-->

Kamis, 19 Oktober 2017

Matchmaking Part 36 (RIFY!!)

Jangan kaget *apasih*

***

The old girl who leaves and the old girl who retuns - Kode dari yang nulis

***

Dipanggil wali kelas setelah selesai ulangan harian itu benar-benar bukan pengalaman yang indah. Apalagi masalah yang dibicarakan adalah nilai buruk pada berbagai mata pelajaran di sekolah. Sedikit banyak Ify bersyukur karena nilainya sekarang tidak sejelek tahun pertama.

Tapi, tetap saja wali kelasnya belum merasa puas dengan pencapaian yang menurutnya sudah sangat luar biasa itu. Wanita gempal itu menuntutnya lebih serius memperbaiki nilai akademis. Ia sebenarnya tidak keberatan diberi masukan seperti ini. Yang membuatnya jengkel adalah ketika dia menghakimi tingkahnya selama di sekolah dan mengkambinghitamkan hal tersebut dengan nilai tidak memuaskan yang ia peroleh.

Wali kelasnya menuduhnya yang tidak-tidak dengan mengait-ngaitkan masalahnya beberapa waktu lalu. Yang paling utama memang masalah fotonya dengan Debo di madding. Hal itu seketika mengingatkannya lagi pada Dea. Mengingatkannya lagi pada rasa tidak suka dan kecewanya pada gadis itu. Padahal ia sudah sangat berusaha untuk membuang perasaan tersebut.

Tidak sampai disitu. Semua orang sudah tahu statusnya dengan Rio. Begitu juga wali kelasnya. Masalah itu pun tidak luput dari bahasan. Ia malas menjabarkannya. Intinya, semuanya sama-sama membuatnya gondok. Sayangnya, ia tidak bisa apa-apa dan hanya bisa pasrah menelan semua sindiran menyebalkan dari wanita di hadapannya itu.

Ify menghela napas setelah menginjakkan kaki keluar dari ruang guru. Sejenak merasakan hembusan angin segar yang lumayan menyejukkan pikiran. Ya sejenak, karena selanjutnya ia dibuat penasaran ketika menangkap pergerakan dua sejoli yang berada agak jauh di depannya.

Ify mengurung langkahnya untuk maju ke depan dan memilih berhenti seraya bersembunyi di balik pilar. Ia memperhatikan interaksi antara Rio dan Dea secara diam-diam. Ekspresi wajahnya tidak menunjukkan perubahan dan emosi yang signifikan. Mengetahui Rio bersama Dea, terserah Rio atau Dea yang memulai lebih dulu, juga tidak memicu respon adrenalin dalam dirinya.

Kali ini, ia hanya penasaran. Hatinya hanya bertanya-tanya, yang paling utama bukan soal apa yang mereka bicarakan tapi apakah Rio akan jujur padanya kalau ia bertemu Dea hari ini? Lalu, kapan pertemuan itu direncanakan? Karena semalam mereka cukup lama menghabiskan waktu berdua dan Rio sama sekali tidak buka mulut soal ini.

Ify lantas memutuskan angkat kaki dan memilih menunggu penjelasan Rio saja. Jika Rio tidak berterus terang maka ia pun tidak akan bertanya karena menurutnya Rio punya urusan dengan Dea yang menurut Rio tidak perlu menjadi urusannya.

Tapi sepertinya Ify terpaksa kembali diam di tempat. Ketika ia berbalik badan, ia menemukan sosok Angel yang berdiri terpaku dengan pandangan lurus mengarah pada Rio dan Dea. Ify sampai beberapa kali mengganti pandangannya demi memastikan kalau Angel benar-benar tengah melihat ke arah Rio dan Dea.

Yang menarik perhatian adalah bentuk tatapannya. Keseluruhan ekspresinya jelas menunjukkan kemarahan. Matanya memerah dan agak sembab ditambah dengan kedua tangannya yang terkepal erat. Seketika Ify merasa khawatir. Perasaannya menjadi tidak enak. Pasti ada sesuatu yang sudah terjadi yang melibatkan ketiga orang tersebut. Dan apapun itu, pihak yang akan menerima dampak buruk terbanyak adalah Angel.

“Kak Angel..” Panggil Ify seraya menahan lengan Angel ketika gadis itu berjalan melewati dirinya.

Angel sesaat berhenti dan menoleh pada Ify tapi dengan cepat memalingkan wajahnya kembali pada dua tokoh utama di depannya. Ia juga menepis tangan yang menggenggam lemah lengannya agar dapat kembali berjalan.

Sementara itu, untuk kedua kalinya Ify bergeming di tempatnya. Ia bagai tidak punya tenaga untuk menyusul Angel dan lantas memilih melihat dari jauh. Tubuhnya merinding manakala ia memikirkan pikiran yang saat ini berusaha ia sangkal. Tidak, ini pasti bukan tentang rahasia Angel. Tolong, jangan.

Angel berhenti tepat di depan Rio dan Dea. Tangan kanannya yang tadi terkepal sekarang terbuka dan terlihat bergetar.

“Lo..” katanya tertahan dengan tangannya sedikit terangkat. Namun, Rio buru-buru menghalau Dea di belakangnya dan berdiri di antara gadis itu dan Angel. Dari gerak-geriknya, ia tampak berusaha melindungi Dea. Dea sendiri tampak kikuk dan takut sambil menundukkan kepalanya.

Amarah beberapa saat lalu seketika berubah menjadi sendu. Angel menghela napas berat. “Bagus semua orang udah tau. Jadi, lo ga bisa ngancem gue lagi.” Katanya dengan senyum tipis.

Rio memandang Angel tanpa ekspresi. Biasanya dia yang paling senang beradu mulut dengan kakak kelasnya itu. Tapi sekarang, pemuda itu hanya diam meski masih tetap melindungi Dea.

Angel mengangkat pandangannya pada Rio dan tersenyum kembali. “Kalo semuanya udah kebuka, jangan sampe lo ga ngelindungin dia lagi, ya! Jaga loyalitas bullshit lo itu. GOOD-LUCK!” Ia beranjak pergi setelah menepuk pelan lengan Rio.

Rio masih menunjukkan tampang datar tapi kemudian ia terkejut ketika tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Ify. Gadis itu tampak berdiri agak jauh di depannya. Ia tidak begitu jelas mengetahui air muka gadisnya saat ini tapi yang pasti dia terlihat syok.

Seluruh tubuh Ify terasa gemetar dan kakinya mendadak berubah bak jelly. Ia sangat-sangat merasa bersalah pada Angel. Walaupun ia tidak tahu bagaimana rahasia itu bocor pada orang-orang dan bukan dirinya juga yang membocorkan, ia tetap saja merasa bersalah.

“Fy—”

“Apa..lo yang..” Ify menyela ketika Rio baru saja sampai di depannya dan hendak buka suara. Namun, itu pun dengan ujaran yang tidak sempurna.

Rio menghela napas lalu menggeleng pelan. “Bukan gue.” Jawabnya pelan namun mengandung keyakinan penuh di dalamnya.

“Cuma gue yang tau dan cuma lo yang gue kasih tau. Kalo bukan lo, siapa yang..” Racauan Ify berhenti ketika ia menatap Dea. Gadis itu tengah berjalan pelan mendekat menyusul Rio.

Rio menghela napas lagi. “Lo ga seharusnya mikirin ini, Fy. Biar ini jadi urusan dia sendiri. Bukan gue atau lo pelakunya jadi kita ga usah ikut campur.”

Ify hanya diam sembari menatap Dea yang kini sudah ada di samping mereka. Gadis itu masih terlihat kikuk dan Ify benar-benar muak melihat itu.

“KakFy aku—“

“Jagain dia bener-bener. Sebelum terjadi sesuatu lagi. Entah itu gue atau justru dia sendiri yang ngelakuin.” Ify lagi-lagi menyela sebelum Dea sempat berbicara. Itu juga menjadi kata-kata terakhirnya sebelum berlalu pergi.

Entah itu gue atau orang lain yang bakal kena dampaknya...setelah Angel.

***

Ify berdiri menatap supermarket di depannya sambil menggenggam erat tali tas sekolah. Supermarket yang ia hampiri merupakan supermarket tempat Angel bekerja waktu itu. Ia memantapkan hatinya untuk masuk dan menemui gadis itu.

Sementara itu, Angel tengah fokus pada tugasnya mengepel lantai. Tiba-tiba sekotak susu dan sebungkus roti muncul di depan wajahnya. Ia mengikuti tangan yang memegang dan kemudian bertemu pandang dengan Ify. Gadis itu langsung tersenyum sumringah. Ia berkedip kaget sekaligus bingung kenapa gadis itu tiba-tiba ada di sini dan memberikannya makan dan minum.

Ify mengambil tangan Angel dan memberikan susu serta roti yang baru saja ia beli pada gadis itu. Ia juga mengambil alih gagang pel yang sebelumnya digunakan Angel dan menyandarkannya asal pada rak di sampingnya. Ia lalu menuntun paksa Angel untuk duduk di kursi.

“Biar gue yang ngepel lantainya. Lo duduk yang manis sambil makan aja di sini, oke?” Ify buru-buru beranjak meninggalkan Angel sehingga gadis itu tidak bisa menyampaikan penolakan.

