-->

Jumat, 04 Juli 2014

Matchmaking Part 30 (Rify)

Rify

Percayalah padaku meski di gelap malam, kamu tak sendirian. Dan semua bintang yang kutinggalkan, temani kau sampai akhir malam. *berasanostalgiasd*

***

“Brengsek!!”
Bug..bug..
Ify terpaku diam di tempatnya mendapati dua orang pemuda yang amat ia kenal sedang bergulat di lantai. Sesaat kemudian ia tersadar akan keberadaan mereka sekarang. Adalah tempat yang tidak tepat untuk melakukan adu jotos semacam itu. Mereka pasti akan terlibat masalah lain. Ia lantas menarik Rio yang tengah berada di atas Debo sambil menarik kerah bajunya.
“Rio stop! Kalian bisa kena skors!” jeritnya tertahan. Jika ia berteriak maka seisi perpustakaan akan tahu kalau sedang terjadi perkelahian di tempatnya. Ia menatap Rio dengan ekspresi campur aduk. Antara kaget, panik, takut sekaligus kecewa. Ia benar-benar tidak bisa percaya pada apa yang baru saja terjadi padanya. Ia tidak percaya kalau tadi Debo menciumnya. Ia tidak percaya kalau orang itu Debo. Beberapa hari lalu ia baru saja bertemu dengan pemuda itu dan tertawa bersama pemuda itu. Beberapa hari lalu Debo meyakinkannya kalau dia tidak akan macam-macam selama ia masih menjalin hubungan dengan Rio. Pemuda itu bersikap seolah-olah mendukung hubungannya dengan Rio. Tapi, apa yang terjadi saat ini?
Rio tersadar dari amarahnya ketika mendengar suara Ify dan melihat wajah pucat pasi gadisnya itu. Ia langsung menarik gadis itu pergi tanpa memedulikan Debo yang masih terbaring menahan sakit di lantai. Napasnya naik turun seiring emosinya yang makin meninggi. Ia kemudian berhenti di depan toilet belakang sekolah yang jarang didatangi. Salah satu tempat sepi di sekolahnya. Ia menghempas tangan Ify yang sempat ia genggam. Ia berjalan mondar-mandir sambil meremas-remas kepalanya.
Ingin sekali ia membelah dadanya supaya semua sesak yang ada hilang. Masih kentara di benaknya bagaimana pemandangan Debo dan Ify tadi. Rasanya begitu menyakitkan melihat ada orang lain yang menyentuh gadisnya. Di tempat sepi seperti itu lagi. Diperparah dengan pesan misterius yang ia dapatkan. Ia marah. Marah sekali. Masalahnya ia bingung harus marah pada siapa. Pada Ify? Haruskah ia marah padanya? Apa Ify datang ke sana karena Debo? Apa mereka hanya tidak sengaja bertemu lagi seperti kemarin? Atau memang ada sesuatu di antara mereka? Apa si pengirim pesan misterius ingin memberitahunya soal itu?
“Arrggh!!” Rio mengerang kesal karena pemikirannya. Ia lalu beralih pada Ify yang hanya membisu sedaritadi. Gadis itu hanya diam dengan pandangan kosong. Seketika itu juga hasrat ingin marahnya hilang, berubah menjadi rasa cemas pada Ify. Ify pasti shock. Bodoh sekali jika ia berpikiran Ify selingkuh. Ify tidak mungkin bisa mencintai orang lain selain dirinya. Selama ini satu-satunya pemuda yang selalu dikejarnya hanya dirinya. Tidak mungkin Ify bisa secepat itu melupakannya dan beralih pada orang lain. Pasti ada sesuatu yang salah yang sudah terjadi.
Rio perlahan mendekat pada Ify. Ia menyentuh bahu gadis itu berniat menenangkan. Tapi tiba-tiba, Ify menepis tangannya dan langsung memeluk tubuhnya sendiri. Wajah Ify terlihat ketakutan. Kecemasannya semakin menjadi melihat Ify seperti itu. Ini pasti karena kejadian tadi. Ify benar-benar shock berat.
“Fy, lo gakpapa?” tanyanya khawatir. Ia hendak memegang kedua bahu Ify tapi Ify kembali menepis tangannya. “Jangan sentuh gue!” pekik Ify. Ia terisak sambil menundukkan wajahnya.
“Fy, ini gue, Fy! Ini gue!” kata Rio berusaha membuat Ify sadar. Namun sepertinya Ify masih kalut dalam pikirannya. Gadis itu masih meringkuk dan berusaha menjauhkan diri darinya. Bahkan kini Ify menyeka-nyeka bibirnya dengan kasar. Rio panik setengah mati. Ia bersumpah akan membuat perhitungan dengan Debo nanti.
Rio meraih lengan Ify dan menggoncang tubuh gadis itu. “Fy, tenang! Ada gue, Fy! Ini gue Rio!” Ia menangkup wajah Ify agar Ify bisa melihatnya. Siapa tahu Ify bisa sadar dari ketakutannya.
“Gue mau pulang..gue takut..gue mau pulang..” racau gadis itu. Rio setidaknya bisa sedikit bernapas  lega karena Ify tidak lagi meronta padanya. “Iya, kita pulang, Fy.” Katanya dan langsung membawa gadis itu kembali ke kelas. Ia meletakkan surat izin untuk mereka berdua lalu kemudian beranjak pergi menuju rumah Ify. Ify saat ini butuh ketenangan dan rumah Ify sepertinya lebih tepat. Ia takut papa dan mamanya ada di rumah dan akan panik melihat Ify nanti. Makanya lebih baik ia membawa Ify pulang ke rumahnya saja.

***

Rio membopong Ify dan membaringkannya di kasur kamar gadis itu. Ify tidur saat dalam perjalanan pulang tadi. Wajahnya benar-benar kelihatan lelah. Ini adalah hari yang berat untuk Ify.
Rio mengamati air muka Ify yang sudah tampak lebih tenang. Napasnya juga teratur tidak lagi sesenggukan. Ia membelai kepala gadis itu dengan lembut. Berharap belaiannya bisa membuat Ify semakin tenang dan tidak ketakutan lagi. Dua kali ia meninggalkan Ify dan dua-duanya sama-sama membuat Ify celaka. Nanti ia pasti akan berpikir ulang jika ada kesempatan untuknya meninggalkan kekasihnya itu lagi.
Rio baru hendak meraih tangan Ify ketika Ify tiba-tiba menggeliat dan mengigau gelisah. Ia langsung mengusap wajah Ify dan berusaha menenangkan gadis itu. Mata Ify terbuka dengan pandangan ketakutan lagi. Ia terduduk lalu menoleh ke kanan-kiri masih dalam ekspresi takut. Rio menangkup wajahnya lagi menyadarkannya dari mimpi buruk yang mungkin baru ia alami.
“Rio?” gumamnya dengan napas tersengal. Rio menghela napas lega lalu menganggukkan kepala sambil tersenyum. “Iya, ini gue.”
Ify lalu mendesah lega sama sepertinya. “Gue dimana?” tanyanya dengan suara sengau dan serak. “Kita sekarang di rumah lo.”
“Tadi gue pingsan ya?” tanya Ify lagi. “Emangnya lo terakhir inget lo lagi ngapain?”
Ify mengernyit seraya mengingat-ingat. “Gue keluar perpus trus..gue gatau lagi.” ringisnya kemudian.
“Tadi lo cuma ketiduran pas di jalan pulang.”
“Pulang?” beo Ify. Ia spontan memeriksa jam tangannya dan mendapati sekarang belum masuk jam pulang sekolah. “Lo pasti bolos gara-gara gue ya?” tanyanya dengan tatapan tak enak hati.
“Itu gak penting. Sekali bolos gak akan bikin gue bego juga.” Jawab Rio santai seraya terkekeh pelan. Ify spontan mencibir ke arahnya. Masih sempat-sempatnya Rio menyombongkan diri di depannya kala ia tengah sakit begini. Eh, tapi ia tidak benar-benar sakit, sih.
“Sekarang, apa yang lo rasain?” tanya Rio kembali. Ify menatap Rio dan spontan menjawab. “Laper..”
Rio sesaat diam lalu tersenyum geli. Tapi melihat wajah linglung Ify ia jadi cemas sendiri. Sepertinya kejadian di perpus itu masih menimbulkan efek sampai sekarang. “Lo tunggu di sini. Gue mau ngambil makan lo dulu.” Pintanya. Ia hendak berdiri namun tiba-tiba Ify memegang tangannya.
“Lo mau ninggalin gue sendirian?” Ify menoleh ke kanan-kiri sesaat lalu kembali pada Rio. “Gue takut..” cicitnya kemudian.
Rio mengernyit lalu duduk kembali. Ia memegang puncak kepala Ify dan mengacak rambutnya pelan. “Kita kan di rumah lo, Fy. Gak akan ada yang gangguin lo. Jadi lo gak perlu takut.” Sekali lagi Ify melihat ke kanan-kirinya memastikan apakah kata-katanya benar.  “Sekarang lo tiduran dan tutup mata. Biar lo gak takut.”
Ify menurut tanpa banyak komentar. Ia merebahkan dirinya ke kasur dan menutupi dirinya dengan selimut sampai ke leher. “Gue tinggal bentar ya!” ujar Rio. Ify hanya menganggukkan kepala.
Rio berjalan keluar kamar. Ia berhenti ketika hendak menutup pintu untuk melihat keadaan Ify sebentar. Gadis itu masih celingak-celinguk seperti orang linglung. Ia menghela napas berat. Semoga Ify tidak akan lama-lama seperti itu.

