-->

Jumat, 04 Juli 2014

Matchmaking Part 29 (Siviel)

Siviel

I don’t wanna be the other girl, the one who never the only one the world, your mistress, your mattress, your selfish, your secret.

***

Via berjalan sendiri melewati koridor rumah sakit menuju kamar mamanya dirawat. Ia berbelok ketika sampai di penghujung. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti manakala melihat sesosok laki-laki cukup tinggi berjas hitam yang tengah berjalan tidak begitu jauh di depannya. Matanya sangat tidak asing akan laki-laki tersebut. Laki-laki yang ia pergoki beberapa hari lalu sedang hendak makan siang bersama perempuan lain yang tidak ia kenal. Laki-laki yang begitu melarangnya berdekatan dengan Gabriel. Siapa lagi kalau bukan Papanya.
Perlahan, kaki Via mulai melangkah kembali namun dengan lebih hati-hati. Ia ingin mencari tahu apa yang sedang papanya lakukan disini. Apa papanya ingin menjenguk mama? Atau ingin bertemu selingkuhannya lagi? Apa wanita yang kemarin itu keracunan atau terkena serangan jantung setelah mendengar ucapannya sehingga harus dilarikan ke rumah sakit? Amin deh kalo iya. Batinnya seraya tersenyum sinis.
Via lumayan kaget mengetahui papanya masuk ke dalam kamar inap mamanya. Itu artinya, papanya kemari bukan untuk bertemu selingkuhan, tapi benar-benar ingin menjenguk mamanya. Ia tanpa sadar menghela napas. Setelah pintu di tutup, Via berjalan cepat menyusul tapi tidak ikut masuk. Ia membuka pintu dengan sangat-sangat pelan agar tidak ada yang menyadari keberadaannya. Ia ingin tahu, apa yang orangtuanya bicarakan di dalam sana.

***

“Gimana kondisi kamu?” tanya Riza, papa Via. Nada suaranya datar sekali. Hampir tidak tertangkat sirat-sirat kepedulian di dalamnya. Hanya terdengar seperti basa-basi. Bahkan untuk sekedar basa-basi pun masih harus diuji kebenarannya.
Fira menghela napas lalu menoleh ke arah suaminya itu. “Apa ada masalah di rumah makanya mas sampe mau datang ke sini?”
Riza diam sesaat lalu menjawab dengan kembali bertanya. “Kapan kamu bisa keluar dari rumah sakit?”
“Mas gak perlu nanya hal yang mas gak pengen tau. Langsung aja bilang sama aku, apa yang ngebuat mas dateng ke sini?”
Riza diam lagi lalu mengalihkan pandangan seraya mendesah pelan. “Via udah ketemu sama Merry, dua hari yang lalu, di kantorku.”
Wajah Fira seketika menegang kaget dan panik. Ia tidak sanggup berkata apapun. Seperti ada yang baru saja memaku lidah dan mengunci bibirnya dengan sangat kuat. Riza lantas melanjutkan berbicara. “Kalian berdua ini...ck. Sejak dulu aku selalu bilang sama Via agar jangan pernah datang ke kantor. Tapi, dia tetap datang dan malah bikin kekacauan. Dia juga maki-maki Merry dan bilang yang enggak-enggak soal aku. Sampai-sampai Merry gak mau kutemui seminggu ini. Kalau saat itu sabarku habis, aku pasti akan..”
“Jangan coba-coba nyentuh anakku, atau aku akan membalas dua kali lipat dengan Merry dan anak kamu.” Sela Fira dengan nada dingin tanpa menatap Riza. Riza menatapnya aneh sambil menaikkan alis lalu mendesah. Keduanya sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing.
“Kamu yang menciptakan lembah kesakitan kamu sendiri. Jangan pernah menyalahkanku atas semua yang sudah terjadi. Kalau saja dulu—”
“Jika gak ada lagi hal penting yang mau kamu sampaikan, kamu bisa pergi. Aku perlu istirahat.” Fira kembali menyela. Riza sekali lagi mendesah lalu memasang tampang datarnya seperti biasa. Ia berbalik dan memutuskan pergi tanpa mengucapkan apapun. Karena memang begitulah yang biasanya ia lakukan ketika hanya ada mereka berdua. Tapi tiba-tiba ia teringat satu hal lagi yang belum ia sampaikan. Ia berhenti sebentar tanpa berbalik badan.
“Via udah dua hari gak pulang. Aku gatau dia dimana, hapenya gak aktif.”
***
Via berdiri terpekur memandang pintu kamar rumah sakit di hadapannya. Kamar yang di tempati mamanya hingga sembuh nanti. Rasanya ia ingin menangis tapi entah kenapa air mata itu tak kunjung menangis. Hanya dadanya saja yang sesak menahan segala perasaan yang berkecamuk di dalamnya. Baru dua hari lalu ia mengetahui papanya berselingkuh lalu sekarang ia kembali mendengar sesuatu yang mungkin coba disembunyikan oleh papa bahkan mamanya.
Jadi nama selingkuhan papa itu Merry? Dan mama udah tau? Kenapa mama gak pernah bilang apa-apa? Kenapa mama gak ngelakuin apa-apa? Terus, maksud mama bilang ‘merry dan anak kamu’ itu apa? Apa ‘anak kamu’ itu gue? Tapi, gak mungkin. Di awal mama juga nyebut ‘anakku’. Apa jangan-jangan itu anak papa sama si merry-merry itu? Ck..sebenernya ‘anakku’ dan ‘anak kamu’ itu siapa, sih?
Tuk..tuk..
Suara ketukan sepatu pada lantai sejenak merenggut Via dari lamunannya. Via terkesiap tahu Papanya berjalan mendekat ke arah pintu. Ia langsung berlari menjauh dan bersembunyi hingga raga papanya keluar dan pergi. Ia menatap lekat-lekat papanya hingga sosoknya menghilang di penghujung koridor. Ia lantas berjalan kembali ke depan pintu kamar inap mamanya dan berdiri bimbang. Pasti mamanya sekarang lelah sekali setelah bertemu papanya. Tidak ada gunanya kalau ia masuk. Mamanya pasti butuh istirahat yang banyak. Apalagi mamanya juga sedang sakit. Mana gue ga bawa apa-apa lagi. Besok aja kali ya gue jenguk mama? Pikirnya.
Via menggigit jarinya sambil menimang-nimang. Memikirkan ia pulang saja sekarang mendadak membuat hatinya tak tenang. Entah kenapa ia merasa mamanya membutuhkannya. Lagipula, saat mamanya stres begini, tidak mungkin ia meninggalkannya begitu saja, kan? Ia harusnya datang menenangkan bukan malah membiarkan mamanya seorang diri.
“Perasaan tiap gue dateng lo lagi bengooong mulu,”
Via yang agak merunduk menatap sepasang kaki berbalut jeans dan sepatu yang tiba-tiba sudah ada di sampingnya. Hingga kemudian ia berjengkit kaget mengetahui wajah orang tersebut mirip dengan Gabriel alias memang itu adalah Gabriel. Matanya menjadi lebih lebar meski tidak lebar-lebar benar.
“Lo?!” katanya dengan suara tertahan. Kenapa harus bertemu dengan pemuda ini sekarang, sih? Via mendesah frustasi sambil memalingkan wajah. “Ngapain lo kesini?”
Gabriel mengeryit lalu mengangkat bungkusan plastik di tangannya. “Mau jenguk mama lo. Sekalian pengen ketemu sama lo. Hehe.”
“Mau apa lo jenguk mama gue? Naksir lo?” balas Via judes.
“Naksir? Naksir..kalo sama lo sih iya.”
Via langsung menoleh ke arah Gabriel seraya mendelik lalu mendengus. Kenapa ni orang masih berani gombalin gue? Makin jadi malah. Jelas-jelas kemaren dia udah ketauan jalan berdua sama prissy. Atau jangan-jangan dia beneran gak ngeliat gue?
Via merasa tubuhnya tertarik maju. Ia baru sadar kalau Gabriel sudah menggandengnya dan membawanya masuk ke dalam kamar inap mamanya. Ia lantas menyentak tangannya hingga terlepas dari genggaman Gabriel dan menatap pemuda itu meminta penjelasan mengenai apa yang baru saja dilakukannya. Gabriel balas nyengir tanpa rasa takut ataupun bersalah. “Lo ngelamun mulu, sih. Yaudah, gue ajak masuk aja.”
“Via?” Via yang ingin membalas langsung mengatup mulutnya ketika mendengar suara Fira. Ia berjalan mendekati ranjang dan duduk di tepian sementara Gabriel berdiri sekitar satu meter di sampingnya.
“Mama apa kabar?” tanya Via sambil menepuk-nepuk kaki Fira yang terbungkus selimut. Bukannya menjawab, Fira malah menatapnya khawatir. “Papa bilang kamu udah gak pulang dua hari. Hape kamu juga mati pas coba di telfon. Kamu kemana aja, Via? Kamu gak pergi ke tempat yang ‘macem-macem’ kan? Atau jangan-jangan kamu diculik?!”
Via sontak tertawa geli melihat Fira yang panik setengah mati. “Via nginep di rumah Ify kok, Ma. Gak kemana-mana.”
Fira mendesah lega  mendengar jawabannya lalu kemudian mengelus-ngelus kepalanya dengan lembut. “Kamu tuh, bikin mama khawatir aja. Mama gak tenang mikirin kamu terus tau!”
“Yee..siapa suruh mikirin Via? Orang Via gak kenapa-kenapa.” cibir Via lalu tersenyum.
“Ini Gabriel yang pernah dateng ke rumah itu, kan?” alih Fira seraya memandang Gabriel. Gabriel tersenyum sambil menganggukkan kepala.
“Iya, Ma.”
“Iya, Tan.” Jawab Gabriel dan Via bersamaan. Keduanya, atau mungkin ketiganya sontak berpandangan. Via mendelik sementara Gabriel mengerutkan kening bingung.
“Kalian udah pacaran ya?” tanya Fira polos.
“Enggak, kok!” ujar Via dan Gabriel kembali. Fira lantas tertawa geli. “Belum aja sih sebenernya, Tan. Tapi Tante ngerestuin, kan?” Sambung Gabriel yang sukses membuat Via gondok. Apa-apaan berkata seperti itu di depan mamanya? Pikirnya.
“Dia tuh orang gila, Ma. Dia gak lagi nanya mama kok. Dia emang suka ngomong sendiri. Jangan diladenin.” Dumel Via asal sambil mengibas tangannya di depan wajahnya.
“Iel orangnya penyabar kok, Tan. Tenang aja.” balas Gabriel dengan santai. Via langsung melakukan gerakan seperti orang yang ingin muntah.
Fira tertawa lagi sambil geleng-geleng kepala. “Tante ngerestuin, kok. Asal kamu bisa jaga anak Tante aja.”
“Apaan, sih, Ma?! Lo juga!” sela Via galak. Ia kemudian turun dari ranjang dan duduk di kursi. “Nah! Sekarang waktunya mama tidur!”
“Tapi mama kan gak ngantuk, Vi?”
“Mama tuh lagi butuh banyak istirahat. Daripada ngomongnya makin ngaco gara-gara dia. Via nyanyiin lagu boyband jadul kesukaan mama, deh. Haha. Udah lama juga Via gak nyanyiin mama, kan? Terakhir kapan ya?”
Fira tersenyum hangat pada Via sambil mengelus kepalanya untuk terakhir kali sebelum ia menutup matanya untuk tidur sesuai permintaan anaknya itu. “Yaudah, mama tidur nih ya?”
“Nah, gitu dong!” seru Via semangat. Ia menarik napas lalu mulai bernyanyi sambil menggenggam tangan Fira dan tersenyum memandang wajah cantik yang belum termakan usia milik mamanya itu.

Hello, let me know if you hear me
Hello, if you want to be near
Let me now and I’ll never let you go
Hey love, when you ask what I feel I say love
When you ask how i know I say trust
And if that’s not enough
It’s every little thing you do
That makes me fall in love with you
There isn’t a way that I can show you
Ever since I’ve come to know you
It’s every little thing you say
That makes me wanna feel this way
There’s not a thing that I can point to
‘Cause it’s every little thing you do

(Westlife – Every Little Thing You Do) *miminnya jadul abissss! Tadinya mau masukin lagu ost zorro malah huahaha.-. Meski emang cocok kan kalo ceritanya lagu paporit emak2(?) Tapi dua lagu itu enak bgt suer deh. Liriknya itu looooh-.-*

