempat mana saja yang mereka mau. Sementara kita, 9 orang disini tak mungkin mengunjungi Aga sering-sering, apalagi Aga akan pergi ke Jakarta. Butuh uang yang banyak. Uang-uang itu pasti lebih dibutuhkan disini.”
“Sudahlah. Bersahabat meski dalam jarak yang jauh, tapi hati kita ini bisa membuatnya tetap dekat.”
“Apa bisa begitu?”
“Iyaa. Percayalah!” Teman-temannya diam, tak ada lagi yang menjawab. Mereka diam tapi tidak menangis lagi. Nia kembali tersenyum. “Ayo, lanjutkan lagunya!” Kali ini, kesedihan mereka tak terpancar lagi. Air muka mereka menjadi lebih cerah dan bersemangat. Mereka juga mulai ikut bernyanyi bersama Nia sambil bertepuk tangan. Aga berdiri dan ikut bernyanyi serta menari di sebelah Nia. Suasana pun cair kembali.
“Persahabatan bagai kepompong..mengubah ulat menjadi kupu-kupu..”
Mereka melanjutkan menyanyikan lagu itu hingga akhir. Keceriaan di panti Minuet sudah kembali seperti semula.
***
Drrt..drrt..
Dua pesan masuk secara bersamaan membuat ponsel Agni bergetar lebih lama. Belum sempat ia membuka pesan itu satu-persatu, sudah muncul pula satu panggilan lagi. Ipii. Nama itu yang tertera di layar ponselnya. Ia menjawab panggilan tersebut dan menempelkan ponselnya ke telinga. “AGNIII!!!” Pekik Ify, membuat Agni sedikit menjauhkan ponselnya. Ia memandang ponselnya bingung beberapa saat. “Ni anak baru punya hape apa? Ckck..” Gumamnya heran. Cakka yang sedang duduk beristirahat di sebelahnya terkekeh pelan.
“Apaan sih? Lo lagi belajar jadi kenek angkot, hah?”
“Hehe, mangap-mangap!” Kata Ify nyengir.
“MAAAAP!” Sekarang gantian Agni yang berteriak. Terdengar Ify terkekeh di seberang sana. “Ah serah deh. Ada yang lebih penting. Ini gawat Ni, gawat!” Agni mengangkat sebelah alisnya bingung. “Gawat kenapa? Kucing lo mau melahirkan lagi?” Katanya asal.
“Yee, bukan itu kali! Ini tentang Alvin dan juga pasti menyangkut Shilla.” Kata Ify, lagi.
“Alvin? Kenapa lagi tuh anak bedua?” Tanya Agni bingung. Cakka pun tak jauh beda. “Yaelah, lo gak update. Sekarang lo check deh berita terbaru tentang dia.”
“Iyeee, ntar gue check dulu!” Kata Agni dan memutus panggilan dari Ify. Ia kemudian mencari berita yang Ify bilang tadi. Saat itu juga matanya membelalak. Ia tak percaya melihat apa yang terpampang di artikel yang ia buka. Alvin Jonathan dan Febby Rastanty? Berikut judul artikel tersebut. Tak hanya tulisan itu, ada yang lain yang lebih membuat shock. Disana terdapat foto Alvin bergandengan dengan seorang gadis yang tak ia tahu siapa itu. Mungkin itu yang namanya Febby seperti yang tersebut dalam judul artikelnya.
Agni menggeleng tak percaya. Ia lalu menghubungi Shilla. Tak butuh waktu lama panggilannya itu disambut Shilla. “Agnii..” Sahut Shilla manja. Suaranya terdengar parau, seperti sedang terisak. Agni menghela nafas panjang. “Gue kesana ya?” Kata Agni lembut. Jarang-jarang ia melakukan itu. Meskipun ia terkadang sering jutek pada ketiga sahabatnya, tapi ia juga punya satu sisi yang sangat disukai oleh mereka. Ia pribadi yang perhatian dan ia tahu kapan harus melakukan hal itu dengan tidak berlebihan tentunya.
“Hmm..” Shilla mengangguk meski tidak terlihat oleh Agni. Setelah mengakhiri panggilan ia hendak memasukkan ponselnya kembali sebelum seseorang kembali menghubunginya. Ia mendesah melihat itu. “Halo, kenapa Via?” Kali ini, Via yang menelpon. “Lo udah liat berita itu?” Tanya Via. Agni berdehem menjawab pertanyaan tersebut. “Gue mau ke rumah Shilla sekarang.”
Agni benar-benar memasukkan ponselnya ke kantong. Ia berdiri hendak pamit. “Kka, gue cabut dulu!” Cakka malah ikut berdiri. “Mau ke rumah Shilla? Emang ada apaan sih?” Tanya Cakka yang sedikit tak mengerti masalah apa yang dibicarakan Agni beserta sahabat-sahabatnya tadi. “Biasa, temen lo bikin temen gue galau.” Kata Agni seraya tersenyum miring.
