-->
Tampilkan postingan dengan label Ify. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ify. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Juli 2014

Matchmaking Part 30 (Rify)

Rify

Percayalah padaku meski di gelap malam, kamu tak sendirian. Dan semua bintang yang kutinggalkan, temani kau sampai akhir malam. *berasanostalgiasd*

***

“Brengsek!!”
Bug..bug..
Ify terpaku diam di tempatnya mendapati dua orang pemuda yang amat ia kenal sedang bergulat di lantai. Sesaat kemudian ia tersadar akan keberadaan mereka sekarang. Adalah tempat yang tidak tepat untuk melakukan adu jotos semacam itu. Mereka pasti akan terlibat masalah lain. Ia lantas menarik Rio yang tengah berada di atas Debo sambil menarik kerah bajunya.
“Rio stop! Kalian bisa kena skors!” jeritnya tertahan. Jika ia berteriak maka seisi perpustakaan akan tahu kalau sedang terjadi perkelahian di tempatnya. Ia menatap Rio dengan ekspresi campur aduk. Antara kaget, panik, takut sekaligus kecewa. Ia benar-benar tidak bisa percaya pada apa yang baru saja terjadi padanya. Ia tidak percaya kalau tadi Debo menciumnya. Ia tidak percaya kalau orang itu Debo. Beberapa hari lalu ia baru saja bertemu dengan pemuda itu dan tertawa bersama pemuda itu. Beberapa hari lalu Debo meyakinkannya kalau dia tidak akan macam-macam selama ia masih menjalin hubungan dengan Rio. Pemuda itu bersikap seolah-olah mendukung hubungannya dengan Rio. Tapi, apa yang terjadi saat ini?
Rio tersadar dari amarahnya ketika mendengar suara Ify dan melihat wajah pucat pasi gadisnya itu. Ia langsung menarik gadis itu pergi tanpa memedulikan Debo yang masih terbaring menahan sakit di lantai. Napasnya naik turun seiring emosinya yang makin meninggi. Ia kemudian berhenti di depan toilet belakang sekolah yang jarang didatangi. Salah satu tempat sepi di sekolahnya. Ia menghempas tangan Ify yang sempat ia genggam. Ia berjalan mondar-mandir sambil meremas-remas kepalanya.
Ingin sekali ia membelah dadanya supaya semua sesak yang ada hilang. Masih kentara di benaknya bagaimana pemandangan Debo dan Ify tadi. Rasanya begitu menyakitkan melihat ada orang lain yang menyentuh gadisnya. Di tempat sepi seperti itu lagi. Diperparah dengan pesan misterius yang ia dapatkan. Ia marah. Marah sekali. Masalahnya ia bingung harus marah pada siapa. Pada Ify? Haruskah ia marah padanya? Apa Ify datang ke sana karena Debo? Apa mereka hanya tidak sengaja bertemu lagi seperti kemarin? Atau memang ada sesuatu di antara mereka? Apa si pengirim pesan misterius ingin memberitahunya soal itu?
“Arrggh!!” Rio mengerang kesal karena pemikirannya. Ia lalu beralih pada Ify yang hanya membisu sedaritadi. Gadis itu hanya diam dengan pandangan kosong. Seketika itu juga hasrat ingin marahnya hilang, berubah menjadi rasa cemas pada Ify. Ify pasti shock. Bodoh sekali jika ia berpikiran Ify selingkuh. Ify tidak mungkin bisa mencintai orang lain selain dirinya. Selama ini satu-satunya pemuda yang selalu dikejarnya hanya dirinya. Tidak mungkin Ify bisa secepat itu melupakannya dan beralih pada orang lain. Pasti ada sesuatu yang salah yang sudah terjadi.
Rio perlahan mendekat pada Ify. Ia menyentuh bahu gadis itu berniat menenangkan. Tapi tiba-tiba, Ify menepis tangannya dan langsung memeluk tubuhnya sendiri. Wajah Ify terlihat ketakutan. Kecemasannya semakin menjadi melihat Ify seperti itu. Ini pasti karena kejadian tadi. Ify benar-benar shock berat.
“Fy, lo gakpapa?” tanyanya khawatir. Ia hendak memegang kedua bahu Ify tapi Ify kembali menepis tangannya. “Jangan sentuh gue!” pekik Ify. Ia terisak sambil menundukkan wajahnya.
“Fy, ini gue, Fy! Ini gue!” kata Rio berusaha membuat Ify sadar. Namun sepertinya Ify masih kalut dalam pikirannya. Gadis itu masih meringkuk dan berusaha menjauhkan diri darinya. Bahkan kini Ify menyeka-nyeka bibirnya dengan kasar. Rio panik setengah mati. Ia bersumpah akan membuat perhitungan dengan Debo nanti.
Rio meraih lengan Ify dan menggoncang tubuh gadis itu. “Fy, tenang! Ada gue, Fy! Ini gue Rio!” Ia menangkup wajah Ify agar Ify bisa melihatnya. Siapa tahu Ify bisa sadar dari ketakutannya.
“Gue mau pulang..gue takut..gue mau pulang..” racau gadis itu. Rio setidaknya bisa sedikit bernapas  lega karena Ify tidak lagi meronta padanya. “Iya, kita pulang, Fy.” Katanya dan langsung membawa gadis itu kembali ke kelas. Ia meletakkan surat izin untuk mereka berdua lalu kemudian beranjak pergi menuju rumah Ify. Ify saat ini butuh ketenangan dan rumah Ify sepertinya lebih tepat. Ia takut papa dan mamanya ada di rumah dan akan panik melihat Ify nanti. Makanya lebih baik ia membawa Ify pulang ke rumahnya saja.

***

Rio membopong Ify dan membaringkannya di kasur kamar gadis itu. Ify tidur saat dalam perjalanan pulang tadi. Wajahnya benar-benar kelihatan lelah. Ini adalah hari yang berat untuk Ify.
Rio mengamati air muka Ify yang sudah tampak lebih tenang. Napasnya juga teratur tidak lagi sesenggukan. Ia membelai kepala gadis itu dengan lembut. Berharap belaiannya bisa membuat Ify semakin tenang dan tidak ketakutan lagi. Dua kali ia meninggalkan Ify dan dua-duanya sama-sama membuat Ify celaka. Nanti ia pasti akan berpikir ulang jika ada kesempatan untuknya meninggalkan kekasihnya itu lagi.
Rio baru hendak meraih tangan Ify ketika Ify tiba-tiba menggeliat dan mengigau gelisah. Ia langsung mengusap wajah Ify dan berusaha menenangkan gadis itu. Mata Ify terbuka dengan pandangan ketakutan lagi. Ia terduduk lalu menoleh ke kanan-kiri masih dalam ekspresi takut. Rio menangkup wajahnya lagi menyadarkannya dari mimpi buruk yang mungkin baru ia alami.
“Rio?” gumamnya dengan napas tersengal. Rio menghela napas lega lalu menganggukkan kepala sambil tersenyum. “Iya, ini gue.”
Ify lalu mendesah lega sama sepertinya. “Gue dimana?” tanyanya dengan suara sengau dan serak. “Kita sekarang di rumah lo.”
“Tadi gue pingsan ya?” tanya Ify lagi. “Emangnya lo terakhir inget lo lagi ngapain?”
Ify mengernyit seraya mengingat-ingat. “Gue keluar perpus trus..gue gatau lagi.” ringisnya kemudian.
“Tadi lo cuma ketiduran pas di jalan pulang.”
“Pulang?” beo Ify. Ia spontan memeriksa jam tangannya dan mendapati sekarang belum masuk jam pulang sekolah. “Lo pasti bolos gara-gara gue ya?” tanyanya dengan tatapan tak enak hati.
“Itu gak penting. Sekali bolos gak akan bikin gue bego juga.” Jawab Rio santai seraya terkekeh pelan. Ify spontan mencibir ke arahnya. Masih sempat-sempatnya Rio menyombongkan diri di depannya kala ia tengah sakit begini. Eh, tapi ia tidak benar-benar sakit, sih.
“Sekarang, apa yang lo rasain?” tanya Rio kembali. Ify menatap Rio dan spontan menjawab. “Laper..”
Rio sesaat diam lalu tersenyum geli. Tapi melihat wajah linglung Ify ia jadi cemas sendiri. Sepertinya kejadian di perpus itu masih menimbulkan efek sampai sekarang. “Lo tunggu di sini. Gue mau ngambil makan lo dulu.” Pintanya. Ia hendak berdiri namun tiba-tiba Ify memegang tangannya.
“Lo mau ninggalin gue sendirian?” Ify menoleh ke kanan-kiri sesaat lalu kembali pada Rio. “Gue takut..” cicitnya kemudian.
Rio mengernyit lalu duduk kembali. Ia memegang puncak kepala Ify dan mengacak rambutnya pelan. “Kita kan di rumah lo, Fy. Gak akan ada yang gangguin lo. Jadi lo gak perlu takut.” Sekali lagi Ify melihat ke kanan-kirinya memastikan apakah kata-katanya benar.  “Sekarang lo tiduran dan tutup mata. Biar lo gak takut.”
Ify menurut tanpa banyak komentar. Ia merebahkan dirinya ke kasur dan menutupi dirinya dengan selimut sampai ke leher. “Gue tinggal bentar ya!” ujar Rio. Ify hanya menganggukkan kepala.
Rio berjalan keluar kamar. Ia berhenti ketika hendak menutup pintu untuk melihat keadaan Ify sebentar. Gadis itu masih celingak-celinguk seperti orang linglung. Ia menghela napas berat. Semoga Ify tidak akan lama-lama seperti itu.

***

* Coba puter lagu sweet love atau wait for you chris brown. Atau juga wherever you go nya a rocket to the moon. Tapi jangan perhatiin liriknya kalo yang sweet love, kalian bisa gila nanti wkwkwk(?)*
Rio meletakkan piring di atas nakas dan mengambil segelas air putih lalu memberikannya pada Ify. Ify meneguk habis air dalam gelas tersebut dan kemudian menaruhnya kembali. Rio melihatnya lalu tersenyum. Ia merasa seperti sedang mengurusi anak bayi.
Ada sisa makanan di sudut bibir Ify. Rio baru mengangkat tangan hendak membersihkan tapi tiba-tiba Ify menepis tangannya dengan kasar. Wajahnya juga seketika berubah ketakutan. Astaga...apa sampai sekarang pun efek kejadian di perpus masih ada? Pikirnya.
Mata Ify menangkap siluet wajah Rio dan seketika tersadar dari ketakutannya. Ia menghela napas lega lalu memandang Rio dengan tatapan bersalah. “Sorry, tadi gue..parno..” lirihnya sambil menunduk. Saat ketika Debo tiba-tiba menciumnya itu masih terngiang-ngiang di kepalanya. Membuatnya takut pada siapa saja yang mencoba menyentuhnya. Ia terus merutuki diri karena tidak bisa menjaga dirinya dengan baik. Kalau Rio sampai terlambat datang, mungkin Debo akan melakukan hal yang lebih parah dari sekedar menciumnya.
Rio menggeser duduknya menjadi lebih dekat dengan Ify. Ify mengangkat wajahnya dan mendapati Rio sedang menatapnya begitu intens. Hingga kemudian Rio menarik tubuhnya dan memeluknya. Pemuda itu juga mengelus-ngelus punggungnya. Ia memejamkan mata sambil menenggelamkan wajahnya di leher pemuda itu. Kalau bisa ia ingin setiap saat seperti ini. Ini cukup untuk menenangkan perasaannya.
“Apa lo udah siap cerita soal tadi?” tanya Rio lembut. Ia tidak ingin terdengar seperti memaksa Ify. Tapi, ia juga ingin Ify berbicara dan bercerita supaya hatinya lega. Tidak ada lagi yang mengganggu hati dan pikirannya.
Ify mengangguk pelan. Ia menarik napas panjang dan menghembusnya perlahan. “Tadi gue dapet sms dari lo, lo nyuruh gue ke perpus. Lo bilang lo nunggu gue di sana.” Ify berhenti dan menarik napas lagi lalu melanjutkan bicaranya. “Trus..pas gue udah di perpus, lo gak ada. Gue mutusin nunggu lo sambil baca buku. Pas gue lagi nyari buku tiba-tiba..tiba-tiba..” Ify kembali berhenti untuk menarik napas. Dadanya langsung terasa sesak. Ia mencengkram baju seragam Rio kuat-kuat. “Ada orang yang meluk gue dari belakang. Gue pikir itu elo. Tapi pas gue balik, tiba-tiba dia langsung nyium gue. Dan gue sadar itu bukan lo. Dan..dan gue takut, Yo. Gue takut..”
Rio mengusap punggung Ify lebih keras berusaha mengurangi tekanan yang dirasakannya. “Tapi..gue gak ada ngirim sms atau apapun sama lo, Fy.” Gumam Rio. Badan Ify terasa kaku sesaat. Sepertinya gadis itu kaget mendengar ucapan orang yang tengah memeluknya itu. Ia menarik tubuhnya memandang Rio dengan kaget, bingung sekaligus masih tidak percaya. Ia mengeluarkan ponselnya yang ada di sakunya dan mencoba mengecek kembali pesan dari ‘Rio’ tersebut. Mengecek siapa tahu ia tadi salah baca atau bagaimana.
Tapi kenyataannya, matanya tidak salah membaca siapa pengirim pesan tersebut. Pesan tersebut benar-benar dikirim dari nomor Rio. Benar-benar nomor Rio. Ia lantas menunjukkannya pada Rio untuk membuktikan ucapannya tidak salah. Rio mengernyit tak mengerti pada apa yang sedang terjadi. Bagaimana mungkin nomornya bisa mengirimkan pesan sementara selama di ruang rapat tadi ia tidak sekalipun memainkan ponselnya. Kecuali....hhh, udah gue duga. Gak mungkin bisa secepat itu Ify diterima. Batinnya.
“Terus, kenapa lo bisa dateng ke perpus? Waktunya pas banget lagi.”
“Gue dapet sms juga gatau dari siapa. Dia nyuruh gue kesana buat ngasih tau gue siapa lo yang sebenernya, katanya.”
Ify diam sambil memandang Rio lama. Rio membalasnya dengan tatapan bertanya. “Apa lo ke sana karena lo berpikiran buruk tentang gue gara-gara sms itu?”
Rio cepat-cepat menggelengkan kepala sebelum Ify salah paham. “Enggak, Sayang. Gue kesana justru karena gue khawatir sesuatu yang buruk terjadi sama lo. Dan...ternyata bener, kan?” Nada suara Rio terdengar sedikit ketus di akhir ucapannya. Ia benar-benar masih tidak rela Debo telah berhasil mencuri kesempatan mencium Ify-nya.
Mata Ify kembali memerah. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Maaf ya...gue udah bikin lo malu dan susah. Gue gak bisa jaga diri gue baik-baik. Gue emang be—”
“Jangan sekali-kali lo ngerendahin diri lo sendiri. Gue gak suka.” Sela Rio tajam. Tapi kemudian ia menghela napas merasa bersalah. Semua ini terjadi juga karena dirinya. Kalau saja ia tidak ceroboh, maka Ify tidak akan pernah datang ke perpustakaan dan bertemu dengan Debo.
Sementara Ify, ia sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi ketika mendapati sikap dingin Rio itu. Ia merasa Rio marah padanya dan ia juga merasa benar-benar tidak pantas mendapat pengampunan dari kekasihnya itu. Ia tidak akan menyalahkan Rio jika Rio membencinya ataupun menghinanya saat ini. Cercaan itu memang pantas untuknya. Untuk dirinya yang terlalu bodoh. Ia tidak pernah mengambil pelajaran dari semua hal yang sudah terjadi padanya.
Dahulu hanya karena nama ‘Rio’ tercantum dalam pesan, ia langsung percaya kalau itu Rio. Dan yang akhirnya terjadi, ia terkurung di dalam ruang musik dan membuat semua orang pusing mencarinya. Terutama Rio yang sudah repot-repot berkeliling sekolah malam-malam untuk mencarinya. Sekarang modus yang sama terjadi lagi dan ia masih juga percaya begitu saja. Bagaimana ia bisa jatuh ke lubang yang sama untuk yang kedua kali? Kalau ada peringkat yang lebih rendah daripada bodoh, itulah dirinya.
“Gue yang harusnya minta maaf karena gue teledor jagain lo. Pelakunya pasti orang yang gak suka atau mungkin juga suka sama gue. Semuanya terjadi pasti ada sangkut pautnya sama gue.” Rio mendesah pelan sambil mengelus-ngelus punggung tangan Ify. “Mau maafin gue, kan?” tanyanya kemudian seraya tersenyum hangat.
“Lo juga gak marah sama gue, kan?” tanya Ify balik. Rio tersenyum makin lebar lalu menggelengkan kepala. Ia menyeka pipi Ify dari bias air mata yang sempat turun beberapa. Ify tak ayal merasa lega dalam hati. Tadinya ia pikir ini akan menjadi akhir kisahnya dengan Rio. Tapi yang sebaliknya terjadi, ini merupakan peristiwa yang justru menguatkan rajutan cinta mereka berdua. Ia tidak menyesali ia sudah datang ke perpustakaan. Meski ia tetap tidak bisa menerima perlakukan lancang Debo kepadanya.
“Mulai sekarang, jangan percaya pesan apapun yang mengatasnamakan gue, sekalipun itu dari nomer gue sendiri. Karena gue gak akan pernah lagi ngirim lo sms atau sejenisnya. Gue bakal ngehubungin lo cuma dengan cara nelfon. Selain itu, berarti bukan gue. Begitu juga elo. Deal?” Rio memiringkan kepalanya meminta persetujuan sambil menaikkan alis. Ify hanya menganggukkan kepala. Rio kembali tersenyum.