Angel sendiri sebenarnya masih dirundung rasa takjub dan berusaha mencerna situasi yang terjadi saat ini. Belum selesai hiruk pikuk pikirannya oleh Rio dan Dea, sekarang ia juga harus menghadapi perlakuan tidak biasa Ify. Ia lantas memandang 2 hadiah pemberian tadi dan berakhir dengan senyum geli. Terakhir kepalanya tampak bergerak ke kanan-kiri beberapa kali. “Ga ada nyerah-nyerahnya ini anak!”

Sesuai ucapannya, Ify lekas menggantikan Angel mengepel lantai. Penjaga kasir sempat bingung dengan kehadirannya dan apa yang sedang ia kerjakan. Tapi kemudian seorang pelanggan berhasil mengalihkan fokusnya dan melupakan Ify beberapa saat.

Berhubung supermarket ini tidak besar jadi waktu yang dibutuhkan Ify untuk membersihkan segala sisi tidak lama. Walau begitu, tetap saja terasa melelahkan. Setelah selesai, ia meletakkan pel dan ember di dekat kamar mandi lalu menghampiri Angel dan ikut duduk di salah satu kursi. Ia mengibas-ngibaskan seragamnya yang lembab karena keringat.

“Capek juga,” komentar Ify.

Angel tersenyum dan gantian menyodorkan minuman kaleng dingin pada Ify. Ify menyambutnya dengan antusias.

“Keren ya, lo sama gue bisa duduk anteng haha-hihi begini.” Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Angel membalas hangat ucapan Ify.

Ify menoleh seraya meneguk minumannya. “Yang selalu galak-in gue kan lo, Kak.” Balasnya diakhiri tawa ringan. Begitu pula Angel.

Keduanya lalu diam sambil menikmati makanan dan minuman masing-masing. Ify hendak bertanya namun bingung apa yang harus ia tanyakan. Ia juga sebenarnya tidak tahu apa tujuannya datang kemari dan menemui Angel. Ia hanya merasa ikut andil bersalah ketika rahasia Angel diketahui semua orang di sekolahnya. Tapi, ia juga tidak mungkin bertanya langsung mengenai itu. Lagipula, Angel tidak tahu kalau ia salah satu orang yang sudah lebih dulu tahu tentang kondisinya.

“Lo ga perlu ngerasa bersalah. Bukan lo juga yang ngasih tau orang-orang, kan?” Angel sebagai yang lebih tua akhirnya mengambil langkah pertama.

Ify menoleh cepat ke arahnya. “Lo kok tau kalo gue..” Ify menjeda ucapannya sesaat lalu kembali melanjutkan ketika bayangan wajah Tristan muncul di pikirannya. “Ah! Kak Tristan yang ngasih tau ya?”

Angel menggeleng pelan disambut kernyitan di kening Ify. Kalo bukan Tristan lalu siapa?

“Dokter Obiet yang ngasih tau. Waktu gue pingsan di rumah sakit, dia bilang lo yang nolongin gue.”

Ify membulatkan mulutnya seraya menganggukkan kepala. Syukurlah bukan Tristan. Kalau tidak, habis dari supermarket ia akan langsung menemui pemuda itu dan membuat perhitungan. Juga kalau benar Tristan, artinya hampir semua makhluk bergender laki-laki di sekitarnya tidak ada yang loyal. Semua suka membocorkan rahasia.

“Dunia emang bener-bener sempit, ya?” ujar Angel sekaligus memulai ronde diam kedua di antara mereka.

“Lo kenapa bisa..ehm..sebenernya apa yang terjadi sama lo, sih, Kak?” Ify memberanikan diri bertanya meski dengan perasaan tidak enak yang amat besar. Niatnya bukan karena sekedar ingin tahu melainkan karena dirinya amat prihatin pada gadis di sampingnya. Ia yang merasa marah terhadap apa yang terjadi pada Angel. Ia peduli, bukan kasihan.

Angel sama sekali tidak terlihat emosi mendengar pertanyaan sensitif yang diajukan Ify. Hal itu membuat Ify mengucap syukur dalam hati sedalam-dalamnya. Angel menarik napas panjang lalu menghembusnya perlahan.

“Klasik, sih. Bokap stress ditinggal nyokap. Jadi temperamen, kalo lagi apes gue kadang kena pukul. Pulang malem, balik-balik mabok. Biarpun gitu, gue harus tetep nungguin dia pulang. Soalnya kalo dia belum dateng pintu rumah gue ga dikunci. Sampe akhirnya suatu hari, gue ketiduran di sofa. Entah kesambet setan mana, dia dateng dan mukul gue sampe pingsan. Dan..yaudah.” Angel mengakhiri penjelasan singkatnya dengan kata-kata tersirat. Rasanya tidak perlu ia jabarkan secara nyata agar Ify paham.

Ify merinding membayangkan hal yang selanjutnya terjadi. Ia merasa lebih takut lagi karena saat ini Angel masih berada satu atap dengan ayahnya yang tidak bertanggung jawab itu.

“Lo harusnya lapor polisi, Kak! Lo gabisa pasrah gini aja!” Ujar Ify menggebu-gebu.

Angel memandangnya sekilas lalu tersenyum. Ia mengeluarkan dompetnya dari saku celana dan mengambil salah satu foto yang ada di dalam sana. Tak lain ialah foto ibunya. Ia lalu memperlihatkan foto tersebut pada Ify.

“Cantik banget ga, sih?” tanyanya pada Ify. Ify melihat itu lekas mengangguk setuju. Wanita dalam foto yang ia lihat benar-benar cantik dan berparas keibuan.

“Nyokap gue itu dokter. Buka praktik pribadi di rumah. Tapi, yang sering jadi pasien itu laki-laki. Dari anak SMA sampe kakek-kakek rabun, banyak banget pokoknya. Nyokap juga risih karena kadang-kadang mereka ga sakit beneran tapi tetep aja dateng minta diperiksa. Udah ditolak juga masih aja dateng. Sebenernya gaada masalah, toh nyokap ga niat macem-macem dan mereka juga ga aneh-aneh. Cuma sialnya, gue itu tinggal di komplek. Tau lah kan mulut ibu-ibu komplek kaya gimana? Khususnya yang suami-suaminya ikut jadi pasien nyokap gue. Mereka ngejelekin nyokap sampe semua orang gaada yang suka sama keluarga gue.”

Ify tiba-tiba merasa pening. Satu lagi masalah Angel yang baru ia ketahui dan itu menambah panjang list masalah-masalah berat yang harus dihadapi gadis itu. Rasanya sangat tidak adil.

“Kalo gue sampe lapor polisi, semua orang tau apa yang gue alami, mereka gaakan simpati. Itu cuma bikin keluarga gue yang udah ancur jadi makin ancur. Gue sih ga masalah, tapi gue ga tega sama Fify, adek gue. Dia masih kelewat kecil buat nerima cemooh orang-orang. Gue gamau itu jadi pondasi mental dia buat berkembang jadi orang ga bener di masa depan.”

Fify mengingatkan Ify pada anak kecil yang beberapa kali ia temui. Di swalayan, di restoran, dan di rumah gadis kecil itu. Gadis itu beruntung bisa punya saudara perempuan sebaik Angel. Pantas Tristan sampai cinta mati.

“Dan lo juga harus sampe kerja sambilan gini?”

Angel lagi-lagi menggelengkan kepala. “Gue ga kekurangan uang, kok. Nyokap ninggalin tabungan dan gue juga dapet asuransi kematian yang bokap gatau. Entah kenapa, waktu itu nyokap punya firasat untuk ngerahasiain ini dari bokap. Walaupun bokap ga nanyain juga, sih. Tapi jaga-jaga aja jadi gue nitipin itu sama Tristan. Gue cuma males lama-lama di rumah. Jadi gue nyari kerja, yang sekaligus tempatnya deket sama sekolah Fify.”

Ify sedikit bisa menghela napas lega. Setidaknya kini ia tahu Angel tidak mengalami kesulitan ekonomi.

“Tenang, gue ga ada apa-apa kok sama Tristan.”

Ucapan tiba-tiba Angel itu cukup membuat Ify kaget. Ia jadi curiga kalau gadis itu salah paham. “Lo ga mikir gue sama Kak Tristan lagi PDKT, kan?”

Angel menatapnya dan sedikit kelihatan gugup walau masih dapat tertutupi dengan baik. Tapi Ify tidak bisa melewatkannya begitu saja. Ia tahu apa yang sedang dipikirkan gadis itu. Ia lantas tersenyum geli dalam hati. Tristan akan duduk bersimpuh di hadapannya setelah ia memberitahu berita panas ini.

“Bukannya iya?” Balas Angel dengan tampang polos. Ify saat itu juga tertawa. “Gue kan udah punya pacar, Kak. Ngapain PDKT-an sama orang lagi?”

Angel tampak membuka mulutnya karena baru saja teringat oleh ucapan Ify. Ia baru ingat tentang Ify dan Rio. “Oh iya ya. Lo kan sama Rio, ya? Gue jadi mendadak bego begini.”

Ify menatap Angel dan kembali tersenyum. “Tristan sukanya sama lo lagi, Kak. Ga berani bilang aja.”

Angel berjengit kaget berusaha percaya namun kemudian ia sadar itu tidak mungkin. “Itu ga mungkin, Fy. Kondisi gue udah ‘beda’ dan dia ga mungkin punya perasaan sejauh itu.” Lirihnya. Mendadak ia jadi sedih sendiri.

“Ck, gue mesti desak Kak Tristan nih buat cepet-cepet nembak lo!” Seru Ify. Angel tak lagi menyahut. Ia hanya tertawa kecil seraya geleng-geleng kepala.