***

Via berdiri diam sambil menunggu Gabriel menutup pintu lalu menatap pemuda itu. Gabriel ikut-ikutan diam menunggunya bicara. “Ngapain lo kesini?”
“Tadi kan udah gue bilang mau jenguk mama lo sama ketemu sama lo.”
“Buat apa ketemu sama gue?”
“Kangen.” Jawab Gabriel sambil tersenyum polos. Via melongo dengan mulut menganga. Ia terkesiap lalu segera mengatup mulutnya. “Lo serius sekali aja bisa gak?” serahnya seraya geleng-geleng kepala.
Gabriel tiba-tiba mendekatkan wajahnya sehingga Via harus berjengit mundur. “Emang mata gue gak bilang sama lo kalo gue serius?”
Via mengernyit lalu mendorong tubuh Gabriel menjauh darinya dengan kesal. “Ya mana gue tau. Mata kan buat ngeliat bukan buat ngomong.”
Gabriel mengelus-ngelus dagunya dengan telunjuk dengan tampang berpikir. “Tapi katanya ‘mata bisa bicara’? Berarti itu bohong ya?”
Via melongo sekali lagi lalu mencibir tak habis pikir. “Gak penting banget sih lo.” Ia hendak melengos pergi tapi kemudian Gabriel menahan tangannya. Ia lantas menyentak tangannya ia terlepas dari genggaman pemuda itu lalu menatapnya sebal. “Gak usah pake pegang-pegang.” Ujarnya tanpa menatap Gabriel.
Gabriel mengernyit heran kenapa Via seperti bersikap memusuhinya. “Lo kenapa, sih? Lagi dapet ya?”
Via diam berpikir. Masa harus gue bilang ‘gue kesel karena lo jalan berduaan sama Pricilla!’? Dia pasti nyangkanya gue cemburu. Padahal kan...iya. Aiss!!
“Kan, lo bengong lagi kan? Lo kenapa, Vi? Sakit? Gak enak badan?” tanya Gabriel yang sedikit cemas sambil meraba kening Via. Via berjengit lalu menangkis tangan Gabriel dari keningnya.
“Gak usah pegang-pegang kan gue bilang tadi?” ulang Via. Ia mendengus pelan lalu menatap Gabriel serius. Gabriel pun menatapnya sama seriusnya, lebih ke mencari tahu sesuatu dalam matanya, mencari tahu apa yang terjadi padanya dan apa yang sedang ia rasakan saat ini. Via lantas memalingkan wajahnya takut. Pikiran dan perasaannya begitu kacau karena perdebatan orangtuanya. Dan ia tidak ingin Gabriel semakin mengacaukan hari ini untuknya. Ia lantas mendesah lelah lalu menunduk sambil menulis-nulis di lantai dengan satu kakinya mencari kegiatan agar ia tidak terlihat begitu gugup.
“Ini hari terakhir kita berdua kek gini..”
Gabriel diam sesaat lalu bertanya tak mengerti. “Maksud lo?”
Kaki Via berhenti lalu kembali bergerak ke kanan kiri. “Gue rasa kita ga perlu deh ketemu berdua lagi, ngobrol atau apapun yang dilakuin cuma berdua. Lo pasti ngerti maksud gue, kan? Jadi, kalo ada yang pengen lo omongin, omongin sekarang. Ada yang belum lo selesein, selesein sekarang. Gue juga berhenti jadi pacar pura-pura lo karena lo udah gabutuh itu lagi, iya kan? Dan mulai besok serta seterusnya, gue gak mau ada kontak apapun lagi antara kita berdua kalo emang ga dibutuhkan.” Via tanpa sadar menghela napas setelah selesai berbicara.
Rasanya sangat tidak rela membuat jarak antara dirinya dan Gabriel. Apalagi akhir-akhir ini sikap Gabriel mulai berubah padanya. Gabriel juga sudah menjadi orang yang benar-benar ia butuhkan di tengah permasalahannya dengan mama apalagi papanya. Tapi, memang ia harus melakukan apa yang ia lakukan saat ini. Melihat Gabriel dan Pricilla kemarin sudah sangat menjelaskan padanya kalau Gabriel tidak benar-benar berubah. Gabriel tetaplah Gabriel. Playboy, perayu ulung, tidak pernah serius, dan hanya memikirkan kesenangannya sendiri. Dan ia tidak ingin menjadi bagian ‘kesenangan’ pemuda itu selagi perasaannya juga belum tumbuh-tumbuh benar.
Atau mungkin semua ini hanyalah kesalahannya. Kesalahannya menganggap semua perlakuan Gabriel itu berlebihan. Jelas-jelas Gabriel bilang kemarin kalau pemuda itu menganggapnya sebagai adiknya, kan? Ya, berarti memang salahnya. Bukan Gabriel.
“Alasannya?” tanya Gabriel setelah cukup lama diam dan membiarkan Via termenung memikirkannya. Via terkesiap kebingungan. Ini adalah pertanyaan yang paling ia benci karena ia tidak tahu harus menjawab apa.
“Ya..hh..” Via mendesah frustasi. Apa ia bilang yang sejujurnya saja? Lagipula, setelah ini mereka kan tidak akan ‘bertemu’ dan berbicara seperti ini lagi. “Ga masalah kalo lo bakal ngetawain gue atau nganggep gue gimana. Tapi..”
Gabriel menatapnya lekat menanti kelanjutan bicaranya. Via lantas meringis. “Gue takut jatuh cinta sama lo. Gue...” gantungnya sambil menarik napas. Sementara Gabriel diam dengan pandangan menerka-nerka.
“Gue lagi banyak masalah akhir-akhir ini..it’s a bad big problem, you know? Dan gue gak mau..nambah masalah dengan perasaan gue nantinya sama lo. Biar gimanapun gue ini tetep cewek, Yel. Yang pastilah akan ngerasa tersanjung kalo lo terus-terusan baik dan ehm..perhatian sama gue. Meskipun lo udah bilang kalo elo cuma nganggep gue kayak adek lo sendiri. Gue tetep takut kalo sampe menyalah-artikan itu semua. Gue juga gamau bikin gak nyaman baik itu untuk lo ataupun gue sendiri. Gue gamau stres mikirin perasaan yang bertepuk sebelah tangan. Udah terlalu banyak hal yang bikin gue stres dan....OMG, I’m just sixteen! Gue....gue gak mau gila, Yel! Gue gak mau gila! Hhh...” Via mendengus sambil memijat-mijat keningnya dengan satu tangan yang lagi memegang pinggangnya. Jangan-jangan ia bahkan sudah gila sekarang, ckck.
“Kalo gue bilang gue bisa bales perasaan lo, gimana?” tanya Gabriel tersenyum sambil menaikkan sebelah alisnya. Via meliriknya dengan pandangan ‘Pilih cobek atau blender?’.
“Gue bahkan baru ngeluh soal lo yang gak pernah serius, Yel. Ckck...seharusnya gue langsung pulang aja daritadi.” Balasnya seraya geleng-geleng kepala. Ia hendak melengos lagi namun Gabriel kembali menahannya dengan menghalau jalannya tanpa menyentuhnya. Yah, setidaknya pemuda itu mendengarkan ucapannya yang satu itu.
“Yang kemaren di lift itu lo ya? Lo kayak gini karena itu, kan?” tanya Gabriel yang kembali memandangnya serius.
“Iya...enggak..hah tuh kan, gue udah mulai ngaco..” ringis Via sambil menutup mukanya lalu mengusap kepalanya.
Gabriel menghela napas lalu kemudian memegang bahu Via. Via mendelik protes tapi ia seperti tidak peduli. Matanya mendesak Via untuk diam dan mendengarkannya saja dengan baik. “Jadi gini ya Vi, gue mohon lo jangan salah paham soal gue dan Pricilla. Gue cuma lagi punya urusan yang penting banget sama dia. Gue gak bisa cerita sekarang karena gue belum punya apa-apa buat diceritain. Gue juga yakin lo pun belum siap dengernya sekarang, apalagi ceritanya belum lengkap. Nanti kalo semuanya udah kebuka, gue pasti bakal bilang sejujurnya, selengkap-lengkapnya tanpa disingkat-singkat. Tapi percaya deh, nantinya lo bakal seneng.”
Tapi gue juga gatau Vi lo bakal seneng atau enggak. Tapi setidaknya...lo bakal tau apa yang sebenarnya terjadi.
“Kok gue?” tanya Via bingung. Gabriel diam lalu tersenyum miris. “Karena emang yang gue lakuin berkaitan sama lo.”

***

Setelah tiba-tiba muncul di depan rumah Ify untuk mengajaknya berangkat sekolah bersama, Gabriel juga menawarkan diri untuk mengantarkan Via pulang. Meski sudah mencoba menolak dengan alasan ingin menemani mamanya di rumah sakit, Gabriel tetap memaksa malah bilang ingin ikut menemani mamanya. Jadi mau tak mau Via pun akhirnya mengiyakan permintaan pemuda itu.
Tapi masalahnya sekarang, Gabriel bukan langsung mengantarnya pulang malah mengajaknya ke pantai. Katanya ia butuh refreshing makanya dibawanya kemari. Iya, sih, tapi bisa tidak jangan dengan pakaian seragam sekolah lengkap dengan kaos kaki dan sepatu seperti ini juga. Tahu tidak kalau di pantai itu panas. Kakinya bisa matang karena dibungkus dan dipanggang oleh sinar matahari.
“Ah, dimasukin pasir kan?!” pekik Via sambil memandang sepatu dan pasir yang diinjaknnya dengan kesal. Gabriel yang melihatnya hanya tertawa geli. Ia lalu berjongkok di depan Via sambil memegang sepatu gadis itu lalu menatapnya.
“Angkat!” katanya sambil menepuk kaki kanan Via. Via mengernyit bingung tapi tetap melakukan apa yang pemuda itu perintahkan. Gabriel lantas membuka sepatu Via berikut kaos kakinya setelah menggoyang-goyangkan sepatu tersebut agar pasirnya keluar. Via membelalak tak percaya tapi kemudian meringis sambil menggigit bibirnya. “Kaos kaki gue kan jorok, Yel. Bau lagi!”
Namun sepertinya, Gabriel tidak mendengarnya malah menyuruhnya diam. Pemuda itu juga memasukkan kaos kakinya ke dalam sepatunya tanpa ada tampang jijik sedikitpun. Tidak hanya satu, tapi juga untuk yang satunya lagi. Gabriel kemudian berdiri sambil menenteng kedua sepatunya.
“Kalo kek gini sepatu lo gabakal dimasukin pasir lagi. Nah, lo tunggu disini, gue mau narok ini di situ dulu. Sekalian sepatu gue juga.” Ujarnya sambil menunjuk pohon kelapa yang ada beberapa meter di belakang mereka. Tanpa menunggu Via menjawab bahkan sekedar mengangguk, Gabriel langsung pergi begitu saja menaruh sepatu. Via lantas tersenyum tanpa bisa ditahan lalu geleng-geleng kepala. Ia lantas memilih duduk sambil memandang lautan berombak di hadapannya tanpa peduli seragamnya akan kotor.
Gabriel tak lama kembali dan ikut duduk di sampingnya sambil menekuk dan memeluk lutut. Via tiba-tiba menengadahkan tangan ke arahnya. “Sini tangan lo!” pinta gadis itu tanpa memandang ke arahnya. Ia mengernyit bingung. Via lantas menoleh ke arahnya lalu meraih tangannya tanpa meminta izin lagi. Sesaat gadis itu mendekatkan tangannya ke wajahnya lalu mengendus-ngendus. Tapi kemudian Via berjengit dengan tampang jijik.
“Tuh, kan, kaos kaki gue bau.” Gumamnya. Via lalu mengelap telapak tangan Gabriel menggunakan sisi roknya yang terjuntai. Kebetulan ia memakai rok panjang. “Hah, hah!” Via menghembus uap mulutnya ke telapak Gabriel layaknya telapak tangan tersebut adalah kacamata lalu mengelapnya lagi. Gabriel untuk kedua kalinya tertawa.
“Napas lo emangnya gak bau?” tanyanya seraya tersenyum geli. Via berjengit seolah baru sadar. Ia lantas mengecek aroma napasnya lalu tersenyum ke arah Gabriel. “Enggak, kok.” Katanya lalu mengembalikan tangan Gabriel ke posisi semula setelah selesai dilap. Ia kemudian mendesah sambil memandang laut kembali. Gabriel meluruskan kakinya lalu menumpu tubuh dengan tangannya.
“Yel, orang yang dingin sama orang terdekatnya, misalnya keluarganya gitu, itu kenapa sih? Apa karena efek introver seseorang itu?”
“Gue gak terlalu tau juga. Tapi, menurut gue sih, antara bersikap dingin sama introver itu beda. Orang yang bersikap dingin biasanya punya semacam traumatik yang akhirnya ngebuat dia jadi dingin. Kalo introver itu gue rasa emang sifat alami orang. Bukan disebabkan ini itu, tapi emang dia nyamannya kayak gitu. Sama kayak selera. Cewek suka musik lembut sementara cowok suka musik keras. Gaada hal pasti yang bikin kita suka atau gak suka, tapi kita suka atau gak suka aja. Menurut pandangan gue loh ya!”
“Oh..gitu..” gumam Via sambil mengangguk-anggukkan kepala pelan. Gabriel lantas menoleh ke arahnya. “Is there something you want to share?” Gabriel menegakkan tubuhnya sambil menepuk-nepuk tangannya membersihkan dari pasir yang menempel lalu bersedekap.
“Lo pernah gak ngerasa pengen benci seseorang tapi gak bisa? Tapi pengen suka juga gak bisa?”
“Belum, sih. Emangnya lo gak bisa benci dan gak bisa suka sama siapa?”
“Papa gue.” Sesaat Gabriel terdiam, sedikit kaget lalu kemudian menetralisir ekspresi di wajahnya menjadi normal kembali. “I’ve been wondering how the feeling of having a father, the real father.” Sambung Via.
“Maksudnya?”
“Bokap benci sama gue, kayaknya. Makanya dingin. Bayangin, senyum yang bener-bener senyum aja ga pernah.”
Gabriel mengepal tangannya mengalirkan emosi yang hendak muncul di wajahnya. Dari sela-sela tangannya keluar pasir-pasir yang tak sengaja tergenggam. Ia menghela napas singkat lalu menatap lurus ke depan. “Lo pernah tau atau nanya alasan bokap lo bisa sampe kayak gitu?”
“Nanya? Sama papa? Gak, gue gak pernah berani. Kalo sama mama sih sering. Tapi mama selalu nyuruh gue sabar dan ngerti kalo papa emang kayak gitu sifatnya. Tapi, gue rasa bukan. Ada hal lain yang disembunyiin dari gue. Apalagi gue sekarang udah tau kalo papa udah lama selingkuh dan mama sebelumnya udah tau tapi gak ngasih tau gue tapi juga gak berbuat apa-apa. Hfff...gue bingung sama mama, papa dan semuanya!” Via mengacak-acak rambutnya lalu menumpu keningnya di atas lutut.
Gabriel merasa makin emosi sekaligus kasihan melihat Via seperti itu. dalam hatinya ingin sekali ia berteriak memberitahu semuanya pada Via. Tapi ia sadar sekarang bukanlah saat yang tepat.
Sabar ya, Vi. Kalo udah waktunya nanti gue bakal bilang semuanya sama lo dan semoga lo bakal lega.
“Mungkin mama lo gamau nyakitin elo dan gamau nyakitin dirinya sendiri makanya dia ga ngasih tau lo. Saran gue, lo jangan pernah nanya. Lo harus sabar nunggu dan ngerti sampe dia siap ngomong. Karena ngomong masalah penghianatan itu bukan hal gampang, Vi. Tau aja pasti udah sakit banget, apalagi ngomonginnya. Lo boleh brengsek, asal lo belum jadi laki orang. Kita menikah tandanya kita udah bener-bener memilih seseorang yang akan mendampingi kita seumur hidup dan gaboleh ada yang lain lagi. Kita berjanji di depan Tuhan. Karena itu, Tuhan juga bakal marah kalo kita ngejalaninnya asal-asalan. Termasuk mengisinya dengan perselingkuhan. Menurut gue, sih.” *jadikanakuistrimuyel(?????)*
Via menyimak baik-baik sambil menatap Gabriel tanpa berkedip. Aura Gabriel terlihat begitu tenang ketika berbicara, begitu dewasa, dan begitu bijaksana. Tetap terasa serius meskipun Gabriel berbicara dengan santai. Via lantas mendecak kagum sekaligus bingung di dalam hati.
“Jadi sekarang...lo brengsek dong, Yel?” tanyanya polos. Gabriel melongo takjub memandangnya. “Sepanjang itu gue ngomong lo cuma merhatiin yang itu, Vi?”
Via tertawa lalu mendadak terdiam. Ia menarik napas lalu menghembusnya pelan. “Lo jangan bikin gue benci laki-laki ya, Yel?” pintanya sambil menunduk dan menulis-nulis di atas pasir. Gabriel mengernyit tak mengerti. “Maksudnya?”
“Dengan lo yang kekeuh deket-deket sama gue, tandanya lo udah siap nerima dan ngebales perasaan gue kalo sampe gue jatuh cinta sama lo. Tapi, kalo kemaren itu lo cuma khilaf, yaudah gue ulang sekali lagi sama lo. Kalo lo ga siap, lo boleh tinggalin gue sekarang dan jangan pernah nolehin kepala lo lagi ke gue. Tapi, kalo lo tetep ga berubah pikiran, jangan nyesel. Dan inget ya, gue gak nerima penolakan.” Via menatap Gabriel sekilas lalu menatap pasir di dekat kakinya.
Gabriel tersenyum seraya terkekeh kecil. “Pertanyaan lo dari dulu itu mulu. Takut jatuh cinta sama gue mulu. Jangan-jangan lo udah jatuh cinta ya sama gue?” todong Gabriel seraya mendekatkan wajahnya ke samping wajah Via yang menunduk. Via hanya mendengus malas. Meski dalam hati ia menjawab dengan lantang. Daridulu kali, Yel! Modus doang gue mah hahaha!
“Serah lo, deh.”
Gabriel lalu mengacak-acak rambut Via pelan masih dengan senyum menawannya. “Tenang aja kali, Vi. Gue jamin lo gak akan pernah nangis karena gue. I’ll make you happy!”
Tangan Via berhenti sesaat. Ia mengernyit memikirkan kata-kata Gabriel itu. Itu maksudnya apa ya?