“Hmm..mau gue anter?” Tawar Cakka. Agni memandangnya tak percaya. “Serius lo? Haha, gak usah la, ngerepotin!” Tolaknya.
“Ah gak masalah. Ayok!” Cakka langsung menarik tangan Agni tanpa bertanya lagi. “Eh!” Kaget Agni. Tapi, ia tak berontak dan mengikuti saja tangannya itu ditarik kemana oleh Cakka.
***
“Makasih, Kka!” Agni keluar dari mobil Cakka setelah mengatakan itu. Ia berjalan mendekati pagar rumah Shilla dan menekan bel. “Siapa?” Tanya sebuah suara dari bel itu. Suara itu terdengar malas-malasan. Agni mendengus lalu menjawab. “Gue, Agni!”
“Agniii, akhirnyaa!” Seru Shilla, si pemilik suara. Pagar pun terbuka secara otomatis sehingga Agni dapat masuk ke dalam. Tanpa mengetuk lagi, Agni langsung membuka pintu rumah Shilla dan berjalan menuju kamar gadis itu. Ia membuka pintu itu perlahan. Didapatinya seorang gadis, menekuk lutut sambil bersandar di papan atas tempat tidur. Gadis itu melihat Agni dan tersenyum seperti dipaksakan. Agni menghela nafas singkat dan berjalan memasuki kamar. Ia kemudian duduk di dekat gadis itu, Shilla.
“Apa kabar lo?” Tanya Agni. Kedengarannya memang seperti basa-basi, tapi Agni tidak benar-benar memaksudkan itu dalam pertanyaannya. Shilla menggeleng lemah tanpa menoleh ke arah Agni. “Emm berita itu, lo..”
“Gue udah tahu..” Potong Shilla. Suaranya terdengar pelan. “Terus?” Tanya Agni lagi. Ia mengambil posisi bersila tepat di hadapan Shilla, menatap gadis itu lekat-lekat. Shilla menghunuskan nafasnya cepat. “Kira-kira, berita itu bener gak ya?” Tanyanya balik. Ia kini menatap Agni mengharapkan sebuah atau berapapun kata yang akan keluar dari gadis itu yang bisa membuatnya tenang.
“Lo percaya?” Lagi-lagi Agni bertanya. Mata Shilla menerawang memikirkan pertanyaan Agni itu. Ia lalu mengedikkan bahu putus asa. “Lalu, lo percaya Alvin?” Hmm, sepertinya saat ini Shilla menjadi objek interogasi Agni. Shilla mengangguk meskipun terlihat ragu-ragu. Melihat itu, Agni pun tersenyum lega. Ia memegang pundak gadis di depannya. “Shill, selama lo percaya, berita dengan kemiringan sederajat apapun gak bakalan ada artinya. Berita-berita kayak gitu cuma bisa memanaskan telinga tapi gak untuk hati, ya karena lo percaya.”
Shilla diam sambil mencoba meresapi dalam-dalam pikirannya dengan kata-kata Agni barusan. “Beneran?” Tanya Shilla memastikan. Agni tersenyum lagi. “Iya, Shillaku sayang. Lagi juga, yang kayak gini tuh bukan sekali dua kali. Coba deh lo itung-itung berita sebelum-sebelumnya.” Kata Agni. Shilla mulai mengingat-ngingat gosip-gosip terkait kekasih yang sangat ia cintai itu.
“Hehe, banyak..” Kata Shilla nyengir tertahan (?) Ia menggaruk-garuk pelipisnya yang tak gatal. “Nih ya, Ourel, Irva, Olivia, Osa, Aren, Ze..Zevi eh Ze apa tuh?”
“Zevana?”
“Nah itu!” Seru Agni. “Ya udah, lo telpon gih.” Suruhnya kemudian. Shilla memandangnya bingung sekaligus menunjukkan sikap penolakan. Ia menggeleng keras. “Ck, ayolah!” Paksa Agni. Shilla menggerutu kesal. Mau tak mau ia melakukan apa yang Agni katakan. Ia mengambil ponsel dan mencari nama Alvin di kontaknya. Oh mungkin lebih tepatnya Sipitrese di kontaknya sebab ia belum mengganti nama itu hingga kini. “Nii..” Rengek Shilla, berharap Agni tak benar-benar meminta hal itu. Namun Agni tetap kekeuh memaksanya menghubungi Alvin.
“Iss iya-iya! Tapi, lo mesti tutup kuping!” Kata Shilla pasrah sekaligus berbalik memaksa Agni.
“Tutup kuping? Ah biasa juga lo terang-terangan,” Ujar Agni bingung. “Tapi ini beda masalahnya!” Sungut Shilla.
“Aiss, apa bedanya sih? Sama aja kali!” Kata Agni tak mau kalah.