***

Rio meremas kemudinya sambil memandang bangunan rumah bertingkat yang ada di depannya. Ia mengatur napasnya berkali-kali sekaligus mengontrol emosinya agar tidak meninggi. Ia lalu turun dari mobilnya dan berjalan menuju pintu depan rumah tersebut. Sesampainya, ia lantas memencet bel dan menunggu hingga pintu di buka oleh seorang wanita yang sudah tak asing lagi di matanya. Mama Dea.
“Eh, Rio? Ayok masuk!” sapa wanita itu. Rio tersenyum sopan seraya mengangguk. “Siang, Tante.” Ia bersama Mama Dea kemudian duduk di sofa.
“Kamu mau Tante buatin minum atau nanti kamu yang buat sendiri?” tanya Mama Dea lagi dengan tersenyum ramah. “Gak usah repot-repot, Tante. Kayak Rio baru sekali ke sini aja!” jawabnya seraya terkekeh kecil. Mama Dea hanya mengedikkan bahu.
“Yaudah kalo gitu. Tante tinggal ya, Dea nya ada di atas.”
“Iya, Tante.” Mama Dea berlalu pergi meninggalkan Rio sendiri di ruang tamu. Rio lantas berdiri dan beranjak naik ke lantai atas menuju kamar Dea. Ia mengetuk pintu dan langsung disahut oleh suara Dea dari dalam.
“Masuk!” katanya. Rio menekan kenop dan membuka pintu. Tampak Dea sedang merebahkan diri, bertelungkup dengan laptop yang menyala di hadapannya. “Siapa?” tanya gadis itu tanpa menoleh ke arahnya.
Rio mendesah pelan. “Kak Rio.” jawabnya singkat. Mendengar namanya, Dea langsung memutar kepalanya untuk melihatnya. Ia kemudian bangun dari posisinya menjadi duduk menghadap ke arahnya.
“Kak Rio? Mau ngapain ke sini? Pasti kangen sama aku, iya kan?” Ia berseru sambil mengacungkan telunjuk pada Rio. Rio berjalan mendekati kasur namun tidak memilih duduk di atasnya. Ia berdiri menatap Dea seraya bersedekap. Dea mengernyit melihat sikap Rio itu.
“Kamu, kan, pelakunya?” tembak Rio langsung. Dea mengernyit lagi tak mengerti. “Pelaku apa?”
“Kamu tadi minjem hape kakak trus sms Kak Ify dan nyuruh dia dateng ke perpus, iya kan?” Rio mati-matian menahan agar suaranya tidak meninggi. Rasanya ia ingin memaki habis-habisan gadis yang ada di hadapannya ini. Gadis yang tega-teganya menjebak Ifynya ke tangan Debo. Tapi, ia tidak bisa. Ia tidak ingin ketakutan Ify malah akan menular pada Dea kalau ia melabrak dengan keras. Kalau pada Dea, efeknya pasti akan jauh lebih parah. Dea bisa-bisa frustasi karena ia marahi dan bisa-bisa dia berbuat nekat seperti yang sudah-sudah.
Dea terdiam terpaku tak menjawab. Gadis itu membalikkan badannya sehingga duduk membelakangi dirinya. Rio menebak kalau tuduhannya pasti tidak salah, jika melihat reaksinya seperti itu. “Kenapa harus ke Kak Ify, De? Kalo kamu marah sama Kakak, kamu gak boleh ngelampiasinnya ke Kak Ify.”
Dea masih saja diam tanpa membalas ucapannya. Membuat lidahnya gatal untuk kembali berbicara. “Untuk kali ini, Kakak bener-bener kecewa sama kamu. Tindakan kamu udah sangat keluar jalur. Gak seharusnya anak sma kayak kamu ngerencanain hal buruk ke orang lain kayak gitu. Kamu tau? Kak Ify hampir jadi orang gila gara-gara ketakutan. Apa kamu seneng ngeliat Kak Ify kayak gitu? Itu yang kamu mau? Itu bikin hati kamu puas?”
Dea menggeleng pelan lalu menundukkan wajahnya. Bahunya mulai bergetar, tanda kalau gadis itu mulai terisak. Sekali lagi Rio mendesah. Kalau begini, ia juga merasa bersalah. Lagi-lagi ia harus menyalahkan dirinya sendiri karena tidak ada yang lebih pantas disalahkan selain dirinya. “Kakak harus apa supaya kamu gak ganggu Kak Ify lagi?”
“Aku mau KakYo..” rajuk Dea. Rasanya Rio ingin sekali membenturkan kepalanya ke dinding sampai pecah. “De, kamu ngertiin Kakak, doooong? Jangan bikin Kakak serba salah..” katanya pasrah.
Dea kembali diam. Rio mengerang pelan sambil mengacak-ngacak rambutnya. Ia berkacak pinggang memandang Dea kesal. “Kakak udah gatau lagi gimana caranya buat kamu ngerti. Kamu gatau kan seberapa marahnya Kakak ngeliat pacar Kakak sembarangan dicium cowok lain? Kamu anggap Kak Ify itu apa, De? Sampe sekarang hati Kakak rasanya belum ikhlas, gak akan pernah ikhlas. Kalo aja Kakak gak mandang kamu itu adek Kakak, Kakak pasti udah maki-maki kamu atau bahkan nampar kamu. Kamu nyakitin Kak Ify sama aja kayak kamu nyakitin Kakak, De.”
Rio menghembus napasnya keras-keras lalu melanjutkan berbicara. “Kakak rasa Kak Ify gak pernah ganggu kamu separah yang kamu ganggu dia. Kamu inget gak, waktu kamu bersikap gak hormat sama dia pas Kakak dateng ngajarin kamu? Ada gak Kak Ify ngebales sikap kamu? Dan kejadian yang baru banget kemaren waktu kita ke ancol. Kakak nyuekin bahkan ngelupain dia demi kamu. Apa Kak Ify juga ada ngebalesnya sama kamu? Enggak, kan?”
Dea menggelengkan kepalanya namun masih tetap bergeming. Seakan-akan ada semen yang mengeratkan kedua bibirnya menjadi sangat kaku. Untuk kesekian kalinya Rio menghela napasnya. “Kakak mau kamu jangan ngomong apa-apa soal ini sama Kak Ify. Kakak gamau dia tau kalo pelakunya kamu. Kak Ify pasti ga bakal terima lagi sikap kamu yang satu ini. Kakak gak mau hubungan kalian makin kacau. Kakak gamau kebencian antara kalian jadi timbal balik. Cukup kamu aja yang dendam sama Kak Ify, Kak Ify jangan sampe ikut dendam sama kamu. Kakak bisa mati gila, De! Kakak harap kamu bisa berhenti ganggu Kak Ify. Kakak gak akan maafin kamu dan mau kenal kamu lagi kalo sampe kejadian kayak gini terulang. Kakak serius.”
Rio berbalik badan dan berjalan keluar tanpa mengucap pamit lebih dulu. Semakin lama berada di sana semakin mengepul emosinya. Ia ingin marah tapi tidak bisa marah. Semuanya harus tertahan dan pada akhirnya membuatnya sesak sendiri. Tapi setidaknya hatinya bisa sedikit lega karena sudah memberi Dea peringatan keras. Hanya tinggal satu orang lagi yang ingin ia minta tanggung jawab. Pemuda kurang ajar yang sudah mencium kekasihnya tercinta. Si beruang berkulit penguin itu. Siapa lagi kalau bukan Debo.

***

Ify keluar dari kamar mandi sambil menyisir-nyisir rambutnya dengan jari. Ia berjalan ke dekat kaca di atas nakas. Maklum, ini kamar laki-laki jadi tidak mungkin ada meja rias, kan? Ia dan Rio sudah kembali ke rumah pemuda itu sehabis makan tadi. Ia kembali tertidur dan terbangun sudah ada di dalam kamar Rio. Pemuda itu sendiri tak tahu rimbanya ke mana. Saat terbangun tadi ia hanya menemukan dirinya sendiri. Ia mencari ke kamar sebelah dan terakhir bertanya pada Amanda, wanita itu bilang Rio pergi tapi tidak bilang mau kemana.
Ify ingin menghubungi pemuda itu tapi tidak jadi. Ia takut Rio menganggapnya posesif. Mereka kan selalu bertemu setiap hari, baik di rumah maupun di sekolah. Bahkan baru saja bertemu beberapa saat lalu. Apalagi Rio sampai harus repot mengurusinya saat ia masih shock. Membopongnya dua kali, menyuapinya makan, menenangkan ia yang kalut sampai-sampai harus ikut bolos. Tidak ada salahnya kalau ia ditinggal sebentar. Rio kan juga punya urusannya sendiri bukan cuma mengurusinya. Toh, sekarang ia sudah ada di rumah Rio dan tidak akan ada hal buruk yang bakal terjadi lagi.
Ify menaburkan bedak bayi miliknya dan menggosok kedua tangannya. Ia lantas menepukkan telapak tangannya ke wajahnya. Setelah itu, ia mengambil lotion yang juga miliknya dan mengolesnya ke leher, tangan dan kakinya. Ia lalu menciumi aroma tubuhnya dan tersenyum puas karena tubuhnya tecium sudah wangi. Tanpa sengaja matanya menangkap refleksi wajahnya di cermin. Seketika itu juga senyumnya luntur, terlebih ketika menatap bibir mungilnya. Ia benar-benar tidak bisa terima kalau Debo telah dengan lancang menciumnya. Dengan kesal ia menggosok-gosok bibirnya dengan punggung tangannya. Ia merasa banyak sekali kotoran yang menempel di sana.
Karena terlalu terbawa kesal dan menjadikannya fokus pada kegiatan menggosoknya, ia sampai tidak sadar kalau Rio baru saja membuka pintu dan berjalan mendekatinya. Rio tersenyum geli melihat tingkahnya. Ify kemudian merasa ada aroma lain di indra penciumannya. Aroma yang tak mungkin tidak ia kenali. Aroma tubuh Rio. Tangannya spontan berhenti lalu kepalanya menoleh ke samping, tempat di mana Rio berdiri sambil bersandar di dinding dan bersedekap.
“Lo kapan datangnya?” tanyanya polos. Rio terkekeh pelan. Ia lantas mengerling pada Ify. “Mau gue bantu bersihin?” tanyanya menggoda. Ify mengerutkan kening bingung, namun sejurus kemudian ia memberengut.
“Enggak!” tolaknya. Meski begitu ia merasa pipinya merona dan jantungnya berdebar. Ia langsung menurunkan tangannya dari wajahnya sebelum Rio kembali menggodanya karena itu.
Tiba-tiba Ify teringat pada perkataan Rio tentang pesan misterius. Ia menoleh lagi pada pemuda itu. “Pinjem hape lo, dong?”
Rio memasang tampang bingung meski tetap memberikan ponselnya pada Ify. Ify lalu duduk di atas kasur setelah mengambil ponsel Rio dan ponselnya sendiri. Ia membuka kotak masuk pesan Rio mencari sms misterius yang Rio maksud. Ia menyalin nomor pengirim pesan tersebut ke dalam ponselnya. Ia belum sempat menekan tombol save karena tiba-tiba merasa ada sesuatu yang berhembus di lehernya dan membuatnya geli. Ia refleks menoleh ke samping dan kaget melihat wajah Rio yang begitu dekat. Pemuda itu sedang menyandarkan dagunya di bahunya sambil menutup mata.
“Lo abis mandi ya?” tanya Rio. Ify mengangguk pelan dan sedikit gugup. “Iya..kenapa? Badan gue masih bau ya?”
Rio tersenyum dan membuka matanya. “Enggak, kok. Lo wangi, wangi banget.” Ia menegakkan badannya dan merangkul leher Ify seraya mencium pelipis gadis itu cukup lama. Terakhir ia menumpu dagunya di atas kepala Ify dan menghela napas.
“Hhh..kenapa gue pengen meluk lo terus ya?” tanya Rio seperti bergumam pada dirinya sendiri. Hati Ify rasanya berbunga-bunga. Ia tak bisa tidak tersenyum karena itu. Namun, helaan napas Rio sedikit mengusik hatinya. Rio terdengar seperti lelah sekali. Pasti karena mengurusinya tadi.
“Lo capek ya?” tanya Ify pelan. Rio hanya berdehem sambil memejamkan mata lagi. Entah kenapa saat ini ia merasa Ify akan pergi jauh darinya sehingga membuatnya tak ingin sedetik pun melepaskan gadis itu dari dekapannya. Ia baru sadar kalau ia benar-benar jatuh cinta pada Ify. Sampai-sampai membayangkan gadis itu menghilang saja tidak sanggup.
Ify menggeliat dan sedikit mendorong badan Rio. Rio merenggangkan tangannya dan merajuk menatapnya. “Kenapa?” protesnya pelan. Ify terlebih dulu meletakkan ponsel mereka di sampingnya lalu menoleh pada Rio. Ia menepuk pahanya sendiri menyuruh Rio menyandarkan kepalanya di sana. Rio memandang tangannya lalu kembali ke wajahnya. Pemuda itu tersenyum seraya menaikkan alis.
“Paha lo kan kurus, Fy, minim daging. Ntar kepala gue malah sakit nidurin tulang doang.”
Wajah damai Ify langsung berubah kesal. “Gue udah manis-manis nawarinnya, lo malah ngeledek. Yaudah kalo gamau!”
Rio tertawa tanpa dosa tak peduli Ify makin keki melihatnya. Ia kemudian berbaring dengan paha Ify sebagai bantal. Ia memiringkan tubuhnya supaya ia tetap bisa memeluk gadis itu. Ify tak ayal mencibir meski akhirnya tersenyum juga.
“Perut lo mau gue bikin berisi gak?” tanyanya jahil. Ify langsung menjewer kupingnya meski tidak kuat. “Dasar mesum!” gumam gadis itu.
“Gue booking buat anak gue nanti ya, Fy.” Sekali lagi Ify menjewer kupingnya. “Rio!” balas Ify memperingati. Mereka lantas sama-sama tertawa.
“Yaudah, gue numpang tidur bentar ya..” ujar Rio yang langsung menutup matanya sambil menepuk-nepuk punggung Ify pelan. Sepertinya ia memang butuh istirahat.
Ify hanya balas berdehem. Ia lebih memilih mengelus-ngelus kepala Rio membantu pemuda itu tidur lebih cepat. Perlahan-lahan tepukan di punggungnya terasa makin pelan hingga akhirnya benar-benar hilang. Rio sudah terlelap. Ia tersenyum senang. Ia benar-benar bersyukur akan kejadian hari ini. Tapi ya tetap sekali lagi, ia tidak akan bisa menerima apa yang sudah Debo lakukan padanya. Ia sudah tidak percaya lagi pada pemuda itu. Ia menarik kata-katanya beberapa hari lalu kalau ia senang punya secad seperti pemuda itu. Ia benar-benar menyesal bisa disukai olehnya. Sangat-sangat menyesal.

***

Ify berjalan melewati koridor sekolahnya dengan menunduk sedalam-dalamnya. Entah kenapa tatapan orang-orang kali ini begitu menusuk hatinya. Tatapan orang-orang saat ini terasa berbeda dan janggal. Ia sudah biasa merasakan tatapan iri ketika ia berjalan dengan Rio di sampingnya, tapi kali ini berbeda. Mereka semua seperti sedang menertawakannya. Ia seperti baru saja ketahuan mencuri sehingga ditatap seperti itu. Dan itu membuat hatinya ciut dan tidak berani menegakkan wajahnya dan berjalan biasa. Untung saja Rio ada di sampingnya menemaninya. Kalau tidak, ia pasti lebih memilih pulang ke rumah daripadanya disuruh melangkah di depan mereka.
Rio mengetahui benar ketidakpedean Ify saat ini. Ia mengeratkan tautan jemarinya bersama gadis itu. Seolah memberi tahu gadisnya tersebut kalau akan selalu ada dirinya mendampingi di sampingnya sehingga ia tidak perlu takut. Memberi sedikit kekuatan pada Ify.
“Perasaan gue gak enak, Yo. Cara mereka ngeliat gue itu loh..” cicit Ify. Ia tersenyum hangat pada gadis itu. “Lo cuma grogi. Gak ada apa-apa kok. Kan gue udah bilang, lo harus biasa diliatin banyak orang kalo mau jadi pacar gue.” katanya seraya terkekeh kecil.
Namun, tampaknya hati Ify masih saja gelisah. Gadis itu memberengut dan mendesah pelan. “Tapi, cara mereka ngeliatin gue yang kali ini itu beda, Yo. Kayak—”
Rio lekas memotong ucapan Ify, mencegah gadis itu berpikiran yang tidak-tidak. “Jangan nethink gitu, Fy. Semuanya baik-baik aja. Gak usah peduliin apa yang mereka lakuin atau pikirin tentang lo.”
Ify menggigit bibirnya menimang-nimang apa ia bisa percaya pada kata-katanya. “Gitu ya?” gumam Ify pelan.
“Iyaa..” balas Rio seraya melepas sesaat genggaman mereka untuk mengelus kepala Ify lalu kembali berjalan bergandengan.