***

Via memandang isi di dalam rumah yang baru dimasukinya. Sebuah rumah bergaya jepang yang merupakan rumah kedua orangtua ibunya alias nenek dan kakeknya dulu, tapi sudah lama tidak ditempati meski tetap terawat dan sekarang akan ditempati olehnya dan mamanya, dan mungkin juga papanya. Ia berdiri bingung di depan pintu masih bertanya-tanya alasan kenapa mereka harus pindah kemari. Rumah mereka kan tidak terkena banjir ataupun gempa. Masih sangat-sangat bagus dan layak huni. Kenapa harus pindah?
Tiba-tiba ia merasakan sentuhan pada bahunya. Ia sontak menoleh dan mendapati Fira tengah tersenyum kepadanya. Wanita itu sehabis keluar dari rumah sakit keesokan harinya langsung membawanya kemari. Ia lantas mendengus sebal. “Senyum mama itu gak menjawab pertanyaan Via soal kenapa kita pindah kesini.”
Fira tertawa kecil lalu mengajak Via duduk di sofa. Via yang meski enggan namun pada akhirnya menurut. Mereka lantas duduk berhadapan satu sama lain.
“Jadi?” tanya Via sudah tidak sabar. Fira menarik napas singkat lalu menghembusnya cepat. “Kebetulan mama ada kerjaan di daerah sini. Jadi biar mama ga ribet bolak-balik, apalagi mama belum fit banget, makanya untuk sementara kita pindah ke sini. Kenapa mama ajak kamu? Karena mama ga tega tinggal di sini sendiri dan ninggalin kamu di sana sendiri juga. Mungkin kita di sini bakal lama. Papa gabisa ikut alasannya sama kayak mama. Dia di sana juga punya kerjaan. Tapi, seminggu sekali papa bakal nginep di sini.”
Mendengar kata ‘papa’ meluncur dari mulut Fira lantas membuat Via jengkel sendiri. Ia spontan menyeletuk. “Papa ada atau enggak juga gak ada bedanya.”
Fira sesaat tertegun tapi kemudian berusaha bersikap normal dan pura-pura tidak mendengar jelas apa yang baru saja anaknya itu katakan. “Kamu ngomong apa?”
Via terkesiap lalu cepat-cepat menggelengkan kepala. “Enggak, gak ada.” Elaknya. Setelah itu, mereka sama-sama diam. Entah berapa lama kemudian Via akhirnya buka suara kembali.
“Ma?” Fira memandangnya bingung sambil bertanya. “Kenapa, Sayang?”
Via mengulum bibir seraya menimang-nimang lalu kemudian memutuskan balik bertanya. “Apa selama ini ada yang mama atau papa atau mama-papa sembunyiin dari Via?”
Sekali lagi Fira tampak tertegun. Ia langsung memalingkan pandangan dan berubah menjadi agak gugup. “Kenapa kamu tiba-tiba nanya gitu? Ya jelas ga ada lah, Sayang. Emang keliatannya kayak ada yang disembunyiin?”
Via menatap Fira curiga. Ia ingin bertanya kenapa mamanya tidak juga memberitahu soal selingkuhan papanya. Tapi tiba-tiba, wajah dan ucapan Gabriel kemarin terngiang-ngiang di kepalanya. Membuatnya menjadi tidak tega untuk melanjutkan bertanya. Ia mendesah pelan sambil memandang Fira lama dan dibalas tatapan bingung atau mungkin was-was dari Fira padanya. Ia berdiri lalu berjalan hingga sampai dan duduk tepat di sebelah wanita itu. Ia lantas memeluk Fira erat.
“Kamu kenapa, Sayang? Ada masalah di sekolah? Nilai kamu turun? Ga usah khawatir, Via. Mama ga akan pernah marah soal itu.” ujar Fira dengan nada cemas sekali. Via menggeleng pelan di dalam lekukan leher dan bahunya.
“Ma...kita kayaknya udah sama-sama lupa deh...kalo kita masing-masing saling punya, mama punya aku, aku punya mama...” Ujar Via lembut seraya menutup mata. Jantung Fira mencelos dan hatinya nyilu mendengar apa yang barusan Via ucapkan. Dadanya terasa sesak dan ia mungkin sudah hampir tidak akan sanggup menahan air matanya agar tidak keluar sedikit apalagi banyak.
“Bagi sakitnya sama Via, Ma. Via mau kok. Gak cuma sakit, apapun yang kerasa di hati mama bagi semuanya sama Via. Kita udah telalu lama nutup mata, telinga, hati..semuanya. Berpura-pura ga tau apa yang terjadi padahal kita tau. Via udah capek Ma nyimpen semuanya sendiri. Dan Via tau kalo mama juga udah capek, kan? Toh masalahnya sama, kenapa ga kita coba atasin sama-sama.”
Lidah Fira terasa kelu. Hatinya semakin terasa disayat-sayat. Mungkin ini memang puncak kesabaran mereka berdua dan mereka sudah benar-benar sampai di titik paling akhir, yaitu titik lelah. Dan mereka harus mulai beranjak pergi jika mereka tidak ingin terus-terusan lelah hingga mati. Sudah saatnya mereka berpaling dan pergi meninggalkan hal-hal yang hanya akan membuat mereka makin sakit. Mencapai puncak lain, yakni kedamaian. Tidak perlu terburu-buru mencari bahagia. Bahagia itu masih muluk-muluk. Cukup damai saja. Seperti saat ini ketika mereka sedang mencoba berdamai dengan sikap masing-masing.
“Iya, Sayang. Makasih banyak ya. Mama sayang Via.” Balas Fira setelah cukup lama diam. Pipinya sudah lebih dulu kebanjiran tanpa bisa dibendung lagi. Dinding penghalang sudah benar-benar runtuh berikut dinding penahan perasaannya. Via meregangkan sedikit jarak antara dirinya dan Fira. Ia tersenyum geli.
“Mama cengengnya dari dulu gak pernah berubah. Langsung banjiiirrr...” ledeknya tanpa sadar diri kalau ia juga menitikkan air mata. Meski memang tidak sebanyak Fira.
Fira tersenyum kecut sambil memandang Via. “Mama gak tau apa jadinya kalo gaada kamu, Sayang.” Katanya seraya menangis lagi. Via mengusap kedua pipinya dari rembesan air mata lalu menciumnya kilat.
“Udah, ah! Liat tuh, kantong mata mama udah item-item karena celaknya keusep trus kena air mata!” Saat itu juga Fira terlonjak dan kembali menjadi ‘dirinya’ yang biasanya. Wanita itu terkesiap panik dan langsung mengambil kaca untuk memeriksa mukanya. Lalu kemudian, ia mengomel panik.
Melihat itu, Via lantas hanya geleng-geleng kepala heran. Selain cengeng, kebiasaan mamanya yang lain adalah paling heboh kalau make upnya berantakan. Bukan karena Fira tipe wanita centil atau terlalu peduli pada penampilan, tapi justru karena Fira tidak pandai merias wajah. Butuh waktu lama kalau ia yang mengerjakan sendiri hingga selesai. Makanya, ia selalu menjaga agar riasannya awet. Akan repot sekali kalau make upnya berantakan. Apalagi kalau dia harus bertemu banyak tamu penting. Dan itulah yang kini terjadi.
Via lagi-lagi tersenyum geli. Mungkin sedikit banyak, ia mirip dengan mamanya. Dan ia sangat mensyukuri hal itu. I love her.
***
Jadwal Gabriel hari ini adalah jadwal yang sangat ia benci. Dimana ia harus menghabiskan waktu bersama keluarga Pricilla, gadis yang menjabat entah sebagai siapanya itu. Mungkin bisa dibilang pacar pura-pura. Pricilla pasti merasa di atas angin karena dirinya yang beberapa hari lalu mengajak gadis itu untuk memulai hubungan kembali. Kalau saja bukan untuk Via, ia tidak akan mau mengemisi gadis sombong dan pendusta seperti Pricilla. Ya, memang sama persis lah seperti papanya.
Dan di sinilah ia sekarang. Terjebak di tengah-tengah Pricilla dan kedua orangtuanya. Ia makan dalam diam sambil sesekali memandangi keluarga tersebut dengan beribu-ribu rasa dongkol di dalam hati. Rasanya ia ingin meninju wajah tak tahu malu dari laki-laki yang duduk persis di depannya. Wajah Papa Pricilla..wajah Riza..wajah Papa Via.
Melihat Pricilla yang begitu bahagia bisa bermanja-manja dengan sang Papa tanpa tersirat sedikitpun bekas kesedihan dalam binar matanya, lalu melihat Riza dengan tatapan begitu mencintai dua sosok perempuan di kanan dan kirinya, semakin membuat hatinya panas. Mungkin kalau ada yang memanggang daging di atas dadanya maka daging itu akan langsung gosong. Bagaimana mungkin Riza bisa bersikap dingin pada Via sementara ia begitu hangat pada Pricilla? Bagaimana mungkin Riza bisa lebih menyayangi selingkuhan daripada keluarga sah nya sendiri? Ia benar-benar tidak habis pikir mengapa sampai Tuhan mau menciptakan laki-laki seperti ini.
Inilah yang dulu membuatnya selalu tidak percaya cinta. Semua perselingkuhan membutakan hati dan pikirannya kalau cinta sejati itu cuma salah satu kata-kata manis dalam puisi, novel ataupun karya tulis yang lain. Cuma sekedar hiburan dalam film. Karena memang menahan godaan itu teramat susah. Apalagi dengan fakta jumlah perempuan melebihi laki-laki. Semakin menanamkan prinsipnya itu dalam-dalam.
Tapi kemudian, seseorang berhasil menemukan kunci hatinya kembali dan akhirnya mampu membuatnya bisa percaya pada cinta lagi. Seorang gadis yang memotivasinya agar tidak ikut menjadi orang seperti Riza dan berubah menjadi laki-laki yang baik untuk bisa membuatnya bahagia. Perselingkuhan yang dilakukan Riza pun justru ikut melunturkan ketidakpercayaan dalam hatinya. Derita tertahan oleh wanita-wanita akibat perbuatan itu membuatnya terenyuh. Sekali lagi memotivasi dirinya agar tidak ikut menjadikannya sama dengan para ‘Shitty Man’ kalau ia menyebutnya.
“Kamu kok diem aja, Yel?” suara Merry tiba-tiba merasuki jaringan dalam kepala dan telinganya. Gabriel berjengit lalu berusaha bersikap sebiasa mungkin. “Gakpapa, Tante.” Jawabnya seraya memaksakan senyum.
“Pa, aku ditunangin sama Gabriel nya kapan, sih?” celetuk Pricilla.
Uhuk!
Gabriel menyedot minumannya sekali banyak. Pricilla benar-benar mengambil kesempatan. Baru saja balikan beberapa hari langsung menanyakan perihal pertunangan. Jangan sampai Riza membicarakan ini pada kedua orangtuanya apalagi Mamanya.
“Kalian kan masih sekolah, Sayang.” Jawab Riza. Gabriel langsung mencibir dalam hati. Cih! Lo bahkan ga pernah nyebut nama Via kalo lagi ngomong sama dia.
“Gapapa, dong. Kan cuma tunangan bukan lamaran. Untuk ngiket kita berdua aja biar ga ‘macem-macem’ di luar sana.” Balas Pricilla dengan nada menyindir. Gabriel diam-diam melengos.
“Ehm..ya, Om Riza bener, kita kan masih sekolah. Buat apa tunangan-tunangan segala. Lagian, ikatan itu ga penting. Karena udah banyak kok contohnya, orang yang udah nikah aja masih suka selingkuh..” gantung Gabriel sambil melirik Riza sekilas. Air muka Riza langsung berubah sinis meski berusaha laki-laki itu tutupi. Sementara Merry mendadak gugup mendengar Gabriel berbicara soal ‘selingkuh’. Berbeda dengan Pricilla yang memasang tampang biasa-biasa saja karena tidak tahu menahu perihal kedua orangtuanya. Gabriel tersenyum menang lalu memandang Prissy dengan manis yang dibuat-buat. “Tapi, aku setia kok sama kamu.”
“Awas aja kalo kamu kayak kemaren lagi! Aku gak akan ngampunin kamu kayak gini lagi.” rengek Pricilla. Gabriel tersenyum lagi sambil menjawil ujung hidung Pricilla.
Gue gak akan pernah rela kalian semua bahagia setelah ngebuat Via dan tante Fira sakit sekian lama. Just wait and see until the party started, my babies!