“Iii..tutup aja. Lo mau gue nelpon dia atau gak?” Ancam Shilla. Alis Agni terangkat sebelah. “Lah, kenapa lo jadi ngancem gue?”
“Yaudah, tutup aja apa susahnya?” Agni mendengus dan kemudian memasang earphone miliknya. “Iya-iya! Nih, puas?” Kata Agni yang sudah mengambil posisi tiduran. Shilla tersenyum menang dan segera menelepon kekasihnya, Alvin. Jari telunjuknya bergerak mengetuk-ngetuk dagu sembari menunggu panggilannya itu dijawab.
Cukup lama Shilla mendengarkan deringan di ponselnya bahkan sampai bunyi itu berhenti, Alvin tak kunjung mengangkat. Ia lalu memandangi ponsel itu dan ragu untuk melakukan panggilan lagi. “Kenapa?” Tanya Agni bingung. Shilla hanya menggeleng lemah. Agni memaksanya menghubungi Alvin lagi. Ia melakukannya kembali meski ragu-ragu. Dan..hasilnya tak berbeda. Alvin masih belum mengangkat panggilan itu.
“Nih, makanya gue gak mau. Pasti gak diangkat!” Gerutu Shilla. Ia mendecak kesal lalu menghempas ponselnya kasar di atas kasur. “Tunggu aja bentar, dia pasti nelpon lo balik.” Ujar Agni. Shilla tak mau tahu lagi. Ia bersender sambil menengadahkan kepalanya.
Baru beberapa saat, BB Shilla berbunyi dan ada panggilan masuk. Hmm, mungkin dewi fortuna berpihak pada perkataan Agni barusan. Yap, Alvin menelepon Shilla balik. Agni mengambil BB itu cepat dan menunjukkannya tepat di depan wajah Shilla. “Nih! Apa gue bilang?” Shilla merebut BBnya dan segera menekan yes mengangkat panggilan itu.
Shilla diam. Ia tak ingin berbicara duluan. Ia menunggu pemuda yang meneleponnya itu berbicara. 1..2..5..10 detik masing-masing saling diam. *kbnykanpulsa* Shilla lelah menunggu. Pada akhirnya ia juga yang memulai perbincangan itu di antara mereka. “Halo?” Ujar Shilla sebiasa mungkin. Terdengar Alvin menghela nafas di seberang sana. “Haah, akhirnyaa! Cantikkuu, lo gak marah kan?” Kata Alvin lega.
Ck, harus gitu gue bilang gue marah atau gak? Lol! Batin Shilla. Ia mengatur ritme nafasnya baik-baik. Agni menoleh sebentar melihat tingkah laku Shilla itu. Ia cuma geleng-geleng kepala tanpa tahu apa yang Shilla bicarakan. Tentu, karena ia sedang memakai earphone.
Shilla berdehem singkat menjawab pertanyaan Alvin tadi. Ia tidak berniat berkata panjang lebar. 1..2..5..10 detik kembali dan hening. Belum ada yang buka suara lagi. Shilla mendecak kesal. “Ck, halooo?!! Niat nelpon gak sih?! Lo asli banget-bangetan ya bikin gue marah! So, gak ada yang mau diomongin lagi kan? Gue tutup aja nih sekalian!” Rutu Shilla. Unek-uneknya kini sudah terealisasikan semua.
“Eee jangan-jangan! Jangan ditutup, Cantikkuu! Gue masih mau ngomong sama lo.” Tahan Alvin yang terdengar panik. Shilla menghembuskan nafas lagi. Kali ini lebih berat. “Ya udah ngomong..” Kata Shilla mulai lunak. Terdengar Alvin mendesah kembali.
Dan untuk ketiga kalinya, detik-detik tersia-siakan itu terjadi. Alvin diam tidak berbicara seperti yang Shilla minta. Shilla mencoba menunggu beberapa detik lagi dan ia pun habis kesabaran. “Alviiin, lo..”
“I..iya-iya..gu..gue minta maaf!” Ujar Alvin akhirnya sebelum Shilla sempat menyelesaikan omelannya. Shilla lalu diam menunggu kalimat Alvin selanjutnya. “Maaf yaa! Maaf karena gue udah ngelupain lo akhir-akhir ini.”
“Oh lo ngelupain gue ceritanya? Hmm, posisi gue tergantikan. Bagus deh.”
“Eee bukan itu maksudnya. Aduuh emm ma..maksud gue itu..”
“Iya, gue maafin.” Potong Shilla. Ia tersenyum tipis.
“Hah? Beneran nih?” Tanya Alvin lembut. “Iss..iyaa!” Kata Shilla salting. Pipinya samar-samar bersemu. *Halah*
“Iya apa iya?” Goda Alvin. “Ya udah gak gue maafin.”
“Eh jangan dong! Iya deh gue percaya.”