***

Ify duduk dengan gelisah di dalam hati sambil memelintir seragamnya. Ini pertama kalinya ia masuk ke dalam ruangan ini. Ruangan yang menjadi aib bagi semua siswa. Ruang BK. Tidak juga, sih, sebenarnya. Ruangan ini banyak juga didatangi murid untuk curhat. Tapi memang, kalau sudah masuk ke ruangan ini, selalu ada kesan ‘murid bermasalah’ yang akan dibawa keluar. Seperti sebuah stempel yang langsung tertancap di dahi dan permanen. Di sanalah ia sekarang.
“A—ada apa ya, Bu, sampai saya dipanggil? Pagi ini saya gak telat, kok.” Tanyanya panik.
Bu Anne tersenyum melihatnya. “Tenang, Ify. Ibu hanya ingin ngobrol sama kamu.” Jawabnya lembut. Ia mengambil sebuah amplop kuning di sebelahnya dan menyodorkannya ke depan Ify. Ify memandangnya dan amplop tersebut bergantian dengan bingung. “Ibu hanya ingin denger penjelasan kamu soal ini. Silahkan, boleh kamu buka.” Lanjutnya.
Ify mengambil amplop tersebut dan membukanya dengan ragu-ragu. Matanya melotot dan jantungnya serasa meledak manakala ia mengetahui apa isi dari amplop itu. Dua buah foto yang pasti diambil saat ia berada di perpustakaan. Saat ia bersama Debo. Saat Debo sedang memeluknya dan saat Debo sedang...
“Kenapa...” Ify sudah tidak sanggup berkata apa-apa lagi. Ia ingin pingsan saja. Ia tidak kuat memikirkan nasibnya nanti di tangan Bu Anne. Ia pasti akan kena hukuman. Selama ini ia mati-matian menjaga citranya sebagai anak baik-baik. Ia tahu diri kalau ia tidak bisa berprestasi di bidang akademik. Untuk itu, setidak-tidaknya perilakunya di mata guru-guru dan semuanya selalu terjaga. Tapi kini, upayanya itu benar-benar sia-sia. Namanya sudah tercoreng. Semoga saja foto ini tidak tersebar kemana-mana.
“Ada yang menempel foto itu tadi pagi di mading. Untung Ibu cepat dateng jadi bisa mencabutnya dari sana. Ibu harap anak-anak yang udah liat gak bakal ngomongin ini ke yang lain, ke yang belum liat.” Bu Anne mendesah berat. Doanya sedikit susah untuk terkabul.
Tadi jantungnya, sekarang kepala Ify yang terasa ingin meledak. Pupus sudah harapannya. Mana mungkin siswa yang sudah melihat tidak membicarakan ini. Foto ini pasti sudah tersebar luas. Hancur sudah reputasinya.
Ify menelan ludah menahan air mata yang tak sabar menghujani pipinya. “Tapi, saya gak pernah minta Debo nyium saya, Bu. Saya bahkan gaada hubungan apa-apa sama dia. Dia tiba-tiba nyamperin saya dan melakukan apa yang tercetak di foto ini.” Kalau membicarakan Debo, rasanya hatinya makin panas. Ia sangat-sangat kecewa pada pemuda itu. Ia tidak menyangka Debo akan sampai hati padanya seperti ini. Dan juga pengirim sms misterius itu. Entah kenapa ia merasa pelakunya sama dengan orang yang menculiknya dulu.
“Sudah Ibu duga! Kamu gak mungkin sengaja melakukan ini. Pasti ada orang yang mau ngerjain kamu dan mempermalukan kamu. Ckck, dasar anak-anak!” Bu Anne tiba-tiba berseru. Mukanya tampak begitu bersemangat membelanya. Begitu tidak suka pada orang yang sudah mengerjainya. Sedikitnya, Ify bisa merasa lega. Kalau Bu Anne membelanya, itu tandanya ada kemungkinan ia akan bebas dari hukuman. Satu masalah terlewati.
“Kalau Ibu bertanya pada saya, saya ga akan bisa jawab apa-apa, Bu. Karena saya juga gak ngerti kenapa ini bisa terjadi. Ibu lebih baik langsung tanya sama Debo. Dia kunci semua kejadian ini. Tapi, kalau dia sampai bilang ini kesengajaan saya sama dia, saya berani bersumpah kalau dia bohong.” Ify mencoba memberanikan diri dan berkata dengan yakin pada Bu Anne. Bu Anne menganggukkan kepalanya mengerti.
“Mulai sekarang kamu harus lebih hati-hati. Di dunia ini, gak semua yang suka kamu, apalagi yang gak suka sama kamu, bakal bersikap pasif sama kamu. Dunia udah dipenuhi sama orang-orang nekat. Kamu dituntut untuk selalu waspada dan gak gampang percaya sama orang yang mendekati kamu. Tapi kamu juga gak boleh mudah berpikiran negatif sama mereka. Haah..kedengarannya aja susah ya, membingungkan. Tapi itu yang harus kamu lakukan. Ibu cuma bisa bilang itu sama kamu, Fy.”
Ify mengangguk dengan tatapan penuh berterimakasih. Ia tidak sanggup membayangkan kalau ia dihukum. Ia tidak tega melihat betapa kecewa Papanya, apalagi laki-laki itu sedang terbaring di rumah sakit dengan penyakit yang tidak ringan. Lalu, kedua orang tua Rio juga Ray, mereka pasti tak kalah kecewanya kalau sampai mendengar hal ini. Meskipun ini bukan murni kesalahannya, ia tetap merasa malu dan ikut kecewa pada dirinya sendiri.
“Yaudah, sekarang kamu boleh kembali ke kelas.” Ujar Bu Anne ramah. Ify mengangguk lagi seraya tersenyum. “Makasih, Bu. Makasih sudah percaya sama saya.” Ucap Ify tulus. Bu Anne hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.

***

Rio mengajak Ify duduk di rerumputan taman Parfait setelah Ify keluar dari ruang BK. Ditangannya terdapat dua mangkok pop mie untuk mereka berdua sementara Ify memegang dua botol air minum. Ia meletakkan salah satu pop mie di depan Ify. Ify melihat itu tanpa semangat dan memilih memandang pemandangan di depannya. Atau lebih tepatnya melamun.
Rio menyeruput mienya dengan lahap sementara Ify hanya diam di tempatnya. Rio melihat itu lantas menghembus mienya dan menyuapkannya pada Ify. Ify berjengit menghindar. “Gue gak laper.” Bukan Rio namanya kalau ditolak sekali langsung menyerah. Ia mengurung Ify dengan tangannya, mengalungkan tangannya sehingga gadis itu tidak bisa bergerak kemana-mana.
“Buka mulut!” perintahnya. Ify memberengut. “Riooo..” rengeknya. Rio menaikkan alis tetap memaksa Ify agar mau menerima suapannya. Mau tidak mau Ify terpaksa membuka mulutnya. Rio langsung tersenyum puas dan menarik tangannya membebaskan ruang gerak Ify lagi.
Ia baru hendak menyuap untuk dirinya sendiri kembali sebelum ia mendengar isakan-isakan kecil dari sampingnya. Ia menoleh dan mendapati Ify sedang menangis tanpa suara. Ia meletakkan pop mienya di depannya dan meminum air minum yang mereka beli di kantin. Setelah itu ia kembali pada Ify. Ia menyeka air mata Ify di pipinya dan menyelipkan beberapa helai rambut yang menghalangi wajahnya dari samping.
Ify meraih tangan Rio dan menjauhkannya pelan. “Ntar tangan lo kotor..” katanya dengan suara bindeng. “Emangnya air mata lo asalnya dari got bisa bikin tangan gue kotor?” balas Rio berusaha membuat Ify ceria lagi. Tapi, sepertinya belum berhasil.
“Gue bikin lo nangis mulu. Lo gak bahagia ya sama gue?” ujarnya pura-pura sedih. Ify langsung menggelengkan kepalanya dan memegang lengannya. “Bukan itu!” rengeknya lagi. Rio lantas tersenyum. Kali ini usahanya sedikit membuahkan hasil.
“Kalo gitu senyum dong, jangan nangis lagi. Ntar idung lo pesek kek gue, loh, ngelap ingus mulu.” Ify memukul tangannya merengut namun kemudian tersenyum. “Udah cetakannya idung gue begini, mana bisa gitu aja berubah gara-gara ngelap ingus!” Rio tersenyum senang sambil mengacak-ngacak rambut Ify. Ify mengambil botol air minum yang sudah dibuka Rio lalu meminumnya beberapa teguk.
“Kira-kira siapa ya..orang yang udah ngerjain gue?” tanya Ify dengan pandangan menerawang.
Rio sesaat terdiam. Cepat atau lambat Ify pasti ingin tahu siapa pelaku dibalik ini semua. Dan ia tidak menginginkan itu terjadi. Ia tidak ingin Ify tahu kalau pelakunya Dea. Sekali lagi, ia tidak ingin mereka berdua bermusuhan. Satu alasan lagi. Ia tidak ingin Ify terus mengingat kejadian ini karena ia sendiri tidak ingin diingatkan oleh kejadian itu. Ia tidak ingin lagi mengingat bagaimana Debo dengan lancang mencium Ify di depan matanya. Ia tidak bisa menghilangkan amarahnya kalau terus mengingat itu. Ia tidak ingin memperpanjang masalah jika ia tiba-tiba kalap. Ia sudah memutuskan untuk berusaha memaafkan pemuda itu. Jadi upayanya akan sia-sia jika masalah ini terus saja dibahas.
“Lo gak perlu mikirin itu. Gue pengen lo gak usah inget-inget lagi apa yang sudah terjadi sebelumnya.” Gumamnya sambil kembali memakan pop mie.
Ify menoleh ke arahnya lalu kembali memandang nanar ke depan. “Mana bisa gue lupain gitu aja, Yo. Gue udah dijebak dan dilecehakan, terakhir gue juga dipermalukan. Ini tuh peristiwa berat buat gue. Mungkin seumur hidup gue bakal tetep inget.”
“Makanya sekarang lo coba untuk lupa. Jangan lo bahas-bahas lagi. Hilangin semua rasa penasaran lo soal si pelaku. Itu cuma bikin lo capek sendiri kalo terus lo cari tau, Fy.”
“Gue punya 3 sahabat yang bisa bantu gue dan..gue juga punya lo..berikut Iel sama Cakka. Iya, kan?”
Rio mengerang dalam hati. “Gue mau lo lupain semuanya, Fy.” Balasnya dingin dan tajam. Berharap Ify akan tunduk pada kata-katanya. Tapi, sepertinya Ify tidak menyadari sama sekali kalau ia sedang menekan gadis itu. Gadis itu masih santai memandang ke depan.
“Gue gak bisa, Yo.” Sahutnya ringan. Rio tiba-tiba meletakkan pop mie nya dengan kasar yang membuat air di dalamnya sedikit memercik dan juga membuat Ify kaget. Ify menoleh ke arahnya dengan bingung dan sedikit takut. “Gue gak mau lo terus nginget itu, Fy. Kenapa sih lo gamau dengerin kata gue? Gue tau emang gak mudah, tapi kalo niat pasti lo bisa. Pelan-pelan pasti lo bisa, kan?”
Ify mengernyit memandang Rio. “Lo kenapa jadi marah-marah, sih?” tanyanya mencoba tenang. “Karena lo gamau denger omongan gue. Gue gak mau pelakunya malah makin dendam sama lo kalo sampe lo ngebongkar kesalahan dia.”
“Lo kayak tau pelakunya aja!” balas Ify asal. Rio hampir saja terpancing akan kata-kata gadis itu. Ia mendesah pelan. “Gue mohon, Fy?” lirihnya dengan tatapan memelas. Ify balas menatap sama memelasnya. “Hati gue rasanya gak puas, Yo.”
“Fy, please!” Nada suara Rio meninggi. Ify berjengit kaget. “Lo kenapa sih, Yo? Apa yang salah kalo gue tetep nyari tau? Kalo ketemu pun gue gak bakal sampe nyakar-nyakar dia. Gue cuma mau ngomong dari hati ke hati. Gue mau berdamai sama dia sekaligus hati gue sendiri.”
“Karena gue gak mau terus inget kalo gue pernah liat dengan mata kepala gue sendiri ada cowok lain nyentuh cewek gue! Gue gak mau inget-inget lagi gimana Debo nyium lo! Gue gak mau naruh jejak tangan gue di muka dia lagi! Hah!” Rio mendengus sambil melengos.
Kali ini Ify baru mengerti kenapa Rio keras melarangnya mencari tahu. Ify baru mengerti bagaimana perasaan Rio. Ia merasa ingin menangis karena terharu. Ia baru tahu kalau Rio begitu berjiwa besar seperti ini. Ia baru sadar kalau ia sudah egois beberapa saat lalu. Kejadian perpus tidak hanya menyakitinya, tapi juga menyakiti Rio. Kalau saja ia tahu, memang Rio yang sebenarnya banyak memendam sakit. Ia harus menahan untuk tidak balas dendam pada Debo. Ia juga harus merasa bersalah sedalam-dalamnya karena tidak bisa menjaganya. Terlebih ia harus menyaksikan orang lain menyentuhnya sembarangan. Ia juga harus bisa menahan rasa marah pada Dea.
Ify lantas mencabut selembar tisu dari sebungkus tisu yang ia beli di kantin sebelum datang kemari. Ia meraih tangan Rio lalu membersihkan tangan pemuda itu dari air mie yang memercik ke sana. Rio menoleh pada tangannya lalu hanya diam sambil memandang Ify. Ify mengangkat wajahnya karena menyadari Rio sedang menatapnya.
“I love you!” ujar Ify seraya tersenyum manja. Emosi Rio seketika luntur. Ia mendesis sebal meski tidak dapat menahan senyumnya juga. “Emangnya dengan lo bilang gitu gue bakal maafin lo?” sahutnya pura-pura galak.
Ify merengut dan lantas bersandar sambil memeluk lengan Rio. “Gue lagi gak punya permen buat nyogok lo. Jadi langsung maafin gue aja ya?”
Rio tertawa lalu kemudian mendecak sambil geleng-geleng kepala. “Janji ya, lo gak akan inget-inget itu lagi?” tanyanya sambil menyembulkan kelingkingnya. Ify tersenyum sambil menyambut uluran kelingking(?)nya.
“Iya.” Rio akhirnya dapat bernapas lega. Ia lantas membalikkan tangannya dan menggenggam tangan Ify.

***

Rio mengeratkan genggamannya pada tangan Ify. Ia gugup. Hari ini ia berencana untuk mempertemukan Ify dan Dea. Ia ingin mereka berdua bisa akrab. Mungkin dengan cara ini Dea bisa mendekatkan diri pada Ify terlebih menyukai Ify sehingga gadis itu tidak lagi mengganggu kekasihnya itu. Semoga saja semuanya berjalan seperti yang ia harapkan. Ify sendiri hanya berjalan santai sambil memperhatikan apa yang ada di sekelilingnya.
Mereka kini mulai menaiki eskalator. Mall tampaknya ramai dipadati pengunjung. Sampai-sampai eskalator pun penuh. Rio melepas genggamannya dan memilih memeluk pinggang Ify. Merapatkan gadis itu padanya supaya tidak hilang di kerumunan. Ataupun supaya tidak ada orang yang berani mengganggu gadis itu. Ify sedikit kaget karena Rio tiba-tiba memeluk pinggangnya, di keramaian seperti ini lagi. Ify melihat sekitarnya lalu melihat Rio lalu kemudian tersenyum tipis seraya menunduk.
“Fy, kalo kita nanti nontonnya gak berdua gakpapa, kan?” tanya Rio tiba-tiba. Air mukanya terlihat seperti tidak enak hati. Takut-takut kalau Ify malah tidak suka. Namun untungnya, Ify tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Gakpapa, as long as I’m with you, Yo. Hehe..” Rio tertawa kecil mendengar itu lantas mengelus sesaat kepala Ify sambil merangkul lehernya.
 Ify tak bisa melepas senyum dari wajahnya. Hingga kemudian senyumnya sedikit pudar manakala mengetahui siapa orang yang akan menemaninya dan Rio nonton. Seorang gadis yang sudah menempati meja yang akan mereka tempati lebih dulu. Gadis berambut sebahu lebih yang kini tengah tersenyum menyambut kedatangannya dengan Rio. Dea. Ia menoleh pada Rio seolah bertanya apa Dea yang benar-benar akan ikut bersama mereka. Dan senyum Rio pun seolah menjawab pertanyaan tersiratnya.
“Kamu udah lama nunggunya?” tanya Rio setelah duduk di kursi di depan Dea diikuti Ify yang memilih duduk di sebelahnya yang otomatis di sebelah Dea juga. Dea menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. “Enggak kok, KakYo.” Ujarnya. Ia menoleh pada Ify yang hanya diam. “KakFy..gaksuka ya aku ikut? KakYo tadi minta banget sama aku buat ikut jadinya aku ikut. Aku gakpapa kok kalo KakFy nyuruh aku pulang. Aku juga ga enak gangguin acara KakFy sama KakYo terus.”
Ify tak ayal langsung menoleh pada Rio dan bertanya ‘maksudnya minta banget?’ melalui tatapannya. Rio terkesiap dan langsung menjawab atau mungkin meralat ucapan Dea. “Lo jangan salah paham dulu. Gue itu mau memperbaiki hubungan kita bertiga yang sedikit kacau akhir-akhir ini makanya gue ngajak Dea ikut sama kita.” Jelasnya.
Ify diam mencermati apa yang Rio katakan. Berhubung ia sedang tidak ingin berpikir yang berat-berat, ia lantas hanya menjawab ‘Oh’ sambil menganggukkan kepala beberapa kali. Ia juga tidak ingin membuatnya menjadi masalah besar yang harus diributkan dan diperdebatkan. Ia tidak ingin merusak harinya yang sudah berangsur damai.
“Jadi aku boleh ikut?” tanya Dea dengan mata berbinar. Ify tersenyum tipis. “Boleh..boleh, kok.” Jawabnya sekenanya. Dea berseru senang sambil memeluk lengannya. “KakFy cantik, deh!”
Sekali lagi Ify hanya diam dan balas tersenyum. Entahlah, ada yang aneh dengan perasaannya. Ia masih kaget setiap melihat sikap Dea yang berubah-ubah. Ia belum bisa percaya padanya. Mungkin juga ini karena Debo yang sudah ‘mengkhianati’nya. Meski begitu, ia tidak akan menutup hatinya untuk menghargai sikap baik Dea. Semoga saja gadis itu benar-benar berubah.