***

Semenjak ke pantai kemarin itu, Via merasa Gabriel berubah. Dia tidak setengil dan seflamboyan biasanya. Dia menjadi lebih perhatian, kalau ia tidak kepedean. Apalagi semenjak ia pindah rumah, setiap hari Gabriel bahkan datang untuk mengantar-jemputnya ke sekolah, kecuali jika Riza menginap. Tak jarang juga ikut sarapan ataupun makan siang. Dalam satu minggu, pasti ada satu hari Gabriel meneleponnya. Tak lupa setiap ingin menjemputnya, pemuda itu selalu memberikan pesan singkat sekaligus mengucapkan selamat pagi untuknya. Bahkan pernah sekali waktu malam minggu, Gabriel mengajaknya nonton berdua. Dan waktu itu, Gabriel tidak pernah absen menggandeng tangannya.
Cara Gabriel memperlakukannya juga terasa berbeda. Caranya berbicara tidak seculas dulu, meski tidak bisa dibilang lembut juga. Dalam menanggapi pun Gabriel sekarang jauh lebih bijaksana, lebih mengademkan hati, lebih...pokoknya lebih gentle, deh. Meski tidak selalu kemana-mana berdua, Gabriel selalu menyempatkan waktu untuk bersamanya di sekolah. Gabriel tidak pernah lagi mengganggunya dan membuatnya merasa dijadikan olok-olokan atau mainan. Gabriel begitu menjaga perasaannya dan memperlakukannya benar-benar seperti cewek pada umumnya. Meski memang Gabriel masih kerab menjahilinya, tapi tetap terasa berbeda. Yang sekarang terasa lebih tulus. Ia bahkan merasa seperti ehm..kekasih pemuda itu sungguhan.
Dan untuk sekarang, ia tidak takut berandai-andai yang tinggi terhadap pemuda itu. Toh, pemuda itu sudah bersedia kan menerima sekaligus membalas semua perasaannya. Pemuda itu juga berjanji akan membuatnya bahagia.
“Udah lama ya gue gak ketemu Zaza,” gumam Gabriel yang langsung menghempas benak Via kembali ke buminya berpijak. Via mengernyit curiga. Kenapa Gabriel tiba-tiba saja membahas Zaza?
“Gue kangen deh sama dia,” gumam Gabriel lagi sambil memandang ke arah Via lalu memilih memperhatikan pondok lesehan mereka dan yang lainnya di sekitar mereka. Malam minggu kali ini ceritanya Gabriel mengajak Via makan malam.
Via merasa ada yang memalu jantungnya. Ia terkejut setengah mati mendengar kata ‘kangen’ dalam ucapan Gabriel. Jangan bilang kalau Gabriel selama ini masih menyukai sosok penyamarannya itu. Lalu, yang selama ini ia dan Gabriel lakukan artinya apa? Semua perlakuan pemuda itu?
“Terus?” tanyanya tertahan. Ia menggenggam gelas minumannya begitu kuat. Tidak peduli hawa dingin yang terasa dipinggiran gelas yang bisa mengebaskan tangannya.
“Menurut lo, kapan waktu yang pas buat gue nembak dia?” tanya Gabriel seolah tidak menyadari atau mungkin tidak peduli pada perubahan sikapnya. Saat itu juga Via rasanya ingin muntah. Mana tadi kebetulan ia makan banyak. Beruntung emosinya masih cukup bisa dikendalikan sehingga ia tidak akan bereaksi yang diluar dugaan, terlebih memalukan.
“Apa?” Via tidak dapat berpikir lagi bagaimana ia harus menanggapi ucapan Gabriel. Dapat keluar sepatah kata saja pun sudah sangat bersyukur. Kalau tadi ia kaget sudah setengah mati, sekarang ia harus menyebutnya apa ya? Gabriel bilang apa, mau nembak?
“Iya, soalnya Zaza ga juga percaya sama gue, apalagi sama perasaan gue. Ya kayak lo lah. Nah makanya sekarang gue mau minta petuah dari lo, gimana gue bisa dia buat percaya sama kayak lo bisa percaya sama gue.” Gabriel menepuk karpet yang mengalas lantai pondok dan merubah duduknya menghadap Via serta menatapnya penuh harap.
Via hanya bisa terdiam tak tahu harus bicara apalagi. Minta petuah katanya?!! Dasar...dasar...hhh..sampe dalam hati gue juga speechless? Luar biasa!
Via menarik napas panjang lalu menghembusnya pelan. Setidaknya sekarang ia tidak sampai gila seperti yang pernah ia perkirakan. Ia sudah tidak dipusingkan soal papanya ataupun selingkuhannya. Yang penting ia bisa tenang bersama Mamanya dan itu sudah cukup. Mamanya juga sudah berangsur pulih dan menjadi sangat terbuka kepadanya, begitu pula sebaliknya. Tadinya ia pikir masalah percintaannya juga akan selesai seperti masalah keluarganya. Tapi, rupanya soal itu semuanya masih sama saja. Tidak pernah ada kemajuan. Gabriel tidak pernah punya perasaan spesial untuknya, seperti yang ia peruntukkan bagi pemuda itu. Gabriel tetap hanya menyukai Zaza. Orang yang merubah Gabriel bukan dirinya, tapi Zaza.
Tapi...bagaimana ya kalau Gabriel tahu, Zaza itu tidak pernah ada? Maksudnya, Zaza itu hanyalah sosok penyamaran dirinya? Zaza itu dirinya? Zaza itu..gue? Apa lo bakal berubah jadi cinta sama gue? Atau lo malah kecewa kalau yang ada dibalik Zaza itu gue? Tapi yang gue tau, lo pasti sedih banget. Zaza kan cinta pertama lo, yang pertama yang bener-bener lo cinta maksudnya.
“Trus misalnya nanti Zaza nerima lo, gue gimana dong, Yel?” tanya Via dengan pandangan nanar, tak ingin bertatapan langsung dengan Gabriel. Ia mengetuk-ngetukkan telunjuk ke meja sebagai upaya menyabarkan dirinya. Heran, saat ini ia sangat ingin menangis. Tapi, kenapa matanya tidak panas-panas juga? Tapi bagus sih, jadi ia tidak akan terlihat merana-merana sekali.
Gabriel tampak terkejut dan pada akhirnya menyadari kalau sikapnya sudah berubah. Tapi pemuda itu tidak kunjung terdengar suaranya dan membuatnya gerah sendiri, meski angin malam berhembus di sekitarnya. Hingga tiba-tiba terasa sentuhan di wajahnya. Seseorang menggeser pandangannya ke arah samping, ke arah Gabriel. Ia melihat tangan Gabriel tengah memegang pipinya. Pemuda itu juga menatapnya tajam. Menilik matanya dalam-dalam seperti sedang mencari harta karun terpendam di sana.
“You love me?” tanya Gabriel polos. Nadanya berbicara seolah-olah ia baru saja mendengar kabar ayahnya hamil.
Dengan kesal Via langsung menangkis tangan Gabriel dari wajahnya sekaligus mendorong tubuhnya menjauh. “Enggak!”
“Kalo enggak kenapa lo malah marah-marah?”
Napas Via terasa naik turun dan membuatnya terlihat seperti ngos-ngosan. Ia melengos tanpa menjawab apapun. “’I’ll make you happy..cih, iya lo udah berhasil bikin gue happy. Apalagi sekarang. Berhasil banget!” ujar Via menggebu-gebu seraya tertawa hambar dan sesekali menggelengkan kepala. ia berbicara sekali lagi tanpa memandang ke arah Gabriel.
“Kenapa tiba-tiba bahas itu?”
“Apa maksudnya kemaren ngotot-ngototan mau stay kalo konsekuensinya gak dijalanin? Gue percaya aja, siiiih?! Bego gue! Bego banget!” ujar Via lagi tanpa menghiraukan Gabriel. Ia seperti sedang berbicara sendiri.
“Vi, lo lagi ngomongin siapa, sih?” tanya Gabriel tak mengerti.
Via menoleh pada Gabriel lalu mendengus keras. “Gue gak mau lagi kenal sama lo!”
Gabriel berjengit kaget lalu menggaruk-garuk kepalanya frustasi. Via kenapa, sih?
“Gausah antar-jemput gue lagi, gak usah nelfon atau sms buat tujuan apapun lagi, di sekolah jangan negur apalagi ngajak ngomong gue lagi, kalo bisa hindari kegiatan apapun yang memungkinkan bertemunya lo sama gue. Kali ini gue gak ngasih choice buat lo. Sekarang murni permintaan gue. Gue mau jauh sejauh-jauhnya dari lo dan lo jauh sejauh-jauhnya dari gue. Dan..” Via berhenti sejenak untuk mengambil selembar uang lima puluh ribu dari dompetnya lalu meletakkannya di atas meja.
“Buat makanan gue. Thanks udah nemenin gue makan. Gak perlu nganter gue pulang, gue bisa naik taksi.” Sambungnya. Ia hendak berdiri namun tangannya tiba-tiba ditahan Gabriel sehingga membuatnya tetap duduk.
“Kenapa sih, Vi? Kenapa lo selalu mau kita jauh-jauhan? Lo pikir semuanya bakal normal kalo kita jauh-jauhan? Lo pikir mudah bersikap gak kenal sama orang yang deket banget sama gue? Gue udah nyaman sama lo, Vi.”
“Nyaman..nyaman apaan sih! Lo pikir gue kasur? Mentang-mentang badan gue bulet gitu?”
Gabriel melengos. “Lo bilang gue gak serius taunya lo sendiri pun gak serius, Vi. Aishh..lo gak pernah ngerti gue.” Ia melepas genggamannya dengan kesal. Ia tiba-tiba berdiri dan Via lantas menatapnya bingung. “Yaudah, kalo emang itu mau lo. Gue gak akan ganggu lo lagi. Tapi biarin gue nganter lo pulang. Karena nanti gue gak bisa ngecek lo udah sampe dirumah dengan selamat atau belum kalo lo pulang sendiri naik taksi.”
Via mengernyit tak mengerti. “Kenapa gak bisa?” Gabriel menoleh dan mencibir ke arahnya. “Lo bilang jangan nelfon atau sms apalagi nemuin lo. Gimana gue bisa ngecek?” sewotnya. Via balas mencibir. “Yee..biasa aja lagi! Kenapa lo jadi marah-marah?”
“Peduli apa lo gue mau marah apa enggak?”
Via menggeram dalam hati. Lidahnya sudah gatal ingin membalas tapi segera ia tahan. Ia ingin cepat-cepat menyudahi masalahnya dengan Gabriel. “Yaudah, anterin gue pulang sekarang.” Katanya dan sebelum ia sempat berdiri, Gabriel sudah lebih dulu melangkah pergi meninggalkannya tanpa menunggunya lagi.
Seketika Via merasa miris di dalam hati. Kok perasaan gue gak enak ya? Apa gue nyesel? Secepat ini?

***

Terimakasih masih setia menunggu dan membaca :*

Matchmaking Part 29 (Alshill)

Alshill

Shilla terbangun karena mendengar bunyi bel. Matanya terbuka dengan tidak rela. Ia melirik teman-temannya yang sudah tertidur nyenyak dan sepertinya hanya ia sendiri yang terganggu akan bunyi bel tersebut. Ia mendecak kesal. Ini sudah tengah malam, siapa sih yang masih mau bertamu? Mana pakai memencet bel tanpa henti lagi. Kalau sekali dua kali tidak ada yang datang melihat harusnya dia tahu diri kalau kehadirannya tidak diharapkan pun sangat-sangat mengganggu.
Meski enggan dan harus banyak merutu lebih dulu, Shilla tetap bangun dari tidurnya dan turun dari kasur. Ia mengambil pita di atas nakas dan mengikat rambutnya seadanya. Ia berjalan keluar dari kamar menuruni tangga hingga akhirnya sampai di depan pintu. Ia mendesah ketika sudah sampai di depan pintu, si tamu masih saja membunyikan bel. Dikiranya mainan apa dipencet-pencet terus? Gak bakal keluar duit juga kali! Batinnya.
Shilla baru hendak memegang kunci tapi kemudian ia menarik tangannya kembali. Tengah malam begini, jangan-jangan yang bertamu sekarang itu maling! Air muka Shilla sesaat berubah menjadi agak panik. Ia mendekati jendela dan mencoba mengintip tamunya itu. Saat itu juga, matanya melotot tak percaya. Lalu kemudian berubah bingung. Ia sedikit berlari mendekat ke arah pintu dan buru-buru memutar kunci serta membuka pintu depan rumah Ify. Ia di sambut dengan senyum si tamu yang merupakan seorang pemuda yang berdiri tegak di hadapannya. Ia berkedip cepat beberapa kali masih tidak percaya.
“Alvin?” gumamnya. Alvin, sang tamu, tersenyum sambil merentangkan tangan mempersiapkan diri menerima pelukan dari Shilla, yang hampir sebulan tidak ia temui ini. Akan tetapi tidak seperti dugaannya, Shilla hanya diam terpaku bengong memandangnya. Ia lantas menaikkan alis heran. “Not missing me? Gak ada niatan meluk gue gitu?”
Shilla terkesiap dan keluar dari rasa kagetnya. Ia lantas tersenyum lalu mendekati dan langsung memeluk pemuda di hadapannya erat. Menyerukan kerinduan mereka satu sama lain. Shilla menarik tubuhnya sedikit menjauh agar bisa bertemupandang dengan Alvin. “Gue kan udah bilang tunggu gue aja, kenapa lo nakal, sih?”
Alvin memberengut pura-pura kecewa. “Jadi sekarang lo pengen gue balik lagi?” Shilla mencibir lalu memeluk Alvin kembali seraya merengek manja. “I miss you so much, Vin. Gue malah pengennya lo gak balik-balik lagi. Sini aja temenin gue..”
Alvin tersenyum sambil mengelus kepala Shilla dengan lembut. “I’m with you now, Pretty.”
Beberapa saat kemudian, Shilla menarik tubuhnya kembali. Ia menarik tangan Alvin mengajaknya masuk. Tapi kemudian sebuah suara aneh memanggilnya. Suara yang sepertinya pernah ia dengar. Dan anehnya lagi, suara tersebut seperti datang tepat dari arah belakangnya. Dari tempat Alvin berada. Tapi, kan, suara Alvin tidak seperti itu.
Shilla menoleh ke belakang dan membalikkan tubuhnya sepenuhnya. Ia langsung menganga tak percaya melihat orang yang berdiri di hadapannya yang masih ia genggam tangannya itu bukanlah Alvin lagi. Tapi, sosok pemuda yang sudah menjadi kenangan menyebalkan di masa lalunya. Pemeran utama dalam kejadian surat cintanya. Chris.
“E—elo?” katanya terbata-bata sambil mengacungkan telunjuk ke arah pemuda itu. Chris tersenyum semangat ke arahnya. Tapi kemudian senyumnya berubah sinis dan tiba-tiba saja menarik tangannya lalu memutar tubuhnya hingga jatuh ke lantai. Pemuda itu seperti membalas perlakuannya waktu dulu. Benar-benar persis seperti yang pernah ia lakukan padanya.
Bug.....
“AWW! SHILLA IDUNG GUE!”
Shilla langsung membuka matanya mendengar Agni berteriak. Ia melirik sekelilingnya dan mengetahui kalau ia ada di dalam kamar Ify. Otaknya masih belum bisa mencerna dengan baik apa yang terjadi padanya. Rasanya tadi ia sedang berada di ruang tamu dan bukan di kamar Ify. Dan seharusnya sekarang masih malam hari, langit masih sangat gelap, tapi kenapa tiba-tiba sudah berubah terang begini? Tidak terlalu terang memang. Tapi, apa artinya sekarang sudah pagi? Apa ia tertidur di pelukan Alvin dan Alvin membopongnya kemari? Atau, Chris yang membopongnya setelah menjungkirbalikkannya ke lantai? Ah! Jangan-jangan ia sedang bermimpi?
“Yang tadi cuma mimpi?” gumamnya pada dirinya sendiri. Tidak sadar kalau Agni hampir mati dihimpit olehnya hingga sekarang. “Bodo amat lo mimpi atau enggak, tapi bisa stop ngimpit gue?!” sungut Agni. Via yang berada di sebelahnya menggeliat dan mengerang kesal mendengar keributan yang diakibatnya olehnya dan Shilla.
“Jan berisik woy!” pekik Via. Shilla seolah tersadar kembali dan langsung berguling menyingkirkan diri dari atas badan Agni. Agni lantas mendesah lega sambil mencoba menghirup napas sebanyak-banyaknya. Namun, perkara Shilla tidak selesai sampai di sana. Sehabis menghimpit Agni, ia juga tanpa sengaja menghimpit tubuh Via karena gadis itu berbaring tepat di samping Agni. Via menampik kasar tubuh Shilla hingga Shilla berguling dan benar-benar jatuh ke lantai. Untungnya tidak terasa sakit karena jaraknya tidak tinggi.
Shilla bagun terduduk lalu melihat ke arah teman-temannya. Ia akhirnya benar-benar menyadari kalau Alvin yang tiba-tiba datang itu hanyalah mimpi. Ia mendesah kecewa. Segitu kangennya gue sampe kebawa mimpi? Batinnya miris. Ia lalu mengernyit kesal. Tapi, kenapa si Chris harus ikut-ikutan muncul, sih? Mana pake ngejungkirbalikin gue segala! Jangan-jangan, dia dateng lagi kemaren itu buat bales dendam sama gue.
Shilla menggelengkan kepalanya menghilangkan segala pemikiran buruk di dalam sana. Ia melirik jam sudah menunjukkan jam 6 pagi lebih beberapa menit. Ia lalu membangunkan Via dan Agni dengan memukul pantat mereka dengan sangat keras. Tak ayal, Via dan Agni langsung mengaduh kesakitan dan sama-sama membuka mata menatapnya kesal setengah mati.
“SAKIT TAU!” pekik mereka berdua. Shilla yang sudah berdiri bertepuk tangan dan tertawa puas. “Goodmorning!” cengirnya tanpa dosa.