***

* Coba puter lagu sweet love atau wait for you chris brown. Atau juga wherever you go nya a rocket to the moon. Tapi jangan perhatiin liriknya kalo yang sweet love, kalian bisa gila nanti wkwkwk(?)*
Rio meletakkan piring di atas nakas dan mengambil segelas air putih lalu memberikannya pada Ify. Ify meneguk habis air dalam gelas tersebut dan kemudian menaruhnya kembali. Rio melihatnya lalu tersenyum. Ia merasa seperti sedang mengurusi anak bayi.
Ada sisa makanan di sudut bibir Ify. Rio baru mengangkat tangan hendak membersihkan tapi tiba-tiba Ify menepis tangannya dengan kasar. Wajahnya juga seketika berubah ketakutan. Astaga...apa sampai sekarang pun efek kejadian di perpus masih ada? Pikirnya.
Mata Ify menangkap siluet wajah Rio dan seketika tersadar dari ketakutannya. Ia menghela napas lega lalu memandang Rio dengan tatapan bersalah. “Sorry, tadi gue..parno..” lirihnya sambil menunduk. Saat ketika Debo tiba-tiba menciumnya itu masih terngiang-ngiang di kepalanya. Membuatnya takut pada siapa saja yang mencoba menyentuhnya. Ia terus merutuki diri karena tidak bisa menjaga dirinya dengan baik. Kalau Rio sampai terlambat datang, mungkin Debo akan melakukan hal yang lebih parah dari sekedar menciumnya.
Rio menggeser duduknya menjadi lebih dekat dengan Ify. Ify mengangkat wajahnya dan mendapati Rio sedang menatapnya begitu intens. Hingga kemudian Rio menarik tubuhnya dan memeluknya. Pemuda itu juga mengelus-ngelus punggungnya. Ia memejamkan mata sambil menenggelamkan wajahnya di leher pemuda itu. Kalau bisa ia ingin setiap saat seperti ini. Ini cukup untuk menenangkan perasaannya.
“Apa lo udah siap cerita soal tadi?” tanya Rio lembut. Ia tidak ingin terdengar seperti memaksa Ify. Tapi, ia juga ingin Ify berbicara dan bercerita supaya hatinya lega. Tidak ada lagi yang mengganggu hati dan pikirannya.
Ify mengangguk pelan. Ia menarik napas panjang dan menghembusnya perlahan. “Tadi gue dapet sms dari lo, lo nyuruh gue ke perpus. Lo bilang lo nunggu gue di sana.” Ify berhenti dan menarik napas lagi lalu melanjutkan bicaranya. “Trus..pas gue udah di perpus, lo gak ada. Gue mutusin nunggu lo sambil baca buku. Pas gue lagi nyari buku tiba-tiba..tiba-tiba..” Ify kembali berhenti untuk menarik napas. Dadanya langsung terasa sesak. Ia mencengkram baju seragam Rio kuat-kuat. “Ada orang yang meluk gue dari belakang. Gue pikir itu elo. Tapi pas gue balik, tiba-tiba dia langsung nyium gue. Dan gue sadar itu bukan lo. Dan..dan gue takut, Yo. Gue takut..”
Rio mengusap punggung Ify lebih keras berusaha mengurangi tekanan yang dirasakannya. “Tapi..gue gak ada ngirim sms atau apapun sama lo, Fy.” Gumam Rio. Badan Ify terasa kaku sesaat. Sepertinya gadis itu kaget mendengar ucapan orang yang tengah memeluknya itu. Ia menarik tubuhnya memandang Rio dengan kaget, bingung sekaligus masih tidak percaya. Ia mengeluarkan ponselnya yang ada di sakunya dan mencoba mengecek kembali pesan dari ‘Rio’ tersebut. Mengecek siapa tahu ia tadi salah baca atau bagaimana.
Tapi kenyataannya, matanya tidak salah membaca siapa pengirim pesan tersebut. Pesan tersebut benar-benar dikirim dari nomor Rio. Benar-benar nomor Rio. Ia lantas menunjukkannya pada Rio untuk membuktikan ucapannya tidak salah. Rio mengernyit tak mengerti pada apa yang sedang terjadi. Bagaimana mungkin nomornya bisa mengirimkan pesan sementara selama di ruang rapat tadi ia tidak sekalipun memainkan ponselnya. Kecuali....hhh, udah gue duga. Gak mungkin bisa secepat itu Ify diterima. Batinnya.
“Terus, kenapa lo bisa dateng ke perpus? Waktunya pas banget lagi.”
“Gue dapet sms juga gatau dari siapa. Dia nyuruh gue kesana buat ngasih tau gue siapa lo yang sebenernya, katanya.”
Ify diam sambil memandang Rio lama. Rio membalasnya dengan tatapan bertanya. “Apa lo ke sana karena lo berpikiran buruk tentang gue gara-gara sms itu?”
Rio cepat-cepat menggelengkan kepala sebelum Ify salah paham. “Enggak, Sayang. Gue kesana justru karena gue khawatir sesuatu yang buruk terjadi sama lo. Dan...ternyata bener, kan?” Nada suara Rio terdengar sedikit ketus di akhir ucapannya. Ia benar-benar masih tidak rela Debo telah berhasil mencuri kesempatan mencium Ify-nya.
Mata Ify kembali memerah. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Maaf ya...gue udah bikin lo malu dan susah. Gue gak bisa jaga diri gue baik-baik. Gue emang be—”
“Jangan sekali-kali lo ngerendahin diri lo sendiri. Gue gak suka.” Sela Rio tajam. Tapi kemudian ia menghela napas merasa bersalah. Semua ini terjadi juga karena dirinya. Kalau saja ia tidak ceroboh, maka Ify tidak akan pernah datang ke perpustakaan dan bertemu dengan Debo.
Sementara Ify, ia sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi ketika mendapati sikap dingin Rio itu. Ia merasa Rio marah padanya dan ia juga merasa benar-benar tidak pantas mendapat pengampunan dari kekasihnya itu. Ia tidak akan menyalahkan Rio jika Rio membencinya ataupun menghinanya saat ini. Cercaan itu memang pantas untuknya. Untuk dirinya yang terlalu bodoh. Ia tidak pernah mengambil pelajaran dari semua hal yang sudah terjadi padanya.
Dahulu hanya karena nama ‘Rio’ tercantum dalam pesan, ia langsung percaya kalau itu Rio. Dan yang akhirnya terjadi, ia terkurung di dalam ruang musik dan membuat semua orang pusing mencarinya. Terutama Rio yang sudah repot-repot berkeliling sekolah malam-malam untuk mencarinya. Sekarang modus yang sama terjadi lagi dan ia masih juga percaya begitu saja. Bagaimana ia bisa jatuh ke lubang yang sama untuk yang kedua kali? Kalau ada peringkat yang lebih rendah daripada bodoh, itulah dirinya.
“Gue yang harusnya minta maaf karena gue teledor jagain lo. Pelakunya pasti orang yang gak suka atau mungkin juga suka sama gue. Semuanya terjadi pasti ada sangkut pautnya sama gue.” Rio mendesah pelan sambil mengelus-ngelus punggung tangan Ify. “Mau maafin gue, kan?” tanyanya kemudian seraya tersenyum hangat.
“Lo juga gak marah sama gue, kan?” tanya Ify balik. Rio tersenyum makin lebar lalu menggelengkan kepala. Ia menyeka pipi Ify dari bias air mata yang sempat turun beberapa. Ify tak ayal merasa lega dalam hati. Tadinya ia pikir ini akan menjadi akhir kisahnya dengan Rio. Tapi yang sebaliknya terjadi, ini merupakan peristiwa yang justru menguatkan rajutan cinta mereka berdua. Ia tidak menyesali ia sudah datang ke perpustakaan. Meski ia tetap tidak bisa menerima perlakukan lancang Debo kepadanya.
“Mulai sekarang, jangan percaya pesan apapun yang mengatasnamakan gue, sekalipun itu dari nomer gue sendiri. Karena gue gak akan pernah lagi ngirim lo sms atau sejenisnya. Gue bakal ngehubungin lo cuma dengan cara nelfon. Selain itu, berarti bukan gue. Begitu juga elo. Deal?” Rio memiringkan kepalanya meminta persetujuan sambil menaikkan alis. Ify hanya menganggukkan kepala. Rio kembali tersenyum.