***

Hari ke hari, hati Ify sepertinya sedikit demi sedikit mulai terbuka untuk menerima Dea. Rasanya Dea benar-benar sudah berubah. Gadis itu ramah sekali. Selalu menegurnya dengan ceria setiap bertemu. Kalau sedang bersamanya dan Rio, Dea malah lebih lengket padanya daripada Rio sendiri. Sampa-sampai Rio pernah berkata ‘cemburu’. Tak jarang ketika istirahat sekolah mereka makan di kantin bersama. Seperti saat ini. Mereka berjalan menuju kantin dengan Dea yang memeluk lengannya.
Sekarang adalah gilirannya untuk memesan makanan. Ya, karena Dea, mereka jadi punya jadwal giliran untuk memesan makanan. Gadis itu bilang ‘biar seru aja’ waktu itu. Sebenarnya Dea memang gadis yang lucu dan hangat. Sikapnya bahkan boleh dikatakan belum cocok untuk disebut anak sma. Ia dibuat merasa seperti punya adik yang masih sd.
“Pesenannya masih sama, kan?” tanyanya sesaat sebelum melangkah pergi. Rio dan Dea mengiyakan bersamaan. Mereka tak ayal serentak tertawa.
Tapi sepertinya, prahara untuk Ify belum habis. Hari Ify belum benar-benar damai seperti yang ia kira. Masalah itu rupanya belum kapok mendatanginya. Ketika ia baru hendak membalikkan badan, di saat yang bersamaan seseorang hendak berjalan melewatinya. Mereka sama-sama tidak melihat keberadaan satu sama lain. Alhasil tabrakan tak dapat terelakkan. Sialnya, baju Ify terkena tumpahan kuah bakso rekan tabrakannya tersebut. Tapi Ify lega, setidaknya bajunya yang kena bukan baju sang rekan.
“Maaf gue gak hati-hati..” kata Ify langsung sambil mengangkat wajahnya. Ia berjengit kaget mengetahui siapa gerangan yang sudah ditabraknya tadi. Gadis yang ditemuinya di toilet yang memohon-mohon padanya untuk menjauhi Rio waktu itu. Ya, gadis itu adalah Angel. Angel menatapnya datar bahkan bisa dibilang agak sinis.
“Ya, lo pantes dapet siraman kuah bakso di baju lo akibat ke-gak-hati-hati-an lo itu.”
Ify terpana beberapa saat. Angel sudah 180 derajat berubah. Gadis itu benar-benar bersikap memusuhinya. Ia sangat tidak mengerti mengapa dia sampai sebegitunya membencinya. Tapi entah kenapa, sejahat apapun gadis itu, ia tidak bisa membalas membenci Angel. Sama seperti ia tidak pernah membenci Rio ketika pemuda itu menyakitinya. Tapi kalau Rio kan ia tahu alasannya, karena ia mencintai pemuda itu. Nah, kalau Angel? Kan gak mungkin gue jatuh cinta sama Angel.
“Sekali lagi gue minta maaf ya, Kak.” Ujarnya berusaha tetap sopan. Tak peduli pada ketidakramahan Angel padanya.
“Trus lo pikir, maaf lo bisa gantiin bakso gue yang udah dimakan sama baju lo?” Bentak Angel tiba-tiba. Ify sampai mundur karena kaget. Sontak hal itu membuat mereka benar-benar menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di kantin. Rio hendak berdiri tapi didahului Dea. Dea maju ke depan Ify seolah ingin melindungi gadis itu dari Angel. Angel hanya menaikkan alis dengan ekspresi yang kembali datar.
Dea baru membuka mulut ketika Angel menyentaknya. Tidak cukup keras tapi cukup membuatnya takut dan mundur. Mau tidak mau Rio akhirnya berdiri juga dan menggantikan Dea berdiri di depan Ify. “Bakso lo harganya berapa, sih? Masih lebih mahal seragam Ify yang udah kotor karena bakso lo. Dia juga udah minta maaf, kan? Kenapa harus marah-marah?” Rio menekan semua emosinya dan mencoba berbicara tenang sambil menyembunyikan tangannya yang terkepal di saku.
Angel hanya diam memandang Rio. Ia kemudian meletakkan mangkok baksonya ke meja asal-asalan lalu melengos pergi tanpa mengatakan apapun. Rio mengernyit menatapnya tak terima diabaikan. Ia hendak menahan gadis itu tapi tangannya lebih dulu ditahan Ify. Ify menggelengkan kepalanya mengisyaratkan agar ia membiarkan Angel pergi. Ia lantas mendengus pelan.
“Kakak itu siapa, sih? Galak banget!” celetuk Dea. Namun, satupun dari Rio dan Ify tidak ada yang menjawab pertanyaannya. Ia lantas hanya mengedikkan bahu. Ia kemudian mengikuti Rio dan Ify yang hendak pergi ke uks meminta baju ganti.

***

Ify keluar dari uks dengan menenteng seragamnya yang kotor. Ia hanya menemukan Rio seorang diri. Ia menoleh mencari Dea dan bertanya melalui tatapan matanya pada Rio.
“Lo gak seneng gue yang nungguin lo? Lo udah mulai selingkuh sama Dea?” tanya Rio yang langsung membuatnya mencubit pinggang pemuda itu. Mereka lantas tertawa. “Dia udah balik ke kelas. Ada tugas kelompok katanya.” Jawab Rio setelah tawanya meredam.
Ify hanya menganggukkan kepala. Rio diam menatapnya lalu menghela napas. Ia lantas mengernyit bingung. “Kenapa?”
“Bahkan waktu gue ada pun lo tetep kena masalah. Apa mungkin gue pembawa sial untuk lo ya?”
Sekali lagi Ify mencubit pinggang Rio, bahkan lebih keras hingga Rio sampai mengaduh sakit. “Ini udah 2014 lo masih aja percaya gituan, ckckck!”
Meski begitu, Rio tetap memberengut. “Gue beneran sedih loh, Fy.”
“I’m okay, Rio! Lagian kejadian tadi itu murni musibah. Gak ada unsur kesengajaan dari Angel buat nyiram gue pake kuah bakso.” sahut Ify gemas. Rio menghela napas. “Gitu ya?” serahnya. Ify mengangguk cepat dengan semangat. Rio diam tidak menjawab lagi.
Ify kemudian mengangkat tangannya dan melentik-lentikkan jari di depan wajah Rio. Mulutnya berkomat-kamit seperti sedang membaca mantra. Rio melihat itu sambil mengerutkan kening.
“Wahai Tuhan, dengarlah beberapa permintaan kecil dari gadis lemah tak berdaya seperti hambamu ini. Jagalah selalu pemuda ini, jangan pudarkan senyum di wajah pemuda ini, jangan lunturkan kebahagiaan di hati pemuda ini. Semikan selalu cintanya untuk hambamu ini. Satukan selalu kami ketika masalah datang memisahkan kami. Hadirkan kepercayaan selalu di hati kami ketika salah paham terjadi memecah kami....amin. Sshhh! Sshhh!” Ify menjentikkan jarinya seperti sedang menyipratkan air ke wajah Rio lalu menurunkan tangannya kembali.
Rio hanya tersenyum geli menatap Ify yang juga tersenyum padanya sambil menepuk-nepuk kepala gadis itu.

***

Malam ini Rio kembali harus mengajari Dea. Berbeda dengan sebelumnya, sekarang Dea yang bertandang ke rumah Rio. Lantas ruang tengah pun diisi oleh Rio, Dea dan juga Ify. Sebenarnya Ify ingin berdiam diri di kamar. Akan tetapi, Rio yang menyuruhnya menemaninya. Hitung-hitung Ify bisa ikut sekalian mengulang pelajaran, katanya. Meski sebenarnya ia tahu kenapa pemuda itu memaksanya. Rio tidak ingin ia berpikir yang tidak-tidak. Padahal ia sudah tidak lagi berpikiran macam-macam tentang Rio dan Dea. Mereka kan sudah berbaikan jadi apa yang harus ia khawatirkan, kan?
Karena bosan hanya menjadi penonton Rio dan Dea, ia lantas memilih memainkan ponselnya. Sekedar iseng mencari berita tentang Rio. Ia mengetik ‘Rio Real 2014’ di mesin pencari sebagai kata kunci. Dan berbagai artikel tentang Rio pun langsung bermunculan. Dari sekian banyak tersebut, ada satu yang menarik perhatian Ify, yaitu artikel yang berjudulkan ‘Rio Punya Pacar, Anda Patah Hati?’. Ia langsung menekan judul artikel tersebut dan kemudian membaca apa yang tertulis di dalamnya.
‘Beberapa saat lalu, media sosial instagram sempat dihebohkan dengan foto yang diupload Rio Real diakunnya. Foto tersebut menunjukkan dirinya dan seorang gadis di sampingnya dengan mata tertutup. Berdasarkan info yang didapat, gadis manis itu bernama Alyssa Saufika Umari atau Ify yang juga merupakan teman sekelas Rio di sekolah. Dari foto tersebut, banyak orang yang menyimpulkan ada hubungan spesial yang terjalin di antara mereka berdua. Beragam reaksi yang dikeluarkan para penggemarnya terutama para wanita. Cukup banyak yang mendukung hubungan antara Rio dan Ify ini sampai-sampai terbentuk sebuah grup penggemar mereka berdua yang menamakan diri sebagai RFM (RiFy Maniacs) *eaaag*. Namun jumlahnya mungkin belum sebanyak para remaja putri yang mengaku patah hati setelah mendengar kabar ini. Lalu, masuk di bagian manakah anda? Apakah anda juga patah hati?’
Ify terlihat beberapa kali tersenyum saat membaca isi dari artikel itu. Terutama saat membaca baris kalimat yang menyebutnya ‘manis’, juga tentang grup penggemar dirinya dan Rio. Ia menggerakkan jempolnya ke atas untuk menggeser laman ke bawah dimana merupakan tempat orang-orang berkomentar.
‘AQo3h mao m4ti3e aj4chhhhh!!’
Ify terkekeh geli membaca komentar yang satu itu. “Untung Rio alaynya gak separah ini..”
‘I love them<3<3 Jangan sampe putus yaaaa!’
Ify tersenyum senang seraya menyahut pelan. “I love you too!”
‘Kenapa kenyataan hidup harus sesakit ini? :’’)’
Ify kembali tersenyum. Tapi kemudian, senyumnya tiba-tiba lenyap.
‘Itu ceweknya abis ditidurin? Ewh..’
“Sembarangan!” Ify spontan menyeru tak terima. Hal itu lantas membuat Rio dan Dea memandangnya bingung dan heran.
“Lo kenapa?” tanya Rio dengan pandangan aneh. Ify balas nyengir. “Gak..gakpapa, hehe..”
Rio menatapnya sebentar lalu mengedikkan bahu. “Lo bikinin minum gih!” katanya tanpa menoleh.
“O—oh iya, bentar..” Ify meletakkan ponselnya di meja dan langsung beranjak ke dapur. Satu alasan lagi kenapa Rio memaksanya menemaninya, yaitu agar pemuda itu bisa menyuruhnya seenaknya. Ckck, untung gue cinta sama lo, Yo, Yo.
Ify kembali dengan membawa tiga gelas orange syrup dingin di tangannya. Ia meletakkan masing-masing di depan Dea, Rio dan dirinya sendiri. Rio dan Dea sepertinya sudah selesai belajar.
“Kamu ke sini sendiri, De?” tanya Ify sambil menyesap orange syrupnya. Dea mengangguk seraya tersenyum. “Pake apa? Gak takut?” tanya Ify lagi.
Dea kali ini menggeleng. “Mobil. Jam segini jalanan masih rame, jadi aku gak terlalu takut.”
“Sejak kapan kamu bisa nyetir mobil?” celetuk Rio yang nampak kaget. Ify bergantian memandang Rio dan Dea. “Baru sih, KakYo. Belajar sama Pak Anto.”
“Pak Anto siapa?” kembali Ify yang bertanya. “Supir aku, KakFy.” Ify mengangguk dan hanya menjawab ‘Oh’.
Mereka sesaat sama-sama diam. Ify kembali memainkan ponselnya, Rio bersandar pada sofa seraya melepas penat sementara Dea diam dengan terus menatap Ify. “KakFy?” panggilnya kemudian.
Ify berdehem menyahut tanpa melepas pandangannya ke layar ponsel. “Kalo misalnya aku minta maaf, apa KakFy mau maafin aku?” tanyanya dengan nada serius.
Ify memalingkan wajahnya menatap Dea sambil mengernyit. Rio pun langsung menegapkan badannya mendengar ucapan gadis itu. Ify melihat ke arah Rio yang menatap Dea aneh.
“Emang kamu kenapa?”  tanyanya.  “Aku tau KakYo gak ngebolehin aku ngomong soal ini sama KakFy, tapi—“
“De!” sela Rio tiba-tiba. Dea hanya meliriknya sekilas dan kembali bicara tanpa memedulikan ‘alarm’ darinya. “Aku gak bisa nyimpen ini terus-terusan. Aku selalu dihantui rasa berdosa dan bersalah sama KakFy. Makanya sekarang aku mau jujur sama KakFy. Aku mau jujur soal perpus.”
“Fy, sebaiknya lo balik ke kamar. Sekarang.” Perintah Rio tegas. Ify menoleh ke arahnya makin tidak mengerti. “KakFy jangan pergi! Aku mohon dengerin apa yang mau aku bilang ke KakFy!” tahan Dea cepat.
“Fy, lo gak denger gue bilang apa?!” kata Rio dengan nada suara meninggi. “KakYo, please?!”
“Kalian kenapa, sih? Kamu sebenernya mau ngomong apa, De? Jangan bikin Kakak pusing.”
Dea meraih kedua tangannya dan menatapnya penuh rasa bersalah. Bahkan hampir menangis. “Aku..aku yang udah sms KakFy waktu itu. Aku yang udah minjem hape KakYo waktu itu dan nyuruh KakFy datang ke perpus.”
Saat itu juga rasanya seperti ada petir yang menyambar jantungnya. Ia merasa sedang bermimpi buruk.
“De, udah!” Rio kembali menyuruh Dea berhenti melihat Ify bergeming. Namun kemudian, Ify bersuara yang membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia hanya bisa menghela napas dan berdoa semoga saja hal ini tidak berakhir buruk.
“Lanjutin..” lirih Ify. Dea menarik napas dalam lalu melanjutkan ucapannya seperti yang Ify minta. “Kak Debo yang sms KakYo buat dateng ke perpus. Aku dan Kak Debo pelakunya. Termasuk yang nempel foto di mading.”
Ify termangu tanpa bisa berkata apa-apa. Disaat ia sudah mulai percaya, dalam sekejab kepercayaannya tersebut kembali terbuang sia-sia. Dan yang lebih menyakitkan, Rio juga tega menyembunyikan kebenaran ini darinya. Jadi inikah alasan sebenarnya Rio melarangnya mencari tahu? Pemuda itu hanya ingin melindungi Dea?
“Aku minta maaf, KakFy. Aku bener-bener minta maaf. Aku nyesel udah melakukan itu semua sama KakFy.”
Ify masih diam menatap Dea tak percaya. Air matanya satu persatu mulai turun. Lalu kemudian pandangannya beralih pada Rio. Ia benar-benar kecewa pada pemuda itu. Ia tidak habis pikir kenapa pemuda itu tega membohonginya. Ia menarik tangannya dari genggaman Dea. Ia berdiri dan berlari pergi masuk ke dalam kamar tanpa mengatakan apapun. 
Rio mendengus frustasi. Ia membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu tapi tidak jadi dan terulang sampai dua kali. Hingga akhirnya ia mengerang kesal sendiri.
“KakYo, aku minta maaf. Aku gak maksud bikin kakak sama Kakfy—“
“Pulang..kamu pulang sekarang..pulang!” potong Rio sambil menutup mata.
“Tapi—“
“Kamu gak mau kan Kakak makin marah sama kamu?”
Dea terdiam tak bisa apa-apa lagi. Mau tidak mau ia menuruti kata-kata Rio untuk pulang saat ini juga. Ia membereskan buku-bukunya yang ada di meja dan berdiri mengucap pamit sekaligus memohon maaf kembali untuk yang terakhir kali.
“Sekali lagi aku minta maaf, KakYo. Aku pulang dulu.”
Rio memalingkan wajahnya dan hanya diam. Ia membiarkan Dea pergi hingga kemudian terdengar suara pintu di tutup. Ia menghela napas berat. Matanya beralih pada pintu kamarnya yang tertutup rapat. Lalu sekarang bagaimana?

***

Ify duduk menekuk lutut dengan menyangga dagunya sambil terus menatap lekat-lekat pintu kamar Rio. Menunggu seseorang segera membukanya dari luar. Hatinya sedaritadi memanggil-manggil nama orang tersebut dan berharap suara hatinya itu bisa terdengar. Tapi rupanya, sampai sekarang pintu itu masih bergeming tak bergerak sedikitpun. Ia masih saja meringkuk sendiri di dalam kamar tanpa ada seseorang yang datang menenangkan atau bahkan sekedar menemani.
Saat ini Ify hanya berharap Rio segera datang dan memberinya penjelasan. Ia sendiri tidak tahu kenapa ia malah menginginkan kehadiran pemuda itu setelah kebohongan pemuda itu terbongkar. Padahal ia tahu kalau ia sudah begitu kecewa padanya. Tapi memikirkan Rio yang tidak salah paham padanya ketika melihat ia dan Debo di perpustakaan, hatinya langsung melunak. Mungkin tak ada salahnya juga kalau ia terlebih dahulu mendengar penjelasan pemuda itu baru memutuskan sikap mana yang harus ia ambil.
Yang jadi masalah sekarang, kenapa Rio tidak juga menampakkan batang hidungnya di hadapannya? Ini bahkan sudah lebih dari satu jam setelah ia meninggalkannya dengan Dea di ruang tengah. Apa pemuda itu benar-benar menginginkan kemarahannya?
Sementara itu, di luar Rio berdiri dengan bimbang apa ia harus masuk menemui Ify atau tidak. Ada dua kemungkinan yang ada dalam benaknya. Yang pertama, saat ini Ify sedang menenangkan diri setelah mengetahui fakta yang berusaha ia sembunyikan. Karena itu, Ify mungkin tidak akan menerima kehadirannya dan tidak akan mengacuhkannya. Bahkan bisa saja gadis itu malah memaki-makinya habis-habisan karena merasa sudah dibohongi. Yang kedua, Ify ingin ia masuk dan menjelaskan semuanya, apa yang sudah terjadi sekarang. Tapi, ia tidak yakin akan kemungkinan kedua ini. Yang ia tahu, saat ini Ify begitu kecewa padanya.
Rio mendesah pelan sambil memijit-mijit keningnya yang terasa merenyut-renyut. Ia menyandarkan lengan dan kepalanya pada dinding sambil memandang nanar pintu kamarnya. Ia menyentuh permukaan benda tersebut dan mengusapnya pelan. Seolah-olah sekarang ia sedang mengusap kepala dan punggung Ify.

“Jangan marah sama gue ya, Fy.”

***

Haaaaaaaaaiiiii! *cling*ceritanyangilang*

Selasa, 20 Mei 2014

Matchmaking Part 29 (Rify)

Rify

How do I breathe without you here by my side? How will I see when your love brought me to the light? Where do I go when your heart’s where I lay my head? When you’re not with me, how do I breathe?