***

Meja makan rumah Alvin kini kembali dihuni oleh penghuni yang lengkap. Ada Alvin dan kedua keluarganya. Bahkan bertambah satu orang lagi. Febby yang datang paling akhir kemudian duduk di kursi di sebelah Alvin. Alvin meliriknya sebentar lalu memalingkan pandangannya tak peduli. Ia sudah mencoba berdamai dengan hatinya untuk bisa menerima gadis itu di rumahnya. Kasihan juga sebenarnya. Gadis itu sebatang kara, terjebak dalam lingkaran setan cukup lama bahkan hampir saja terjerumus. Hitung-hitung, berpahala sekaligus bisa meredam rasa bersalahnya pada Mama juga Papanya. Karena dari kelihatannya, Papanya itu juga tak kalah senang dengan Mamanya dengan keberadaan Febby di tengah-tengah mereka. Padahal mereka baru saja bertemu karena Papanya pulang dari luar kota malam hari dan Febby sudah tidur di kamarnya. Benar-benar sehati.
“Kamu Febby?” ujar Papanya dengan mata berbinar. Febby tersenyum canggung sambil menganggukkan kepalanya lemah. “I-ya..Om.”
Papanya sejenak diam sambil terus memperhatikan wajah Febby. Alvin berdecak heran dalam hati. Baru kali ini Papanya itu melihat seorang perempuan sebegitunya, selain pada Mamanya tentunya. Perasaan ni cewek..ya emang cantik sih. Boleh lah. Tapi masa sampe harus diliatin gitu banget? Cantikan juga Mama. Ckckck. Pasti efek sering di luar kota, nih.
Papanya tersenyum dan mendesah pelan. “Saya ga pernah nerima orang asing di rumah ini.”
Saat itu juga, tenggorokan Febby tercekat. Ma—maksudnya? Batinnya panik.
Melihat kebingungan di wajah Febby, Papa Alvin lalu berbicara kembali. “Kalo kamu masih manggil saya, Om, tandanya kamu itu masih orang asing.”
Febby mengernyit antara mengerti dan tidak mengerti. Yang bisa ia simpulkan adalah Papa Alvin tidak suka dipanggil Om.
“Kalo kamu diizinkan tinggal di sini, artinya kamu udah jadi bagian dalam keluarga kami.”
“Matanya Febby bentar lagi tinggal putihnya doang karena Papa ngomongnya muter-muter terus. Intinya itu, Om ini pengen dipanggil Papa.” Sela Fara yang gemas memperhatikan suaminya. Papa Alvin tertawa kecil sambil menganggukkan kepala. “Mama tau aja deh apa yang Papa mau.” Balasnya seraya mengerling genit ke arahnya.
Alvin menepuk keningnya sambil geleng-geleng kepala. “Masih pagi, Pa!” sindirnya. Sekali lagi, papanya hanya tertawa tanpa membalas ucapannya.
“Kamu satu kelas sama Alvin?”
“Enggak.” Sela Alvin. Papanya lantas menyipit ke arahnya. “Papa kan nanya Febby, Vin.”
“Oh, gitu.” Balas Alvin datar.
“Orangtua kamu gimana? Ga masalah kalo kamu tinggal di sini?”
Febby menelan roti yang tengah ia kunyah dalam mulutnya lumayan susah. Pertanyaan ini agaknya susah untuk dijawab. “Febby...gak punya orangtua.” Cicitnya seraya meringis miris.
Papa Alvin tampak kaget sambil berpandangan aneh dengan Fara. Lalu menatap Febby kembali. “Jadi selama ini kamu tinggal sama siapa?”
“Di rumah Ayah tiri, Om eh..Pa.”
“Itu artinya kamu punya orangtua, dong?”
Febby menggeleng pelan dan menunduk. Ia bingung harus menjelaskannya bagaimana. Papa Alvin mengernyit tak mengerti. Fara kemudian meliriknya dan membisikkan sesuatu padanya yang membuatnya membulatkan mulut sambil menganggukkan kepala mengerti.
“Yaudah lah, gausah dibahas. Yang penting, kamu udah di tempat yang tepat dan aman.”
Febby menganggukkan kepala seraya tersenyum lega dan sedikit terharu. Baru kali ini ia merasakan seperti benar-benar punya orangtua. Diterima dan dikasihi dengan tulus dan sepenuh hati.
“Makasih banyak...Pa, Ma.”

***

“SHILLA!”
Agni, Via dan terutama Shilla menghentikan lari mereka dan menoleh ke sumber suara yang menyebutkan salah satu nama mereka. Ketiganya tampak sama-sama kaget apalagi Shilla. Agni dan Via berpandangan sesaat lalu memandang Shilla curiga.
“Itu Chris, kan?” tanya Via. Air muka Shilla langsung berubah masam. “Yaiyalah, masa Alvin!” katanya sewot.
“Lo berdua bukan sengaja janjian, kan?” Tanya Agni dengan nada mengintimidasi. Shilla menoleh ke arahnya sambil menaikkan alis, sama sekali tak takut akan intimidasinya. “Enggaklah, ngapain? Males banget. Udah yuk, lari lagi sebelum dia dateng ke sini!”
Shilla langsung berlari tanpa menunggu Agni dan Via mengiyakan ucapannya. Yang ada di pikirannya adalah ia harus segera menjauh dari Chris. Kemunculan pemuda itu di dekatnya saat ini langsung mengingatkannya pada mimpi semalam yang juga didatangi pemuda itu. Ia mendadak merasa takut kalau-kalau mimpi itu merupakan petunjuk untuknya dan benar adanya. Benar kalau pemuda itu ingin membalas dendam dengan menjungkirbalikkan dirinya seperti yang ia lakukan pada pemuda itu dulu.
Shilla menggelengkan kepalanya cepat sambil bergidik ngeri. “Kok lo lari, sih? Lo gak denger kalo gue manggil lo tadi? Suara gue kurang kenceng emangnya?”
Shilla menoleh ke sebelahnya lantas berjengit kaget dan berhenti. Ia menatap Chris yang tiba-tiba sudah ada di sebelahnya, shock sekaligus panik. Ia spontan mundur beberapa langkah sambil matanya berkeliling mencari kedua sahabatnya. Dua orang tersebut tampak jauh di belakang. Apa tadi ia lari begitu kencang sampai-sampai mereka ketinggalan jauh? Pikirnya.
Shilla menoleh kembali ke arah Chris yang hendak maju ke arahnya. Ia langsung menghalau dengan tangannya menyuruh pemuda itu berhenti. “Stop! Jangan deket-deket sama gue kurang dari satu meter!”
Chris memasang tampang tak mengerti sambil mengecek aroma tubuhnya. “Emangnya kenapa? Badan gue gak bau, kok?”
“Gak usah banyak tanya!” balas Shilla seraya melangkahkan kakinya, berjalan santai. Rasanya ia ingin berlari kencang. Tapi, percuma saja, pemuda di sebelahnya itu pasti akan mengejarnya.
Meski masih tidak mengerti, Chris lantas mengedikkan bahu tak begitu peduli. Ia lalu menatap Shilla sambil tersenyum senang. “Lo ngapain di sini?”
Shilla melirik ke arahnya dengan sinis. Menurut lo? Batinnya heran. “Ngaspal jalan.” Jawabnya asal lalu melengos. Chris lantas meringis seraya garuk-garuk kepala, sadar kalau pertanyaannya salah. Ia kemudian menggantinya dengan pertanyaan lain. “Lo sama siapa ke sini?”
“Harus gitu lo tau?”
Chris menggaruk kepalanya kembali. “Gak juga, sih.”
Shilla melengos tak peduli dan berjalan dalam diam seolah-olah tidak ada yang menemani di sebelahnya. Dalam hati ia berdoa supaya Chris cepat-cepat angkat kaki dari sisi sampingnya. Ia benar-benar sudah tidak tahan. Selain takut, rasa kesalnya akan kejadian surat cinta dulu masih bercokol di hatinya sampai sekarang dan itu yang membuatnya keki setengah mati setiap bertemu pemuda ini. Padahal kalau dipikir-pikir, kesalahan Chris tidaklah begitu besar. Tapi entah kenapa, ia tetap merasa kesal teramat dalam.
“Lo masih marah soal...su—surat cinta itu?” tanya Chris ragu-ragu. Cemas kalau-kalau Shilla akan mengamuk dan menjungkirbalikkan dirinya lagi. Shilla berhenti lalu menoleh ke arahnya dengan kesal. “Penting banget lo tau?”
“Banget! Banget-banget-banget, Shill! Itu adalah hidup dan mati gue.” jawab Chris cepat-cepat dengan sungguh-sungguh. Shilla berjengkit heran. Hidup dan mati? Lebay, deh. Batinnya. Ia lantas geleng-geleng kepala lalu berjalan lagi tanpa menanggapi.
“Gue mau minta maaf sama lo, Shill. Gue bener-bener minta maaf sama lo.”
Shilla kembali berhenti. Ia menarik napas dalam-dalam sambil menghembusnya perlahan. Rasa-rasanya, ubun-ubunnya ini sudah bengkak dan ingin meledak. “Gue udah maafin lo. Puas, kan? Dan dari sekarang, jangan ganggu gue lagi.”
“Lo gak keliatan udah maafin gue.” balas Chris sambil bersedekap dan memperhatikannya dengan pandangan tidak percaya akan ucapannya. Shilla memutar kedua bola matanya malas. “Emang keliatannya harus kek gimana, hah?”
“Lo bilang ‘Iya, udah gue maafin, kok!’ pakek senyum kek gue. Kek gini nih..” Chris tiba-tiba maju ke arahnya dan mengarahkan tangannya ke wajahnya lalu menekan sudut-sudut bibirnya agar naik ke atas. Shilla melotot kaget dan langsung mendorong tubuh pemuda itu hingga kembali berjarak satu meter dengannya.
“LO! Beraninya...RRHH!” pekiknya kesal. Ia menaikkan lengan bajunya asal sambil berkacak pinggang. Chris sontak memucat melihatnya seperti itu. Seperti diingatkan akan kejadian terdahulu. Ia lalu meringis bersalah padanya.
“Gak inget apa yang gue bilang dulu? Jangan sembarangan nyentuh gue! Apa pantat lo ga puas nyium lantai dan sekarang pengen nyium aspal, hah?!!”
“Hehe. Gue lupa. Sorry ya. Emm..gue keknya ada urusan, deh. Gue duluan ya. Dah, Shilla!” Tanpa menunggu lagi, Chris langsung mengegas kakinya dan berlari meninggalkan Shilla yang hendak mengamuk.
Shilla lantas berteriak sambil mengumpat ke arahnya tanpa peduli dengan tatapan orang-orang di sekitarnya. Biar saja ia dikatai cewek gila, yang penting hatinya puas. Ketika baru saja selesai, ada seseorang yang tiba-tiba menyentuh bahunya.
“SIAPA LAG—“ Ia seketika tidak jadi mengumpat karena melihat kedua sahabatnya berada tepat di belakangnya dan Agni lah yang baru saja menyentuh bahunya. Ia mendengus keras. Kesal tapi juga lega. Kalo tuh orang terus-terusan gangguin gue, yang ada gue bisa cepat tua. Bahkan bisa-bisa mati muda. Jangan pertemukan aku dengan dia lagi Tuhan, please!!

***

Febby meremas-remas jemarinya dan berdiri bimbang di depan pintu kamar Alvin. Ia tidak ingin masuk tapi juga ingin masuk. Ia takut untuk masuk tapi ia harus masuk. Hingga akhirnya ia mengepal tangannya dan memutuskan masuk sambil terus meyakinkan diri. Ia lalu mencoba mengetuk pintu. Bagaimanapun, ia tetap harus menjaga sopan santun. Apalagi yang didatanginya ini kamar Alvin.
Ketukan yang pertama tidak dijawab. Ia kembali mengetuk pintu dan barulah ada jawaban dari dalam. “Masuk aja, Ma. Biasa juga ga pake ngetok. Alvin ribet mau bukain.” Teriak Alvin dari dalam. Febby menarik napas dalam-dalam sebagai upaya terakhirnya meyakinkan diri. Ia memutar gagang dan perlahan membuka pintu. Alvin tampaknya tidak mengetahui kalau ia yang baru saja masuk ke dalam kamarnya karena pemuda itu tampak serius membaca buku. Buku catatannya! Febby tanpa sadar tersenyum tipis. Entah kenapa ia merasa senang. Namun, sedetik kemudian, ia langsung menggerus senyumnya itu dari wajahnya. Ia tidak seharusnya bersikap aneh begitu, kan?
“Vin?”
Alvin melirik sekilas lalu benar-benar menoleh ke arahnya, memandangnya kaget dan bingung. “Gue ngizinin lo tinggal di rumah gue bukan berarti gue juga ngizinin lo buat bisa sembarangan masuk ke kamar gue.”
“Gue tadi udah ngetok,” cicit Febby. Alvin hendak membuka mulut namun tidak jadi berbicara. Febby memang mengetuk pintu dan ia dengar tadi. Tapi, kemudian, ia kembali membuka mulutnya membalas. “Tapi, kan gue ngiranya lo itu Mama.”
Febby mendesah pelan. Ia berbalik badan melangkah mendekati pintu lalu berbalik lagi menghadap Alvin. “Gue boleh masuk?” tanyanya mengalah.
Alvin memalingkan wajahnya lalu berdehem singkat. Febby tak ayal mencibir melihat itu. Ujung-ujungnya diizinin juga, kan? Iss..dasar! Sabar, Feb, sabar. Batinnya.
“Ini perjanjian antara lo sama gue. Kalo lo masih pengen tinggal di sini, jangan ganggu gue. Ngerti?”
Febby mengangguk pelan. Alvin ikut mengangguk puas. “Sekarang, lo mau ngapain ke sini?”
Febby sekali lagi menarik napasnya. Tak lupa ia mempertunjukkan senyum terbaiknya pada malaikat penolongnya ini. “Gue cuma mau bilang makasih karena lo udah ngizinin gue tinggal di rumah lo. Makasih karena lo gak nahan keinginan Mama lo. Itu berarti banget buat gue. Makasih ya, sekali lagi.”
Alvin memandangnya heran. Ia ingin berkomentar ini dan itu tapi lekas ia urungkan. Ia tidak ingin pembicaraan ini semakin panjang dan durasinya bersama gadis itu semakin lama.
“Iya. Thanks juga udah ngasih catetan ini ke gue. Yah..lumayan berguna lah.” Balasnya datar. Febby mengangguk lagi. Ia hendak mengucap pamit tapi terpotong oleh Alvin. “Hari senin, lo sama gue gausah ikut upacara. Kita mulai ngerjain praktek. Jadi ga perlu repot-repot make jam abis pulang sekolah.”
“Boleh, sih. Tapi, emang bakal diizinin?”
“Dengan keadaan kaki gue yang kek gini, pasti diizinin. Gue juga udah nelpon Bu Rita buat ngedampingin kita praktek.”
Febby membulatkan mulutnya tanda mengerti. “Oh, bagus kalo gitu.” Katanya seraya menganggukkan kepala. “Yaudah, gue balik ke kamar dulu.”
Febby hendak berbalik badan tapi tiba-tiba baru teringat sesuatu. “Oh iya, kan lo udah baik banget sama gue, jadi sebagai imbalannya, kalo lo butuh apa-apa, lo silahkan bilang sama gue dan gue akan ngelakuin apapun yang lo minta.”
“Apapun?” ulang Alvin. Febby lagi-lagi mengangguk. Alvin memperhatikan sejenak memastikan kesungguhan gadis itu. Sekaligus memikirkan hal apa yang bisa ia minta sebagai uji coba kalau gadis itu bersungguh-sungguh atau hanya main-main.
“Putusin Goldi.” Katanya asal. Sejurus kemudian ia merutuki permintaannya itu. Kenapa ia malah tiba-tiba meminta Febby putus dengan Goldi? Gaada yang lebih penting apa?
Air muka Febby sontak berubah aneh. Padahal hari ini ia hampir saja lupa dengan pemuda itu. Tapi, kembali diingatkan begini. Ia lalu berusaha mengontrol ekspresinya meski tidak terlalu berhasil. Ia malah kelihatan gugup. “Iya..besok gue bakal mutusin dia.” Katanya lalu cepat-cepat berbalik dan pergi meninggalkan kamar Alvin. Alvin memperhatikannya sambil mengernyit heran. Orang-orang mungkin akan mengira kalau nama Goldi itu adalah nama setan kalau melihat Febby yang langsung ketakutan seperti itu. Pikirnya.