***

Rio meremas kemudinya sambil memandang bangunan rumah bertingkat yang ada di depannya. Ia mengatur napasnya berkali-kali sekaligus mengontrol emosinya agar tidak meninggi. Ia lalu turun dari mobilnya dan berjalan menuju pintu depan rumah tersebut. Sesampainya, ia lantas memencet bel dan menunggu hingga pintu di buka oleh seorang wanita yang sudah tak asing lagi di matanya. Mama Dea.
“Eh, Rio? Ayok masuk!” sapa wanita itu. Rio tersenyum sopan seraya mengangguk. “Siang, Tante.” Ia bersama Mama Dea kemudian duduk di sofa.
“Kamu mau Tante buatin minum atau nanti kamu yang buat sendiri?” tanya Mama Dea lagi dengan tersenyum ramah. “Gak usah repot-repot, Tante. Kayak Rio baru sekali ke sini aja!” jawabnya seraya terkekeh kecil. Mama Dea hanya mengedikkan bahu.
“Yaudah kalo gitu. Tante tinggal ya, Dea nya ada di atas.”
“Iya, Tante.” Mama Dea berlalu pergi meninggalkan Rio sendiri di ruang tamu. Rio lantas berdiri dan beranjak naik ke lantai atas menuju kamar Dea. Ia mengetuk pintu dan langsung disahut oleh suara Dea dari dalam.
“Masuk!” katanya. Rio menekan kenop dan membuka pintu. Tampak Dea sedang merebahkan diri, bertelungkup dengan laptop yang menyala di hadapannya. “Siapa?” tanya gadis itu tanpa menoleh ke arahnya.
Rio mendesah pelan. “Kak Rio.” jawabnya singkat. Mendengar namanya, Dea langsung memutar kepalanya untuk melihatnya. Ia kemudian bangun dari posisinya menjadi duduk menghadap ke arahnya.
“Kak Rio? Mau ngapain ke sini? Pasti kangen sama aku, iya kan?” Ia berseru sambil mengacungkan telunjuk pada Rio. Rio berjalan mendekati kasur namun tidak memilih duduk di atasnya. Ia berdiri menatap Dea seraya bersedekap. Dea mengernyit melihat sikap Rio itu.
“Kamu, kan, pelakunya?” tembak Rio langsung. Dea mengernyit lagi tak mengerti. “Pelaku apa?”
“Kamu tadi minjem hape kakak trus sms Kak Ify dan nyuruh dia dateng ke perpus, iya kan?” Rio mati-matian menahan agar suaranya tidak meninggi. Rasanya ia ingin memaki habis-habisan gadis yang ada di hadapannya ini. Gadis yang tega-teganya menjebak Ifynya ke tangan Debo. Tapi, ia tidak bisa. Ia tidak ingin ketakutan Ify malah akan menular pada Dea kalau ia melabrak dengan keras. Kalau pada Dea, efeknya pasti akan jauh lebih parah. Dea bisa-bisa frustasi karena ia marahi dan bisa-bisa dia berbuat nekat seperti yang sudah-sudah.
Dea terdiam terpaku tak menjawab. Gadis itu membalikkan badannya sehingga duduk membelakangi dirinya. Rio menebak kalau tuduhannya pasti tidak salah, jika melihat reaksinya seperti itu. “Kenapa harus ke Kak Ify, De? Kalo kamu marah sama Kakak, kamu gak boleh ngelampiasinnya ke Kak Ify.”
Dea masih saja diam tanpa membalas ucapannya. Membuat lidahnya gatal untuk kembali berbicara. “Untuk kali ini, Kakak bener-bener kecewa sama kamu. Tindakan kamu udah sangat keluar jalur. Gak seharusnya anak sma kayak kamu ngerencanain hal buruk ke orang lain kayak gitu. Kamu tau? Kak Ify hampir jadi orang gila gara-gara ketakutan. Apa kamu seneng ngeliat Kak Ify kayak gitu? Itu yang kamu mau? Itu bikin hati kamu puas?”
Dea menggeleng pelan lalu menundukkan wajahnya. Bahunya mulai bergetar, tanda kalau gadis itu mulai terisak. Sekali lagi Rio mendesah. Kalau begini, ia juga merasa bersalah. Lagi-lagi ia harus menyalahkan dirinya sendiri karena tidak ada yang lebih pantas disalahkan selain dirinya. “Kakak harus apa supaya kamu gak ganggu Kak Ify lagi?”
“Aku mau KakYo..” rajuk Dea. Rasanya Rio ingin sekali membenturkan kepalanya ke dinding sampai pecah. “De, kamu ngertiin Kakak, doooong? Jangan bikin Kakak serba salah..” katanya pasrah.
Dea kembali diam. Rio mengerang pelan sambil mengacak-ngacak rambutnya. Ia berkacak pinggang memandang Dea kesal. “Kakak udah gatau lagi gimana caranya buat kamu ngerti. Kamu gatau kan seberapa marahnya Kakak ngeliat pacar Kakak sembarangan dicium cowok lain? Kamu anggap Kak Ify itu apa, De? Sampe sekarang hati Kakak rasanya belum ikhlas, gak akan pernah ikhlas. Kalo aja Kakak gak mandang kamu itu adek Kakak, Kakak pasti udah maki-maki kamu atau bahkan nampar kamu. Kamu nyakitin Kak Ify sama aja kayak kamu nyakitin Kakak, De.”
Rio menghembus napasnya keras-keras lalu melanjutkan berbicara. “Kakak rasa Kak Ify gak pernah ganggu kamu separah yang kamu ganggu dia. Kamu inget gak, waktu kamu bersikap gak hormat sama dia pas Kakak dateng ngajarin kamu? Ada gak Kak Ify ngebales sikap kamu? Dan kejadian yang baru banget kemaren waktu kita ke ancol. Kakak nyuekin bahkan ngelupain dia demi kamu. Apa Kak Ify juga ada ngebalesnya sama kamu? Enggak, kan?”
Dea menggelengkan kepalanya namun masih tetap bergeming. Seakan-akan ada semen yang mengeratkan kedua bibirnya menjadi sangat kaku. Untuk kesekian kalinya Rio menghela napasnya. “Kakak mau kamu jangan ngomong apa-apa soal ini sama Kak Ify. Kakak gamau dia tau kalo pelakunya kamu. Kak Ify pasti ga bakal terima lagi sikap kamu yang satu ini. Kakak gak mau hubungan kalian makin kacau. Kakak gamau kebencian antara kalian jadi timbal balik. Cukup kamu aja yang dendam sama Kak Ify, Kak Ify jangan sampe ikut dendam sama kamu. Kakak bisa mati gila, De! Kakak harap kamu bisa berhenti ganggu Kak Ify. Kakak gak akan maafin kamu dan mau kenal kamu lagi kalo sampe kejadian kayak gini terulang. Kakak serius.”
Rio berbalik badan dan berjalan keluar tanpa mengucap pamit lebih dulu. Semakin lama berada di sana semakin mengepul emosinya. Ia ingin marah tapi tidak bisa marah. Semuanya harus tertahan dan pada akhirnya membuatnya sesak sendiri. Tapi setidaknya hatinya bisa sedikit lega karena sudah memberi Dea peringatan keras. Hanya tinggal satu orang lagi yang ingin ia minta tanggung jawab. Pemuda kurang ajar yang sudah mencium kekasihnya tercinta. Si beruang berkulit penguin itu. Siapa lagi kalau bukan Debo.