“Emm cewek itu..yang di mall waktu itu kan?” Tanya Shilla hati-hati. Ia memindahkan posisi ponselnya yang awalnya berada di sebelah kiri menjadi di sebelah kanan. “Kenapa? Lo percaya sama berita itu?” Alvin malah bertanya balik.
“Eh..sedikit.” Kata Shilla gugup. “Lo gak cuma inget cewek itu yang waktu di mall kan? Lo inget juga apa yang gue bilang pada saat itu kan?” Tanya Alvin yang kesekian kali. “Iya..gue inget.” Shilla menggigit bawah bibirnya. Ia masih belum bisa tenang. “Gu..gue..cuma takut.” Lanjutnya.
“Takut?”
“Hmm..gue takut lama-lama gue percaya. Berita itu bener dan hati lo berubah dan lo nerima dia, lo milih dia dan..”
“Dan gue gak akan pernah ngelakuin itu!” Kata Alvin tegas. Shilla seketika bungkam. Ia menunduk dan sedikit merasa lega mendengar perkataan Alvin barusan. Meskipun masih ada yang mengganjal. “Emm, Vin!” Panggil Shilla. “Ya?”
Shilla menarik nafas cukup panjang sebelum berkata kembali. “Jangan pernah tinggalin gue!” Pintanya. “Iyaa!” Ujar Alvin menyanggupi.
“Sisakan tempat di hati lo dan itu hanya untuk gue. Lo bisa kan?” Pinta Shilla lagi. “Pasti! Ah ada yang harus lo ralat, tempat lo di hati gue itu bukan sisa lagi! Lo itu letaknya di tengah-tengah. Menempati posisi paling istimewa. Karena lo berada di pusatnya.”
“Gombal!”
“Lah, jadi lo mau yang gue bilang tadi bohong?”
“Iss..okey, gue pegang kata-kata lo.”
“Nah gitu dong!”
“Vin!” Panggila Shilla lagi. “Hmm?”
“I love you!” Ujar Shilla dan langsung memutus panggilan. Bisa dilihat bahwa mukanya merah sekarang. Ia merasa sudah benar-benar tenang. Ia senyam-senyum sendiri sembari memandangi layar ponselnya. Jangan kecewakan gue! Cinta gue limit, hanya untuk satu hati dan gak datang dua kali, tiga kali bahkan sampai orang-orang menyebutnya bukan kali lagi! Katanya dalam hati.
Agni bangun dan melepas earphone yang beberapa saat lalu ia kenakan. “Gimana? Lo percaya kan sama kata-kata gue?” Shilla tersenyum jail. “Gue percaya Alvin, haha!”
“Yee, dasar lo! Haha..” Rutu Agni dan memukul pelan pundak Shilla. Shilla sudah bisa tertawa lepas dan hal itu membuat Agni lega sekaligus turut senang. “Ni! Thank’s yaw!” Ujar Shilla berterimakasih. Agni tersenyum miring. “Thank’s buat apa?” Tanya pura-pura bingung. Dasar gadis ini, pandai berpura-pura!
“Mmm, buat apa yaa?”
“Ahelaah! Okedeh cimi-cimi kuu! Hahaha..” Mereka serentak tertawa, lebih keras sepertinya. Mission complete! Batin Agni.
***
Sementara itu, Alvin baru saja keluar dari kamar mandi yang ada di kamarnya. Entah kenapa siang ini terasa begitu gerah, maka dari itu ia mandi. Ia keluar dalam keadaan rambut yang terlihat masih basah dan parahnya ia hanya mengenakan handuk! Ia berjalan mendekati tempat tidur mengganggu ketenangan ponselnya.
“HAH?!!” Katanya kaget sekaligus panik. Matanya seketika membelalak melihat apa yang tertera di layar benda itu. 2 panggilan tak terjawab dari Shilla. Kepalanya yang semula baik-baik saja sekarang seperti terasa begitu gatal dengan ia yang menggaruk-garuknya tak karuan. Ia berjalan mondar-mandir bingung apa yang harus ia lakukan. Sipit gue ilang kalo gini ceritanya! Gerutunya dalam hati. Heh? Apa hubungannya? Hmm, sudahlah. Namanya juga orang lagi panik.
Alvin kemudian segera menghubungi Shilla balik. Hanya butuh 2 deringan dan panggilan itu segera disambut. Hening. Tak ada sahutan dari Shilla. Laju mondar-mandirnya makin tinggi sampa-sampai ia tak sadar kaitan handuknya semakin melonggar. Persetan dengan itu! Menurutnya, mungkin. Ia masih mondar-mandir hingga akhirnya muncul suara Shilla mengatakan halo. Ia berhenti dan menghembuskan nafas lega. “Haah, akhirnyaa! Cantikkuu, lo gak marah kan?” Kata Alvin lega.