***

Shilla beserta kedua sahabatnya baru saja sampai di rumah dan duduk asal-asalan di sofa karena lelah. Agni yang masih punya sisa tenaga paling banyak meskipun tidak banyak sempat berjalan ke dapur mengambil soft drink yang sudah di persiapkan mereka sebelum pergi jogging. Ia lalu kembali ke sofa dan menyerahkan dua yang lain pada Shilla dan Via. Masing-masing dari mereka langsung meneguk ganas soft drink milik masing-masing baru setelah itu sama-sama menghela napas lega.
“Ify masih tidur?” tanya Shilla yang heran dengan keadaan rumah yang begitu sepi. “Mana gue tau, orang gue sama kalian bukan sama dia.” Sewot Agni.
“Yee..biasa aja dong!” balas Shilla. Ia memutar kepalanya memandang pintu kamar Ify yang tertutup. “Rio gak ngapa-ngapain dia, kan?” tanyanya kembali dengan nada panik. Tak ayal, Via dan Agni langsung memandangnya dengan tatapan yang sama. Agni berdiri dan lebih dulu berinisiatif pergi memeriksa ke kamar Ify sementara kedua temannya menunggu di bawah. Ia hanya mendapati kamar Ify yang sudah rapi tanpa ada penghuni di dalamnya. Ia lantas mendesah lega lalu turun dan kembali duduk di sofa.
“Ga ada orang. Kek nya di ajak pergi sama Rio, deh.” Ujarnya ketika sudah sampai di bawah. Shilla dan Via serentak mengangguk dan menghela napas lega. “Asik banget yang baru pacaran,” gumam Via datar sambil meminum soft drink nya lagi. Mendengar itu, Shilla tiba-tiba saja teringat Alvin. Ia baru ingat kalau hapenya sedaritadi ditinggal di kamar Ify karena ia lebih memilih membawa ipod. Ia yang tadinya lemas setengah mati mendadak mendapat suntikan tenaga dan langsung berlari naik ke atas menuju kamar Ify. Via dan Agni berjengit heran lalu hanya geleng-geleng kepala.
“Nah!” seru Shilla saat menemukan ponselnya di atas nakas. Ia langsung mengecek keadaan benda berbentuk petak tersebut berharap kalau sudah ada pesan dari Alvin. Tapi, seketika, ia mengerucut sebal karena keadaan ponsel tersebut masih sama seperti terakhir ia tinggalkan. Bahkan pesannya untuk Alvin juga belum dibalas. Ia mendial nomor kekasihnya itu dan menunggu hingga dijawab. Butuh waktu agak lama hingga kemudian suara Alvin tertangkap daun telinganya.
“Morning cantik! Hehe, sorry ya gue lupa nelfon. Gue gak megang hape daritadi,” ujar Alvin mendahului omelan yang tadinya hendak keluar dari mulut Shilla. Shilla mendesis sebal. “Lo tuh ya, ingetnya cuma sehari doang. Abis itu lupa lagi. Lupain aja terus, lupain!”
“I’m so sorry, Pretty. Tadi gue dibangunin Mama trus disuruh langsung sarapan. Dan pas selesai, gue langsung belajar buat ulangan dan praktek susulan besok. Bener-bener lupa.”
Shilla yang tadinya ingin mengomel lagi mendadak merasa tak enak. Ia baru ingat Alvin sudah tidak masuk sekolah beberapa hari dan ketinggalan pelajaran cukup banyak. Mana katanya besok akan ada ulangan dan praktek susulan. Wajar saja kalau pemuda itu lupa. Pasti Alvin sekarang stres dan ia dengan tidak tahu dirinya menambah beban pemuda itu. “Oh, jadi besok lo ulangan sama praktek?” tanyanya memastikan.
“Hmm.”
“Emm-gue yang ganggu berarti. Sorry ya?” Alvin terkekeh pelan. “Apaan sih kok jadi pada minta maaf?”
Shilla hanya tersenyum tipis tak ingat kalau Alvin tidak bisa melihatnya. “Yaudah, lo belajar aja dulu. Kasian, lo kan mesti ngapal sama belajar banyak banget.” Katanya masih merasa tak enak. Gantian Alvin yang tersenyum. “Gakpapa kok, Cantik. Lagian ini masih pagi, masih banyak waktu buat belajar. Ulangannya juga jam terakhir.”
“Yakin gakpapa? Gue gak mungkin marah kok, tenang aja.” tanya Shilla lagi sambil menggigit bibir. Alvin tersenyum lagi. “Surely, Pretty.”
Shilla mendesah menyerah. Meski masih merasa tak enak. “Gimana kaki lo? Gak lo gunain macem-macem, kan?”
“Enggak, kok, gak macem-macem. Lagi pegel-pegel aja. Kemaren baru abis main bola.”
“Apa?!” seru Shilla. Kepalanya mendadak seperti ditusuk-tusuk mendengar hal tersebut. Alvin terkekeh kembali. “Hehe..becanda, becanda!”
Shilla mendesah lega sekaligus kesal karena Alvin berusaha mengerjainya. “Lo tuh ya, ckckck.”
“Lo abis ngapain?”
“Kan tadi gue udah sms gue kemana dan ngapain!” Sahut Shilla yang mendadak sewot. “Gue kan ga megang hape daritadi, Cantik. Gue juga udah bilang tadi, kan?” jawab Alvin dengan penuh kesabaran.
“Uh? Oh iya ya..sorry deh.” Balas Shilla lemah. Ia duduk dengan menghantam pantatnya ke kasur.
“Lo kenapa? Ada masalah ya?” tanya Alvin lembut. Shilla mengedikkan bahunya. “Yes, ugly big problem!” sahut Shilla menggebu-gebu sambil mengepalkan tangannya lalu melengos.
“Okey, I’m listening.”
Shilla menarik napas lalu menghembuskannya perlahan. “Salah satunya mungkin gue kangen sama lo.” Ujarnya tak yakin dengan pandangan menerawang mengamati langit-langit kamar Ify.
“I know it. Trus, yang satunya lagi?”
“Yang satunya lagi...ISH! Ini yang paling-paling-paling bikin gue kesel! Lo masih inget Chris gak?”
“Chris? Chris...” gumam Alvin seraya mengingat-ngingat. “Chris yang kakak kelas kita dulu itu?”
“Iya! Dia tuh udah kayak tuyul deh ngikutin kemana-mana sampe ke mimpi gue segala. Padahal gue udah bagus-bagus mimpiin lo eh tiba-tiba dia ikutan muncul juga. Nyebelin, kan?!”
“Kok bisa gitu?”
“Gue juga gak tau. Kemaren dia tiba-tiba dateng ke sekolah. Entah sengaja atau enggak, dia liat gue trus nyamperin gue sampe ‘maksa’ minta nomor hape. Trus pas gue lagi mimpi ketemu sama lo, tiba-tiba lo berubah jadi dia. Ih amit-amit! Dan tadi nih, pas jogging, gue juga ketemu lagi sama dia. Iiiyyy...pengen gue tonjok-tonjok mukanya!”
Alvin tertawa mendengar Shilla berceloteh panjang lebar dengan intonasi-intonasi yang lucu sekali menurutnya. “Kok lo malah ketawa, sih?” dumel Shilla.
“I really love your quarrelsome voice.” Shilla yang semula menggebu-gebu langsung menciut malu mendengar Alvin meledeknya atau bisa jadi memujinya. Ia merengut sekaligus tersenyum. “Iss..lo malah merhatiin itunya..”
“Jangan coba-coba clbk ya! Awas aja!” Ujar Alvin mengancam.
“Ga mungkin banget lah, Sipit! Gue udah ilfeel tujuh turunan.”
“Bagus, bagus!”
“Ya kan kalo clbk pilih-pilih juga kali.” Gumam Shilla asal. Alvin lantas bertanya sinis. “Maksud lo?” Shilla hanya tertawa kecil.
“Yaudah, lo lanjutin belajar gih. Gue juga mau mandi. Bau banget badan gue, lengket-lengket abis keringetan banyak banget.”
“Yaudah kalo gitu. Ntar jangan lupa sarapan. Gue belajar dulu ya, Cantik. Byeeee!”
“Iya, semangat belajar, Sipit! Byeeee!”

***

Febby berlari masuk ke dalam kamar barunya dan bersandar di badan pintu setelah menutupnya dengan sangat pelan. Ia diam sejenak mengatur napasnya lalu beranjak ke atas tempat tidur dan terduduk di atasnya. Ia mengambil ponsel dan meletakkannya di depannya. Matanya tak henti-henti menatap benda tersebut. Hatinya kacau balau saat ini. Semua itu tak lain karena permintaan Alvin untuk memutuskan Goldi.
Tadi memang ia bilang pada Alvin akan melakukannya besok. Tapi, membayangkan ia akan bertemu muka langsung dengan Goldi seketika membuat hatinya ciut. Ia takut kalau kejadiannya sama seperti beberapa hari lalu. Ia yang mengira baik-baik saja ternyata begitu tidak baik-baik saja ketika bertemu dengan pemuda itu. Ia sadar kalau perasaannya tidak hilang secepat yang ia kira dan inginkan. Jadi, mana mungkin ia sanggup mengucapkan kata pisah ketika berhadapan dengannya. Yang ada nanti ia malah memeluk pemuda itu.
Dan sekarang, ia mendapat ide untuk melakukannya melalui pesan singkat saja. Tapi ketika ia hendak melaksanakan, hatinya buru-buru menyuruhnya berhenti. Sepertinya sebagian besar hatinya belum rela kalau dirinya harus melepas Goldi. Ia lantas menjatuhkan badannya hingga membentur kasur lalu kemudian beralih memandang langit-langit kamarnya.
“Lo gak harus sebingung ini kali, Feb. Bahkan harusnya lo udah mutusin dia pas kemaren ketemu. Hhh...” racaunya. Ia diam dan memperhatikan langit-langit untuk yang terakhir kali sebelum kembali duduk dan berancang-ancang menyentuh ponsel. Ia langsung menyambar ponselnya tersebut sebelum keyakinannya kembali susut. Jemarinya bergerak cepat mengetikkan sebuah pesan untuk Goldi.
To : Goldi
Gue pikir udah gak ada lagi yang mesti kita omongin. Sama kayak hubungan kita yang udah gak ada alasan lagi buat dilanjutin. Jangan temuin gue lagi dan gue juga gak akan nemuin lo lagi. Makasih.
Jempolnya kemudian dengan mantap menekan tombol send tak lama setelah ia selesai mengetik. Dalam hitungan detik, muncul laporan pengiriman pesannya berhasil. Ia lantas menaruh ponselnya di atas nakas. Ia kembali merebahkan tubuhnya dan berbaring sembari menjaga jarak dengan benda tersebut. Layaknya ponsel tersebut adalah bom yang beberapa detik lagi akan meledak. Ckck, mungkin kalau Alvin melihat tingkahnya saat ini, pemuda itu akan tertawa puas sekali.
Febby terkesiap kaget manakala ponselnya bergetar dan berbunyi tanpa henti. Sepertinya ada yang menelepon. Apa itu Goldi? Pikirnya was-was. Ia sedikitpun tidak bergerak bahkan bergeser dan membiarkan saja ponselnya berbunyi sesuka hati.  Paling juga hanya dua-tiga kali lalu pasti tidak akan berdering lagi. Ia lalu membalikkan tubuhnya hingga membelakangi nakas tempat ia menaruh ponselnya dan menutup mata berusaha tidur. Meski saat ini bukan waktu yang tepat untuk tidur karena ini masih pagi.
Akan tetapi, sepertinya dugaannya salah total. Ini sudah masuk yang ke enam kali benda tersebut berbunyi. Ia lantas menggulingkan tubuhnya hingga ke samping nakas dan memeriksa ponselnya. Untuk yang satu ini, dugaannya benar. Memang Goldi lah yang menghubunginya. Tanpa menunggu lagi, ia mereject panggilan pemuda itu dan langsung menonaktifkan ponselnya lalu mengembalikannya kembali ke atas nakas. Dan hal paling menyebalkan adalah dadanya langsung bergemuruh sesak sesaat setelah ia menolak panggilan Goldi di ponselnya. Ia lantas geleng-geleng kepala.
I really need sleep!