“Pindah aja, sih, Kak. Lo ga takut apa nanti bokap lo kesambet setan lagi?” Ify lalu mengembalikan pokok bahasan mereka pada masalah Angel dan ayahnya.

“Gue gatau mau pindah ke mana. Hubungan sama pihak bokap ga baik karena dulu pas nikah mereka ga setuju soalnya bokap jadi pindah agama. Mana gue juga bukan anak kandung bokap. Ga mungkin gue nitipin Fify sendirian. Sedangkan keluarga nyokap itu mata duitan. Pas nyokap meninggal aja mereka malah nanyain ada uang asuransi apa engga. Yah, daripada idup gue jadi beneran separah di sinetron, gue mutusin tetep tinggal sama bokap. Lagipula, setelah kejadian itu, dia jadi agak mendingan. Jadi jarang mabok, meskipun tetep suka marah-marah.”

Ify tidak langsung menjawab. Ia sesaat berpikir kata-kata yang tepat untuk diucapkan. “Tapi cepet atau lambat lo tetep harus pindah, Kak. Gabaik juga buat Fify harus ngeliat tingkah jelek ayahnya terus.”

Kali ini Angel tampak mengangguk-anggukkan kepala. “Gue sebenernya udah lihat beberapa rumah. Ntar kalo udah nemu harga yang cocok gue bakal bawa Fify pindah.”

Ify menghela napas lega kembali. Ia berharap Angel bisa angkat kaki dari rumahnya sesegera mungkin.

***

Ify bergeming di tempatnya dengan raut muka tegang sekaligus terpukul. Matanya menatap nanar seorang gadis yang terbaring lemah di hadapannya disertai luka di beberapa tempat. Kulitnya memucat dan tubuhnya tampak kaku. Di sampingnya, terdapat Fify yang hanya diam tertunduk sambil sesekali menyeka air mata yang menetes ke pipi, tanpa suara.

Beberapa saat lalu saat menjemput Fify, Angel ditabrak sebuah mini bus yang berjalan cukup kencang, ketika hendak menyebrang jalan. Padahal jalan yang dilalui adalah area penyebrangan anak-anak yang baru pulang dari sekolah di mana sangat dilarang untuk melaju dengan kecepatan tinggi. Setelah diketahui ternyata sang sopir dalam kondisi kurang sadar alias mabuk. Ify yang kala itu memberi tumpangan lekas membawa gadis itu ke rumah sakit dan turut serta membawa Fify.

Angel sempat pingsan lalu kemudian sadarkan diri.  Tapi kemudian, gadis itu mendadak kejang dan tak lama setelah itu mengalami henti napas dan jantung. Dokter mencoba memberi pertolongan untuk mengupayakan agar denyut jantungnya kembali bahkan hingga lebih dari setengah jam. Dokter pada akhirnya menyerah dan memutuskan menghentikan pertolongan.

“Waktu kematian..”

Telinga Ify mendadak tuli manakala dokter menyatakan waktu kematian Angel. Hati dan pikirannya masih belum bisa menerima keputusan tersebut. Baru saja...astaga! Baru siang tadi ia bisa bercengkrama hangat dengan Angel. Baru saja ia benar-benar bisa duduk santai bersama dengan gadis itu.

Tristan yang berdiri di sampingnya merangkulnya erat. Pemuda yang biasanya pecicilan itu kini tidak banyak bicara. Sama seperti Ify, ia masih tidak percaya kalau tubuh gadis yang terbaring di depannya sudah tidak bernyawa. Ia masih luput dari rasa percaya jika Angel-nya sudah tiada, jika Angel-nya benar-benar sudah bersama dengan para Angel di atas sana. Ya Tuhan, ia bahkan belum kesampaian mengutarakan perasaannya yang sebenarnya.

“Hng—Monster?”

Perhatian dua sejoli yang tengah berduka cita itu langsung teralihkan pada gadis kecil di samping mereka. Seketika Ify dan Tristan teringat akan Fify yang sedari tadi berusaha tegar seorang diri. Saat itu juga mereka menjadi merasa bersalah.

“Monster..” Fify mencicit langkah beranjak dari tempatnya mendekati pasien yang baru saja masuk ke ruang UGD.

Ify hendak menahan gadis kecil itu tapi kemudian ia terdiam mengetahui siapa pasien yang dihampiri Fify tersebut. Seorang laki-laki paruh baya yang tak lain adalah ayah gadis itu.

Ify dan Tristan saling berpandangan merasakan firasat yang sama. Tidak..tidak..tolong jangan..

Beeeeeeeeeeeeep…

***

“Mama.”

Fify memasang tatapan polos pada Ify yang berdiri berkacak pinggang di depannya. Saat ini mereka tengah memperdebatkan panggilan yang seharusnya digunakan Fify untuk Ify. Sebenarnya sudah jelas, Fify seharusnya memanggil Ify dengan sebutan Kakak. Tapi, entah kenapa gadis kecil itu justru kekeuh untuk menyebut Ify dengan sebutan Mama.

“Kakak, Fify. K-a-k-a-k. Kakak.” Dikte Ify masih mencoba bernegosiasi.

Sayangnya, Fify justru membalasnya dengan gelengan kepala. “Mama. M-a-m-a. Mama.” Sekali lagi Fify menyebutkan dengan lantang panggilan yang diinginkannya untuk Ify.

Ify mengerang frustasi sambil mengacak-acak rambutnya. ‘Adek gue itu agak..aneh.’ Tiba-tiba kata-kata Angel saat mereka mengobrol terakhir kali terlintas di kepalanya. Sekarang ia sangat membenarkan ucapan tersebut.

“Adek lo emang aneh, Kak.” Lirihnya pasrah. Ujung-ujungnya, ia membiarkan Fify memilih panggilan sesuai keinginannya.

Mengingat Angel membuatnya kembali merasa iba pada Fify. Gadis kecil itu kini benar-benar tidak punya siapapun. Ayah, ibu, dan kakaknya sama-sama meninggal karena kecelakaan. Yang paling tidak disangka adalah ayah dan kakaknya meninggal di hari yang sama. Angel kecelakaan saat menjemputnya ke sekolah sedangkan ayahnya kecelakaan saat dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk melihat Angel.

Jauh sebelum kecelakaan ini terjadi, sebelum Ify dan Tristan kembali bertemu, sebelum Ify dan Angel saling tahu satu sama lain, Angel berpesan pada Tristan bahwa bila suatu hari terjadi sesuatu padanya, ia menitipkan Fify pada pemuda itu. Tidak ada yang menyangka bahwa ‘suatu hari’ itu begitu cepat menyapa.

Tapi, jika dipikir-pikir, semua peristiwa yang terjadi padanya memiliki keterkaitan satu sama lain. Rasanya, semuanya tidak terjadi begitu saja. Jika Ferdi tidak kolaps dan harus mendapat perawatan, sedikit peluangnya untuk bertemu kembali dengan Tristan. Jika ia tidak bertemu dengan Tristan, pemuda itu pasti sekarang bingung kepada siapa ia harus menitipkan Fify karena akan aneh kalau Fify hanya tinggal berdua dengannya, walaupun Fify hanya anak kecil.

Kalau Ferdi tidak sakit, lelaki itu tidak mungkin memiliki ide untuk menjodohkannya dengan Rio. Kalau skandal perjodohan itu tidak ada, ia akan selamanya menjadi orang dibalik layar yang sama sekali tidak disadari oleh Rio. Status di antara keduanya saat ini tidak mungkin terwujud. Kalau ia tidak menjadi kekasih Rio, ia tidak akan punya masalah dengan Dea. Kalau ia tidak punya masalah dengan Dea, ia tidak akan pernah mengenal Angel. Meskipun masalah mereka bertiga masih menjadi misteri sampai sekarang. Kalau ia tidak kenal dengan Angel, ia tidak akan pernah tahu Fify dan Tristan akan menjadi satu-satunya orang yang merasa memiliki tanggung jawab moral pada gadis kecil itu.

Sebenarnya bisa saja Fify dititipkan pada keluarga ayah dan ibunya. Tapi, berdasarkan cerita Angel waktu itu, akhirnya Ify memutuskan menampung Fify di rumahnya. Tentu setelah berdiskusi panjang dengan Ferdi, termasuk memberitahukan masalah ini pada kedua orang tua Tristan. Dan benar saja, tidak satu pun keluarga dari Fify yang protes atau pun sekedar bertanya dimana keberadaan Fify. Mereka sempat hadir ketika proses pemakaman. Tapi setelah itu mereka tidak tampak berkunjung ke rumah Angel terdahulu untuk membahas mengenai Fify.

“Non Ify?”

Panggilan Siti, pembantu di rumahnya berhasil melarikan Ify kembali kepada kenyataan. Ia menoleh melihat separuh tubuh wanita itu muncul dari balik pintu.

“Kenapa Bi?” Jawabnya pelan.

“Bibi mau ngasih tau tadi di bawah ada Nak Rio. Tapi Nak Rio keliatannya capek sama ngantuk jadi Bibi suruh istirahat di kamar Non. Gapapa kan, Non?”

Sesaat Ify merasa asing dengan nama tersebut. Sepertinya pikirannya tidak benar-benar sudah duduk pada tempatnya. Tapi kemudian ia akhirnya sadar sesadar-sadarnya kalau saat ini Rio, kekasihnya, ada di rumahnya dan bermaksud menemuinya. Beberapa hari ini memang hubungan ataupun interaksi antara mereka berdua tidak dalam kondisi intens, khususnya sejak kejadian di depan ruang guru waktu itu.