***

Ify keluar dari kamar mandi sambil menyisir-nyisir rambutnya dengan jari. Ia berjalan ke dekat kaca di atas nakas. Maklum, ini kamar laki-laki jadi tidak mungkin ada meja rias, kan? Ia dan Rio sudah kembali ke rumah pemuda itu sehabis makan tadi. Ia kembali tertidur dan terbangun sudah ada di dalam kamar Rio. Pemuda itu sendiri tak tahu rimbanya ke mana. Saat terbangun tadi ia hanya menemukan dirinya sendiri. Ia mencari ke kamar sebelah dan terakhir bertanya pada Amanda, wanita itu bilang Rio pergi tapi tidak bilang mau kemana.
Ify ingin menghubungi pemuda itu tapi tidak jadi. Ia takut Rio menganggapnya posesif. Mereka kan selalu bertemu setiap hari, baik di rumah maupun di sekolah. Bahkan baru saja bertemu beberapa saat lalu. Apalagi Rio sampai harus repot mengurusinya saat ia masih shock. Membopongnya dua kali, menyuapinya makan, menenangkan ia yang kalut sampai-sampai harus ikut bolos. Tidak ada salahnya kalau ia ditinggal sebentar. Rio kan juga punya urusannya sendiri bukan cuma mengurusinya. Toh, sekarang ia sudah ada di rumah Rio dan tidak akan ada hal buruk yang bakal terjadi lagi.
Ify menaburkan bedak bayi miliknya dan menggosok kedua tangannya. Ia lantas menepukkan telapak tangannya ke wajahnya. Setelah itu, ia mengambil lotion yang juga miliknya dan mengolesnya ke leher, tangan dan kakinya. Ia lalu menciumi aroma tubuhnya dan tersenyum puas karena tubuhnya tecium sudah wangi. Tanpa sengaja matanya menangkap refleksi wajahnya di cermin. Seketika itu juga senyumnya luntur, terlebih ketika menatap bibir mungilnya. Ia benar-benar tidak bisa terima kalau Debo telah dengan lancang menciumnya. Dengan kesal ia menggosok-gosok bibirnya dengan punggung tangannya. Ia merasa banyak sekali kotoran yang menempel di sana.
Karena terlalu terbawa kesal dan menjadikannya fokus pada kegiatan menggosoknya, ia sampai tidak sadar kalau Rio baru saja membuka pintu dan berjalan mendekatinya. Rio tersenyum geli melihat tingkahnya. Ify kemudian merasa ada aroma lain di indra penciumannya. Aroma yang tak mungkin tidak ia kenali. Aroma tubuh Rio. Tangannya spontan berhenti lalu kepalanya menoleh ke samping, tempat di mana Rio berdiri sambil bersandar di dinding dan bersedekap.
“Lo kapan datangnya?” tanyanya polos. Rio terkekeh pelan. Ia lantas mengerling pada Ify. “Mau gue bantu bersihin?” tanyanya menggoda. Ify mengerutkan kening bingung, namun sejurus kemudian ia memberengut.
“Enggak!” tolaknya. Meski begitu ia merasa pipinya merona dan jantungnya berdebar. Ia langsung menurunkan tangannya dari wajahnya sebelum Rio kembali menggodanya karena itu.
Tiba-tiba Ify teringat pada perkataan Rio tentang pesan misterius. Ia menoleh lagi pada pemuda itu. “Pinjem hape lo, dong?”
Rio memasang tampang bingung meski tetap memberikan ponselnya pada Ify. Ify lalu duduk di atas kasur setelah mengambil ponsel Rio dan ponselnya sendiri. Ia membuka kotak masuk pesan Rio mencari sms misterius yang Rio maksud. Ia menyalin nomor pengirim pesan tersebut ke dalam ponselnya. Ia belum sempat menekan tombol save karena tiba-tiba merasa ada sesuatu yang berhembus di lehernya dan membuatnya geli. Ia refleks menoleh ke samping dan kaget melihat wajah Rio yang begitu dekat. Pemuda itu sedang menyandarkan dagunya di bahunya sambil menutup mata.
“Lo abis mandi ya?” tanya Rio. Ify mengangguk pelan dan sedikit gugup. “Iya..kenapa? Badan gue masih bau ya?”
Rio tersenyum dan membuka matanya. “Enggak, kok. Lo wangi, wangi banget.” Ia menegakkan badannya dan merangkul leher Ify seraya mencium pelipis gadis itu cukup lama. Terakhir ia menumpu dagunya di atas kepala Ify dan menghela napas.
“Hhh..kenapa gue pengen meluk lo terus ya?” tanya Rio seperti bergumam pada dirinya sendiri. Hati Ify rasanya berbunga-bunga. Ia tak bisa tidak tersenyum karena itu. Namun, helaan napas Rio sedikit mengusik hatinya. Rio terdengar seperti lelah sekali. Pasti karena mengurusinya tadi.
“Lo capek ya?” tanya Ify pelan. Rio hanya berdehem sambil memejamkan mata lagi. Entah kenapa saat ini ia merasa Ify akan pergi jauh darinya sehingga membuatnya tak ingin sedetik pun melepaskan gadis itu dari dekapannya. Ia baru sadar kalau ia benar-benar jatuh cinta pada Ify. Sampai-sampai membayangkan gadis itu menghilang saja tidak sanggup.
Ify menggeliat dan sedikit mendorong badan Rio. Rio merenggangkan tangannya dan merajuk menatapnya. “Kenapa?” protesnya pelan. Ify terlebih dulu meletakkan ponsel mereka di sampingnya lalu menoleh pada Rio. Ia menepuk pahanya sendiri menyuruh Rio menyandarkan kepalanya di sana. Rio memandang tangannya lalu kembali ke wajahnya. Pemuda itu tersenyum seraya menaikkan alis.
“Paha lo kan kurus, Fy, minim daging. Ntar kepala gue malah sakit nidurin tulang doang.”
Wajah damai Ify langsung berubah kesal. “Gue udah manis-manis nawarinnya, lo malah ngeledek. Yaudah kalo gamau!”
Rio tertawa tanpa dosa tak peduli Ify makin keki melihatnya. Ia kemudian berbaring dengan paha Ify sebagai bantal. Ia memiringkan tubuhnya supaya ia tetap bisa memeluk gadis itu. Ify tak ayal mencibir meski akhirnya tersenyum juga.
“Perut lo mau gue bikin berisi gak?” tanyanya jahil. Ify langsung menjewer kupingnya meski tidak kuat. “Dasar mesum!” gumam gadis itu.
“Gue booking buat anak gue nanti ya, Fy.” Sekali lagi Ify menjewer kupingnya. “Rio!” balas Ify memperingati. Mereka lantas sama-sama tertawa.
“Yaudah, gue numpang tidur bentar ya..” ujar Rio yang langsung menutup matanya sambil menepuk-nepuk punggung Ify pelan. Sepertinya ia memang butuh istirahat.
Ify hanya balas berdehem. Ia lebih memilih mengelus-ngelus kepala Rio membantu pemuda itu tidur lebih cepat. Perlahan-lahan tepukan di punggungnya terasa makin pelan hingga akhirnya benar-benar hilang. Rio sudah terlelap. Ia tersenyum senang. Ia benar-benar bersyukur akan kejadian hari ini. Tapi ya tetap sekali lagi, ia tidak akan bisa menerima apa yang sudah Debo lakukan padanya. Ia sudah tidak percaya lagi pada pemuda itu. Ia menarik kata-katanya beberapa hari lalu kalau ia senang punya secad seperti pemuda itu. Ia benar-benar menyesal bisa disukai olehnya. Sangat-sangat menyesal.