***

Shilla sampai di meja makan bersamaan dengan Papanya dan Shanin yang juga tengah berjalan menuju tempatnya berada. Sementara mamanya sudah menunggu seraya menyiapkan sarapan. Ketika ia tengah meminum seteguk susunya, bel rumahnya berbunyi. Semua orang di sekelilingnya langsung berpandangan berdiskusi siapa yang harus membuka pintu dalam tatapan mata. Hingga akhirnya Shanin yang mengalah dan berdiri lalu berjalan ke arah pintu serta membukanya. Gadis itu tampak terdiam sambil memandang lamat-lamat sesosok makhluk yang berdiri di hadapannya dari atas hingga ke bawah dan kembali ke atas.
Shanin merasa tubuhnya melayang dan ia tanpa bisa dicegah tersenyum penuh kekaguman. “Kakak bidadari ya?” gumamnya. Orang yang ada di hadapannya berjengit lalu menggaruk-garuk pelipis. “Eng..kakak kan cowok. Masa bidadari?” katanya seraya tersenyum sekaligus terkekeh. Shanin tampak makin melayang melihatnya tersenyum seperti itu. Hatinya terus saja mengumbar pujian untuk ‘cowok’ di hadapannya itu. Hingga kemudian, pujiannya terinterupsi oleh panggilan Mamanya karena ia mungkin sudah terlalu lama tidak kembali-kembali. Ia seketika sadar kalau ia belum bertanya siapakah gerangan tamunya ini dan ada perlu apa datang ke rumahnya pagi-pagi. Menjemputnya? Amin. Pikirnya.
“Kakak ini siapa ya? Trus, ada perlu apa dateng pagi-pagi gini?”
Pemuda di hadapannya mengulurkan tangan mengajak berjabat. Shanin mengangkat dan melihat tangannya lalu mengelap telapaknya ke bajunya. Seolah-olah ada banyak kotoran di tangannya itu padahal tidak. Ia lalu menyeringai polos sambil mendekatkan tangannya dan menjabat tangan si tamu. Si tamu baru hendak buku mulut namun lagi-lagi diinterupsi. Bukan suara Mamanya lagi, melainkan suara Shilla yang tahu-tahu sudah ada di belakangnya menyusulnya dari ruang makan. Baik ia maupun si tamu langsung menoleh pada gadis itu. Shilla membelalakkan mata kaget saat si tamu tersenyum padanya sementara ia memandang dengan bingung.
Shilla berlari ke arah Shanin lalu menyentak dan menarik paksa tangan Shanin dan kemudian berdiri menghalau di depan Shanin. “Ngapain lo megang tangan adek gue? Beraninya lo...setelah kemaren lo dengan kurang ajar nyentuh muka gue! Lo pedofil ya, hah?!” tanyanya galak seraya mengacungkan telunjuknya. Dari belakang, Shanin memandangnya penuh ingin tahu. “Kakak kenal sama kakak ganteng ini? Siapa namanya?” tanyanya polos dengan berbisik.
“Chris.” Jawab Shilla singkat. Namun, sedetik kemudian, ia mengernyit lalu melirik adiknya. “Tadi lo bilang kakak ini apa?”
“Ganteng. Pake banget. Hehe.” Cengir Shanin lalu memberikan senyum terbaiknya pada Chris. “Lo kan udah punya Alvin ya, Kak. Nah, yang ini kenalin dong ke gue?”
“Heh! Difa mau lo kemanain?” *mimin gatau pacar shanin siapa-.-v*
Muka Shanin sontak berubah datar cenderung murung. Ia memandang Shilla tanpa ekspresi dan berbicara dengan nada jutek. Kening Shilla langsung mengerut bingung. “Difa siapa? Gue gak kenal.” Katanya dan langsung pergi begitu saja tanpa mengucap pamit ataupun permisi. Baik Shilla maupun Chris sama-sama melongo tak mengerti. Namun, Shilla lebih dulu sadar dan kembali mendelik pada Chris.
“Pergi lo!” usirnya mentah-mentah. “Yaudah, ayok!” jawab Chris yang tanpa izin menarik tangan Shilla. Shilla langsung memekik dan memukul tangan pemuda kurang ajar itu. “Lo tuh ya! Udah berapa kali gue bilang jangan sembarangan nyentuh anak orang apalagi gue!!” pekiknya.
Chris berjengkit lalu meringis memohon maaf. “Gak sengaja,” ringisnya.
“Shilla? Kok teriak-teriak? Siapa yang datang?”
Amarah Shilla terpaksa tertahan di tenggorokan begitu Mamanya datang sambil bertanya bingung padanya. “Orang gila, Ma.” Jawabnya asal.
Wiwid berdiri di sampingnya lalu memperhatikan Chris dari atas ke bawah. Chris mengambil kesempatan tersebut untuk memperkenalkan diri. “Saya Chris, Tante. Kakak kelasnya Shilla dulu.” Katanya sopan. Wiwid diam memperhatikannya lalu berbisik pada Shilla. “Ganteng begini kok kamu bilang gila?” Mata Shilla langsung melebar. Ada apa dengan wanita-wanita di keluarganya? Kenapa semua malah memuji pemuda kurang ajar itu? Em..tapi, ia juga dulu seperti itu, sih. Meski sekarang sudah tobat.
“Mau ketemu Shilla ya?” tanya Wiwid ramah. Chris tersenyum senang mendapati sikap bersahabat oleh mama Shilla itu. Setidaknya nanti kalau Shilla ‘kumat’, akan ada orang yang melindunginya. “Chris pengen minta izin nganterin Shilla ke sekolah, Tante. Kalo boleh, gak boleh juga gakpapa.”
“Tentu aj—“
“Boleh! Boleh banget, kok!” potong Wiwid dengan wajah berseri-seri. Shilla mendelik tak setuju. “Mama!”
“Yaudah, masuk dulu, yuk. Ikut sarapan sama kita.” Ujar Wiwid tanpa mengacuhkan Shilla. Begitu pula Chris. Tanpa menoleh ke arah Shilla, pemuda itu langsung masuk dan berjalan di samping Wiwid mendahuluinya. Melihat itu, Shilla rasanya ingin terjun ke niagara saja atau meledakkan diri dengan bom nuklir.

***

Kembali pada Alvin dan Febby. Suasana mobil terasa lebih sunyi dari kesunyian biasanya yang terjadi ketika hanya ada Alvin dan supir. Tapi, entah kenapa, dengan bertambahnya Febby, kesunyian itu rasanya semakin terasa saja. Hingga kemudian mereka sudah sampai di depan gerbang sekolah. Febby turun bersama dengan sang supir sambil membawa keluar tongkat Alvin dan menunggu Alvin sendiri keluar.
Alvin turun dari mobil dengan satu kaki diangkat. Febby langsung menyerahkan tongkatnya padanya dan ia berusaha menerimanya dengan ‘tenang’. Sejak Febby tinggal di rumahnya, ia sudah berikrar akan mencoba bersikap baik pada gadis itu. Bagaimanapun, dia sudah berjasa padanya. Dan sudah menjadi kebiasaannya dari orangtuanya untuk menganggap semua yang tinggal di rumahnya sebagai saudara. Dan ia akan mulai berusaha menganggap gadis itu sebagai adiknya meskipun ia tidak tahu di antara mereka berdua siapa yang lebih tua.
Alvin dan Febby kemudian berjalan bersebelahan menyusuri koridor dengan tatapan dan bisikan dari orang-orang di sekitar mereka. Entah apa penyebabnya yang jelas itu benar-benar mengganggu. Ingin rasanya Alvin berlari agar cepat-cepat masuk ke kelasnya. Tapi, sayangnya, kakinya masih belum bisa untuk melakukan itu. Sama hal nya dengan Febby. Ia risih dipandang selekat itu oleh orang-orang. Ia juga ingin berlari tapi ia tidak bisa meninggalkan Alvin begitu saja. Meskipun Alvin tidak menyuruhnya mendampinginya, tapi ia tetap tidak bisa pergi meninggalkan pemuda itu. Alvin seperti itu karena ulahnya dan Alvin juga sudah sangat membantu kelangsungan hidupnya. Meski juga pernah menyusahkan walah secara tidak langsung.
“Gue bersumpah gak mau jadi artis..” gumamnya tanpa sadar dan sampai ke telinga Alvin yang berjalan tepat di sebelahnya. Ia tampak tertawa kecil. “Baru tau rasanya jalan di sebelah artis?”
“Hih..sok deh lo.” Cibir Febby lalu memperhatikan sekelilingnya. “Taudeh, lo mah enak, mereka ngeliatin lo karena terpesona. Lah gue? Liat aja tuh, udah kayak mau ngerajam gue aja. Ckckck.”
Alvin yang hendak membuka mulut menggulung niatnya seketika karena mendadak muncul sebuah suara berat dan lantang yang menyerukan nama Febby dari arah belakang. Baik ia maupun Febby sama-sama menoleh spontan. Napas Febby tercekat dengan mata membelalak melihat sosok ayah tirinya yang kini berjalan menuju ke arahnya.
“Papa?!” katanya dengan suara tertahan. Matanya tak berkedip memandang sosok gempal yang makin lama makin jelas di matanya. Alvin melirik ke arahnya dan papanya bergantian sambil menaikkan alis. Bodohnya, masing-masing dari mereka tak ada yang beranjak bahkan hingga ayah tiri Febby sudah benar-benar berdiri di hadapan mereka sambil berkacak pinggang dan menatapnya garang.
“Kenapa kamu pergi dari rumah?! Kamu pikir bisa tinggal dan pergi seenaknya aja, hah?!”
Febby diam tidak ingin menjawab apapun. Takut-takut ia keceplosan soal Alvin. Ia tidak ingin ayahnya tahu mengenai kepindahannya ke rumah Alvin. Ia tidak ingin laki-laki itu membuat kekacauan di keluarga malaikatnya itu. Kediamannya itu lantas digunakan ayahnya untuk meraih tangannya dan menggenggamnya dengan kuat sekali hingga ia sampai meringis perih. Ayahnya lalu mencoba menariknya dengan paksa. Ia langsung meronta dan seketika ia, ayahnya dan Alvin menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitar, dimana sebelumnya ia juga sudah mendapat banyak perhatian dari orang-orang.
“Ayo pulang!”
“Lepasin, Pa! Febby gamau pulang!” ronta Febby sambil berusaha menarik tangannya dari genggaman ayahnya. Alvin tiba-tiba baru teringat soal semua cerita Febby tentang ayahnya termasuk yang paling aktual *tajam dan terpercaya!(?)* ketika laki-laki itu hampir melecehkannya. Ia tanpa pikir panjang lagi langsung mengangkat tongkatnya dan menghantam dengan sekuat tenaga pada tangan ayah Febby sehingga laki-laki itu otomatis membebaskan tangan Febby.
“Masuk ke kelas itu trus kunci dari dalem!” perintah Alvin. Febby langsung mengangguk dan berlari tanpa banyak protes. Ia masuk ke dalam sebuah kelas di dekatnya dan langsung mengunci pintu. Alvin mengayunkan tongkatnya lagi ke ayah Febby yang hendak mengejar Febby ke dalam kelas hingga laki-laki itu ambruk ke lantai. Ia kemudian berteriak memanggil satpam di sekolahnya. Tak sampai sepuluh detik, satpam pun datang dan langsung menarik paksa ayah Febby agar keluar dari sekolahnya.
“Kamu...saya akan bikin perhitungan sama kamu!” ancam ayah Febby sambil menunjuk ke arah Alvin dengan tatapan sangar selaras dengan wajahnya yang sudah sangar. Alvin hanya diam dan membalas tatapan laki-laki itu dengan datar tanpa takut.
Masalah kecil lain langsung datang selepas kepergian ayah tiri Febby. Kini ia yang malah di kerubungi para siswi yang kelihatan mengkhawatirkannya. Ada juga yang cuma curi-curi kesempatan untuk berfoto. Ia mencoba tetap tersenyum meski ia hanya terlihat seperti meringis.
“Permisi, permisi! Maaf ya, tapi Alvinnya harus segera sampe di kelas. Belum boleh banyak berdiri.” Ujar Febby yang tiba-tiba menyelip masuk ke dalam kerumunan hingga ke sebelah Alvin. Alvin bernapas lega melihat kedatangannya dan langsung tersenyum senang pada gadis-gadis di sekitarnya. Meski enggan, tapi orang-orang yang berkerumun tetap memberi jalan pada mereka berdua karena iba pada Alvin.
Sekali lagi, Alvin mendesah lega setelah benar-benar terbebas dari kerumunan dan tiba di koridor yang sepi. Ia melirik ke arah Febby yang juga meliriknya di saat yang bersamaan.
“Thanks ya!” Ujar mereka kompak. Sesaat mereka terdiam dan sama-sama menaikkan alis lalu menurunkannya di saat yang sama. Sedetik kemudian mereka langsung tertawa geli. Bagaimana tidak, mereka telah melakukan tiga hal yang sama dalam waktu yang sama. Melirik, berbicara dan memainkan alis. Atau mungkin tertawa juga termasuk. Tapi tawa mereka tidak bertahan lama karena sang empunya masalah kembali memberikannya pada mereka.
“Febby!” Febby dan Alvin spontan menoleh dan mendapati Goldi sudah berdiri tegap di depan mereka dengan air muka tidak begitu bagus. “Apaan lagi nih?” gumam Febby pelan. Ini adalah tamu kedua untuknya hari ini. Dan keduanya adalah orang-orang yang sangat-sangat tidak ingin ia temui. Kenapa ya, doanya akhir-akhir ini selalu menghasilkan hal yang berlawanan?
Sementara Alvin bersedekap sambil melihat kedua orang di hadapannya ini dengan antusias. Menunggu Febby melaksanakan permintaannya. Apa benar kali ini kata-kata gadis itu bisa dipercaya? Apa Febby benar-benar mau memutus hubungan dengan Goldi?
“I need to talk to you.” Ujar Goldi tegas mengisyaratkan ia tidak menerima penolakan. Febby langsung memalingkan wajahnya sambil meremas tali tas sekolahnya. “Tapi gue gak butuh. Apa kalimat ‘jangan temuin gue lagi’ gak kebaca sama lo?” Alvin menoleh dengan kaget ke arahnya. Jadi, mereka bahkan udah putus dari kemaren? Wih! Batinnya.
Goldi mendesah singkat. “Gue butuh penjelasan soal sms lo. Kenapa lo gak ngangkat telfon gue?” tanyanya mencoba melunak. “Setau gue mata lo gak rabun dan lo lulus sd, pasti bisa baca dengan jelas sms gue. Kecuali kalo tulisan di hape lo kecil-kecil banget. Dan lo anak beasiswa, kan? Pasti pinter, pasti bisa lah ngerti maksudnya apa.”
Goldi diam tak langsung menjawab. Ia menatap Febby tajam berusaha membuat Febby menatapnya balik. “Kenapa?”
“Bosen.”
Sorot mata Goldi seketika berubah pilu dan ada sedikit percikan kemarahan di dalamnya. Tampak begitu sedih dan tidak rela menatap mantan kekasihnya itu. Alvin menatap lekat ke dalam mata Goldi. Saat itu juga ia merasa bingung. Kalau dari pengamatannya sih, Goldi sepertinya terlihat begitu mencintai Febby. Tapi, kenapa dia malah selingkuh dengan Oik? Atau mungkin pengamatannya yang salah?
“Bosen? Semudah itu lo bilang bosen? Feb, susah-seneng kita udah lewatin sama-sama. Apa lo ga inget? Jadi, semuanya gaada artinya lagi buat lo? Secepat itu?” Goldi mengepal tangannya menahan emosi. Begitu juga dengan Febby. Remasan pada tali tasnya semakin kuat. Matanya pun sudah terasa memanas. Rasanya ia ingin mengungkapkan segalanya pada pemuda ini. Bagaimana kekecewaannya pada pemuda ini karena menghianatinya. Bagaimana sedih dan beratnya ia harus melepas semua perasaannya pada Goldi apalagi harus merelakannya untuk Oik, orang yang paling dibencinya di dunia ini.
Tapi, kenapa sih Goldi membuat semuanya jadi sangat rumit? Kenapa Goldi bersikap seakan-akan tidak rela melepaskannya pergi? Jelas sekali telinganya kemarin mendengar hubungan spesial antara dia dan Oik. Bahkan ia sampai bertanya tiga kali. Lalu kenapa sekarang sampai seheboh ini mencari penjelasan? Dia sakit atau bagaimana? Mana menuduhnya yang tidak-tidak lagi. Dia pikir semudah itu bisa berdiri dan berbicara seperti ini dihadapannya?
Febby menarik napas dalam-dalam dan menghembusnya dalam satu hentakan. Biarkan sajalah Goldi menganggapnya seperti apa. Biar saja pemuda itu berpikir kalau ia tipe cewek pembosan yang dengan mudah mengakhiri sebuah hubungan seenaknya. Seumur hidup pun tidak masalah. Biar saja kebencian padanya tertanam di benak dan nurani pemuda itu. Bagus juga untuknya. Jadi, pemuda itu tidak akan sudi lagi menemuinya. Ia bisa tenang. Hatinya bisa tenang meski bukan suatu ketenangan yang ia harapkan. Tapi, memang sedang ia butuhkan.
“Iya, semudah itu. Gak, gue gak inget. Iya, gaada artinya lagi. Iya, secepat itu. Mulai sekarang, kita balik jadi dua orang yang gak pernah kenal. Deal?” Ujar Febby menjawab satu-persatu pertanyaan beruntun yang diajukan Goldi. Membuat Goldi terdiam membisu di tempatnya. Menatapnya dengan tatapan tidak percaya dan merasa saat ini hanyalah bagian dari bunga tidurnya. Febby menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri sejauh-jauhnya bahkan sampai lupa dengan Alvin.
Alvin sendiri masih melongo kebingungan bersama Goldi. Ia melihat Febby yang berjalan cepat meninggalkannya dan ia tidak mungkin bisa mengejar gadis itu. Ia lantas mengedikkan bahu tak mau ikut campur. Ia memilih berjalan kembali. Bukan untuk mengejar Febby, tapi agar ia segera sampai di kelasnya. Ia sudah lelah berdiri dengan satu kaki dari tadi.
“Sejak kapan kalian jadi akur?” Goldi tiba-tiba bertanya dengan nada bicara sinis tapi sangat ingin tahu. Alvin berhenti tapi kemudian melangkah kembali tanpa menggubrisnya. Goldi yang tentu saja tidak terima langsung berjalan dan menghadang pemuda itu. Membuat Alvin terpaksa berhenti dan memandangnya jengah.
“Kenapa kalian bisa datang bareng dengan dan di dalam mobil yang sama? Apa sekarang lo jadi supirnya? Gue denger dari Oik, Febby ngilang dari rumah. Apa ada hubungannya sama lo?”
Alvin berjengit sambil menatapi Goldi tidak suka. Apasih ni orang? Gajelas banget. Dia mau sama Febby tapi dengan gak tau malu nyebut-nyebut nama Oik. Batinnya kesal.
“Lo deket banget ya sama Oik.” balas Alvin sarkastis sambil geleng-geleng kepala. Ia mengangkat tongkatnya dan berjalan lagi. Syukurlah kali ini Goldi tidak menghadangnya lagi. Ia tidak peduli kenapa pemuda itu membiarkannya pergi. Ia juga tidak peduli kenapa ia tidak mendengar suaranya lagi. Mungkin sedang memikirkan kata-katanya. Baguslah kalau begitu.
Tapi, kenapa ya ia begitu kesal akan sikap Goldi pada Febby? Plis, jangan mikir-mikir yang enggak-enggak lagi. Ya...mungkin karena gue punya cewek dan gue ngerti gimana perasaan cewek kalo cowoknya brengsek. Makanya gue kesel. Iya, pasti karena itu. Percaya...deh.