Hei-hei tak sampai disitu, aksi mondar-mandir kalang-kabut asap polusinya (?) masih berlanjut. Beberapa kali Shilla melakukan aksi diam dan beberapa kali pula aksi konyol Alvin itu terjadi. Ia semakin masa bodoh akan lilitan handuknya yang mulai terlepas. Tapi untunglah itu tak berlangsung lama karena Shilla pun melunak. Hingga perbincangan menguras kepanikan Alvin itu berakhir dengan pernyataan jujur Shilla dan memutus panggilan secara sepihak. Meski begitu, Alvin tetap terlihat senang bahkan sangat malah.
Alvin melempar ponselnya ke kasur. “LOVE YOU TOOO MY SHILLAA!!” Teriaknya kelewat heboh dan menggema di setiap sudut kamarnya (?). Pluk! Handuknya benar-benar melepaskan diri dan memperlihatkan bagian bawah tubuh Alvin yang tadi sempat ia tutupi. Dan pada saat yang bersamaan pintu kamar Alvin dibuka seseorang dari luar. Otomatis orang itu dapat menyaksikan pemandangan ‘ajaib’ yang ada di dalam.
Cekrek! Jail, orang itu memotret Alvin yang saat ini dalam keadaan ‘polos’. Ia terbahak melihat hasil jepretan terlarangnya. Mata Alvin kembali menganga berikut mulutnya pula (?). “Wah kalo gue upload, lo pasti lolos jadi model majalah playboy! Limited edition hahaha!” Kata orang itu sembari tertawa puas. Ia langsung lari alias kabur sebelum Alvin sempat mengejarnya. “DEPAAAH SARAAP BALIKIN FOTO GUEEE!” Pekiknya tak kalah keras dari sebelumnya.
***
Ify menyantap dinnernya sendirian malam ini. Papanya belum pulang. Ia melihat ke jam dinding dan mengetahui sekarang sudah pukul setengah delapan. Ia menghembuskan nafas berat. Sekarang, Ify benar-benar merasa sikap Papanya aneh. Belum lagi dengan sobekan-sobekan kertas yang ia temukan yang sampai sekarang belum disusunnya secara benar. Ia bahkan seperti tidak pernah bertemu papanya beberapa hari ini, padahal mereka tinggal di tempat yang sama. Bagaimana tidak, Papanya pergi pagi-pagi sekali sebelum sempat menyapa atau bertatap muka dengan Ify. Dan lihat, Papanya juga belum pulang. Saat ia tidur, laki-laki itu mungkin baru pulang.
Gadis ini melahap makanannya kurang berselera. Sesekali terdengar dentuman-dentuman akibat ia mengadu ujung sendoknya dengan piring yang ia gunakan. Tapi tiba-tiba pintu terbuka dan rupanya Papanya baru pulang. Papanya berjalan sampai ke ruang makan. Ify meminum seteguk air putih lalu menyapa Papanya. “Papa, kok baru pulang sih? Sini, makan dulu. Ify sendirian tahu daritadi!” Papanya lalu menduduki salah satu kursi di dekatnya.
“Papa udah makan, sayang! Papa minum air putih aja deh sambil nemenin kamu.” Ujar laki-laki paruh baya itu. Benar saja, ia lalu mengambil segelas air putih dan meminumnya seteguk demi seteguk. “Iss, Papa tahu Ify gak suka makan sendirian. Kenapa malah makan duluan?” Keluh Ify. Ia mengaduk-ngaduk makanan di piringnya. “Yah, namanya juga laper. Mana bisa ditunda?” Kata Papanya terkekeh.
Terjadi keheningan sebentar. Ify lalu kembalu bersuara. “Pa, papa sakit ya?” Tanyanya tiba-tiba dan agak mengagetkan Papanya. Laki-laki itu terlihat kebingungan hendak menjawab. “Ee..mm kamu kenapa tiba-tiba nanya itu?” Ujar Ferdi, Papa Ify, gugup. Ia meneguk banyak-banyak air putih di gelas yang ia pegang. Tak ayal, Ify pun memandangnya dengan tatapan aneh. “Papa kenapa? Ify cuma nanya aja.”
“Ooh. Hmm, Papa gak sakit kok! Nih, masih segar bugar gini!” Kata Ferdi yang sudah kelihatan lebih tenang. Ia tak lagi terburu-buru meminum air putih. Ia menyesapnya sekarang. “Pa..Ify mimpi ketemu Mama.” Kata Ify lirih. Ferdi tersenyum memandangnya. “Hmm..lalu?”
“Yah itu aja, Ify mimpi Mama, ketemu Mama dan meluk Mama. Rasanya tuh kayak beneran, Pa!” Kata Ify menggebu-gebu menceritakan mimpinya. Namun, sedetik kemudian wajahnya kembali terlihat bingung. “Tapi..ada yang aneh dari kata-kata Mama.” Sambungnya. Kening Ferdi mengkerut. Ia menaruh gelas yang sedari tadi ia pegang. “Aneh kenapa?” Tanya Ferdi.