***

Ify berjalan melewati koridor sekolahnya dengan menunduk sedalam-dalamnya. Entah kenapa tatapan orang-orang kali ini begitu menusuk hatinya. Tatapan orang-orang saat ini terasa berbeda dan janggal. Ia sudah biasa merasakan tatapan iri ketika ia berjalan dengan Rio di sampingnya, tapi kali ini berbeda. Mereka semua seperti sedang menertawakannya. Ia seperti baru saja ketahuan mencuri sehingga ditatap seperti itu. Dan itu membuat hatinya ciut dan tidak berani menegakkan wajahnya dan berjalan biasa. Untung saja Rio ada di sampingnya menemaninya. Kalau tidak, ia pasti lebih memilih pulang ke rumah daripadanya disuruh melangkah di depan mereka.
Rio mengetahui benar ketidakpedean Ify saat ini. Ia mengeratkan tautan jemarinya bersama gadis itu. Seolah memberi tahu gadisnya tersebut kalau akan selalu ada dirinya mendampingi di sampingnya sehingga ia tidak perlu takut. Memberi sedikit kekuatan pada Ify.
“Perasaan gue gak enak, Yo. Cara mereka ngeliat gue itu loh..” cicit Ify. Ia tersenyum hangat pada gadis itu. “Lo cuma grogi. Gak ada apa-apa kok. Kan gue udah bilang, lo harus biasa diliatin banyak orang kalo mau jadi pacar gue.” katanya seraya terkekeh kecil.
Namun, tampaknya hati Ify masih saja gelisah. Gadis itu memberengut dan mendesah pelan. “Tapi, cara mereka ngeliatin gue yang kali ini itu beda, Yo. Kayak—”
Rio lekas memotong ucapan Ify, mencegah gadis itu berpikiran yang tidak-tidak. “Jangan nethink gitu, Fy. Semuanya baik-baik aja. Gak usah peduliin apa yang mereka lakuin atau pikirin tentang lo.”
Ify menggigit bibirnya menimang-nimang apa ia bisa percaya pada kata-katanya. “Gitu ya?” gumam Ify pelan.
“Iyaa..” balas Rio seraya melepas sesaat genggaman mereka untuk mengelus kepala Ify lalu kembali berjalan bergandengan.

***

Ify duduk dengan gelisah di dalam hati sambil memelintir seragamnya. Ini pertama kalinya ia masuk ke dalam ruangan ini. Ruangan yang menjadi aib bagi semua siswa. Ruang BK. Tidak juga, sih, sebenarnya. Ruangan ini banyak juga didatangi murid untuk curhat. Tapi memang, kalau sudah masuk ke ruangan ini, selalu ada kesan ‘murid bermasalah’ yang akan dibawa keluar. Seperti sebuah stempel yang langsung tertancap di dahi dan permanen. Di sanalah ia sekarang.
“A—ada apa ya, Bu, sampai saya dipanggil? Pagi ini saya gak telat, kok.” Tanyanya panik.
Bu Anne tersenyum melihatnya. “Tenang, Ify. Ibu hanya ingin ngobrol sama kamu.” Jawabnya lembut. Ia mengambil sebuah amplop kuning di sebelahnya dan menyodorkannya ke depan Ify. Ify memandangnya dan amplop tersebut bergantian dengan bingung. “Ibu hanya ingin denger penjelasan kamu soal ini. Silahkan, boleh kamu buka.” Lanjutnya.
Ify mengambil amplop tersebut dan membukanya dengan ragu-ragu. Matanya melotot dan jantungnya serasa meledak manakala ia mengetahui apa isi dari amplop itu. Dua buah foto yang pasti diambil saat ia berada di perpustakaan. Saat ia bersama Debo. Saat Debo sedang memeluknya dan saat Debo sedang...
“Kenapa...” Ify sudah tidak sanggup berkata apa-apa lagi. Ia ingin pingsan saja. Ia tidak kuat memikirkan nasibnya nanti di tangan Bu Anne. Ia pasti akan kena hukuman. Selama ini ia mati-matian menjaga citranya sebagai anak baik-baik. Ia tahu diri kalau ia tidak bisa berprestasi di bidang akademik. Untuk itu, setidak-tidaknya perilakunya di mata guru-guru dan semuanya selalu terjaga. Tapi kini, upayanya itu benar-benar sia-sia. Namanya sudah tercoreng. Semoga saja foto ini tidak tersebar kemana-mana.
“Ada yang menempel foto itu tadi pagi di mading. Untung Ibu cepat dateng jadi bisa mencabutnya dari sana. Ibu harap anak-anak yang udah liat gak bakal ngomongin ini ke yang lain, ke yang belum liat.” Bu Anne mendesah berat. Doanya sedikit susah untuk terkabul.
Tadi jantungnya, sekarang kepala Ify yang terasa ingin meledak. Pupus sudah harapannya. Mana mungkin siswa yang sudah melihat tidak membicarakan ini. Foto ini pasti sudah tersebar luas. Hancur sudah reputasinya.
Ify menelan ludah menahan air mata yang tak sabar menghujani pipinya. “Tapi, saya gak pernah minta Debo nyium saya, Bu. Saya bahkan gaada hubungan apa-apa sama dia. Dia tiba-tiba nyamperin saya dan melakukan apa yang tercetak di foto ini.” Kalau membicarakan Debo, rasanya hatinya makin panas. Ia sangat-sangat kecewa pada pemuda itu. Ia tidak menyangka Debo akan sampai hati padanya seperti ini. Dan juga pengirim sms misterius itu. Entah kenapa ia merasa pelakunya sama dengan orang yang menculiknya dulu.
“Sudah Ibu duga! Kamu gak mungkin sengaja melakukan ini. Pasti ada orang yang mau ngerjain kamu dan mempermalukan kamu. Ckck, dasar anak-anak!” Bu Anne tiba-tiba berseru. Mukanya tampak begitu bersemangat membelanya. Begitu tidak suka pada orang yang sudah mengerjainya. Sedikitnya, Ify bisa merasa lega. Kalau Bu Anne membelanya, itu tandanya ada kemungkinan ia akan bebas dari hukuman. Satu masalah terlewati.
“Kalau Ibu bertanya pada saya, saya ga akan bisa jawab apa-apa, Bu. Karena saya juga gak ngerti kenapa ini bisa terjadi. Ibu lebih baik langsung tanya sama Debo. Dia kunci semua kejadian ini. Tapi, kalau dia sampai bilang ini kesengajaan saya sama dia, saya berani bersumpah kalau dia bohong.” Ify mencoba memberanikan diri dan berkata dengan yakin pada Bu Anne. Bu Anne menganggukkan kepalanya mengerti.
“Mulai sekarang kamu harus lebih hati-hati. Di dunia ini, gak semua yang suka kamu, apalagi yang gak suka sama kamu, bakal bersikap pasif sama kamu. Dunia udah dipenuhi sama orang-orang nekat. Kamu dituntut untuk selalu waspada dan gak gampang percaya sama orang yang mendekati kamu. Tapi kamu juga gak boleh mudah berpikiran negatif sama mereka. Haah..kedengarannya aja susah ya, membingungkan. Tapi itu yang harus kamu lakukan. Ibu cuma bisa bilang itu sama kamu, Fy.”
Ify mengangguk dengan tatapan penuh berterimakasih. Ia tidak sanggup membayangkan kalau ia dihukum. Ia tidak tega melihat betapa kecewa Papanya, apalagi laki-laki itu sedang terbaring di rumah sakit dengan penyakit yang tidak ringan. Lalu, kedua orang tua Rio juga Ray, mereka pasti tak kalah kecewanya kalau sampai mendengar hal ini. Meskipun ini bukan murni kesalahannya, ia tetap merasa malu dan ikut kecewa pada dirinya sendiri.
“Yaudah, sekarang kamu boleh kembali ke kelas.” Ujar Bu Anne ramah. Ify mengangguk lagi seraya tersenyum. “Makasih, Bu. Makasih sudah percaya sama saya.” Ucap Ify tulus. Bu Anne hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.