Tidak, mereka tidak bertengkar atau perang dingin atau sejenis itu. Hubungan itu tetap tenang namun sampai menjadi terlalu tenang tanpa mereka sadari. Soal Angel, mereka sama-sama memilih tutup mulut. Keduanya menyerah untuk memecahkan tantangan yang satu ini. Mereka sedang tidak bertenaga.

“Oh iya gapapa, Bi. Makasih ya, Bi.”

***

Klik. *pokoknya backsound pintu ketutup. Kalo ga setuju setel sendiri wkwk*

Ify bersandar sejenak pada pintu kamarnya dengan pandangan lurus ke arah pemuda yang sedang tidur meringkuk di atas kasur. Ia tidak tahu apakah Rio seperti itu karena kedinginan oleh suhu AC yang rendah atau memang posisi alami tidurnya seperti itu. Selama ia menginap di rumah pemuda itu, ia tidak pernah mengamati benar-benar bagaimana Rio tidur apalagi menemukan posisi-posisi unik tertentu. Yang ia tahu, pemuda itu hanya mudah sekali jatuh terlelap.

Rio tidak bergeming ketika suara pintu terbuka dan tertutup bergema dalam kamar. Alhasil Ify dengan langkah satu-satu mendekat dan duduk di tepi bagian kasur sekaligus di samping Rio. Sekedar informasi kalau Rio tidur membelakangi Ify. Ify menyentuhkan telunjuknya pelan pada lengan Rio. Seketika itu juga kepala Rio menoleh dan bergegas merebahkan tubuhnya sehingga sekarang posisinya berbaring telentang. Dari matanya ketahuan kalau pemuda itu memang lumayan mengantuk.

“Baru balik rapat?” Ify buka suara lebih dulu yang dibalas Rio dengan gelengan kepala. Kening Ify lantas mengernyit.

“Abis main bola?” Untuk kedua kalinya Ify bertanya yang juga masih dibalas Rio dengan gelengan kepala. Lipatan keningnya menjadi kian bertambah.

“Jadi darimana?” Ia menyerah bermain tebak-tebakan dan memilih bertanya langsung.

Bukannya menjawab, Rio justru hanya diam namun tatapan matanya lurus ke arah Ify yang membuatnya agak merasa salah tingkah. Respon Ify tersebut menjadi kode untuk Rio agar segera bicara. “Gaenak, kan, kepo? Gue juga gitu waktu nungguin lo nelfon nanyain gue di mana lagi apa tadi..”

Ify merasa ada yang menoel kepalanya walau sebenarnya tidak ada. Sindiran Rio sungguh tepat sasaran. Ups, ia jadi malu. Ia lantas memalingkan wajahnya ke arah lain. Mendadak corak sepreinya menjadi menarik untuk diperhatikan.

Rio menyunggingkan senyum tipis mendapati Ify yang mati kutu. Pola tingkah Ify tidak pernah membosankan untuk diamati. Semuanya menggemaskan. Kecuali ketika gadis itu mendiamkannya atau lebih parah menangis karena ulahnya. Buminya berpijak benar-benar terasa berguncang. Mohon ampun dirinya kalau itu sampai terjadi, lagi.

“Abis hunting gedung buat prom ntar,” Rio akhirnya menjawab pertanyaan Ify sedaritadi. Kalau ia terus ‘menggoda’ kekasihnya, situasi selanjutnya tidak akan bagus.

Benar saja, Ify dalam sekejab kembali menoleh pada Rio. Keningnya kembali mengerut. “Acaranya bukan di hall parfait?”

Rio kembali membalas dengan gelengan kepala. Kali ini ia segera menjawab secara langsung. “Mumpung dapet sponsor. Sekalian aja cari tempat bagus. Yang gak mahal-mahal juga, sih. Mesti nyisain buat perpisahan juga.”

Ify membulatkan mulutnya seraya mengangguk paham. Ia kemudian melihat pemuda itu menguap hingga matanya berair ketika selesai. Ia pikir ia perlu membiarkan Rio tidur sejenak menghapus rasa lelah sebelum pemuda itu mengalami sakit kepala karena menahan kantuk.

“Tidur dulu aja. Gue nunggu di luar biar gak ganggu.” Putus Ify. Ia sudah hendak beranjak namun Rio saat itu juga menarik bajunya sehingga ia terduduk kembali di tempatnya.

“Gue sabar ngantri giliran gue sama lo setelah Fify bukan buat lo tengokin bentar abis itu pergi ya!” Rio memprotes manja pada Ify. Bukan pertama kali Rio seperti ini tapi bukan berarti sering juga. Yang sekarang adalah efek lelah yang cukup berat dan rasa rindu pada Ify yang telah bertumpahan.

Ify mendesah pelan. Jelas-jelas Rio mengantuk tapi masih memaksakan untuk mengobrol dengannya. Seperti hari yang tersisa dan jam yang tersisa hanya hari dan saat ini saja. “Lo ngantuk, Yo. Lo butuh tidur bukan ngobrol!”

Rio mengambil tangan kanan Ify dan memindahkannya ke atas dada. Ia lalu menindih punggung tangan kekasihnya itu dengan tangannya sendiri. Selanjutnya ia menjawab sambil mulai menutup mata.

“Seenggaknya temenin gue sampe gue ga sadar.” Kali ini tidak ada negosiasi karena Rio tidak ingin ada penolakan.

Ify lantas pasrah dengan kemauan Rio. Memikirkan ia mungkin saja menjadi bonus yang dapat mengurangi penat di bahu Rio sudah membuat beberapa kupu-kupu tiba-tiba berterbangan dalam perutnya. Ia tersipu, selalu, kapan pun moment seperti ini terjadi, bahkan ketika hanya sedang teringat.

Rio yang dalam kondisi menutup mata membuat Ify jadi leluasa untuk memperhatikan wajah tampan pemuda itu. Memperhatikannya membuat Ify untuk kesekian kalinya mengucap syukur diam-diam dalam hati.

Namun, di tengah kekaguman Ify padanya, tiba-tiba saja Rio berujar kembali. “Gue ga sempet minta maaf..” lirih pemuda itu.

Ify dapat melihat ketulusan di wajah tampan Rio saat ini. Rasa bersalah yang terukir di wajahnya bukan dibuat-buat. Sebelumnya Ify sudah mengubur dalam-dalam rasa kecewa apalagi dendamnya pada Rio. Ya, hanya Rio. Untuk yang satu lagi ia tidak ingin memberi tahu meski semua orang pasti tahu jawabannya.

Tidak adil memang ia marah tanpa pernah bersedia mendengarkan klarifikasi pemuda itu. Bisa saja Rio justru tidak ada hubungannya sama sekali dengan apa yang terjadi pada Angel. Untuk itu, ia sedikit berbaik hati dengan memaafkan Rio.

Ia tidak menjawab apapun melainkan hanya mengusap pelan kepala Rio seolah mengatakan kalau pemuda itu tidak usah khawatir. Rio lantas mengeratkan lagi genggamannya pada Ify. Hingga akhirnya genggaman tersebut mengendur karena Rio sudah benar-benar sudah terlelap.

Ify menghela napas pelan dan menatap Rio dengan perasaan tak menentu. Di satu sisi ia ingin dengan ‘bersih’ memaafkan pemuda itu. Tapi ia tidak bisa berhenti merasa takut mengingat kemungkinan kalau Rio terlibat adalah fakta.

***

Ify baru saja menutup pintu kamarnya dan hendak melangkah menuju tangga sebelum Fify tiba-tiba muncul dengan penampilan yang sudah rapi. Fify berdiri sambil menarik bajunya bagian bawah hendak mengutarakan sesuatu padanya. Ia mau tidak mau menunda sejenak niatnya dan mendengarkan gadis itu.

“Kenapa?” tanya Ify langsung.

Fify mengedipkan matanya beberapa kali sebelum menjawab. “Mau ikut,” cicitnya pelan. Tidak biasanya ia bersikap seperti ini.

Ify memperhatikan Fify lamat-lamat dan entah kenapa ia merasa gadis kecil itu sedang kesepian. Apa mungkin dia sedang merindukan Angel atau ibunya? Kalau ayahnya kan tidak mungkin.

Ify menghela napas pelan lalu menganggukkan kepala memberi lampu hijau pada Fify. Seketika bibir Fify melengkung sempurna. Gadis itu tampak begitu senang bahkan mendahului Ify berjalan menuruni tangga.

Ify berjengit kaget sekaligus bingung namun kemudian ia hanya mengedikkan bahu. Yah, namanya juga anak-anak.

Rio yang ada di ruang tamu bersama Ferdi awalnya memandang kehadiran mereka dengan kening agak mengerut. Untunglah Rio ternyata tidak mempermasalahkan keikutsertaan Fify dalam perjalanan mereka kali ini. Mereka akhirnya berangkat menggunakan mobil Rio di mana sang empunya dan Ify menempati kursi depan sementara Fify menikmati singgasananya di kursi belakang.

Ke mana tujuan mereka sebenarnya Ify tidak tahu. Semalam Rio hanya mengajaknya untuk ke suatu tempat. Pemuda itu bilang mereka akan bertemu seseorang namun tidak menyebutkan siapa gerangan.

“Nanti biar langsung gue kenalin,” Begitu penjelasan yang tidak jelas dari Rio. Ify tidak terlalu banyak berpikir dan mengikuti saja ajakan Rio padanya.