***

Rio tersenyum kecil memandang layar ponselnya sambil berbaring di sebelah Ify yang masih tertidur. Sekarang sudah hampir jam 8 pagi tapi gadis itu belum juga bangun. Ia juga tidak tega membangunkan karena ia tahu semalam gadis itu susah tidur. Di hadapannya terpampang sebuah foto yang entah ke berapa dari beberapa foto yang ia ambil. Tapi foto yang satu inilah yang paling memikat hatinya. Sebuah foto dirinya bersama Ify yang sedang tidur dengan pose wajah mereka begitu dekat dan hidungnya menyentuh pipi gadis itu. Wajah Ify terlihat lucu sekali meski tetap manis.
Ify menggeliat kecil serta mengerang pelan. Ia mencoba membuka mata perlahan dan refleks melihat ke sebelahnya. Ia berkedip bingung beberapa kali. “Rio?” gumamnya dengan suara serak. Sesaat ia berpikir ia sedang bermimpi saat ini karena melihat Rio di sampingnya.
Rio akhirnya mengalihkan pandangannya dari ponsel lalu tersenyum pada Ify. Meskipun hanya sesaat. “Morning, putri tidur.” Ify tak menjawab. Matanya terus berkedip sambil memandang wajah Rio. “Gue pasti lagi mimpi,” gumamnya lagi.
Rio kembali mengalihkan pandangannya lalu mengernyit. “Lo gak mimpi kok,” jawabnya dengan nada bingung. Sesaat mereka diam dengan saling berpandangan. “Beneran gak mimpi?” tanya Ify kemudian. Rio berdehem menyahut.
“Berarti beneran lo yang tidur di samping gue sekarang?” Rio berdehem lagi. Ify diam kembali selama beberapa detik hingga kemudian ia tiba-tiba terlonjak kaget. Rio berjengit ikut-ikutan kaget. “Kok..elo?! Semalem lo balikin gue ke kamar gue kan? Via, Shilla sama Agni mana? Kok malah elo yang tidur di sebelah gue?” tanyanya panik.
Rio membangunkan tubuhnya lalu duduk menghadap Ify. “Iya, gue balikin lo ke kamar lo kok. Mereka pergi jogging. Mau ngajak lo tapi lo nya masih tidur.”
“Kenapa gak dibangunin?”
“Gue bilang gausah. Lo kan semalam susah tidur.”
“Terus, lo kenapa bisa tidur di samping gue?” Ify menarik selimut menutupi tubuhnya hingga leher. “Nungguin lo bangun.” Jawab Rio polos. Ia menghela napas lega tanpa sadar.
“Lo pasti mikir jorok ya?” tanya Rio dengan mata menyipit curiga. Ify terkesiap lalu memalingkan wajahnya. “Eng..gak!”
Rio memperhatikan Ify sesaat lalu tersenyum tanpa bertanya lagi. “Yaudah, lo mandi gih. Abis itu sarapan. Gue udah kelaperan daritadi tau gak? Oh iya, pake baju bagus ya! Gue tunggu di bawah. Gak pake lama!” pinta atau mungkin perintahnya kemudian. Ia beranjak turun dari kasur dan berjalan ke arah pintu tanpa menunggu jawaban dari Ify.
Sementara Ify melongo menatap Rio tanpa berkedip. Sepertinya kepalanya kepentok saat tidur tadi. Atau mungkin kepala Rio yang kepentok. Perasaan semalam pemuda itu begitu manis. Kenapa sekarang kembali seenaknya begitu? Apa semalam ia juga cuma bermimpi? Ck, ini sulit dipercaya.
Ify menyingkap selimut sambil turun dari tempat tidur. Ia berjalan menuju kamar mandi. Sementara itu, Rio yang sudah sampai di depan pintu tiba-tiba berhenti lalu membalikkan badan. “Fy?” panggilnya pelan. Ify ikut berhenti sambil menoleh ke arah pemuda itu.
“Gaada morning kiss?” tanya Rio dengan tampang polos memaksa. Mata Ify melotot lebar dan kemudian mendelik. “Gak!” katanya galak. Rio menyengir ria dan segera angkat kaki.

***

Hati Ify rasanya gondok setengah mati. Ia duduk di kursi, memakan gulali sambil memperhatikan orang-orang yang lalu lalang serta orang-orang yang tengah bermain, tanpa niat. Ia pikir ia akan benar-benar menghabiskan waktu bersama Rio hari ini. Ia sudah terlanjur membayangkan kencan romantis nan menyenangkan yang akan ia jalani bersama pemuda itu. Tapi yang malah terjadi bukan kencan sama sekali. Jangankan kencan, berbincang dengan pemuda itu saja tidak bisa. Rio dengan mudah direbut begitu saja darinya. Tahu siapa yang merebut? Dea.
Dan hal yang paling membuat hatinya gondok adalah Rio hanya pasrah tidak menolak. Malah menatapnya dengan memohon agar ia yang mengerti. Sebenarnya tadi mereka memang jalan bertiga, sih. Hanya saja tadi ia sudah tidak tahan melihat Dea yang terus saja menempel layaknya perangko pada Rio. Jadinya ia diam-diam kabur dan memilih menunggu di sini. Entah apa juga yang ia tunggu. Menunggu Rio mungkin.
Ify sedikit banyak merasa kecewa. Kenapa Rio malah lebih memilih bermain bersama Dea? Dan kenapa Rio membiarkan saja Dea menggelayuti lengannya? Bukannya itu harusnya tempat untuk tangannya? Kenapa ia yang harus mengerti? Memangnya pacarnya itu siapa? Dirinya atau Dea? Kenapa pemuda itu malah lebih menjaga perasaan Dea daripada dirinya?
Ngomong-ngomong, Rio sadar tidak ya kalau ia menghilang? Apa pemuda itu sedang mencarinya sekarang? Atau justru asyik bermain sehingga lupa akan dirinya? Ck, seharusnya kemarin ia tidak secepat itu percaya kalau pemuda itu benar-benar mencintainya. Lihat saja sekarang, antara Dea dan dirinya saja Rio lebih memilih Dea. Apalagi kalau antara dirinya dan Acha. Sialan. Kenapa lagi nama itu teringat-ingat disaat-saat sekarang!
Ify menarik napas dalam beberapa kali sambil menghembusnya perlahan. Dadanya langsung berdenyut nyeri. Entah bagian apa yang berkontraksi yang pasti Ify merasakan nyeri sesaat dalam dadanya. Ia melirik jam digital di layar ponselnya lalu mendesah pelan. Kalau dalam lima belas menit ke depan Rio tidak juga datang menemuinya, ia akan...
“Loh? Ify?”
Ify terpaksa menghentikan sumpah yang hendak ia ucapkan dalam benaknya. Ia mengangkat wajahnya melihat orang yang baru saja menyebut namanya sekaligus menggagalkan sumpahnya itu. Ia seketika mengernyit bingung. Lumayan kaget juga meski tidak kaget-kaget benar.
“Debo?” sahutnya dengan nada ragu. Debo yang awalnya menatapnya terkejut langsung berubah ceria. “Gue seneng ketemu lo di sini.” Ujarnya dengan tatapan menggebu. Ify hanya tersenyum tipis lalu menggeser duduknya, mempersilahkan kalau-kalau Debo mau duduk. Dan persis seperti dugaannya, Debo langsung mengambil tempat yang dipersilahkannya untuknya.
“Lo sama siapa kesini?” tanya pemuda itu.
Ify menoleh sebentar lalu mengalihkan pandangannya dan menatap gulali tanpa semangat. “Rio.” jawabnya tak kalah lesu. Debo mengernyit lalu menoleh ke kanan-kiri sebelum memandangnya kembali. “Trus, Rio nya mana? Kok lo malah sendirian di sini?”
“Pergi.” Ify memakan gulalinya kembali dengan pandangan tak fokus. “Pergi? Udah lama perginya? Pergi kemana emangnya?”
“Gatau.”
“Kok gatau?” Ify mengedikkan bahu tanpa menjawab. Debo memandangnya penuh tanda tanya. “Lo kesini berdua doang?” Ify menoleh ke arah Debo lalu menggelengkan kepala. “Bertiga.”
“Sama siapa lagi?”
“Sama Dea.” Muka kebingungan Debo langsung berubah serius. Tampaknya ia sedang memikirkan sesuatu. “Jangan bilang kalo Rio lagi pergi sama Dea dan lo ditinggal sendirian di sini?”
Ify mengangguk lalu menggeleng. “Gue tadi yang kabur.”
“Kenapa kabur?”
“Udah hampir sejam gue di sini. Gaada yang dateng nyariin gue. Toh mereka emang ga butuh-butuh gue banget juga kayaknya.”
“Itu masalahnya!” Debo berseru sambil menjentikkan jari. Seolah-olah baru saja mendapat ide. Ify mengerutkan dahi bingung. “Masalah maksudnya?”
“Harusnya tadi lo tetep sama mereka aja. Ngapain juga lo pake kabur-kaburan? Rugi sendiri, kan?”
Ify makin tidak mengerti. Kenapa jadi Debo yang marah-marah? “Kok lo malah nyalahin gue, sih? Gue tuh capek jadi obat nyamuk. Mending kalo asepnya ke mereka, ini asepnya ke gue juga. Sesek tau! Seseknya tuh disini.. *apadeeeeh*” Di akhir ucapannya Ify memegang dada dengan pandangan nanar menerawang.
“Ini kencan pertama lo ya semenjak jadian?” tanya Debo seraya mengerling jahil. Ify terkesiap kaget sekaligus panik. Kenapa Debo bisa tau? “Ja—jadian? Kok...kok lo bisa tau?”
Debo berjengit memandangnya aneh. Lalu tersenyum. “Kabar Rio sama lo jadian di twitter sama instagram lagi heboh, kali. Lo gatau?” tanyanya kaget. Ify menggeleng dengan mulut menganga. Debo mengambil ponselnya dari saku, memainkannya sebentar lalu menunjukkannya pada Ify. Mulut Ify langsung menganga lebih lebar. Di hadapannya terpampang fotonya dengan Rio saat tidur tadi. Entah kapan foto itu diambil. Yang pasti tanpa sepengetahuannya.
“Gue jadi makin yakin Rio sekarang lagi nangis-nangis nyariin lo tapi gak ketemu-ketemu,” Ujar Debo seraya terkekeh. Ify mengatup mulut lalu mendesah pelan. “Kalo emang nyari pasti daritadi udah ketemu lah.”
“Lo kan gatau dia lagi ngapain sekarang. Ancol gede kali, Fy. Penuh lagi. Ga semudah itu buat nemuin orang. Mana badan lo kecil banget kek semut. Makanya jangan kecentilan kabur!” Debo terkekeh lagi sementara Ify mencibir ke arahnya.
“Yang ngajakin lo ke sini Rio, kan?” Ify hanya berdehem menyahut. “Dia ngajak Dea juga?”
“Enggak. Tuh anak tau-tau dateng ke rumah. Trus minta ikut pas tau gue sama Rio mau pergi. Dan Rio setuju gitu aja. Mana abis itu mereka lengket banget udah kayak kembar siam. Yah dari situ aja udah keliatan kalo ada atau enggaknya gue gak akan jadi masalah buat mereka. Mereka pasti lupa deh sama gue, yakin gue.”
Debo tiba-tiba menyentil telinga Ify. Tidak terlalu keras sih tapi cukup membuat Ify mengaduh sakit. Ify langsung menggosok-gosok daun telinganya yang malang dan menatap Debo kesal. “Apaan sih nyentil-nyentil? Emang gue anak sd!” dumelnya.
“Abis lo ngeyel banget lebih-lebih dari anak sd.”
“Gue kan cuma gak mau meyakini hal yang bakal bikin gue makan hati kalo misalnya itu gak terjadi. Apa salahnya?” Ify memberengut sebal.
Debo memutar kedua bola matanya jengah sambil mengerang pelan dan geleng-geleng kepala. Makhluk cantik di sebelahnya ini benar-benar keras kepala. Ia memasukkan ponselnya kembali ke saku lalu menoleh ke arah Ify. “Lo itu sekarang udah ada di posisi yang harus selalu percaya sama Rio, Fy. Fy, lo sama Rio tuh udah pacaran! Pacaran, Fy, pacaran! Itu yang lo pengenin selama ini, kan?”
“Paling pulang ntar dia minta putus.” Sahut Ify asal sambil kembali memakan gulalinya yang sempat terabaikan beberapa saat. “Lo jadi orang pesimis banget, sih?” Sekali lagi Debo menggelengkan kepalanya.
“Buat apa dia, walau secara gak langsung sih, ngasih tau ke orang-orang soal hubungan kalian kalo sehari setelah itu ngajakin lo putus? Gini ya, secara keartisan aja, itu bakal ngerusak image dia. Rio kan udah jadi public figur pasti jaim lah. And one you should know nih, kalo ada cowok majang foto ceweknya apalagi sampe mamerin di depan banyak orang, dia pasti cinta banget sama ceweknya itu. Gue gak bela Rio, tapi gue kan juga cowok, Fy. Lo bisa percaya sama kata-kata gue.”
“Trus, kalo emang bener, kenapa Rio diem aja pas di gandeng sama Dea?”
“Ya mungkin Rio tuh cuma kaget dan gatau harus gimana. Tadi lo bilang Dea dateng tiba-tiba, kan? Rio belum nemuin cara ngasih tau Dea soal lo dengan cara yang gak menyakiti lo berdua, makanya dia diem aja. Diem kan banyak artinya, Fy. Bisa aja dia lagi bingung. Apalagi yang pengen lo tanya?” Debo menatap Ify bosan sementara Ify masih memberengut. Tapi ia juga tampak memikirkan kata-katanya.
“Lo kenal Rio sama Dea udah lama ya?”
“Emang ke..napa?” tanya Debo ragu-ragu. Heran kenapa Ify tiba-tiba bertanya soal itu. “Seingat gue sih gue gak pernah ngasih tau soal mereka, soal seberapa deketnya mereka. Kok lo bisa tau banyak gitu?”
“Ya..lo kan tau gue suka sama lo. Gue pasti cari tau sendiri tentang siapa aja orang-orang di sekitar lo. Tanpa harus lo kasih tau, gue udah harus tau.”
Ify tertegun mendengar ucapan Debo barusan. Jadi pemuda itu masih suka padanya? Lalu, kenapa ekspresinya setenang dan seceria itu? Terkesan biasa-biasa saja. Padahal Debo sudah tahu kalau ia dan Rio kini resmi berpacaran. Dan anehnya, kenapa pemuda itu malah berusaha membuatnya percaya pada Rio? Berusaha memperbaiki hubungannya yang bahkan belum genap satu hari? Kok dia gak ngompor-ngomporin gue soal Rio? Hebat gitu ya nih orang.
“Lo kok gak sedih sih tau gue pacaran sama Rio? Mana sekarang lo malah belain Rio di depan gue? Ada kesempatan buat ngerusak tapi kok lo malah berusaha nyatuin gue sama Rio? Gue aja ya, contohnya sekarang, ngeliat Dea ngegandeng Rio aja udah uring-uringan kek gini.”
“Lo mau gue kek gitu? Manfaatin situasi sekarang buat dapetin lo?” tanya Debo balik seraya mengerling jahil lalu tertawa. Ify meringis pelan. “Ya enggak juga, sih. Cuma tetep aja gue heran..”
“Gue orangnya fair-fairan aja, Fy. Gue bakal berusaha ngejer lo kalo lo belum jadi milik siapa-siapa. Kalo sekarang, Rio udah menang, jadi ya gue harus terima lapang dada. Gue gak mau jadi garam di api unggun. Gue gak boleh manfaatin kesempatan apapun buat bisa ngerebut lo, contohnya disaat ada masalah gini, apalagi cuma masalah sepele. Gaada gunanya juga, toh lo cintanya sama Rio bukan sama gue. Gue kan pengen dapet cinta lo bukan cuma lo nya doang. Ntar kalo misalnya lo udah putus baru deh gue mau ngejer lo lagi.”
Ify memperhatikan baik-baik bagaimana ekspresi Debo saat berbicara. Benar-benar seperti tidak ada beban. Senyumnya benar-benar terlihat tulus. Entah itu karena ia yang tidak pintar membaca raut wajah seseorang atau Debo memang seperti itu. Ia spontan ikut tersenyum senang.
“Gue seneng deh punya secad kayak lo, hehe.”