***

Rio mengajak Ify duduk di rerumputan taman Parfait setelah Ify keluar dari ruang BK. Ditangannya terdapat dua mangkok pop mie untuk mereka berdua sementara Ify memegang dua botol air minum. Ia meletakkan salah satu pop mie di depan Ify. Ify melihat itu tanpa semangat dan memilih memandang pemandangan di depannya. Atau lebih tepatnya melamun.
Rio menyeruput mienya dengan lahap sementara Ify hanya diam di tempatnya. Rio melihat itu lantas menghembus mienya dan menyuapkannya pada Ify. Ify berjengit menghindar. “Gue gak laper.” Bukan Rio namanya kalau ditolak sekali langsung menyerah. Ia mengurung Ify dengan tangannya, mengalungkan tangannya sehingga gadis itu tidak bisa bergerak kemana-mana.
“Buka mulut!” perintahnya. Ify memberengut. “Riooo..” rengeknya. Rio menaikkan alis tetap memaksa Ify agar mau menerima suapannya. Mau tidak mau Ify terpaksa membuka mulutnya. Rio langsung tersenyum puas dan menarik tangannya membebaskan ruang gerak Ify lagi.
Ia baru hendak menyuap untuk dirinya sendiri kembali sebelum ia mendengar isakan-isakan kecil dari sampingnya. Ia menoleh dan mendapati Ify sedang menangis tanpa suara. Ia meletakkan pop mienya di depannya dan meminum air minum yang mereka beli di kantin. Setelah itu ia kembali pada Ify. Ia menyeka air mata Ify di pipinya dan menyelipkan beberapa helai rambut yang menghalangi wajahnya dari samping.
Ify meraih tangan Rio dan menjauhkannya pelan. “Ntar tangan lo kotor..” katanya dengan suara bindeng. “Emangnya air mata lo asalnya dari got bisa bikin tangan gue kotor?” balas Rio berusaha membuat Ify ceria lagi. Tapi, sepertinya belum berhasil.
“Gue bikin lo nangis mulu. Lo gak bahagia ya sama gue?” ujarnya pura-pura sedih. Ify langsung menggelengkan kepalanya dan memegang lengannya. “Bukan itu!” rengeknya lagi. Rio lantas tersenyum. Kali ini usahanya sedikit membuahkan hasil.
“Kalo gitu senyum dong, jangan nangis lagi. Ntar idung lo pesek kek gue, loh, ngelap ingus mulu.” Ify memukul tangannya merengut namun kemudian tersenyum. “Udah cetakannya idung gue begini, mana bisa gitu aja berubah gara-gara ngelap ingus!” Rio tersenyum senang sambil mengacak-ngacak rambut Ify. Ify mengambil botol air minum yang sudah dibuka Rio lalu meminumnya beberapa teguk.
“Kira-kira siapa ya..orang yang udah ngerjain gue?” tanya Ify dengan pandangan menerawang.
Rio sesaat terdiam. Cepat atau lambat Ify pasti ingin tahu siapa pelaku dibalik ini semua. Dan ia tidak menginginkan itu terjadi. Ia tidak ingin Ify tahu kalau pelakunya Dea. Sekali lagi, ia tidak ingin mereka berdua bermusuhan. Satu alasan lagi. Ia tidak ingin Ify terus mengingat kejadian ini karena ia sendiri tidak ingin diingatkan oleh kejadian itu. Ia tidak ingin lagi mengingat bagaimana Debo dengan lancang mencium Ify di depan matanya. Ia tidak bisa menghilangkan amarahnya kalau terus mengingat itu. Ia tidak ingin memperpanjang masalah jika ia tiba-tiba kalap. Ia sudah memutuskan untuk berusaha memaafkan pemuda itu. Jadi upayanya akan sia-sia jika masalah ini terus saja dibahas.
“Lo gak perlu mikirin itu. Gue pengen lo gak usah inget-inget lagi apa yang sudah terjadi sebelumnya.” Gumamnya sambil kembali memakan pop mie.
Ify menoleh ke arahnya lalu kembali memandang nanar ke depan. “Mana bisa gue lupain gitu aja, Yo. Gue udah dijebak dan dilecehakan, terakhir gue juga dipermalukan. Ini tuh peristiwa berat buat gue. Mungkin seumur hidup gue bakal tetep inget.”
“Makanya sekarang lo coba untuk lupa. Jangan lo bahas-bahas lagi. Hilangin semua rasa penasaran lo soal si pelaku. Itu cuma bikin lo capek sendiri kalo terus lo cari tau, Fy.”
“Gue punya 3 sahabat yang bisa bantu gue dan..gue juga punya lo..berikut Iel sama Cakka. Iya, kan?”
Rio mengerang dalam hati. “Gue mau lo lupain semuanya, Fy.” Balasnya dingin dan tajam. Berharap Ify akan tunduk pada kata-katanya. Tapi, sepertinya Ify tidak menyadari sama sekali kalau ia sedang menekan gadis itu. Gadis itu masih santai memandang ke depan.
“Gue gak bisa, Yo.” Sahutnya ringan. Rio tiba-tiba meletakkan pop mie nya dengan kasar yang membuat air di dalamnya sedikit memercik dan juga membuat Ify kaget. Ify menoleh ke arahnya dengan bingung dan sedikit takut. “Gue gak mau lo terus nginget itu, Fy. Kenapa sih lo gamau dengerin kata gue? Gue tau emang gak mudah, tapi kalo niat pasti lo bisa. Pelan-pelan pasti lo bisa, kan?”
Ify mengernyit memandang Rio. “Lo kenapa jadi marah-marah, sih?” tanyanya mencoba tenang. “Karena lo gamau denger omongan gue. Gue gak mau pelakunya malah makin dendam sama lo kalo sampe lo ngebongkar kesalahan dia.”
“Lo kayak tau pelakunya aja!” balas Ify asal. Rio hampir saja terpancing akan kata-kata gadis itu. Ia mendesah pelan. “Gue mohon, Fy?” lirihnya dengan tatapan memelas. Ify balas menatap sama memelasnya. “Hati gue rasanya gak puas, Yo.”
“Fy, please!” Nada suara Rio meninggi. Ify berjengit kaget. “Lo kenapa sih, Yo? Apa yang salah kalo gue tetep nyari tau? Kalo ketemu pun gue gak bakal sampe nyakar-nyakar dia. Gue cuma mau ngomong dari hati ke hati. Gue mau berdamai sama dia sekaligus hati gue sendiri.”
“Karena gue gak mau terus inget kalo gue pernah liat dengan mata kepala gue sendiri ada cowok lain nyentuh cewek gue! Gue gak mau inget-inget lagi gimana Debo nyium lo! Gue gak mau naruh jejak tangan gue di muka dia lagi! Hah!” Rio mendengus sambil melengos.
Kali ini Ify baru mengerti kenapa Rio keras melarangnya mencari tahu. Ify baru mengerti bagaimana perasaan Rio. Ia merasa ingin menangis karena terharu. Ia baru tahu kalau Rio begitu berjiwa besar seperti ini. Ia baru sadar kalau ia sudah egois beberapa saat lalu. Kejadian perpus tidak hanya menyakitinya, tapi juga menyakiti Rio. Kalau saja ia tahu, memang Rio yang sebenarnya banyak memendam sakit. Ia harus menahan untuk tidak balas dendam pada Debo. Ia juga harus merasa bersalah sedalam-dalamnya karena tidak bisa menjaganya. Terlebih ia harus menyaksikan orang lain menyentuhnya sembarangan. Ia juga harus bisa menahan rasa marah pada Dea.
Ify lantas mencabut selembar tisu dari sebungkus tisu yang ia beli di kantin sebelum datang kemari. Ia meraih tangan Rio lalu membersihkan tangan pemuda itu dari air mie yang memercik ke sana. Rio menoleh pada tangannya lalu hanya diam sambil memandang Ify. Ify mengangkat wajahnya karena menyadari Rio sedang menatapnya.
“I love you!” ujar Ify seraya tersenyum manja. Emosi Rio seketika luntur. Ia mendesis sebal meski tidak dapat menahan senyumnya juga. “Emangnya dengan lo bilang gitu gue bakal maafin lo?” sahutnya pura-pura galak.
Ify merengut dan lantas bersandar sambil memeluk lengan Rio. “Gue lagi gak punya permen buat nyogok lo. Jadi langsung maafin gue aja ya?”
Rio tertawa lalu kemudian mendecak sambil geleng-geleng kepala. “Janji ya, lo gak akan inget-inget itu lagi?” tanyanya sambil menyembulkan kelingkingnya. Ify tersenyum sambil menyambut uluran kelingking(?)nya.
“Iya.” Rio akhirnya dapat bernapas lega. Ia lantas membalikkan tangannya dan menggenggam tangan Ify.