Awalnya suasana cukup ramai karena perdebatan antara Rio dan Fify. Bukan debat yang menegangkan urat. Hanya saja Rio yang sepertinya senang mempermainkan Fify dan Fify sendiri juga tidak mau kelihatan kalah. Ify sesekali nimbrung namun lebih banyak tertawa akan ulah mereka.

Hingga akhirnya masing-masing dari mereka tidak ada yang buka suara. Hanya ada bunyi alunan musik radio yang mengisi kekosongan yang mungkin akan terjadi untuk beberapa saat yang akan datang.

Ify memilih memainkan ponselnya melihat postingan-postingan orang-orang yang ia kenal di aplikasi sosial media miliknya seraya menjelajah berita-berita terbaru. Jemarinya yang tadi lincah men-scroll isi layar ponsel mendadak berhenti. Ibu jarinya berhenti bergerak ketika terdapat sebuah judul berita yang baru saja muncul. Berita yang sanggup membuat jantungnya mendadak berdenyut tidak teratur.

‘Acha Raissa pulang ke tanah air hari ini!’

Dengan sedikit bergetar, Ify memberanikan diri menggerakkan kembali ibu jarinya dan menekan link yang akan membawanya pada berita luar biasa tersebut. Ia juga masih mengusahakan untuk menscroll ke bawah sampai ia dapat melihat foto seseorang yang dibicarakan di sana.

Ify sempat berharap Acha yang dimaksud saat ini bukan Acha yang ‘itu’ namun ia tidak bisa berkata apa-apa lagi ketika ia tidak mendapati gambar lain selain gambar Acha yang ‘itu’.

Tangan Ify yang memegang ponsel perlahan jatuh ke atas pahanya. Kedua ibu jarinya bertemu dan ia mulai memilin bajunya diam-diam. Kepalanya tidak bisa berhenti berpikir tentang tujuan mereka saat ini. Ia berusaha menghalau kecurigaannya namun apa yang timbul di benaknya terlalu akurat untuk disalahkan. Jangan bilang kalau...kalau...

Drrt..

Ponsel Rio yang tergeletak di atas tempat menaruh ponsel di belakang rem tangan bergetar dan layarnya menampilkan sebuah pesan baru. Baik Ify maupun Rio sama-sama tidak ada yang sadar sementara Fify sudah memajukan tubuhnya melihat apa isi pesan tersebut. Gadis itu lantas melontarkannya tanpa pikir panjang.

“Acha. Aku udah sampe, Yo. Tapi lagi nunggu bagasi. Kamu jadi jemput?”

Ify terpaku di tempat. Ibu jarinya bahkan tidak sanggup lagi bergerak. Beberapa waktu lalu ia baik-baik saja ketika memutuskan menghindar dari Rio. Tapi, sekarang ketika ia mungkin saja harus melakukan itu lagi, kenapa ia justru takut setengah mati?

***

Alhamdulillah, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Senangnya........................

Minggu, 03 September 2017

Matchmaking Part 35 (Alshill)

When you said you needed time, I heard goodbye – I Heard Goodbye (Dan + Shay)

***

Semua mengalir begitu saja, salah satu di antaranya adalah hubungan Alvin dan Febby. Semenjak Alvin menawarkan diri untuk menjadi saudara laki-lakinya, Febby tak pernah absen menggoda pemuda itu dengan selalu memanggil ‘Kak Alvin’ diiringi nada manja yang amat menyebalkan.

Meski kerap jengkel, sebenarnya dalam hati Alvin merasa senang. Jujur ia begitu menyukai kedekatannya dengan Febby, begitu pula sebaliknya. Keduanya tenggelam dalam peran baru masing-masing tanpa menyadari kalau mereka bisa saja terperangkap pada situasi yang mereka sendiri tidak ingin itu terjadi.

Suatu malam, Alvin terbangun dengan sosok Febby di sampingnya yang masih terlelap. Hari itu mereka baru saja menyelesaikan minggu yang cukup berat. Kelas mereka sedang dilanda ulangan beruntun. Semalaman mereka belajar bersama hingga lewat tengah malam. Beruntung soal ujian yang keluar tidak terlalu susah. Setidaknya bagi Febby, ia masih bisa mengerjakannya meskipun ia tidak janji nilainya bisa lebih dari 70. Kebetulan dirinya juga tidak pernah berharap mendapat skor tinggi. Yang penting lulus, pikirnya.

Setelah pulang sekolah, Alvin awalnya berniat mampir sejenak ke kamar Febby berhubung kamar Febby lebih dekat dari pintu masuk rumahnya. Tanpa disengaja mereka justru sama-sama tertidur di atas ranjang kamar Febby. Ketika lebih dulu terbangun, Alvin mencuri kesempatan untuk memperhatikan Febby tanpa sepengetahuan gadis itu.

Alvin memandang wajah lelap Febby dengan kepala dipenuhi berbagai hal. Ulasan-ulasan ketika baru pertama kali bertemu, dari yang awalnya benci setengah mati sampai terbentuk hubungan kakak-adik seperti saat ini, berputar-putar di benaknya. Kalau saja ibu Alvin tidak punya ide unik untuk membawa Febby ke rumah mereka, hari-hari pertemuannya dengan Febby sudah pasti diisi oleh perseteruan.

Mungkin hal itulah yang menjadi alasan mengapa mereka berdua merasa nyaman dengan keakraban mereka. Setidaknya, mereka akan menjalani hari demi hari dengan damai tanpa perlu menguras energi meregangkan urat-urat di wajah. Walau makin ke sini, baik Alvin maupun Febby sama-sama merasa aneh dengan rasa nyaman tersebut. Namun, keduanya memilih menyimpan hal yang ‘mengganjal’ tersebut pada diri masing-masing. Karena bila mereka saling terbuka, hal ‘mengganjal’ tersebut justru akan terasa lebih nyata.

“Kalo lo diem di sini cuma ngeliatin muka gue doang, balik sana ke kamar! Gue pengen tidur tenang.” gumam Febby dengan mata masih tertutup rapat.

Alvin menumpu sikunya ke bantal dan menyandarkan sebalah wajahnya pada telapak tangan dengan pandangan justru makin intens mengarah pada wajah Febby.

“Kenapa? Kayak lo bakal grogi aja kalo gue liatin!” ejek Alvin. Niatnya, sih, bergurau. Namun, tanpa disangka Febby membuka mata dan menatap Alvin seraya memasang air muka serius. Gadis itu bergeming dan terus menatapnya tanpa berkedip hingga membuat Alvin sadar akan situasi bahaya yang sedang terjadi.

Sumpah demi Tuhan, setelah Shilla, tatapan Febby saat ini adalah hal kedua yang membuat jantungnya berdegup tidak sabaran. Bila Shilla membuat hatinya bergetar bahagia, Febby justru membuatnya takut tujuh turunan. Ia takut kalau Febby ternyata menyukainya. Tidak, tidak. Biar ia coba perbaiki faktanya. Ia bukan takut dengan kenyataan Febby menyukainya. Namun, ia merasa takut karena dugaan Febby menyukainya membuat denyut jantungnya menjadi tidak karuan. Masalahnya, dulu Febby sudah pernah menyatakan cinta terang-terangan kepadanya, meskipun hanyalah rekayasa belaka, dan seluruh dirinya tidak bereaksi apa-apa. Tapi sekarang, ia justru berdebar.

Febby menutup matanya kembali dalam diam yang membuat fantasi Alvin menjadi semakin liar. Pikiran tentang Febby menyukainya tidak bisa ia enyahkan dari otaknya. Pada akhirnya ia memilih menyerah dan memutus jalannya drama yang sedang berlangsung. Ia tidak memerlukan pembenaran dari mulut Febby karena itu sama sekali tidak membantu menstabilkan hubungan di antara mereka yang tengah tergoncang.

Alvin menegakkan tubuhnya segera dan turun dari ranjang. Ia mulai melangkahkan kaki hendak beranjak. Akan tetapi, langkahnya yang belum seberapa itu harus berhenti karena Febby tiba-tiba bersuara.

“Ga nanya kenapa gue grogi?”

Sial. Alvin mengumpat tertahan dalam hati. Ia sungguh tidak berharap apapun keluar dari mulut Febby sekarang. Jangan bilang kalo sekarang dia mau nembak gue lagi? Mati gue. Mati.

Buk!

Tiba-tiba suasana tegang tadi sirna seketika. Bukan pernyataan cinta seperti yang sudah ia wanti-wanti sebelumnya, Alvin justru menerima lemparan bantal dari Febby. Wajah gadis itu menyeringai penuh kemenangan.

“Gue cuma ga suka tidur diliatin. Muka bantal gue kan ga manusiawi bego!” keluh gadis itu.
Saat itu juga umpatan melaju keluar begitu saja dari mulut Alvin tanpa sempat lagi di rem. “Asu! Gue kira lo mau nembak gue, ‘njing!” Ia menggerutu namun dengan ekspresi lega di wajahnya. Ia tersenyum lemah sukses terbodohi oleh trik Febby, untuk kesekian kalinya. Gadis itu benar-benar harus ia beri pelajaran kapan-kapan.

Febby terkekeh pelan di tempatnya. Alvin lantas memungut bantal ‘penyelamat’ tadi dan mengembalikannya ke kasur. Ia tidak benar-benar menaruhnya melainkan membiarkan benda tersebut sedikit melayang di udara dan akhirnya terjatuh tepat di atas muka Febby.