“Mama bilang, ada yang jauh lebih merindukan Mama...Siapa?” Jawab Ify seraya bertanya balik. Ia menaruh sendok dan garpunya dengan posisi menelungkup serta menyilang. Ferdi tersenyum menatap anaknya itu. “Sudahlah, jangan difikirkan. Itu cuma bunga tidur.” Ujarnya seraya mengusap lembut puncak kepala Ify. “Nah, kamu udah selesai makan kan? Papa ke kamar dulu, capek nih! Hehe..” Katanya lagi. Ify mengangguk pelan.
Baru saja hendak berdiri tiba-tiba pinggangnya terasa sakit. Ia sontak mengaduh memegangi pinggangnya itu dengan tangan kirinya sementara tangan kanan menumpu badan pada tepi meja. Ify kaget dan mendekat ke arah Papanya. “Loh? Papa kenapa?” Paniknya. Sadar bahwa anaknya panik, Ferdi mencoba berdiri tegak kembali. “Ah, gak papa. Cuma pegel aja tadi. Ya udah Papa ke kamar ya!” Elaknya. Ia berjalan meninggalkan meja makan sekaligus Ify.
“Perlu Ify bantu? Papa baik-baik aja kan?” Pekiknya. Ferdi berhenti sebentar dan berbalik badan. “Gak usah, Papa gak apa-apa kok!” Katanya menyungging senyum. Tepatnya memaksa diri untuk tersenyum. Untunglah Ify tak sadar akan hal itu. Ia kembali melanjutkan berjalan menuju kamarnya. Begitu pula Ify. Tapi ify sedikit berbeda, ia menaruh piring dan gelas bekas makannya dulu ke dapur. Barulah sesudah itu ia beranjak ke kamar. Namun, sejenak ia memandang pintu kamar Papanya yang tertutup. Ada sesuatu yang harus ia cari tahu, tentang ruang di balik pintu tersebut maupun orang yang menghuninya.
***
Ify dan Papanya sudah berada di luar pintu rumah mereka. Pagi ini, Papa Ify masih belum bisa mengantarnya ke sekolah. Maka dari itu, Rio terlihat menampakkan dirinya di sana. Ia keluar dari mobil untuk sekedar memberi salam pada Papa Ify. “Om..” Sapanya sopan. Ify menatapnya aneh. Tak biasanya Rio bersikap sopan seperti itu, pakai senyum segala lagi. Dua laki-laki ini sepertinya gemar membingungkan gadis di hadapan mereka. Hmm, gak Papa gak Rio dua-duanya complicated! Emang laki-laki kayak gitu semua ya? Ckckck..
“Ya udah Papa berangkat dulu. Kamu belajar yang bener, jangan perbaikan mulu!” Pamit Ferdi yang sedikit bercanda itu. Ify tersenyum kecut mendengar kata-kata Papanya barusan. “Yo, om pergi dulu ya. Titip anak om, jaga baik-baik!” Pamit Ferdi lagi, kali ini pada Rio. Rio hanya tersenyum menanggapi itu. Tanemaan kali dijaga! Batin Ify menyeletuk. Ia memandangi Papanya hingga benar-benar meninggalkan rumah.
Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ia langsung berlari masuk ke dalam rumah kembali. Ia bergerak menuju kamar Papanya. Rio yang kebingungan lantas mengikutinya masuk ke dalam, ke kamar Ferdi. Ify terlihat berkeliling seperti mencari sesuatu di ruangan itu. Beberapa laci yang ada dibukanya sambil berharap ia menemukan sesuatu di dalam sana. Rio? Ia garuk-garuk kepala melihat kesibukan Ify itu. Karena tak tahu apa yang Ify cari, ia pun hanya masuk dan melihat-lihat foto yang terpajang di dinding. Salah satunya foto bersama antara Ferdi, Gina dan Ify yang di situ kira-kira masih berumur 3 tahun. Mereka terlihat sangat bahagia dan harmonis.
Jadi ini Tante Gina, Mama Ify? Kayaknya gue pernah liat. Batinnya. Rio tak begitu lama menaruh perhatian pada foto itu. Ia melihat jam tangannya dan menoleh pada Ify. “Fy,  jam berapa nih? Lo mau dapat hadiah bersihin WC?” Ify seketika diam, tak lagi bergerak mencari apa yang hendak ia temukan sebelumnya. Sesaat ia terpaku dengan Rio yang memanggilnya. Apa itu? Rio nyebut nama gue? Batinnya seolah tak percaya dengan apa yang ia dengar. Rio tak sekedar memanggil tapi laki-laki itu menyebut namanya juga. Ya, tidak seperti biasanya memang. Pemuda satu ini mana pernah melakukan itu saat mengajaknya bicara. Paling-paling ia berkata ‘Heh’, ‘Woy’ dan yang satu spesies dengan itulah.