***

“Tunggu!”
Febby yang sedang ingin-inginnya berjalan mendengus kesal karena ada yang membuatnya terpaksa berhenti. Padahal semeter lagi ia sudah bisa sampai di depan kelasnya. Ia menegakkan kepala siap untuk mengomel tapi seketika omelannya itu tertelan masuk dalam perutnya. Sekali lagi, ia dipertemukan dengan orang yang tidak ingin ia temui. Doa gue bener-bener pending deh kayaknya. Apa sinyal ke surga semalem ngadat? Ck, pasti pengelolanya lupa bayar biaya bulanan.
“Pergi kemana lo? Papa sibuk nyariin lo.”
Febby memandang datar Oik yang bersedekap di hadapannya dengan tampang tak kalah datar. “I never have a father.”
Oik mendesah tak malas. “Ya ya terserah lah siapa dia bagi lo. Intinya, gue gak mau tau hari ini lo mesti pulang. Gue pusing ditanyain terus sama dia. Rrr..emang gue siapa lo gitu sampe-sampe dia mikir gue tau lo dimana.” Ujarnya sambil bergidik. Febby mengernyit heran lalu tertawa. “Nah, itu! Emang lo siapa gue sampe gue mesti ngikutin semua kata-kata lo?”
Oik menaikkan sebelah alisnya. Ada gerangan apalagi sehingga Febby sudah berani melawannya? “Lo masih inget apa yang bisa gue lakuin sama Goldi, juga elo?” Febby ikut-ikutan menaikkan alis seolah-olah ia begitu penasaran. “Oh ya? Apa ya? Gue gak inget deh kayaknya.”
Oik tersenyum sinis. “Lo mau beasiswa Goldi dicabut dan lo berdua kena skors? Lo gak takut aib lo berdua kesebar seantero sekolah? Mungkin juga seantero negara. Ya gue sih tinggal upload doang.”
Febby balas tersenyum sinis. “Lo kayaknya mesti sadar, deh. You don’t have anything to threaten me anymore. Lo mau nyebarin video itu? Up to you, I—don’t—care. Bukan masalah gue kalo beasiswa Goldi dicabut. Kalo kena skors, paling cuma 3 hari, seminggu paling lama. Bukan masalah buat gue juga. Those have been the problems of you. Lo pikir lo ga bakal kena imbas? Lo pikir orang-orang gak bakal ngehujat lo atas perbuatan lo? Orang-orang ga bakal ikut ngomentarin status lo? Ga puas jadi selingkuhan lalu buka aib pacar?”
Oik menarik napasnya sambil menatap Febby tak percaya. Febby lantas melanjutkan omongannya kembali. “Lo pikir lo yang akan tertawa di atas penderitaan gue? Salah besar. Gue liat Goldi udah gamake motor bututnya lagi, dia udah mau make mobil yang gue tebak pasti pemberian papanya. Berarti hubungan mereka udah baik. Asal lo tau ya, Goldi itu anak kesayangan papanya. Dan lo harus tau kalo papa Goldi bukan orang sembarangan. Dia pasti bakal menindak orang-orang yang mencoba mengganggu apalagi mempermalukan anaknya. Gue saranin lo jangan ngelakuin apapun yang lo pikir bakal ngerugiin gue tapi nyatanya justru bakal ngerugiin lo sendiri. Stop deh semua hal-hal gila di otak lo. Hidup yang damai-damai aja kenapa, sih? Aneh!”
Selesai berujar, Febby melengos begitu saja tanpa menunggu tanggapan Oik. Hatinya benar-benar puas sekali. Mudah-mudahan Oik benar-benar memikirkan ucapannya dan tidak mencoba mengganggu hidupnya lagi.

***

Febby meneteskan larutan NaOH dengan sangat hati-hati menggunakan pipet tetes di tangannya. Sesekali ia menggoyangkan tabung melihat apakah cairan di dalamnya sudah berubah warna. Alvin di sebelahnya duduk sambil ikut memperhatikan pekerjaan Febby. Tak jarang fokus matanya terganggu dan bimbang antara memandang tangan Febby beserta tabung reaksi atau wajah gadis itu yang saling berhadapan. Hingga ujung-ujungnya fokusnya benar-benar tertuju pada wajah Febby.
Febby sendiri tampaknya tidak menyadari kalau ia sedang diperhatikan oleh manusia yang duduk di sebelahnya. Ia benar-benar fokus pada tabung di depannya. Ia kemudian menoleh pada Alvin ketika larutan di dalam tabung sudah tidak berubah warna lagi. Barulah saat itu ia sadar kalau Alvin tengah memandang ke arahnya.
“Vin?” panggilnya dengan kening mengerut. Alvin terkesiap dan langsung mengalihkan pandangannya pada kertas laporan di hadapannya. Mencoba tetap bersikap biasa seolah tadi itu ia hanya tak sengaja memandang Febby. Meski begitu, Febby tetap merasa ada yang aneh dalam sikap Alvin. Tapi kemudian ia hanya mengedikkan bahu tidak mau terlalu mencari tahu.
“Berapa tetes?” tanya Alvin buka suara sambil menoleh ke arah Febby kembali. “25.” Jawab Febby lalu meletakkan tabung di rak. Alvin langsung menuliskannya dalam laporan sekaligus menuliskan mol akhir larutan asam yang baru di tirtrasi itu. Sambil menunggu, Febby memilih mempersiapkan alat-alat yang akan digunakan untuk praktek selanjutnya dan menjauhkan alat-alat yang sudah ia gunakan dan tidak akan digunakan lagi. *haaahseketikakangensma*
Gantian sekarang Febby yang kebagian jatah mengamati Alvin yeng belum selesai menulis sambil mengetuk-ngetukkan telunjuknya ke meja. Orang-orang memang benar. Pemuda di sampingnya ini memang tampan. Juga..dia baik. Alvin benar-benar baik. Seberapapun ketidaksukaannya padanya, tapi pemuda itu tetap mau menolongnya. Selain pribadi yang baik, sebagai seorang cowok, Alvin juga termasuk dalam kategori baik. Buktinya, Alvin tetap setia pada Shilla dan tidak sedikitpun tergoda olehnya ketika ia dulu berusaha membuatnya jatuh cinta padanya. Padahal mereka itu pacaran jarak jauh. Goldi aja selingkuh, udah sedekat-dekatnya padahal. Mana udah ketemu tiap hari juga tapi tetep aja. Ckckck, Alvin bener-bener cowok idaman. Stok cowok kek dia masih ada gak, sih?
“Woy!” Panggilan Alvin langsung menyadarkannya kembali. Alvin lantas mengernyit ke arahnya. Febby dengan segera mengambil pena dan kertas laporan dari tangan Alvin. Alvin yang tadinya ingin bertanya pun akhirnya tidak jadi dan memilih menggeser peralatan praktikum ke depannya. Mereka lantas melakukan tugas masing-masing dalam diam.
“Lo lagi ada masalah ya?” tanya Febby yang lebih dulu bosan bersama keheningan. Alvin meliriknya sekilas. “Kenapa emangnya?”
“Tadi lo keknya ngelamun, kayak lagi mikirin sesuatu. Kan gak mungkin lo bengong karena ngeliatin gue.” Febby tertawa kecil sambil melihat larutan-larutan di depan Alvin. Alvin tertawa gugup. Untung Febby tidak benar-benar berpikir kalau tadi ia memang sedang memperhatikannya. “Ya..ya biasalah, gue lagi kangen Shilla aja.”
Febby hanya tersenyum tanpa berkomentar. Tuh kan, Alvin emang bener-bener cowok idaman. Batinnya memuji. “Lo sendiri, tadi ngelamunin apaan? Ada masalah?”
“Masalah..” gumam Febby menggantung seraya berpikir sejenak lalu menoleh pada Alvin. “Keknya lo udah tau deh semua masalah gue.” katanya dan kembali tertawa.
“Berarti lo merhatiin gue, dong?” balas Alvin seraya menaikkan alis dan juga diikuti oleh Febby. Febby lalu mengedikkan kepala mengaku. “Ya, emang, sih. Tadi gue emang lagi ngeliatin lo.”
Sekali lagi Alvin tertawa gugup. Pengakuan Febby itu sukses menggetarkan serat-serat dalam jantungnya. Dan ia merasa aneh pada reaksi organ tubuhnya itu. Padahal dulu saat Febby menembaknya ia tidak merasakan apa-apa pada jantungnya. “Kenapa? Lo beneran naksir sama gue ya?”
Febby menghela napas sambil mengedikkan bahu. “Naksir sih enggak. Tapi, gue pengen aja punya cowok kayak lo.”
“Kenapa gitu? Tapi wajar sih, siapa gitu yang gamau punya cowok cakep dan baik kek gue.”
Febby mendesis meski tetap tersenyum juga. “Which is..gak gue sangkal kalo lo emang cowok yang baik.” Febby diam sebentar lalu berbicara kembali. “Yang paling penting itu, lo selalu setia sama pacar lo, dimanapun lo berada, sejauh apapun jaraknya, segimanapun keadaannya.”
Alvin sejenak memperhatikan Febby lalu tersenyum hangat. Tangannya spontan terangkat lalu mendekat ke kepala Febby serta mengacak rambutnya pelan. “I know, you’re a good girl. You’ll find a better man.”
Febby menoleh ke arahnya sehingga mereka saling berpandangan. Ia tersenyum dan gadis itu pun tersenyum. Rasanya seperti ada yang memutar lagu brahms lullaby milik johannes brahms di ruangan tempat mereka berada. Berikut angin sepoi-sepoi yang berhembus di sekitar mereka. Hingga tiba-tiba mereka sama-sama tersadar apa yang sedang mereka lakukan. Alvin cepat-cepat menarik tangannya dan kembali mengerjakan praktikum sementara Febby pura-pura membaca instruksi praktikum yang ada di kertas laporan. Pengawas dalam laboratorium tersenyum sambil geleng-geleng kepala.

***

But dig the truth. Baby, dig the truth. I can’t hide my feelings. Especially when the whole world can see that my heart is in two different places.

***

Ini part gajelas banget-_- Haha menanti-nanti konflik emang gajelas, sabar yak-.-v
Oh iya kemaren mimin diserang ya(?) Banyak banget yang nanya sama nebak kalo ini bukan Alshill. Alshill gak yaaaa? Kasih tau gak yaaaaaa? *dilemparkerelkereta*Sebenernya ga mau ngasih tau sampe cerita ini selese, tapi karena banyak banget yang protes jadi ya mau ga mau.-. Ini tuh Alshill tau. Kok pada ga percaya sih?-.- Mungkin karena di part2 sekarang jarang Alshill ya? Sabar yaaa, namanya juga dalam cerita mereka itu ldr mana Alvinnya lagi atit. Dan karena lagi menuju ke konflik nya makanya jarang yang part Alshillnya. Bentar lagi part mereka berdua juga bakal banyak. Berhubung mau tamat kan. Jadi ya sekali lagi harap dimaklumi. Mohon maaf kalo gak sesuai sama keinginan kalian. Thanks yang udah baca dan masih mau baca muah muah:*