“Awas ya. Tunggu pembalasan gue!” Alvin memberikan peringatan yang sekaligus menjadi ucapan selamat tinggalnya sebelum keluar dari kamar Febby dan kembali menuju kamarnya. Febby hanya tersenyum miring ke arahnya.

Ketika keduanya tak lagi bertatap muka atau berada di tempat yang terjangkau oleh pandangan masing-masing, mereka sesaat membeku dan diam-diam menghela napas lega. Alvin bersandar pada pintu kamarnya yang telah tertutup lalu kemudian beranjak memasuki kamar seraya geleng-geleng kepala.

Sementara Febby tetap ditempatnya dan memilih melanjutkan tidurnya yang terpotong beberapa saat lalu.

“Selamet, selamet!” gumamnya pelan.

***

Shilla duduk di salah satu kursi kosong di dalam cafe sebuah mall sambil menunggu frappucino pesanannya selesai. Hari ini moodnya sedang kurang bersahabat. Kali ini bukan karena Alvin, walaupun pemuda itu juga mengambil porsi beberapa persen, tapi karena Ify. Ia masih kesal dengan keputusan sahabatnya untuk mundur dari jabatan kapten sekaligus tidak lagi menjadi anggota club cheers yang sudah dipimpinnya hampir setahun dan sudah mereka ikuti dari tahun pertama sekolah. *yah jadi spoiler kan*

Yang membuatnya kesal lebih tepatnya adalah karena tindakan yang Ify pilih adalah tindakan yang paling tepat. Ia kesal karena tidak ada yang bisa diperbuat agar Ify bisa bertahan. Bagaimana bisa temannya itu bertahan kalau 80% penghuni clubnya menginginkan Ify mundur? Satu suara darinya tidak akan ada gunanya. Maka dari itu ia kesal karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu sahabatnya.

Di samping itu, seperti biasanya, ia juga terganggu dengan kekasihnya tercinta akhir-akhir ini. Entah kenapa, ia mulai merasakan keanehan pasca pembicaraan lewat ponsel waktu itu. Ia merasa sikap Alvin ikut berubah. Pemuda itu terasa tidak sehangat biasanya. Dia juga seperti berusaha menghindarinya dengan mempersingkat durasi komunikasi mereka lewat telepon. Alasannya selalu sama, yaitu Alvin harus belajar untuk ulangan susulan atau mengerjakan tugas. Ia juga cukup sering mendapati kekasihnya seperti sedang termenung sehingga tidak mendengar ucapannya. Yang paling menarik perhatiannya adalah ketika ia bercanda bertanya apakah pemuda itu mencintainya, Alvin terdengar kaget dan menjawab dengan gelagapan.

Ia tidak berani untuk bertanya langsung atau bertukar pendapat soal perubahan tersebut dengan Alvin. Ia sendiri yang waktu itu bertekad ingin berubah menjadi lebih kalem namun ia sendiri pula yang merasa tidak yakin dan was-was. Ia tidak tahu apa memang ada sesuatu yang terjadi pada Alvin atau ini hanyalah bagian dari masa transisi perubahan sikapnya sehingga hatinya menjadi jarang terasa tenang.

Lantas, itulah yang membuat kakinya melangkah menuju cafe segera setelah jam pulang sekolah. Ia butuh sedikit suasana cerah dan minuman menyegarkan untuk membersihkan noda-noda pikiran. Ia juga sengaja tidak meminta ditemani siapa pun karena ia butuh merefleksikan diri. Bagaimanapun, hal yang mengganjal benaknya berasal dari pemikirannya sendiri sehingga yang bisa menyelesaikan tentunya dirinya sendiri pula.

“Kak Shilla!” Pelayan akhirnya menyerukan namanya dan Shilla tanpa menunda lagi langsung menghampiri sang pelayan dan mengambil frappucino pesanannya.

Setelah mengucapkan terimakasih, Shilla beranjak hendak keluar dari cafe. Ketika sudah melewati pintu, mata Shilla tanpa sengaja menangkap sosok Chris duduk seorang diri di kursi luar cafe. Tampilannya rapi seperti biasa namun tetap tampak casual. Pemuda yang sebelumnya mengganggu harinya itu seperti sedang menunggu seseorang.

Setelah rutin mendatangi dan membuat hari-harinya seperti banyak masalah, Chris tiba-tiba menghilang. Setelah kejadian Chris dan Lala yang waktu itu ia lihat di sekolah, pemuda itu mendadak tidak ada kabar. Ia sebenarnya sungguh sangat tidak keberatan kalau Chris tidak lagi muncul di depan matanya. Namun, ia tidak bisa mengelak kalau ia jadi penasaran dengan pemuda itu. Bagaimana pun, ia juga butuh tahu alasan pemuda itu tiba-tiba datang dan pergi.

Kaki Shilla melangkah secara otomatis mendekat ke meja Chris bahkan duduk di salah satu kursinya tanpa menyapa. Chris tampat kaget akan kehadirannya sementara ia hanya memasang tampang penuh tanya pada pemuda itu. Tidak seperti sebelumnya, melihatnya justru membuat Chris mendengus dan melenguh pelan.

“Ganggu gue nya jangan sekarang, ya, tolong..” pinta pemuda itu dengan ekspresi agak frustasi.

Shilla menaikkan sebelah alisnya makin bingung pada Chris. Yakin? Gue? Yang ganggu dia? Pikirnya sedikit takjub.

“Shit!”

Belum sempat ia menjawab, Chris tiba-tiba menarik tangannya hingga ia berdiri dari kursi dan membawa serta menempatkannya dengan paksa pada meja di sampingnya. Chris lalu buru-buru kembali ke mejanya dan bertepatan dengan itu seorang gadis menghampiri mejanya dan duduk di salah satu kursi. Gadis itu tak lain adalah Lala, entahlah sang pacar atau sang mantan. Kemungkinan besar sih mantan karena saat pertemuan di sekolah waktu itu, Lala bersama pemuda lain. Dikarenakan meja mereka bersebelahan, Shilla dapat mencuri dengar obrolan Chris dan Lala.

“Kenapa lagi?” tanya Lala yang kedengaran agak emosi.

“Kamu mau mesen apa?” tawar Chris yang segera disambut balasan datar dari Lala. “Gue dateng bukan niat mau ngedate sama lo.”

Senyuman di wajah Chris sedikit mengendur meskipun wajahnya tetap tenang. Pemuda dengan paras bule itu menghela napas pelan. *sebenernya gue agak kurang srek gitu sama ini orang aslinya tapi karena sudah terlanjur dijadikan tokoh sebelumnya mau gimana lagi, kalo tetiba gue ganti mimi peri kan ntar pada kaget*

“Salahnya ada di aku atau kamu, sih, La?” Chris mengawali diskusi ‘hangat’ mereka dengan halus.

Shilla merasa rambut-rambut tipis di sekitar lengannya berdiri. Aura Chris dan nada bicaranya benar-benar berbeda dari yang sudah pernah ia dengar selama ini. Seramah-ramahnya Chris padanya, suaranya ketika mengajak Lala bicara benar-benar sangat lembut. Itu juga yang membuatnya berpikiran kalau pemuda itu masih menyimpan perasaan yang besar pada Lala. Umm..ia jadi sedikit simpati.

Lala mengalihkan pandangan dan memperhatikan orang-orang di sekitar sekilas sebelum menjawab pertanyaan Chris padanya. “No..no one. We’re just...not meant for each other.”

“Jangan nyoba-nyoba jadi lebih pinter dari Tuhan, La.” ujar Chris sarkastik. Ia berusaha sebisanya menahan emosi dan menjaga suaranya agar tetap terdengar bersahabat.

“Okay, then it’s me! Gue yang salah. Gue yang udah ga mau sama lo. And please stop your aku-kamu thing. It’s annoying when we’re not in a relationship anymore.” Lala belum mau menyerah.

Chris lantas kembali bertanya dengan cepat. “Then, why? What makes him better?”

“Chris, lo harus tau, ga semua hal itu harus ada alesannya. Yang perlu lo ngerti adalah kita udah selesai, udah LAMA, dan gue udah gak lagi dalam posisi bebas ngebahas hubungan gue sama lo terus-terusan. Chris, I have had a man now, yang mesti gue jaga perasaannya.”

Chris tertawa kering sekering hatinya saat ini. Mengetahui Lala begitu memikirkan pria barunya membuat mata air dalam dirinya seketika menyusut. “Like you have ever mind to take care of mine, huh?”

Lala mendengus kesal. Ia kelihatan sudah tidak tahan untuk lebih lama bersama Chris. Ia benar-benar ingin menghilang saat ini juga. “Stop. Kalo kayak gini ga bakal ada abisnya. Chris, ini terakhir kali gue bersedia lo hubungin dan lo minta temuin. Kita udah selesai dan diskusi kita hari ini gue anggap juga udah selesai. Sebelum gue ngomong yang enggak-enggak, gue permisi. Kalo lo masih mau bahas soal ‘kita’, jangan coba-coba buat hubungin atau nemuin gue lagi. Fix your mind first, please!”  

Tanpa mendengar jawaban Chris terakhir kali, Lala segera angkat kaki tanpa menolehkan kepala sedikit pun. Chris duduk pasrah tanpa melakukan sesuatu yang berarti untuk menghentikan mantan kekasihnya itu. Kebetulan memang ia tidak lagi punya sesuatu yang bisa menarik gadisnya kembali.