***

Rio mengeratkan genggamannya pada tangan Ify. Ia gugup. Hari ini ia berencana untuk mempertemukan Ify dan Dea. Ia ingin mereka berdua bisa akrab. Mungkin dengan cara ini Dea bisa mendekatkan diri pada Ify terlebih menyukai Ify sehingga gadis itu tidak lagi mengganggu kekasihnya itu. Semoga saja semuanya berjalan seperti yang ia harapkan. Ify sendiri hanya berjalan santai sambil memperhatikan apa yang ada di sekelilingnya.
Mereka kini mulai menaiki eskalator. Mall tampaknya ramai dipadati pengunjung. Sampai-sampai eskalator pun penuh. Rio melepas genggamannya dan memilih memeluk pinggang Ify. Merapatkan gadis itu padanya supaya tidak hilang di kerumunan. Ataupun supaya tidak ada orang yang berani mengganggu gadis itu. Ify sedikit kaget karena Rio tiba-tiba memeluk pinggangnya, di keramaian seperti ini lagi. Ify melihat sekitarnya lalu melihat Rio lalu kemudian tersenyum tipis seraya menunduk.
“Fy, kalo kita nanti nontonnya gak berdua gakpapa, kan?” tanya Rio tiba-tiba. Air mukanya terlihat seperti tidak enak hati. Takut-takut kalau Ify malah tidak suka. Namun untungnya, Ify tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Gakpapa, as long as I’m with you, Yo. Hehe..” Rio tertawa kecil mendengar itu lantas mengelus sesaat kepala Ify sambil merangkul lehernya.
 Ify tak bisa melepas senyum dari wajahnya. Hingga kemudian senyumnya sedikit pudar manakala mengetahui siapa orang yang akan menemaninya dan Rio nonton. Seorang gadis yang sudah menempati meja yang akan mereka tempati lebih dulu. Gadis berambut sebahu lebih yang kini tengah tersenyum menyambut kedatangannya dengan Rio. Dea. Ia menoleh pada Rio seolah bertanya apa Dea yang benar-benar akan ikut bersama mereka. Dan senyum Rio pun seolah menjawab pertanyaan tersiratnya.
“Kamu udah lama nunggunya?” tanya Rio setelah duduk di kursi di depan Dea diikuti Ify yang memilih duduk di sebelahnya yang otomatis di sebelah Dea juga. Dea menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. “Enggak kok, KakYo.” Ujarnya. Ia menoleh pada Ify yang hanya diam. “KakFy..gaksuka ya aku ikut? KakYo tadi minta banget sama aku buat ikut jadinya aku ikut. Aku gakpapa kok kalo KakFy nyuruh aku pulang. Aku juga ga enak gangguin acara KakFy sama KakYo terus.”
Ify tak ayal langsung menoleh pada Rio dan bertanya ‘maksudnya minta banget?’ melalui tatapannya. Rio terkesiap dan langsung menjawab atau mungkin meralat ucapan Dea. “Lo jangan salah paham dulu. Gue itu mau memperbaiki hubungan kita bertiga yang sedikit kacau akhir-akhir ini makanya gue ngajak Dea ikut sama kita.” Jelasnya.
Ify diam mencermati apa yang Rio katakan. Berhubung ia sedang tidak ingin berpikir yang berat-berat, ia lantas hanya menjawab ‘Oh’ sambil menganggukkan kepala beberapa kali. Ia juga tidak ingin membuatnya menjadi masalah besar yang harus diributkan dan diperdebatkan. Ia tidak ingin merusak harinya yang sudah berangsur damai.
“Jadi aku boleh ikut?” tanya Dea dengan mata berbinar. Ify tersenyum tipis. “Boleh..boleh, kok.” Jawabnya sekenanya. Dea berseru senang sambil memeluk lengannya. “KakFy cantik, deh!”
Sekali lagi Ify hanya diam dan balas tersenyum. Entahlah, ada yang aneh dengan perasaannya. Ia masih kaget setiap melihat sikap Dea yang berubah-ubah. Ia belum bisa percaya padanya. Mungkin juga ini karena Debo yang sudah ‘mengkhianati’nya. Meski begitu, ia tidak akan menutup hatinya untuk menghargai sikap baik Dea. Semoga saja gadis itu benar-benar berubah.

***

Hari ke hari, hati Ify sepertinya sedikit demi sedikit mulai terbuka untuk menerima Dea. Rasanya Dea benar-benar sudah berubah. Gadis itu ramah sekali. Selalu menegurnya dengan ceria setiap bertemu. Kalau sedang bersamanya dan Rio, Dea malah lebih lengket padanya daripada Rio sendiri. Sampa-sampai Rio pernah berkata ‘cemburu’. Tak jarang ketika istirahat sekolah mereka makan di kantin bersama. Seperti saat ini. Mereka berjalan menuju kantin dengan Dea yang memeluk lengannya.
Sekarang adalah gilirannya untuk memesan makanan. Ya, karena Dea, mereka jadi punya jadwal giliran untuk memesan makanan. Gadis itu bilang ‘biar seru aja’ waktu itu. Sebenarnya Dea memang gadis yang lucu dan hangat. Sikapnya bahkan boleh dikatakan belum cocok untuk disebut anak sma. Ia dibuat merasa seperti punya adik yang masih sd.
“Pesenannya masih sama, kan?” tanyanya sesaat sebelum melangkah pergi. Rio dan Dea mengiyakan bersamaan. Mereka tak ayal serentak tertawa.
Tapi sepertinya, prahara untuk Ify belum habis. Hari Ify belum benar-benar damai seperti yang ia kira. Masalah itu rupanya belum kapok mendatanginya. Ketika ia baru hendak membalikkan badan, di saat yang bersamaan seseorang hendak berjalan melewatinya. Mereka sama-sama tidak melihat keberadaan satu sama lain. Alhasil tabrakan tak dapat terelakkan. Sialnya, baju Ify terkena tumpahan kuah bakso rekan tabrakannya tersebut. Tapi Ify lega, setidaknya bajunya yang kena bukan baju sang rekan.
“Maaf gue gak hati-hati..” kata Ify langsung sambil mengangkat wajahnya. Ia berjengit kaget mengetahui siapa gerangan yang sudah ditabraknya tadi. Gadis yang ditemuinya di toilet yang memohon-mohon padanya untuk menjauhi Rio waktu itu. Ya, gadis itu adalah Angel. Angel menatapnya datar bahkan bisa dibilang agak sinis.
“Ya, lo pantes dapet siraman kuah bakso di baju lo akibat ke-gak-hati-hati-an lo itu.”
Ify terpana beberapa saat. Angel sudah 180 derajat berubah. Gadis itu benar-benar bersikap memusuhinya. Ia sangat tidak mengerti mengapa dia sampai sebegitunya membencinya. Tapi entah kenapa, sejahat apapun gadis itu, ia tidak bisa membalas membenci Angel. Sama seperti ia tidak pernah membenci Rio ketika pemuda itu menyakitinya. Tapi kalau Rio kan ia tahu alasannya, karena ia mencintai pemuda itu. Nah, kalau Angel? Kan gak mungkin gue jatuh cinta sama Angel.
“Sekali lagi gue minta maaf ya, Kak.” Ujarnya berusaha tetap sopan. Tak peduli pada ketidakramahan Angel padanya.
“Trus lo pikir, maaf lo bisa gantiin bakso gue yang udah dimakan sama baju lo?” Bentak Angel tiba-tiba. Ify sampai mundur karena kaget. Sontak hal itu membuat mereka benar-benar menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di kantin. Rio hendak berdiri tapi didahului Dea. Dea maju ke depan Ify seolah ingin melindungi gadis itu dari Angel. Angel hanya menaikkan alis dengan ekspresi yang kembali datar.
Dea baru membuka mulut ketika Angel menyentaknya. Tidak cukup keras tapi cukup membuatnya takut dan mundur. Mau tidak mau Rio akhirnya berdiri juga dan menggantikan Dea berdiri di depan Ify. “Bakso lo harganya berapa, sih? Masih lebih mahal seragam Ify yang udah kotor karena bakso lo. Dia juga udah minta maaf, kan? Kenapa harus marah-marah?” Rio menekan semua emosinya dan mencoba berbicara tenang sambil menyembunyikan tangannya yang terkepal di saku.
Angel hanya diam memandang Rio. Ia kemudian meletakkan mangkok baksonya ke meja asal-asalan lalu melengos pergi tanpa mengatakan apapun. Rio mengernyit menatapnya tak terima diabaikan. Ia hendak menahan gadis itu tapi tangannya lebih dulu ditahan Ify. Ify menggelengkan kepalanya mengisyaratkan agar ia membiarkan Angel pergi. Ia lantas mendengus pelan.
“Kakak itu siapa, sih? Galak banget!” celetuk Dea. Namun, satupun dari Rio dan Ify tidak ada yang menjawab pertanyaannya. Ia lantas hanya mengedikkan bahu. Ia kemudian mengikuti Rio dan Ify yang hendak pergi ke uks meminta baju ganti.