***

“Kak, kita main niagara gara ya ya ya?” pinta Dea dengan muka memelas. Rio meringis lemah sambil menggelengkan kepala. “Gak ah, ntar basah, De.” Tolaknya halus. Dea langsung memberengut kecewa. “Ah! KakFy! KakFy mau kan ma—loh KakFy mana?” Ia berseru semangat hendak membujuk Ify namun seketika lenyap dan wajahnya langsung berubah bingung ketika tahu orang yang ia ajak bicara sudah tidak ada.
Rio kaget dan langsung menoleh ke arah belakangnya. Ia menjadi lebih kaget lagi karena tidak menemukan sosok Ify di sana. “Ify?” panggilnya dengan panik. Ia melihat kesana-kemari tapi tidak satupun orang-orang yang ia lihat mirip dengan Ify. Artinya, Ify benar-benar tidak ada bersamanya. Gadis itu menghilang. Atau jangan-jangan Ify diam-diam pergi? Memang sih, daritadi ia sering curi-curi pandang pada gadis itu dan raut wajah gadis itu selalu murung dan tampak menahan kesal. Tidak salah lagi, Ify pasti memang sengaja kabur.
Tanpa babibu, Rio langsung melangkahkan kaki pergi hendak mencari Ify. Dea yang kebingungan lantas menyusulnya. “KakYo mau kemana? Kok malah pergi, sih? Kita mainnya kan di situ, kok KakYo malah jalan ke sini?”
Rio menghela napas lalu menghentikan langkahnya sebentar. “Kakak mau nyari Kak Ify. Kalo kamu emang pengen banget main, kamu main sendiri aja ya. Kakak gabisa nemenin kamu sebelum Kak Ify ketemu.” Ujarnya dan melanjutkan jalannya kembali tanpa menunggu Dea menjawab lebih dulu. Melihat itu Dea lantas memberengut lagi. Kesal melihat Rio sebegitu paniknya ketika kehilangan Ify.
“KakFy paling lagi main di wahana apa gitu. KakYo gaperlu secemas itu lah sampe mau nyari segala. Mending kita main!”
Rio diam tidak berkomentar. Tampaknya ia sudah tidak menghiraukan apapun yang dilakukan Dea. Yang ada di kepalanya sekarang hanya bagaimana dan dimana ia bisa menemukan Ify. Sejujurnya ia benar-benar merasa bersalah dengan gadis itu. Ia sudah berjanji untuk pergi menghabiskan waktu berdua tapi yang ada ia malah mengabaikan gadis itu karena juga merasa tidak enak dengan Dea. Wajar kalau Ify kesal. Mana ini merupakan kali pertama mereka bisa pergi berdua setelah jadian. Tidak masalah kalau Ify akan memaki atau memukulinya, yang penting ia bisa menemukan gadis itu.
Entah sudah berapa menit ia berkeliling tapi tidak juga menemukan Ify. Ck, kenapa lagi tempat ini begitu luas? Jadinya kan susah kalo nyari orang ilang! Gerutunya dalam hati.
“Telfon aja kali Kak, KakFy nya! Aku udah capek nih muter-muter!”
Ting! Seperti ada yang membunyikan lonceng dalam kepalanya. Rio langsung mengambil ponselnya di saku dan mendial nomor Ify. Ia mengerang kesal karena ponsel Ify mati. Kemungkinan besar Ify sengaja menonaktifkan ponsel atau bisa juga ponsel gadis itu lowbatt. Tapi kalau benar Ify sengaja, itu tandanya gadis itu benar-benar kesal. Atau bahkan marah padanya.
“Gimana Kak, KakFy bilang apa?” tanya Dea tak kalah kesal. “Hapenya mati.” Balas Rio jutek. Dea mengernyit heran. “Kok KakYo jadi jutek sih sama aku? Ck, karena KakFy, aku jadi kena imbasnya. Iss..pokoknya aku gak suka sama KakFy!”
“De, udah ya, Kakak lagi pusing. Jangan bikin tambah pusing.” Ujar Rio lemah. Ia kembali melanjutkan langkahnya sambil menatap kesana-kemari. “Yang bikin pusing kan KakFy, kok KakYo malah marah-marahin aku terus, sih?” dumel Dea belum puas. Rio hanya mendesah tanpa berniat membalas lagi.
Rio terus berkeliling mencari Ify ditemani Dea yang tak henti-hentinya mengomel. Padahal ia sudah mencoba mengabaikan supaya gadis itu berhenti, tapi tetap saja Dea berceloteh ini dan itu. Dan keseluruhan isi celotehannya hanyalah ungkapan kekesalan untuk Ify. Membuat Rio makin merasa bersalah dalam hati dan menyesal sedalam-dalamnya karena tidak menolak keinginan Dea untuk ikut. Ify pasti sudah berpikiran tidak-tidak tentangnya sekarang.
“KakFy? Nah, iya, itu KakFy!” Dea memekik senang sambil menunjuk ke suatu sudut. Rio langsung menjatuhkan pandangan ke arah yang Dea tunjuk. Rasanya ia ingin berteriak sekencang-kencangnya karena sudah bisa melihat Ify. Apalagi melihat Ify tengah tersenyum senang bersama Debo di sampingnya. Eh eh tunggu, ia tidak salah kan, itu benar-benar Debo kan? Yang sedang duduk di samping Ify? Yang telah membuat Ify-nya tersenyum? Apa, Ify tersenyum karena Debo?!
Rio merasa perputaran dunianya berhenti hingga ia sadar kalau tubuhnya ditarik Dea dan berjalan menghampiri Ify. Dan ia baru tersadar kembali ketika mendengar Dea lagi-lagi menggerutu.
“KakFy! Kakak tuh kenapa sih suka banget nyusahin KakYo? Kakak tuh selain udah bikin kita pusing, Kakak juga bikin kita capek muter-muter nyariin kakak, tau gak?!”
Rio diam terkaget-kaget mendengar Dea bukan lagi menggerutu tapi lebih kentara memarahi Ify. Ini semua salahnya sehingga membuat Dea dan Ify sama-sama kesal. Ify sendiri tampak tak kalah kaget tiba-tiba didatangi dan langsung dilabrak seperti itu. Rasanya sudah seperti ia ketahuan membawa ganja di dalam tasnya.
“Kamu bisa gak sih dateng dan ngomong baik-baik?” ujar Ify mencoba tetap tenang dan mengatur emosinya.
“Gimana bisa baik kalo udah kayak gini. Kakak tuh gatau apa yang udah kakak lakuin ya? Rasanya aku pengen nyubitin Kakak deh. KakFy ngeselin, tau gak?”
“Emangnya Kakak ngelakuin apa? Kamu kira disini cuma kamu yang kesel?” balas Ify tak mau kalah. Dari tampangnya, sepertinya Ify juga sudah mulai kehilangan kesabaran. Dirinya yang jadi korban tapi kenapa dirinya juga yang dihakimi? Ia pikir Rio akan datang dan langsung meminta maaf padanya. Tapi, ia malah dimarahi seperti ini. Dan pemuda itu hanya diam sambil garuk-garuk kepala!
“Karena KakFy udah ganggu waktu aku sama KakYo. Harusnya sekarang kita lagi main tapi malah ngabisin waktu nyariin KakFy. Eh taunya KakFy malah pacaran sama Kakak yang aku gak tau namanya ini, di sini.”
Ify seketika tertawa sarkastis. “Kakak? Ganggu kamu sama Rio? Kamu sadar gak sih kamu yang udah ngerusak rencana kakak sama kak Rio?”
“A—aku? Loh, loh, kok aku? KakYo, emangnya KakYo bikin rencana apa sama KakFy?” Dea lantas bertanya bingung pada Rio. Rio memandangnya serba salah. “Itu..Kakak tadinya—“
“Kakak sama Kak Rio harusnya mau jalan berdua, tadinya..sebelum kamu tiba-tiba dateng dan maksa buat ikut.” Potong Ify yang langsung membuat Rio mendesah frustasi. Sementara Ify seketika menatapnya dengan pandangan ‘Kenapa? Ada yang salah emangnya?’.
Dea terkesiap kaget. Wajahnya langsung berubah panik. “Ja—jalan berdua? Kenapa harus jalan berdua? Emangnya kakak ada urusan apa sampe harus jalan berdua?” Dea memandang Rio penuh harap agar pemuda itu memberikan penjelasan. Ify pun ikut memandang Rio, menuntut agar pemuda itu segera mengeluarkan penjelasan. Awas saja kalau tidak, ia akan benar-benar marah.
Rio kebingungan sendiri didesak seperti ini. Ia bingung harus menjelaskan yang sebenarnya atau tidak. Ck, kenapa ia yang harus menjelaskan di depan Dea? Dan kenapa situasinya memang mengharuskannya menjelaskan?
“Karena hari ini hari pertama setelah mereka jadian.” Sela Debo tiba-tiba. Ia sendiri sudah bosan melihat perdebatan di hadapannya. Gemas menunggu Rio yang tidak kunjung bicara. Tak ayal semua orang langsung memandangnya walau hanya sebentar. Ia hanya balas nyengir.
“Pacaran? KakYo pacaran sama KakFy? Iya, Kak?” lirih Dea. Matanya terlihat mulai berkaca-kaca. Ck, inilah yang dikhawatirkan Rio sejak tadi dan sekarang terjadi. Ia hanya bisa mengangguk lemah. Dea mengepal tangannya kuat. Sedetik kemudian ia berlari meninggalkan ketiga orang di hadapannya itu. Tidak peduli dengan teriakan Rio yang memanggilnya untuk kembali.
Rio hendak mengejar namun Debo tanpa disangka-sangka menahannya. Ia langsung memandang pemuda itu sinis sementara Debo hanya memutar kedua bola matanya dan menghela napas jengah. “Lo sebaiknya selesein masalah lo berdua. Biar gue yang kejer dia.”
Rio tampak diam berpikir lalu kemudian terpaksa setuju. Kata-kata Debo memang ada benarnya, sih. Kalau sekarang ia pergi, Ify pasti akan makin marah padanya. Dan ia lebih tidak menginginkan itu terjadi. “Pastiin dia sampe di rumah.” Pintanya sunggug-sungguh. “Count on me!” Balas Debo seraya mengedikkan kepalanya dan tersenyum tipis. Dan ia pun langsung angkat kaki setelah itu.
Sekarang hanya tinggal Rio dan Ify saja. Rio mengalihkan pandangannya dari Debo ke Ify yang kemungkinan sedaritadi tak berhenti menatapnya. Ify terus diam seperti menunggunya melakukan sesuatu. Ia jadi bingung kalau ditatap seperti itu. Ia belum berpengalaman menghadapi Ify yang sedang marah. Maklum aja, pacaran juga baru sehari.
Ify mendesah pelan. Daripada hari ini berjalan semakin buruk, lebih baik ia mengalah saja, lagi. Meski memang rasanya agak kurang rela. “Mau nemenin gue main?” tanyanya pelan.
Rio sesaat terlihat kaget. Reaksi Ify sedikit melenceng dari perkiraannya. Tapi, syukurlah Ify justru bersikap begitu. Ia lantas mengangguk. Ify tersenyum ke arahnya dan berbalik badan beranjak pergi. Mereka lalu berjalan berdampingan tanpa suara.