Shilla menyeruput sedikit frappucino miliknya untuk membasahi mulutnya yang terasa hambar. Drama nyata yang ia saksikan benar-benar seru hingga dapat membuatnya betah duduk diam dan menonton sampai habis. Bahkan sampai kedua peran utama meninggalkan tempat kejadian. Chris tak lama kemudian menyusul Lala, kurang tahu benar-benar menyusul atau tidak, meninggalkan cafe tempat mereka tadi berbicara.

Shilla kini benar-benar duduk seorang diri. Selain dirinya, tidak ada lagi orang lain yang juga sedang menempati meja cafe di bagian luar. Alhasil, Shilla akhirnya memutuskan untuk undur diri pula dari tempat tersebut. Ia sampai di depan lift yang masih tertutup dan setelah menekan tombol, ia berdiri menunggu sampai pintunya terbuka.

Ting!

Lift akhirnya terbuka dan tanpa disangka sudah ada sosok Chris di dalam sana. Pemuda itu bersandar sambil melipat kedua tangannya dan menatap Shilla datar. Shilla awalnya sempat ragu namun pada akhirnya tetap menaiki lift yang sama dengan Chris tersebut. Entah kebetulan atau tidak, tidak ada orang lain lagi yang masuk dan itu artinya mereka akan turun menggunakan lift yang sama.

Shilla hendak menekan tombol tujuan namun Chris menahannya duluan. Chris menahan tangannya dan mewakilinya menekan tombol yang akan membawa mereka menuju parkiran mall. Ia lantas memandang pemuda itu bingung.

“Biar gue anter.” tukas Chris. Ucapannya bersifat tidak terima penolakan dan kali ini Shilla memilih tidak protes. Catat ya, hanya untuk kali ini.

Setelah itu, mereka kembali membisu. Shilla diam karena mendadak merasa canggung sedangkan Chris sedang berusaha meredakan semua kepulan asap yang memenuhi kepalanya.

“Minuman lo kayaknya enak,” tiba-tiba Chris menyeletuk.

Shilla cukup kaget lantas menoleh pada Chris lalu minumannya secara bergantian. Ia kemudian menyodorkan minumannya tersebut pada pemuda itu. “Masih ada setengah,” tawarnya.

Chris tanpa babibu meraih frappuccino milik Shilla yang diberikan kepadanya dan meminumnya hingga tak bersisa. Bahkan, suara-suara tetesan terakhir begitu terdengar jelas membuat Shilla sedikit merasa geli dalam hati. Abis putus mah bawaannya aus emang. Pikirnya.

Ketika mobil Chris sudah beranjak meninggalkan mall, baik Chris maupun Shilla masih belum ada yang bersuara. Shilla mencuri pandang beberapa kali pada Chris. Hanya sekedar memastikan pikiran pemuda itu masih tersisa untuk menyetir dengan benar. Ia tidak mau mati konyol karena kecelakaan bersama pemuda jomblo nyeleneh seperti Chris.

Namun, Shilla ternyata dapat menangkap ekspresi lain yang dicetak Chris pada wajahnya. Tanpa perlu bicara pun ia tahu saat ini pemuda itu benar-benar sedih. Ia juga dapat memastikannya lewat napas pemuda itu yang sedikit tidak teratur. Kepala Shilla memikirkan sesuatu yang mesti ia lakukan namun ide tersebut amat bertentangan dengan nuraninya. Ia mencoba berpikir berulang kali hingga akhirnya ia menyerah.

Shilla tiba-tiba menyuruh Chris menepikan mobilnya ketika memasuki jalan yang sepi dan tidak ada larangan untuk parkir atau berhenti sebentar. Chris menunjukkan wajah kebingungan namun menuruti saja apa yang ia perintahkan. Setelah mobil sudah benar-benar berhenti, ia menoleh pada pemuda di sampingnya.

“Sini!” Perintah Shilla pada Chris kembali. Ia memberi isyarat lewat tangannya agar Chris mendekat.

Chris lantas menatapnya curiga. “Mau ngapain lo?”

Setelah sekian lama, baru kali ini Chris bersikap kurang ramah padanya. Namun, Shilla tidak ambil pusing karena sekarang ia justru hendak berbuat baik pada pemuda itu.

“Nurut aja!” Tegas Shilla.

Di tengah kebingungan, Chris kemudian perlahan mendekatkan dirinya pada Shilla. Tiba-tiba, tanpa sempat terpikir olehnya, Shilla mengalungkan kedua lengannya di sekitar leher dan bahunya. Gadis itu memeluknya. Ajaib. Kemarin-kemarin, hanya dengan menyapa gadis itu, ia sudah mendapatkan beribu cacian. Sekarang, dengan sadar penuh dan atas inisiatif gadis itu sendiri, Shilla memeluknya.

“Jangan salah sangka. Gue cuma mau membantu atas dasar rasa kemanusiaan. Lo pasti ga mungkin bisa nangis kalo sama temen-temen cowok lo, kan? Yaudah, puas-puasin sekarang. Gue ga bakal nanya apa-apa.” jelas Shilla agar tidak timbul kesalahpahaman dari Chris, juga dirinya sendiri. Melakukan hal ini sungguh adalah pertimbangan berat baginya.

Chris sesaat bergeming tapi kemudian kedua tangannya perlahan bergerak menyambut perlakuan Shilla. Pemuda itu menjatuhkan wajahnya di bahu Shilla dan tertawa kecil. “I’m so touched.” gumamnya pelan.

Shilla mengangkat separuh bibirnya lalu memutar kedua bola matanya malas. Ia tidak membalas apapun. Hanya tangannya yang ritmis bergerak menepuk pelan punggung Chris, menjadikannya sebagai pengiring isakan pemuda itu yang akhirnya benar-benar keluar. Chris menangis tanpa suara membuat Shilla jadi merenungkan dirinya sendiri.

Putus segitu sedihnya, ya? Apa gue juga bakal kayak gini nanti?

Sekelebat bayangan tak mengenakkan seketika menghentakkan kesadaran Shilla. Ia kemudian menggelengkan kepala pelan berusaha menghalau pikiran-pikiran tidak masuk akal yang menyapa dirinya.

Mikir apa gue barusan?

***

Setelah kejadian ‘bercanda’ di kamar Febby waktu itu, Alvin sekarang justru berusaha menghindari gadis itu. Biasanya ia kerap berkunjung ke kamar Febby atau Febby yang mendatangi kamarnya. Tapi saat ini, bahkan untuk sekedar melewati area kamar Febby pun tidak. Tiap Febby datang ke kamarnya ia akan berpura-pura tidur. Ia juga jadi sering mengunci kamarnya sehingga orang lain menjadi tidak bebas masuk tanpa sepengetahuannya.

Setiap hari ia merenungi dirinya, lebih tepatnya perasaannya. Ia memikirkan Shilla dan ia juga memikirkan Febby. Dua gadis itu berhasil membuat pikirannya kelabakan sendiri. Perasaannya pada Shilla masih tetap sama dan tidak berubah sekali. Namun, yang ia tidak mengerti adalah bagaimana perasaannya pada Febby. Gadis itu tahu-tahu berhasil mencuri ‘perhatian’ yang membuatnya bingung sendiri bagaimana menerjemahkan apa yang ia rasakan.

Alvin pikir ia hanya merasa iba pada Febby namun lambat laun timbul rasa ingin melindungi yang akhirnya ia perjelas menjadi rasa sayang. Damn. Ia tidak bisa berbohong. Ia memang telah menyayangi Febby. Tapi, ia sendiri tidak yakin ke arah mana perasaan tersebut. Ia berusaha meyakinkan diri kalau ia hanya menganggap gadis itu sebagai adiknya. Namun, ia sendiri tidak bisa bersikap tegas pada dirinya sendiri sehingga sampai sekarang ia masih bertanya-tanya.

Sementara itu, Febby menyadari keganjilan di antara dirinya dan Alvin. Ia sadar betul ada yang berubah pada hati masing-masing. Namun sama seperti Alvin, ia juga tidak paham dan bisa menentukan perasaan apa yang menghinggapi mereka saat ini. Ia hanya tahu kalau dirinya punya perasaan sayang pada Alvin, begitupun sebaliknya. Ia berusaha tidak mengungkit hal ini supaya hubungan mereka tidak berjarak lebih jauh lagi. Tapi, sekarang ia sudah tidak tahan. Semakin ia pendam, jarak di antara mereka justru makin renggang. Ia harus bertindak. Tidak, mereka berdua harus melakukan sesuatu untuk memperbaiki situasi ini.

Febby membuka pintu kamar Alvin yang kebetulan tidak terkunci dan masuk begitu saja tanpa permisi lebih dulu. Ia menemukan Alvin tengah berbaring bersandar di atas ranjang dengan sebuah komik di tangan. Pemuda itu menoleh ke arahnya dan kelihatan sedikit panik mendapati kedatangannya yang tiba-tiba. Itu cukup untuk membuktikan kalau Alvin selama ini memang berniat menghindarinya.

“Ketok dulu kali! Gue kirain maling tadi!” Seru Alvin. Ia berusaha mati-matian menyembunyikan perasaan groginya saat ini dengan pura-pura syok.

Febby diam dengan pandangan datar dan lurus mengarah padanya. Gadis itu lagi-lagi tanpa permisi duduk di tepi kasurnya lalu beralih menatapnya serius. Saat itu juga dunia Alvin terasa terguncang.

“We both know we do have something to talk, seriously.” Febby membuka diskusi dengan nada serius dari awal.