“Ahelah bengong pula! Mau sekolah gak lo? Kalo gak gue tinggal!” Kata Rio lagi. “Eh..iya-iya.” Sahut Ify cepat. Ia berjalan mengikuti Rio sambil memandangi pemuda itu dari belakang hingga mereka sampai di dalam mobil. “Pasang seat belt lo, gue mau ngebut!” Ujar Rio. Sebenarnya sih ia mengatakan itu biasa tapi tetap saja agak ketus kedengarannya. Ify pun menarik seat belt yang tergulung rapi di tempat benda itu ditempel.
Namun, seat belt itu sedikit bermasalah alias tidak bisa ditarik. Ify mencoba menariknya lebih kuat tapi benda itu masih macet. Rio menoleh ke arahnya dengan kening berkerut. “Kenapa?” Tanyanya. “Ini..nya..gak..bisa..di..tarik..haah!” Jawab Ify terbata tanpa menoleh karena masih berusaha menarik sabuk itu. Ia akhirnya menyerah karena takut bukannya baik kembali malah rusak total. “Ck, bilang aja lo pengen gue yang masangin!” Tuduh Rio. Ify mencibir mendengar itu.
Rio kemudian bergerak ke samping ingin membuktikan sendiri benarkah sabuk mobilnya macet. Alhasil, posisi Rio yang begitu dekat itu membuat marathon jantung Ify. Bahkan tak bisa dibilang marathon, toh debaran jantungnya makin cepat seiring makin lamanya Rio mencoba menarik seat belt tadi. Ia memandangi wajah Rio yang emm merupakan perpaduan antara manis dan tampan itu. Ia tak bisa menyangkal.  Yah, meskipun bukan itu yang membuatnya jatuh hati pada pemuda ini. Karena awalnya ia menyukai suara Rio dan ya hanya itu. Setidaknya sebelum Rio berada sedekat ini dengannya. Alasannya mungkin bertambah satu lagi sekarang.
Rio akui Ify benar, memang seat belt itu tak bisa ditarik. Karena merasa ada yang memandanginya, ia pun menoleh hendak memastikan. Ify tersentak dengan Rio yang menoleh tiba-tiba. Ia terpaku menatap mata teduh pemuda di depannya begitu pula Rio, entah kenapa kali ini ia ingin sekali memandang gadis itu. Ia juga tidak tahu kenapa. *sinetronbanget**penulismiskinide* MasyaAllah nih orang ganteng amat! Eza gionino mah lewaat! Eh eh kenapa nih orang makin lama makin dekat? Wah wah beneran mati duduk nih gue! Heboh Ify dalam hati.
Yap, Rio memang makin lama makin dekat terutama ke wajahnya. Rio sendiri tak sadar ia melakukan itu. Ia tetap saja meneruskan aksi yang bisa ‘membunuh’ Ify saat itu juga. Ify berulang kali mengerjap-ngerjapkan matanya. Sedetik kemudian ia sadar ini tidak boleh berlalu begitu lama. “HUWAW!” Kata Ify heboh dengan ponselnya yang sengaja ia jatuhkan. Rio terkesiap dan sadar seketika. Ia mengalihkan pandangan kembali pada seat belt.
Seet! Benda itu dengan mudah di tarik sekarang. Rio mengutuki benda itu yang seolah-olah mengerjainya sejak tadi. Ia menormalkan posisi tubuhnya kembali. Tapi, sepertinya tubuh itu tak benar-benar dalam keadaan normal. Masih ada yang dalam posisi tak wajar di dalam. Tepatnya di bagian dada kiri. Ia baru sadar bagian itu bergetar hebat. Ia pun tak tahu kapan tepatnya getaran-getaran itu berawal. Ia menghela nafas sejenak dan kemudian segera melajukan mobil. Dengan kecepatan cukup tinggi tentunya.
Sementara Ify, ia mengambil ponselnya yang ia jatuhkan tadi setelah Rio tak lagi di depannya. Sama seperti Rio, ia terlihat menghela nafas tapi cukup lama dibanding pemuda itu. You are my savior! Ujar Ify dalam hati sambil memandangi ponsel malangnya.
***
06.00. Via sudah sampai di sekolah tepatnya sudah berada di dalam kelas. Sendirian! Tentu saja, ini masih terlalu pagi. Belum ada siswa yang terlihat menampakkan diri selain dirinya. Ia sengaja datang sepagi ini ya apalagi kalau bukan untuk menghindar dari siswa-siswa yang lain. Ia risih di ledek terus-terusan. Alhasil, tak ada teman, Via pun bosan juga. Ia berjalan keluar kelas dan menoleh ke kanan kiri. Ia kemudian memilih jalan ke arah kiri, ia hendak ke ruang musik. Mungkin kadar bosannya bisa berkurang disana.