***

“AAAAA!!!”
Hampir semua orang di sekitar Ify berteriak kencang saat kursi berjalan halilintar *iturealnamenyaapasih?wkwk* mulai bergerak turun, berputar-putar sampai akhirnya berhenti dan pengaman kursi terbuka sehingga semua orang yang berteriak tadi turun. Termasuk Ify dan Rio. Ify berseru senang ketika sudah keluar dari area wahana. Ia melirik orang di sebelahnya yang hanya diam dengan raut wajah seperti sedang mengkhawatirkan sesuatu. Ini sudah ketiga kalinya Rio seperti itu. Sudah ada 3 wahana yang ia naiki bersama pemuda itu tapi reaksi pemuda itu tetap sama. Padahal ia sudah berusaha membuat agar Rio terlihat bersemangat. Ia sengaja mengajaknya bermain tornado, histeria dan terakhir halilintar. Tapi Rio tetap saja membisu seperti itu. Paling-paling hanya tersenyum, itupun dipaksa.
Ify sudah benar-benar hilang akal. Kencan pertamanya benar-benar sudah berantakan, tidak bisa diperbaiki lagi bagaimanapun caranya. Tidak akan ada gunanya lagi kalau ia terus memaksa Rio untuk tetap bersamanya, memaksa pemuda itu merasa senang. Karena ia tahu, pikiran Rio sudah tidak untuknya, untuk saat ini. Yah, setidaknya ia sudah mencoba dan setidaknya juga Rio sudah mau berusaha menemaninya. Ia sudah..cukup senang.
“Pulang yuk?” tawar Ify. Rio terkesiap lalu mengangguk ragu. Sepertinya pemuda itu tadi sedang melamun. Ck, benar, kan?
“Tapi, temenin gue ke rumah sakit dulu ya. Trus ke suatu tempat. Bentar doang kok,” Sekali lagi Rio mengangguk sambil tersenyum lega. Apa Rio lega karena gue ajak pulang? Segitu tersiksanya?
***
“Kita mau kemana, Fy?” Rio kembali bertanya hal yang sama. Beberapa saat lalu, setelah Ify selesai menjenguk papanya, gadis itu lalu mengajaknya pergi. Dia bilang mau ke suatu tempat dan tidak mau bilang persis kemana. Sebegitu rahasia sampai-sampai Ify meminta dia yang menyetir. Setiap ditanya, jawabannya selalu sama. Termasuk untuk pertanyaannya kali ini.
“Lo pasti bakalan seneng banget kesana, tenang aja.”
Rio menggaruk pelipisnya tak tahu lagi harus bertanya bagaimana agar Ify mau memberitahunya. Alhasil, ia pun memilih tidak bertanya lagi dan menunggu saja hingga nanti mobil berhenti. Selanjutnya, perjalanan hanya diisi oleh alunan musik dari mp3 player dalam mobilnya. Ify tidak mengajaknya bicara dan ia pun bingung kalau disuruh mengajak bicara.
Hingga kemudian ia sadar kalau Ify membawanya ke suatu kawasan yang sangat-sangat tidak asing baginya. Ia memperhatikan baik-baik jalanan yang mereka lewati untuk lebih memastikan. Ia masih menyimpan dugaannya perihal kemana Ify akan membawanya dan sekali lagi memilih menunggu. Ia takut kalau bertanya sekarang dan misalnya dugaannya salah, ia hanya akan menyinggung perasaan Ify. Ia tidak ingin lagi itu terjadi. Mengingat apa saja yang sudah ia lakukan sebelumnya.
Mobil Rio yang disetiri Ify berhenti di depan halaman sebuah rumah. Persis seperti dugaan Rio. Ify benar-benar membawanya kemari. Ke rumah Dea. Ia masih larut dalam keterkejutan sehingga tidak sempat berkata apapun. Ia hanya memandang Ify dengan tatapan penuh tanda tanya.
“Gue tau penghuni rumah ini yang ada di kepala lo daritadi.”  Gumam Ify datar sambil memandang rupa terdepan rumah Dea, tanpa menatap Rio. Rio merasa ada yang menyumbat tenggorokannya. Perasaan tidak enak menyergap hatinya menghadapi Ify yang begitu dingin. Tapi kemudian, ia merasa ada yang menyiram dadanya dengan air es. Ada yang berhasil mengeluarkan sumbatan dalam tenggorokannya kala Ify tiba-tiba tersenyum lebar sampai-sampai mempertontonkan barisan gigi berpagarnya. Ekspresi Ify tampak benar-benar tulus seperti anak kecil. Disatu sisi ia senang tapi disisi lain ia menjadi makin merasa bersalah.
“Temuin gih!”
“Lo gakpapa?” tanya Rio tak yakin. Ify mengedipkan mata bingung lalu menggelengkan kepala. “Gak, gue sehat-sehat aja. Jidat gue juga gak panas.” Jawabnya sambil memegang dahi. Rio mendesah pelan dan tak bisa menahan senyum gemas. “Bukan itu, Ify. Maksud gue, gapapa kalo gue nemuin Dea? Lo ga bakal marah atau ngambek atau ngediemin gue, kan?”
“Lah, orang tujuan gue bawa lo kesini biar lo gak ngediemin gue, lagi.” Ify menyahut pelan sambil memalingkan wajahnya ke arah lain. “Yaudah, sana masuk! Gak usah buru-buru. Gue gak akan bawa kabur mobil lo kok.” Katanya lagi karena Rio yang tidak kunjung bereaksi.
“Gue maunya lo temenin,” Ify buru-buru menggelengkan kepala menolak mentah-mentah. Ia bisa membayangkan akan terjadi pertumpahan darah jika ia ikut masuk ke dalam sana menemui Dea.
“Kalo lo gak mau ikut, gue gak mau masuk.” Ancam Rio sambil bersedekap. Ify memberengut heran. “Di sini yang butuh ketemu siapa, siapa, sih? Perasaan bukan gue, deh. Tapi kenapa malah gue yang diintimidasi?”
“Yaudah, daripada lo bingung mikirinnya, mending temenin gue masuk.” Rio berkata sambil tersenyum. Ify menggelengkan kepalanya lagi. Rio lantas mendecak kesal. “Fy, gue gak mau lo diem disini, penasaran sendiri dan akhirnya mikir enggak-enggak tentang gue. Gue gak mau ya lo kabur lagi kek tadi.”
“Aduh Yo, gue tuh cuma gak mau bikin keributan di rumah orang. Makanya, lo masuk sendirian aja ya? Gue janji deh gak akan kabur!” Ify membentuk tanda peace dengan jarinya bersumpah dengan wajah memelas. Rio berdecak sambil menyipitkan matanya lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Ify.  Ify spontan memundurkan tubuhnya menjauh dari Rio. “Ikut atau gue cium?” Rio kembali mengancam dengan tatapan yang mengerikan bagi Ify. Bulu kuduknya bahkan ada yang sampai berdiri.
Ify menggelengkan kepala, masih berusaha menolak. Rio tersenyum menggoda. “Jadi lo milih gue cium, nih?” Ia kembali mendekatkan wajahnya. Sehingga Ify mau tidak mau buru-buru membuka pintu dan keluar dari mobil. “I—iya! Iya, gue ikut!” katanya memekik panik. Rio yang masih di dalam mobil tertawa geli. Ia mencabut kunci mobil lalu kemudian menyusul keluar. Ia mengedikkan kepala mengajak Ify masuk. Ify mendecak dan mencibir kesal sambil berjalan dengan menghentak-hentakkan kaki.
Rio berdiri memencet bel di depan pintu dan Ify berdiri dengan gelisah dalam hati di balik punggungnya. Pintu kemudian dibuka dan muncul seorang wanita paruh baya yang menyambut mereka, yang kemungkinan besar adalah mama Dea. Mama Dea tersenyum ketika melihat Rio dan mempersilahkan mereka masuk. “Dea! Turun, Sayang! Ada Kak Rio datang, nyariin kamu nih!” pekiknya berusaha memanggil Dea keluar dari kamarnya di lantai atas. Tak sampai sepuluh detik, pintu kamar Dea terbuka dan gadis itu berjalan cepat keluar.
Namun, baru beberapa anak tangga yang dituruni, Dea berhenti. Wajahnya yang semula tampak senang langsung berubah marah. Ia juga berbalik badan dan berlari kembali untuk masuk ke kamarnya. Mamanya memandangnya bingung sambil mencoba memanggilnya lagi. Namun, panggilannya itu tidak digubris karena Dea tetap berlari masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu keras-keras.
“Tante, boleh Rio yang ke kamar Deanya aja? Gak ngapa-ngapain, kok. Rio cuma mau ngajak ngomong.” Mama Dea diam sebentar lalu mengangguk pasrah. Sepertinya anaknya itu dan Rio sedang ada masalah. Rio juga sepertinya memang tidak akan berbuat macam-macam. Pikirnya.
Tanpa menunggu lebih lama, Rio yang juga kembali mengajak paksa Ify dengan cara menggandeng tangan gadis itu, pergi menaiki tangga menuju kamar Dea. Ify berusaha menahan Rio sekali lagi namun Rio malah menguatkan genggamannya menyuruh sebaliknya. Ify lantas mendesah pasrah. Terserahlah, ia tidak tanggung jawab kalau sampai terjadi apa-apa. Ia sudah berusaha mencegah tapi Rio sendiri yang keras kepala.
Rio membuka pintu kamar Dea dengan pelan lalu berjalan masuk ke dalam. Dilihatnya Dea sedang berbaring telungkup memeluk boneka hiu besarnya di atas kasur. “Aku gak ada bilang ngizinin siapapun itu masuk ya!” ujar Dea menggebu-gebu.
“Ini Kak Rio, De.” Gumam Rio sambil mendesah pelan. Dea mendecak kesal lalu beranjak duduk dengan kasar. Ia baru hendak buka mulut namun ketika melihat Ify yang juga ikut masuk dan kini berdiri di samping Rio dengan jemari saling bertautan seketika menyulut emosinya. Ia berdiri dari tempat tidur lalu berjalan cepat ke arah Ify. Ia menyentak tangan Ify dengan keras hingga membuat tautan itu terlepas dan memunculkan guratan merah di tangan gadis itu.
Inilah yang Ify khawatirkan sejak tadi. Padahal, tidak perlu harus sekasar itu. Diminta dengan baik-baik saja ia pasti mau melepaskan tautan jarinya dengan Rio. Ia mencoba tetap tenang dan tidak ikut terpancing. Bagaimanapun, ia sekarang sedang bertamu di rumah gadis itu. Meski seharusnya sebagai tamu ia tetap tidak pantas diperlakukan begini.
Rio langsung menyelip di antara Dea dan Ify ketika melihat Dea mengangkat tangannya hendak mendorong Ify. Ia berhasil menangkap kedua tangan gadis itu sehingga gadis itu langsung menyentak tangannya agar melepas genggamannya. Dea mundur selangkah menjauh lalu membalikkan badannya membuang muka. “De, kamu gak boleh dong kayak gini. Kita bisa ngomonginnya baik-baik tanpa harus main fisik.” Bujuk Rio. Ia menoleh pada Ify sebentar menanyakan keadaan gadis itu. Ify menggelengkan kepalanya menjawab ia baik-baik saja.
“KakYo beneran pacaran sama KakFy?” tanya Dea sinis. “Iya, De.” Rio menjawab singkat karena takut salah bicara. Efeknya akan luar biasa buruk jika itu sampai terjadi. “Kenapa?” Suara Dea mendadak berubah lirih. Rio mendesah lagi. “Kalo pacaran ya pasti karena cinta, De.”
“Jadi, KakYo cinta sama KakFy? Atau jangan-jangan KakYo terpaksa karena Papanya KakFy? Iya, kan? KakYo cuma kepaksa aja, kan? KakYo gak beneran cinta kan sama KakFy?” Nada suara Dea mendadak berubah lagi menjadi senang. Namun, rasa senangnya itu dalam sekejab menguap ketika mendengar jawaban dari Rio. “Enggak, De. Kakak emang cinta sama KakFy. Ga ada paksaan dari siapapun atau apapun.”
Mata Dea langsung berkaca-kaca. Ia berlari naik ke kasur dan duduk terisak sambil memeluk boneka hiunya. Rio lantas berjalan perlahan menghampiri gadis itu dan duduk berhadapan. Berhadapan dengan Dea sekaligus Ify. “KakYo jahat!” umpat Dea sambil sesenggukan. Rio hanya diam tanpa berkomentar, membiarkan Dea lebih dulu mengeluarkan unek-uneknya *uyakayukali*. “KakYo harusnya cinta sama KakCha bukan KakFy! Aku maunya KakYo sama KakCha, bukan sama KakFy! Atau KakYo harusnya kalo bukan sama KakCha, ya sama aku, bukan sama KakFy.”
“Dea sayang, kita berdua dari dulu harusnya udah sama-sama tau. Kakak sama Kak Acha itu emang udah gaada harapan. Kita emang ga jodohnya jadi pasangan.”
Ify yang kini berdiri sebagai penonton merasa hatinya mencelos mendengar Rio memanggil Dea dengan sebutan ‘Sayang’. Ia tidak bisa menampik rasa cemburu yang tiba-tiba muncul di hatinya. Meski ia percaya panggilan itu tidaklah berarti apa-apa tapi tetap saja rasa itu ada. Ck, lo gak seharusnya cemburu, Fy. Batinnya berusaha menenangkan diri. Tapi kemudian, pertahanan hatinya itu retak ketika Dea tiba-tiba memeluk Rio dan Rio membalas pelukan tersebut. Bahkan sampai mengelus-ngelus kepala.
Ify langsung mengalihkan pandangan agar ia masih bisa tetap menyaksikan drama yang terjadi di hadapannya sampai akhir. Pacaran baru sehari tapi kenapa gue udah secemburu ini, sih? Ini hari cobaan gue berasa gak abis-abis. Batinnya lagi.
“Dea sayang banget sama KakYo.” Isak Dea sambil menguatkan pelukannya. “Kakak juga sayang sama kamu, De.”
Ify mengulum dan menggigit bibirnya kuat-kuat. Kenapa lagi Rio harus bilang sayang-sayang segala? Haiss..rasanya kali ini ia sudah tidak tahan. Ia menoleh ke arah pintu yang seolah memanggilnya lalu memilih pergi keluar saja. Ia mendesah lega karena Mama Dea sudah tidak ada di ruang tamu. Ia menuruni tangga lalu berjalan keluar rumah. Dan sekarang ia bingung harus melakukan apa. Mobil Rio terkunci dan ia tidak memegang kuncinya. Mana tasnya juga ada di sana. Ia menoleh ke kanan-kiri lalu memutuskan duduk di batu pinggiran kolam ikan yang ada di ujung halaman. Lumayan, setidaknya masih ada ikan-ikan yang bisa ia lihat sebagai hiburan.
Sementara itu, di dalam kamar, Dea masih terisak sambil memeluk Rio. Sementara Rio duduk dengan perasaan tidak tenang. Ia sempat melihat Ify yang berjalan keluar. Rasanya tadi ia ingin segera melompat dan menahan gadis itu. Tapi, masalahnya ia sedang menenangkan Dea. Ia menjadi serba salah kalau sudah begini. Aduh Ifyyy! Kenapa kabur lagi siiiih?
“Makanya, KakYo sama aku aja. Kan KakYo sayangnya sama aku, bukan sama KakFy.”
“Sayangnya kakak ke kamu itu sama kayak sayangnya kakak ke Ray, De.”
“Trus, kalo ke KakFy? Emangnya gasama kayak aku?”
“Perasaan kakak ke kak Ify sama kayak perasaan kakak ke kak Acha.”
Dea tiba-tiba menarik dan menegakkan tubuhnya sambil memandang Rio dengan tatapan kaget. “Berarti kakak mau dua-duanya? KakFy sama KakCha sekaligus?”
“Enggak, De. Kakak emang cinta sama Kak Acha, tapi itu dulu. Kakak jatuh cinta sama Kak Ify. Dia udah berhasil bikin Kakak move on.” Rio tersenyum tipis. Tapi kemudian tatapan matanya berubah serius. Ia menatap Dea sungguh-sungguh. “Kakak harap kamu ngerti, De. Kakak pengen kamu bisa nerima Kak Ify. Dia orangnya baik, gak bakal gigit kamu, kok.”
Dea memberengut meski mau tidak mau ia tersenyum juga mendengar ucapan Rio barusan. “Emangnya Kak Ify kucing apa gigit-gigit?” dumelnya. Rio lantas tersenyum lega melihat Dea sepertinya sudah melunak dan mengerti. Tumben-tumbennya Dea bisa ditenangkan secepat ini. Ia bahkan bisa mendapat rekor muri. Tapi, sudahlah, yang penting sudah tidak ada masalah lagi dengan gadis itu.  
“Yaudah, aku restuin. Tapi, awas aja ya kalo KakFy macem-macem! Aku gak akan bolehin dia deket-deket lagi sama Kakak!” Rio tertawa geli sambil mengacak-acak rambut anak gadis di hadapannya. “Iya, iya. Kakak berani jamin Ify gabakal macem-macem. Justru kakak yang mesti kamu khawatirin.” Katanya seraya mengerling jahil. Dea mencibir ke arahnya. “Itu juga berlaku buat KakYo. Kalo KakYo macem-macem, aku bakal ngasih hukuman berat buat KakYo.”
“Iya, deh, iya. Akhirnya! Coba kamu kek gini daritadi. Yaudah, kalogitu sekarang Kakak pamit pulang dulu ya. Kasian Kak Ify nunggu lama. Makasih juga, kamu udah mau ngertiin Kakak.” Pamit Rio. Ia mulai beranjak turun dari tempat tidur dan berjalan keluar setelah Dea mengangguk.
“KakYo!” panggil Dea ketika ia hendak menutup pintu. “Salam buat KakFy, ya! Bilangin juga kalo aku minta maaf soal tadi.” Rio tersenyum lalu mengedipkan sebelah matanya. Sementara Dea melengos jengah. “Perintah segera dilaksanakan.”

***

“Ngeliatin ikan mulu. Emang ikannya banyak yang ganteng?”
Ify berjengit kaget dan langsung menoleh ke belakang. Ada Rio berdiri bersedekap sambil memperhatikan isi dari kolam. Sejak kapan pemuda itu di situ? Ck, ia melamun sampai-sampai tidak menyadari pemuda itu datang.
Ify berdiri tanpa menggubris kata-kata Rio barusan. “Udah selesai?” Rio mengernyit lalu menaikkan sebelah alisnya. “Lo bilang gak bakal kabur?”
“Gue tadi capek bediri,” Ify menatap Rio menunggu pemuda itu bicara. Tapi, pemuda itu hanya diam dengan terus menatapnya. Ia menggaruk pelipisnya tak mengerti. “Kenapa?”
“Kenapa tadi lo kabur? Lo tau secemas apa gue nyariin lo gak ketemu-ketemu? Dan lo ternyata malah berduaan sama Debo?” Ify merasakan dadanya seperti ditusuk-tusuk oleh tatapan mata Rio. Ada sorot kekhawatiran sekaligus rasa marah yang ditunjukkan pemuda itu kepadanya. Ify bertanya-tanya dalam hati. Apa ia harus jujur soal kenapa ia kabur? Nanti kalau pemuda itu malah meledeknya bagaimana? Ck, lagian, masa pemuda itu tidak tahu alasannya kabur?
“Tadi cuma gak sengaja ketemu Debo, ngobrol trus lo dateng. Udah, itu aja.”
“Dan, kenapa lo kabur?”
Ify menaikkan sebelah alisnya. “Lo masih harus nanya?” Rio bergeming seakan menjawab iya. Ify membuka mulutnya hendak berbicara namun lekas ia urungkan. Percuma rasanya kalau ia katakan yang sebenarnya. Toh, Rio tidak benar-benar peduli. Sedaritadi Rio hanya memikirkan Dea, bahkan saat sedang bersama dirinya pun. Wajar saja kalau pemuda itu masih harus bertanya kenapa ia sampai kabur. Kalau masih satu kali sih masih bisa ditolerir. Tapi, ia kabur sudah dua kali. Dan dua-duanya ia lakukan ketika pemuda itu sedang bersama Dea. Masa masih tidak sadar juga?
Ck, lagian, kurang pantas juga kalau ia cemburu. Ia sudah terlalu banyak cemburu selama ini ketika mereka belum berstatus apapun. Dari awal ia juga sudah tahu seberapa dekatnya Rio dan Dea. Jadi, yah, memang tidak dapat ia pungkiri kalau Dea lebih berhak atas Rio dan Rio lebih peduli pada gadis itu ketimbang dirinya. Siapalah dirinya. Orang yang sedari dulu mengemis-ngemis cintanya. Tidak persis mengemis-ngemis memang. Dan hanya beruntung menjadi pacarnya kemarin malam. Hubungan mereka bahkan belum genap satu hari. Mungkin waktu itu otak Rio lagi konslet dan gak sengaja nembak gue.
“Lupain ajalah..” serah Ify sambil mengibaskan tangannya. Ia lalu memandang Rio kembali yang kelihatan kaget. “Lo udah selesai, kan? Kita bisa pulang sekarang?”
Bukannya menjawab, Rio malah senyum-senyum sendiri tanpa jelas apa maksudnya di mata Ify. Pemuda itu gila ya? Apa otaknya benar-benar konslet? “Lo cantik banget, sih, hari ini.”
Tuh, ngomong apaan lagi ni orang? Batin Ify terheran-heran. Ia baru saja mau buka mulut sebelum Rio tiba-tiba mendekat ke arahnya dan memeluknya serta mencium pelipisnya sesaat. Ia merasa jantungnya bocor dan terbang kemana-mana seperti balon. Duh, ni anak ganteng-ganteng tapi tukang nyosor ya! Ckck. Senang sih tapi coba deh lihat-lihat tempat. Ini kan di depan rumah orang. Kalau ada yang melihat bagaimana? Kan bisa malu! Meski memang tidak separah waktu pemuda itu mencium pipinya di sekolah.
Ify mendorong pelan tubuh Rio sambil menatapnya kesal sementara Rio membalasnya dengan tatapan tidak rela. “Lo tuh ya! Kalo diliat sama mamanya Dea gimana?!” dumelnya. Meski begitu, Rio tampaknya tidak peduli dan malah memeluknya lagi. Bahkan pelukannya lebih erat sampai tindakan merontanya pun tidak mempan. Pada akhirnya ia hanya berdiri pasrah. Lagipula, pintu rumah Dea sudah ditutup. Jadi, kemungkinan besar tidak akan ada yang datang dan melihat mereka.
“Tadi Dea titip salam trus katanya dia minta maaf sama lo soal tadi,”
“Lo..gak minta maaf?” Rio menarik tubuhnya demi bertemu pandang dengan Ify. Meski tangannya tetap mengalung di leher Ify. “Lo kan gak marah.” Sahut Rio polos. Ify lantas mendesis sebal dan mendorong keras tubuhnya. Mau tak mau ia terkekeh geli melihat itu.
“Peace, hehe..” Ia menyembulkan jari tengah dan telunjuknya. “Thanks ya..” katanya kemudian. Kening Ify berkedut-kedut sambil menatap Rio bingung. Disuruh minta maaf kenapa pemuda itu malah berterimakasih?
“Karena lo gak marah sama gue apalagi Dea. Lo mau ngerti, ngalah dan rela makan hati. Dan itu semua lo lakuin cuma biar gue gak ngediemin lo lagi. Lo itu bener-bener ya...gue gatau harus ngomong apalagi.” Rio menatap Ify dengan rasa haru bercampur kagum juga bahagia. Sementara Ify tetap bergeming tanpa membalas ucapannya. Rio lantas mengernyit bingung. “Kok lo diem aja? Atau gue ada salah ngomong ya?”
Ify menggeleng pelan. “Gue daritadi nungguin lo minta maaf. Tadikan gue mintanya itu doang. Lo malah bilang makasih.”
Rio membuka mulutnya tapi kemudian tidak tahu harus bilang apalagi. Untung tidak sampai speechless. Ia tersenyum hangat pada Ify dengan tatapan sedikit memohon tapi lebih tepat memaksa. “Sorry ya? Mau maafin gue, kan?”
Ify mengulum bibirnya sambil menyipitkan mata tampak menimang-nimang. Tak lama kemudian, matanya kembali normal. Ia berjinjit sambil menumpu tangannya di kedua bahu Rio dan mengecup pipi pemuda itu singkat. Ia memandang pemuda itu dan tersenyum dengan sedikit tersipu. Senyumnya tak ayal menular pada Rio.
“Mau langsung pulang?” tanya Rio kemudian. Ify mengangguk cepat. Ia lalu berjalan menuju mobilnya sambil menggandeng tangan gadis itu. Mesin mobil menyala dan kemudian beranjak pergi dari halaman rumah Dea.