Alvin diam dan seketika menghela napas berat. Ia sudah tidak bisa melarikan diri lagi. Ia sungguh skak mat sekarang.

“Tapi kita juga sama-sama ga ‘ngerti’, kan?” Balas Alvin tak kalah mencekam.

Febby tak langsung menjawab melainkan menajamkan pandangannya pada Alvin membuat Alvin meriang di tempat. Matanya kemudian memicing. “No. Kita ‘ngerti’, kok. Bener-bener ngerti.”

Alvin menelan ludahnya yang mendadak terasa pahit. Sepahit kenyataan yang tiba-tiba dilontarkan oleh Febby.

“We fall for each other.”

***

Shilla menatap ponselnya datar. Ia tidak mengerti lagi apa yang sudah terjadi dengan hubungannya dengan Alvin akhir-akhir ini. Seingatnya mereka sedang tidak punya masalah besar yang membuat mereka harus berjarak beberapa saat. Ia hanya sedikit merasa ada yang berubah dari suasana dalam hubungan mereka namun itu tidak benar-benar menjadi masalah untuknya. Yang harusnya juga untuk Alvin sehingga pemuda itu tidak perlu tiba-tiba berhenti menghubunginya 4 hari belakangan.

Ya, ia benar-benar lost contact dengan Alvin selama 4 hari. Alvin pun tidak sedang ada jadwal manggung di mana pun dan ia sudah mengonfirmasi hal tersebut dengan Rio, baik langsung maupun tidak langsung lewat Ify. Alvin bukan tipe yang aktif di sosial media sehingga ia benar-benar tidak tahu bagaimana cara mengetahu kabar pemuda itu. Rio, Cakka, dan Gabriel juga kesulitan menghubungi pemuda itu 4 harian ini.

Awalnya Shilla curiga namun sekarang ia malah jadi khawatir. Ia khawatir telah terjadi sesuatu yang buruk pada Alvin sama seperti cedera kakinya dulu. Ia sudah menunggu dan tidak mencoba menghubungi lebih dulu. Ia kan sudah bertekad ingin berubah menjadi tidak terlalu posesif. Namun, hari ini adalah batas terakhir kesabarannya. Ia harus menghubungi kekasihnya dan menanyakan langsung apa alasan masuk akal yang bisa membenarkan tindakan Alvin padanya.

Shilla mendial nomor ponsel Alvin dan menunggu sampai nada sambung berhenti, tepatnya sampai Alvin menjawab panggilannya. Percobaan pertama gagal dan ia kemudian mencoba untuk yang kedua kali. Namun, hasilnya masih tetap sama. Alvin, masih dugaan, mengabaikan teleponnya. Kalau sampai ia tetap gagal untuk yang ketiga kali, ia akan benar-benar mendatangi langsung rumah pemuda itu.

“Halo?”

Shit, suara perempuan. 4 hari tanpa kabar dan yang pertama kali ia dengar justru suara perempuan. Yang lebih menyedihkan, ia hapal betul suara tersebut. Suara serak milik Febby. Jadi...Alvin sedang bersama Febby? Alvin menghilang darinya namun tetap ada untuk Febby? Atau Alvin selama ini bersama Febby dan tidak ada waktu menghubunginya? Cih, semuanya kedengaran sama aja, sama jahatnya.

Mata Shilla mulai terasa lembab dan ia yakin mulai memerah sekarang. Ia cukup dibuat repot ketika harus menjaga nada suaranya yang tertahan. God, kelewat cepet kah kalo sekarang gue udah merasa sedih?

“Al—Alvinnya ada?” Shilla bertanya tanpa mengeluarkan nada yang bersifat konfrontir. Ia benar-benar tidak ingin mendengar suara Febby lebih lama jadi ia berusaha menyudahi dialog mereka sesegera mungkin.

Febby tidak langsung menjawab dan membuat Shilla gemas sendiri di tempatnya. Ia tampak meremas seprei kasurnya. Air matanya rasanya ingin tumpah sekarang.

“Gue mau ngomong sesuatu sama lo..tentang Alvin.” Febby akhirnya bersuara.

Jantung Shilla yang tadi sudah huru-hara sekarang semakin berdenyut tidak karuan. Sialan, yang gue butuhin Alvin! Mana Alvin, woy?!! Hatinya berteriak sekerasnya namun tak ada satu pun yang dapat mendengar selain dirinya sendiri.

“Gue tau Alvin ngilang beberapa hari ini. Tenang, dia baik-baik aja. Dia cuma..menghindar. Dia ga tau gimana harus ngadepin lo sekarang. Semuanya karena gue. Gue ga bisa diem aja. Gue ga mau makin merasa bersalah dan ngebiarin lo tersiksa dalam kebingungan karena Alvin ga juga bisa ambil tindakan yang jelas.”

Kepala Shilla terasa berputar karena Febby yang berbicara berbelit-belit. Dadanya terasa begitu sesak. Sedikit lagi, semua pertahanannya akan runtuh. Hal ini akan menjadi sangat buruk ketika semua emosinya tumpah namun Alvin tak juga muncul. Ia sungguh akan mengutuk pemuda itu nanti.

“Alvin punya perasaan yang sama kayak yang dia punya buat lo...ke gue...begitupun sebaliknya. Karena itu dia jadi ga bisa ngadepin lo. Dia merasa bersalah, termasuk gue. I’m deeply sorry..”
A—apa?

Shilla menjawab lirih dalam hati. Ia bahkan tidak punya tenaga untuk mengutarakannya secara langsung. Pikirannya yang tadi penuh sekarang terasa kosong. Ia merasa sesaat menghilang dari dunia tempatnya berada. Ia terdiam dan merasa terpukul seorang diri di kamarnya. Ia bahkan tidak lagi merasakan mendarat di atas kasur yang empuk. Ia merasa seperti tengah melayang.

“Brengsek. Apa yang udah lo lakuin?!!”

Keinginan Shilla tadi untuk mendengar suara Alvin akhirnya terpenuhi. Pemuda itu tiba-tiba muncul dengan suara sedikit berteriak. Sayangnya, semuanya terlambat. Shilla sekarang tidak lagi menginginkan suara tersebut. Mendengarnya sekarang justru membuat hatinya pecah berkeping-keping. Ia merasa rindu namun suara itu juga membuatnya merasakan kesedihan mendalam di saat yang bersamaan.

“He..cheated..on me?” parau Shilla. Akhirnya ia bisa mengeluarkan suara namun terdengar bergetar hebat. Ia sekarang sudah kembali pada kenyataan. Ia merasakan pendaratan begitu keras tanpa kasihan setelah merasa melayang beberapa saat lalu.

“Shill, gue—dengerin gue dulu, ya? Please?” Suara panik Alvin kemudian menggema di telinga Shilla.

Shilla mengedipkan matanya sekali mengeluarkan air mata yang sudah menumpuk. Ia menggigit bibirnya menahan suara isakannya agar tidak ikut keluar.

“Sayang, dengerin gue. Gue—tadi itu—bukan-bukan, 4 hari ini gue ga ngehubungin lo karena gue—uhm gue...Damn, I’m so sorry..” Di seberang sana Alvin kalang kabut mencari kata-kata yang tepat. Ini benar-benar tiba-tiba dan ia tidak bisa mengarang alasan dalam waktu sesingkat ini ditambah pada situasi yang berbahaya seperti sekarang.

Benar saja, ucapannya justru membuat Shilla semakin bergeming. Sorry? Jadi emang bener adanya?

“It’s true, right? What she said is true..” Dalam satu ucapan, Shilla bertanya dan menjawabnya sendiri. Ia memang sedang tidak berbicara atau membalas omongan siapapun. Ia berbicara pada dirinya sendiri. Ia sedang meyakinkan dirinya sendiri.

Alvin menghela napas berat. Kepalanya terasa berdenyut. Satu-satunya hal yang bisa dan harus ia lakukan adalah menemui kekasihnya secara langsung. “Tunggu gue ya, gue bakal dateng nemuin lo. We will talk then, babe.”

Babe? Panggilan itu terasa sangat tidak masuk akal sekarang. Sepenggal lirik dari lagu yang sewaktu keluar sangat sering Shilla nyanyikan sekarang benar-benar terjadi pada dirinya sendiri.

‘But when you call me baby, I know I’m not the only one’

Dan dia bilang mau nemuin gue? Mau ngomong? Yang bener aja! Shilla menggelengkan kepalanya keras lalu segera membalas ucapan Alvin.

“Enggak, gausah. Gue gak mau ketemu. Gue gak mau ngomong. Gue mau sendiri. Jangan coba-coba dateng.”

Sesaat setelah jawabannya selesai, Shilla lekas memutus sambungan. Ia mengakhiri begitu saja pembicaraannya dengan Alvin yang sudah lama ia tunggu-tunggu. Sekarang ia justru berharap lost contact itu terus berlangsung sampai entah kapan. Kehadiran Alvin nanti tidak lagi menjadi kehadiran paling ia tunggu. Tidak ada kebahagian jungkir balik, hanya dunianya saja yang menjadi jungkir balik dan berantakan.

Gue bahkan belum putus, tapi udah sesedih ini..

***

Dududu~ Nungguin ya? HAHAHA pertanyaan paling ngeselin banget kan ya?
Alhamdulillah ya Allah, sempet juga 1 part. Berdoa lagi ya semoga part lain bisa segera menyusul.

Btw, akhirnya ify punya saingan nyesek wkwk. Gak sih, rify tiada duanya kan yak? wkwk