Tak jauh beda dengan kelas, ruang musik sama sepinya. Ia berjalan santai memasuki ruangan itu dan kemudian menduduki salah satu kursi di tengah-tengah panggung, tepatnya kursi untuk vokalis. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Bersih! Itulah kesimpulan yang ia dapat. Via lalu mengeluarkan ipod di kantong roknya sembari memasangkan headset ke telinga. Ia membuat ipod itu memainkan lagu yang tak tahu kenapa ingin didengarnya. Adera – Lebih indah. Kepalanya bergerak ke kanan kiri mengikuti alunan lagu itu. Ia pun ikut bernyanyi ketika lagu itu mulai dimainkan.

saat ku tenggelam dalam sendu
waktupun enggan untuk berlalu
ku berjanji tuk menutup pintu hatiku
entah untuk siapapun itu

semakin ku lihat masa lalu
semakin hatiku tak menentu
tetapi satu sinar terangi jiwaku
saat ku melihat senyummu

dan kau hadir merubah segalanya
menjadi lebih indah
kau bawa cintaku setinggi angkasa
membuatku merasa sempurna

dan membuatku utuh tuk menjalani hidup
berdua denganmu selama-lamanya
kaulah yang terbaik untukku

kini ku ingin hentikan waktu
bila kau berada di dekatku
bunga cinta bermekaran dalam jiwaku
kan ku petik satu untukmu

dan kau hadir merubah segalanya
menjadi lebih indah
kau bawa cintaku setinggi angkasa
membuatku merasa sempurna
dan membuatku utuh tuk menjalani hidup
berdua denganmu selama-lamanya

“Kaulah yang terbaik untukku..” Via mengakhiri nyanyiannya sebelum lagu di ipodnya selesai. Tiba-tiba seseorang masuk dan bertepuk tangan. “Suara lo bagus! Nyanyi sekali lagi dong!” Puji orang itu sekaligus menyuruh Via menyanyikannya sekali lagi. Via kaget melihat orang itu. Orang yang notabenenya membuat ia datang sepagi ini. Orang itu langsung menduduki kursi di sebelahnya. “Ayo, nyanyikan sekali lagi!” Pintanya lagi.
Via mendengus lalu kemudian berdiri hendak beranjak pergi. Melihat itu, dengan cepat orang tadi menahan pergelangan Via dan membuat gadis itu duduk kembali. “IEL! Apaan sih lo? Gue mau pergi juga!” Sentak Via pada Iel, orang yang membuatnya tertahan. Ia hendak berdiri lagi tapi Iel kembali membuatnya diam di kursi. “Lo kenapa sih? Lo marah sama gue?” Iel hilang akal dan agak kesal melihat perubahan sikap Via beberapa hari ini padanya.
“Menurut EL?!” Jawab Via asal dan membuang muka. Cowok ini benar-benar tidak peka menurutnya. Masa sih ia tidak sadar juga dengan hampir seluruh siswa menyoraki dirinya saat lewat? Apa ia juga tidak ingat apa yang sudah ia lakukan pada Via waktu itu?
Sementara itu, Cakka tak sengaja lewat dan melihat sosok yang sudah sangat ia kenal ada di dalam sana. Ia mendapat ide jail. Ia menarik pintu ruang musik pelan-pelan dan kemudian menguncinya dari luar. Ia terkikik tanpa suara. Sekali-sekali mengerjai teman itu tak masalah lah. “Cakka? Lo nga..”
“Ssst!!” Cakka membekap mulut gadis yang melihatnya. Ia membawa gadis itu menjauh dari ruang musik.
Kembali pada Siviel. Via kembali berdiri dan kali ini Iel tidak menahannya. Ia berjalan turun dari panggung dan bergerak menuju pintu. “Eh jawab dulu pertanyaan gue!” Pekik Iel. Via tetap tidak mengindahkan pertanyaan Iel barusan membuat Iel garuk-garuk kepala bingung. Sampai di pintu, ia sedikit bingung dengan keadaan benda itu yang tertutup karena seingatnya tadi ia meninggalkan pintu ini dalam keadaan terbuka. Ia mencoba membukanya tetapi tidak bisa. Pasti terkunci dari luar! Pikirnya. Ia mencoba lagi dan hasilnya tetap sama.
Mati deh guee!! Teriaknya dalam hati.
***
Yaaa begitulah hasilnya. Silahkan caci maki saya karena ketidakjelasan cerbung ini haha. Next part mungkin gak ngaret karena libur panjang. Mungkin ya mungkin! :p
Jelek ya? Haha, saya tahu kok. Maklum saya bukan penulis. Maafkan ke gajean dan ketidakbagusan cerita, ini hanyalah fiksi belaka. Makasih =)