***

Ify menggaruk-garuk kepalanya kesal memandang buku kimia di hadapannya. Ia yang semula berbaring telungkup lalu kemudian duduk hendak meminta bantuan pada ketiga temannya. Namun, urung ia laksanakan melihat Via, Agni dan Shilla begitu seriusnya menonton dvd film yang mereka beli tadi siang. Kalau sudah begitu, mereka mana bisa diganggu barang semenit pun. Lalu kemudian, wajah Rio muncul di benaknya. Seolah-olah menjawab kebingungannya saat ini. Ia tersenyum lebar lalu dengan segera beranjak turun dari kasur dan berlari keluar kamarnya dengan membawa serta buku serta setangkai pensil(?).
Dari lantai atas ia dapat melihat Rio sedang duduk menonton siaran pertandingan sepak bola di ruang tengah. Pemuda itu kelihatan tak kalah serius dari ketiga temannya. Ify sempat berhenti menuruni anak tangga karena ragu untuk meminta bantuan pemuda itu atau tidak. Tapi kemudian, ia melanjutkan langkahnya kembali untuk tetap melaksanakan niatnya. Ia kan belum tahu bagaimana respon Rio kalau diganggu saat sedang serius menonton. Apalagi menonton pertandingan bola. Tak ada salahnya sekaligus ia cari tahu. *anggep aja ya ada siaran bola yang tayang jam 8 malem wkwk*etapi kadang-kadang ada kan ya*
“Yo?” panggil Ify yang tidak digubris Rio sama sekali. Bahkan pemuda itu mendengar saja perlu diragukan. Ify menggigit bibirnya sambil mengambil tempat duduk di sebelah Rio. Tiba-tiba saja Rio berseru kecewa sambil memukul dengkulnya. Sejurus kemudian, pemuda itu kembali ke posisinya semula, duduk bersila sambil bertumpu dagu.
“Yo?” Ify mencoba memanggil sekali lagi. Suaranya agak dikeraskan. Untungnya ada sedikit kemajuan. Rio berdehem pelan. Meskipun tidak sedikitpun memalingkan wajahnya dari televisi, tapi pemuda itu setidaknya masih menunjukkan tanda bahwa pemuda itu juga memperhatikannya. Ify tersenyum senang dan langsung menyodorkan bukunya. “Ajarin gue dong?” pintanya dengan sangat. Rio menoleh ke arahnya lalu bukunya lalu kembali pada televisi. Senyumnya langsung berubah kecut.
“Minta ajarin Via, Agni sama Shilla aja sana!” ujar Rio tak peduli.
Jutek banget! Apa Rio selalu kek gitu kalo lagi nonton bola? Atau karena gue yang minta ajarin? Selama ini kan dia paling ogah ngajarin gue. Batin Ify. Meski begitu, ia masih belum kapok dan tetap berusaha agar Rio mau mengajarinya. “Apa gue mesti jadi Dea dulu biar lo mau ngajarin gue?” Rio langsung menoleh lagi ke arahnya. Ia langsung berteriak puas dalam hati. Berhasil!
“Lo pernah denger gak ada pepatah bilang kalo bola itu istri ke setengah nya para lelaki?” Rio menatapnya sedikit kesal lalu langsung mengalihkan pandangan ke televisi kembali. Ify mencibir tak terima sambil menirukan gerakan mencakar dan ditujukan ke arah Rio. Ia membanting tubuhnya ke badan sofa sambil bersedekap dengan wajah kesal. Ia melirik tv lalu Rio lalu tv lalu buku kimianya. Ia harus mencari cara lain yang benar-benar ampuh membuat Rio mau mengajarinya. Dan tak butuh waktu lama, sebuah ide begitu saja terpintas di otaknya.
“Lo pernah denger pepatah bilang kalo ada cowok yang rela gak nonton tim bola kesayangannya demi ngajarin ceweknya, nikahin tuh cowok! Pernah denger?” tanya Ify memancing. Ia melihat Rio tersenyum meremehkan. “Cewek yang nyari cowok kek gitu pasti bakal jadi perawan tua.” sahutnya. Ify menyipitkan matanya lalu tersenyum menantang. “Let’s see..” desisnya sambil meraih ponsel di atas meja. “Kalo gak salah Kak Tristan suka MU, deh..” gumam Ify pelan. Telunjuknya menari-nari mencari sebuah kontak. Dan ketika ketemu, ia langsung berseru senang. Rio yang awalnya tenang-tenang saja mau tidak mau menjadi harap-harap cemas juga.
Ify mendial nomor Tristan dan menunggu beberapa detik hingga panggilannya dijawab. “Ah, diangkat!” serunya tanpa sadar. Atau mungkin bisa juga disengaja. “Halo Ka—“
Akan tetapi, belum sempat Ify menyapa, Rio tiba-tiba merebut ponselnya dan langsung mematikan sambungan telepon dengan Tristan. Pemuda itu meletakkan ponselnya kasar lalu menatap sebal ke arahnya. Ia hanya membalas senyum tanpa dosa sambil menyerahkan buku kimianya. Akhirnya usahanya berhasil. Walau dengan sedikit menipu karena sebenarnya ia juga tidak tahu Tristan menyukai klub sepakbola yang mana. Meski harus bersungut-sungut, tapi Rio tetap mengambil bukunya dan menanyakan perihal apa yang menjadi masalah di sana.
Ify yang awalnya senang kemudian berubah menjadi tak tega. Kasihan juga melihat Rio begitu tersiksa harus mengajarinya sementara di hadapannya sedang berlangsung pertandingan bola tim favoritnya. Setaunya kan pertandingan itu tidak hadir setiap hari. Rio pasti sudah begitu menunggu dari jauh-jauh hari. Lagian, kan besok masih libur. Masih banyak waktu dan tidak harus sekarang. Lantas, ia mengambil pensil yang tengah Rio gunakan menulis. Sekaligus juga bukunya. Rio menatap jengah ke arahnya seakan berkata ‘Kenapa lagi?’ dengan raut wajah begitu menggugah hati. Khususnya Ify.
“Hehe, lo nonton aja dulu, deh.” Ujarnya sambil nyengir bersalah. Rio mengernyit aneh ke arahnya lalu menatapnya tajam. “Lo gak ada niatan hunting cowok buat dinikahin lagi, kan?” Ify tak ayal tertawa lalu segera menggelengkan kepala. Benarkah Rio sampai setakut itu?
Tiba-tiba Rio tersenyum girang. “Tunggu sampe babak pertama selesai. Ntar baru gue ngajarin lo.” Ify hanya menganggukkan kepalanya. Dalam sekejab Rio tenggelam bersama televisi. Ify beranjak dari sofa dan berjalan naik ke atas menuju kamarnya untuk mengambil cemilan. Keadaan di kamarnya masih sama seperti terakhir ia tinggalkan. Ia lalu berjalan turun dan kembali duduk di sofa di samping Rio sambil ikut menonton.
Ify melirik ke arah Rio. Kalau begini ia jadi teringat kejadian tadi pagi. Bagaimana mendungnya wajah pemuda itu ketika Dea berlari pergi setelah mengetahui status terbaru mereka. Tapi, kenapa Rio sampai harus sepanik itu? Ia bukan ingin mengungkit-ungkit masalah yang sudah dianggap selesai itu. Tapi, ia hanya penasaran saja.
“Yo?” panggilnya kemudian. Rio berdehem menyahut sama seperti tadi. Ify menelan cemilan yang ada dalam mulutnya lalu berbicara. “Gue cuma penasaran aja, sih. Kok lo sampe panik banget gitu pas Dea pergi gitu aja?” tanyanya lalu memasukkan cemilan lagi ke dalam mulutnya dan menatap ke arah televisi.
“Dia itu orangnya suka nekat kalo ada hal yang ga sesuai sama jalan pikiran dia. Dia pernah hampir mati bunuh diri gara-gara abis putus sama pacarnya. Dan itu gak cuma sekali. Makanya gue takut banget tadi. Gak enak sama orangtuanya kalo sampe dia kenapa-kenapa, pas sama gue lagi. Yah, taulah kan gue udah lumayan deket sama mereka.” Rio menjeda bicaranya untuk mengambil snack yang dibawa Ify lalu memakannya. “Dia sebenernya baik. Cuma ya, mungkin bisa dibilang punya kelainan emosi. Terlalu meledak-ledak.”
“Hmm..gitu.” Ify mengangguk mengerti. Lumayan masuk akal. Setelah itu, tidak ada pembicaraan lagi. Rio fokus pada siaran sementara Ify tidak tahu harus bertanya apalagi. Hingga kemudian, tubuh mereka mendadak sama-sama tak bergerak dengan mata menatap tajam tanpa berkedip. Tangan Ify yang hendak memasukkan snack ke dalam mulut bahkan sampai berhenti membuat snack tersebut terkatung-katung di udara.
“Ball’s on Gigs. Given to Rooney. Oww! Can it be..Rooney..Rooney..YEAY WAYNE ROONEEEEY! Wayne Rooney scores at the last minutes of this first half and succed keeping their chances in....” *buahaha sumpah ini ngarang banget*
Selanjutnya Rio sudah tidak memedulikan lagi kata-kata selebrasi sang komentator karena aksi selebrasinya sendiri. Ia berteriak sambil bertepuk tangan keras dan spontan memeluk manusia di sampingnya yang tak lain tak bukan adalah Ify. Ia juga sempat-sempatnya mendaratkan kecupan pada pipi gadis itu lalu kembali berjingkrakan tak jelas. Ify yang tadinya ikut merasa senang mendadak kesal karena Rio kembali mengulangi kebiasaan nyosor sembarangannya itu. Ia langsung mencubit keras pinggang pemuda itu yang seketika membuatnya mengaduh kesakitan.
“Kok gue dicubit?” keluh Rio di penghujung selebrasinya. “Abis lo sembarangan pake nyium-nyium segala. Kalo temen-temen gue liat gimana?!” balasnya galak. Rio lantas nyengir tanpa dosa tanpa sedikitpun kehilangan corak kebahagiaan di wajahnya. Ia lalu kembali duduk normal sambil bersandar ke badan sofa. “Yaudah, mana yang mau gue ajarin tadi?” tanyanya dengan semangat.
Ify menyerahkan pensil dan buku kimianya pada Rio. Rio menepuk sisi paling di sampingnya menyuruh Ify mendekat. Ify pun menurut tanpa banyak protes. Ia duduk bertumpu dagu melihat dan mendengarkan Rio yang mulai menjelaskan sambil menulis di buku kimianya. Sesekali ia mengangguk, tapi ia lebih sering menyela karena Rio berbicara terlalu cepat dan ia juga agak lamban mengerti apa yang pemuda itu ajarkan. Tak ayal, beberapa hadiah pukulan di kening menggunakan pensil diberikan Rio padanya.
“Oooh..gitu doang. Ck, bilang dong daritadi..AW! Kok gue digetok lagi, sih?!” Rio menatap Ify kesal. “Gue emang udah bilang daritadi kali. Lo nya aja yang baru ngerti.” Sungutnya. Gantian Ify yang memajang cengiran tanpa dosa sambil melihat kembali tulisan penjelasan Rio di bukunya. Ia tak henti-hentinya memajang senyum di bibir. Ia bisa pintar kalau begini terus. Ia benar-benar beruntung. Punya pacar ganteng sekaligus pintar. Bisa dijadikan sebagai guru private gratis. Meskipun ngajarinnya galak.
Ify menutup bukunya dengan perasaan puas lalu meletakkannya di meja. Ia menoleh ke arah Rio dan pemuda itu sudah kembali tenggelam dalam siaran televisi. Ia tersenyum lagi melihat itu. Ia cepat-cepat mengambil ponsel dan mengambil kesempatan mengabadikan ekspresi Rio yang begitu serius saat ini. Belum puas ia memandangi hasil bidikannya, ponselnya sudah berubah tangan. Rio tiba-tiba saja merebut ponselnya, lagi.
“Curang!” Ify mengernyit bingung. Yang dibilang curang dirinya atau wasit dalam pertandingan bola?
“Kalo foto ya berdua, dong!” ujar Rio sambil menggerak-gerakkan kedua alisnya ke atas ke bawah. Ify terkekeh geli dan langsung merapatkan tubuhnya kembali dengan Rio. Rio kemudian menjadi juru kamera dengan salah satu tangan merangkul Ify. Ada sekitar 4 foto yang diambil yang pose terakhirnya ia, sekali lagi, mencuri kesempatan mencium pipi kekasihnya itu. Ify kali ini tidak protes. Karena sepertinya percuma juga, Rio tidak akan menggubris.
Rio langsung menjadikan foto terakhir tersebut sebagai walpaper hape Ify tanpa lebih dulu menanyakan persetujuan gadis itu. “Ntar kirim ke gue ya!” ujarnya sambil mengembalikan ponsel di tangannya pada pemiliknya.
“Enggak, ah. Ntar lo upload lagi.” Rio menaikkan sebelah alisnya dan bertanya bingung. “Emangnya kenapa kalo gue upload?”
“Ya ntar pada heboh, Yo. Yang tadi pagi aja masih rame sampe sekarang.”
“Gue kan cuma mau mamerin pacar gue. Masa gaboleh?”
“Emangnya gue lukisan dipamerin?”
“Ck, bukan gitu, Ify-ku-sayang! Itu kan sebagai tanda kalo gue bangga punya pacar kayak lo. Lo emangnya gak bangga punya pacar kayak gue?”
Ify tertawa kecil lalu tersenyum miring dan bersandar di tubuh Rio. Sekaligus menikmati elusan pemuda itu pada kepalanya. “Siapa, sih, yang gak bangga jadi pacar lo..” gumamnya pelan. Rio menganggukkan kepala. “Nah, makanya, kan..”
Beberapa saat mereka saling diam. Lalu kemudian Ify bersuara lagi. “Yo, kita bakal kek gini terus, kan?”
“Emangnya lo mau bubaran kapan?” sahut Rio asal. Ify lantas memukul pahanya lumayan keras dan ia hanya terkekeh singkat. “Apapun yang terjadi, lo tetep ada di belakang gue, kan?”
“Iya, iya!”
“Ngedukung gue?”
“Selalu.”
“Ngebela gue?”
“Pasti.”
“Ngelindungin gue?”
“Wajib.”
“Dan gak ninggalin gue?”
“Gak akan.”
Ify tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. “Bagus-bagus,” gumamnya.
“Fy, lo pernah liat peri bunga gak?” tanya Rio tiba-tiba. Ify hanya berdehem mengiyakan. “Nah, ntar pas prom, rambut lo di bikin kek gitu ya? Gak usah diiket atau dimacem-macem. Digerai aja, trus di atasnya ada yang dijalin melingkar kek gini sama ada bunga-bunganya. Pas prom aja tapi, biar gue penasaran.” Rio berkata sambil menunjuk-nunjuk bagian atas kepalanya dengan antusias. Ify tertawa lagi lalu menganggukkan kepalanya.
“Iya, iya. Your wish is my command, deh.” Serah Ify. Awalnya ia ingin bertanya kenapa pemuda itu tiba-tiba mengatakan itu. Padahal acara promnight sekolah masih lama. Tidak terlalu lama juga, sih. Tapi, yasudahlah. Tidak terlalu penting. Ia pun jadi tidak pusing-pusing memikirkan harus bagaimana nanti ketika menghadiri acara tersebut. Rio, Rio. Baru sehari pacaran sama lo tapi lo udah ngasih kenangan banyak banget. Haaah...rasanya ia tidak ingin hari ini cepat-cepat berlalu.

***

Rio kembali harus mengikuti rapat mengenai promnight. Dan dengan sangat terpaksa meninggalkan Ify dan menitipkan gadis itu pada ketiga temannya. Pemuda itu sempat mengajaknya untuk ikut izin rapat bersamanya tapi ia menolak. Untuk apa ia ikut, toh, ia tidak punya jabatan apapun. Menjadi anggota osis pun tidak. Tidak baik dipandang murid yang lain. Alhasil jam istirahat ini, ia hanya menghabiskan waktu bersama ketiga sahabatnya di dalam kelas. Beruntungnya, ketiga sahabatnya itu juga sedang malas kemana-mana.
Tiba-tiba ponselnya bergetar. Ada sebuah pesan masuk dari Rio. Jemarinya bergerak cepat membuka pesan tersebut.
‘Gue punya sesuatu buat lo. Gue tunggu di perpus ya! Di rak paling ujung:*’
Ify mengerutkan dahi bingung. Merasa asing dengan pesan Rio ini. Jujur saja, ini adalah text pertama mereka berdua setelah berpacaran. Ia lantas geleng-geleng kepala. Itu orang hobby banget nyium ya? Sampe emot yang dipake itu juga? Ckck. Batinnya.
“Temenin gue ke perpus yok?” pinta Ify. Agni menoleh ke arahnya sambil menaikkan alis. “Mau ngapain?”
“Ketemu Rio, hehe.” katanya dengan agak tersipu. Sementara ketiga temannya menahan senyum geli. “Paham, deh, paham. Yaudah. Tapi, ini karena lo baru jadian aja ya makanya kita-kita mau.” Ujar Agni lagi.
“Iya, iya.”

***

Drrt..drrt..
Ponsel Rio bergetar. Ia mendapati sebuah pesan misterius dari nomor asing. Ia tidak tahu itu siapa karena nomornya tidak terdaftar dalam kontaknya. Ia menatap ponselnya bingung sekaligus penasaran setelah membaca pesan yang baru saja masuk itu.
‘Kalo lo mau tau siapa cewek lo sebenernya, ke perpus sekarang juga. Dia ada di rak paling belakang.’
Rio bimbang. Haruskah ia ke perpus sekarang ini? Kalau orang ini hanya mengerjainya bagaimana? Atau...astaga! Jangan-jangan orang ini justru berbuat macam-macam pada Ify. Ini tidak bisa dibiarkan. Ia harus pergi ke sana.

***

Ify bersama ketiga sahabatnya tersebut langsung beranjak dari kelas menuju perpus. Hampir setiap orang melihat ke arah mereka, terutama ke arah Ify. Ify merasa seperti lauk pauk yang sangat amat lezat karena ditatap setajam itu. Tapi, untunglah ada Agni yang menemaninya jadi mereka sedikit banyak takut mau berbuat macam-macam. Selain karena Agni jago bela diri, Agni juga sudah mengancam mereka semua akan melapor ke guru BP bahkan polisi kalau sampai berbuat anarkis lagi.
Ify berseru senang saat sudah menginjakkan kaki di dalam perpus. Ia menyuruh ketiga temannya untuk membiarkannya pergi sendiri ke rak yang Rio maksud sementara mereka ke rak yang lain. Ia mendapati rak tersebut kosong. Sepertinya Rio belum selesai rapat. Tak apa-apa kalau ia harus menunggu, daripada ia yang ditunggu.
Ify memilih melihat buku-buku yang berjejer di depannya. Siapa tahu ada yang menarik dibaca sembari menunggu Rio datang. Ia baru saja menjulurkan tangan hendak mengambil salah satunya tapi kemudian ada sepasang tangan yang memeluknya dari belakang. Pasti itu Rio! Pikirnya. Pemuda itu kan kebiasaan memeluknya sembarangan. Untung saja sisi tempatnya berada ini adalah sisi yang paling sepi bahkan hampir tidak terjangkau orang-orang.
Ia mendengus pelan tapi tetap tersenyum juga. “Rio! Kan gue udah pernah bilang ja—“ Ia tidak sempat menyelesaikan kata-katanya dan hanya sempat berbalik badan menghadap orang yang memeluknya. Karena orang tersebut dengan gerakan cepat dan tiba-tiba mengunci mulutnya. Ia membelalakkan mata kaget. Orang tersebut menciumnya! Tepat di bibir! Dan entah kenapa ia yakin ini bukan Rio. Ya, ini memang bukan Rio. Ini..
“Brengsek!!”
Bug..bug..

***

Hueheeei part 29 selesai-.- Hayolooo siapa yang nyium Ify? Ayo tebak! Yang bener ntar mimin kasih selamat! *Ganiatbangetsihminhahaha*

Untuk couple lain sabar yaaa, mimin mau istirahat dulu. Udah begadang berapa hari ini-.- Mimin kan udah adil. Semuanya dibikin panjang-panjang. Gabakal lama-lama juga kok, tenang aja. Jadi, harap sabar menunggu. Makasih juga yang masih setia baca, ngelike, ngoment, ngadvice dan nagih haha. Muah buat kalian semuah:*