***

Ify keluar dari uks dengan menenteng seragamnya yang kotor. Ia hanya menemukan Rio seorang diri. Ia menoleh mencari Dea dan bertanya melalui tatapan matanya pada Rio.
“Lo gak seneng gue yang nungguin lo? Lo udah mulai selingkuh sama Dea?” tanya Rio yang langsung membuatnya mencubit pinggang pemuda itu. Mereka lantas tertawa. “Dia udah balik ke kelas. Ada tugas kelompok katanya.” Jawab Rio setelah tawanya meredam.
Ify hanya menganggukkan kepala. Rio diam menatapnya lalu menghela napas. Ia lantas mengernyit bingung. “Kenapa?”
“Bahkan waktu gue ada pun lo tetep kena masalah. Apa mungkin gue pembawa sial untuk lo ya?”
Sekali lagi Ify mencubit pinggang Rio, bahkan lebih keras hingga Rio sampai mengaduh sakit. “Ini udah 2014 lo masih aja percaya gituan, ckckck!”
Meski begitu, Rio tetap memberengut. “Gue beneran sedih loh, Fy.”
“I’m okay, Rio! Lagian kejadian tadi itu murni musibah. Gak ada unsur kesengajaan dari Angel buat nyiram gue pake kuah bakso.” sahut Ify gemas. Rio menghela napas. “Gitu ya?” serahnya. Ify mengangguk cepat dengan semangat. Rio diam tidak menjawab lagi.
Ify kemudian mengangkat tangannya dan melentik-lentikkan jari di depan wajah Rio. Mulutnya berkomat-kamit seperti sedang membaca mantra. Rio melihat itu sambil mengerutkan kening.
“Wahai Tuhan, dengarlah beberapa permintaan kecil dari gadis lemah tak berdaya seperti hambamu ini. Jagalah selalu pemuda ini, jangan pudarkan senyum di wajah pemuda ini, jangan lunturkan kebahagiaan di hati pemuda ini. Semikan selalu cintanya untuk hambamu ini. Satukan selalu kami ketika masalah datang memisahkan kami. Hadirkan kepercayaan selalu di hati kami ketika salah paham terjadi memecah kami....amin. Sshhh! Sshhh!” Ify menjentikkan jarinya seperti sedang menyipratkan air ke wajah Rio lalu menurunkan tangannya kembali.
Rio hanya tersenyum geli menatap Ify yang juga tersenyum padanya sambil menepuk-nepuk kepala gadis itu.

***

Malam ini Rio kembali harus mengajari Dea. Berbeda dengan sebelumnya, sekarang Dea yang bertandang ke rumah Rio. Lantas ruang tengah pun diisi oleh Rio, Dea dan juga Ify. Sebenarnya Ify ingin berdiam diri di kamar. Akan tetapi, Rio yang menyuruhnya menemaninya. Hitung-hitung Ify bisa ikut sekalian mengulang pelajaran, katanya. Meski sebenarnya ia tahu kenapa pemuda itu memaksanya. Rio tidak ingin ia berpikir yang tidak-tidak. Padahal ia sudah tidak lagi berpikiran macam-macam tentang Rio dan Dea. Mereka kan sudah berbaikan jadi apa yang harus ia khawatirkan, kan?
Karena bosan hanya menjadi penonton Rio dan Dea, ia lantas memilih memainkan ponselnya. Sekedar iseng mencari berita tentang Rio. Ia mengetik ‘Rio Real 2014’ di mesin pencari sebagai kata kunci. Dan berbagai artikel tentang Rio pun langsung bermunculan. Dari sekian banyak tersebut, ada satu yang menarik perhatian Ify, yaitu artikel yang berjudulkan ‘Rio Punya Pacar, Anda Patah Hati?’. Ia langsung menekan judul artikel tersebut dan kemudian membaca apa yang tertulis di dalamnya.
‘Beberapa saat lalu, media sosial instagram sempat dihebohkan dengan foto yang diupload Rio Real diakunnya. Foto tersebut menunjukkan dirinya dan seorang gadis di sampingnya dengan mata tertutup. Berdasarkan info yang didapat, gadis manis itu bernama Alyssa Saufika Umari atau Ify yang juga merupakan teman sekelas Rio di sekolah. Dari foto tersebut, banyak orang yang menyimpulkan ada hubungan spesial yang terjalin di antara mereka berdua. Beragam reaksi yang dikeluarkan para penggemarnya terutama para wanita. Cukup banyak yang mendukung hubungan antara Rio dan Ify ini sampai-sampai terbentuk sebuah grup penggemar mereka berdua yang menamakan diri sebagai RFM (RiFy Maniacs) *eaaag*. Namun jumlahnya mungkin belum sebanyak para remaja putri yang mengaku patah hati setelah mendengar kabar ini. Lalu, masuk di bagian manakah anda? Apakah anda juga patah hati?’
Ify terlihat beberapa kali tersenyum saat membaca isi dari artikel itu. Terutama saat membaca baris kalimat yang menyebutnya ‘manis’, juga tentang grup penggemar dirinya dan Rio. Ia menggerakkan jempolnya ke atas untuk menggeser laman ke bawah dimana merupakan tempat orang-orang berkomentar.
‘AQo3h mao m4ti3e aj4chhhhh!!’
Ify terkekeh geli membaca komentar yang satu itu. “Untung Rio alaynya gak separah ini..”
‘I love them<3<3 Jangan sampe putus yaaaa!’
Ify tersenyum senang seraya menyahut pelan. “I love you too!”
‘Kenapa kenyataan hidup harus sesakit ini? :’’)’
Ify kembali tersenyum. Tapi kemudian, senyumnya tiba-tiba lenyap.
‘Itu ceweknya abis ditidurin? Ewh..’
“Sembarangan!” Ify spontan menyeru tak terima. Hal itu lantas membuat Rio dan Dea memandangnya bingung dan heran.
“Lo kenapa?” tanya Rio dengan pandangan aneh. Ify balas nyengir. “Gak..gakpapa, hehe..”
Rio menatapnya sebentar lalu mengedikkan bahu. “Lo bikinin minum gih!” katanya tanpa menoleh.
“O—oh iya, bentar..” Ify meletakkan ponselnya di meja dan langsung beranjak ke dapur. Satu alasan lagi kenapa Rio memaksanya menemaninya, yaitu agar pemuda itu bisa menyuruhnya seenaknya. Ckck, untung gue cinta sama lo, Yo, Yo.
Ify kembali dengan membawa tiga gelas orange syrup dingin di tangannya. Ia meletakkan masing-masing di depan Dea, Rio dan dirinya sendiri. Rio dan Dea sepertinya sudah selesai belajar.
“Kamu ke sini sendiri, De?” tanya Ify sambil menyesap orange syrupnya. Dea mengangguk seraya tersenyum. “Pake apa? Gak takut?” tanya Ify lagi.
Dea kali ini menggeleng. “Mobil. Jam segini jalanan masih rame, jadi aku gak terlalu takut.”
“Sejak kapan kamu bisa nyetir mobil?” celetuk Rio yang nampak kaget. Ify bergantian memandang Rio dan Dea. “Baru sih, KakYo. Belajar sama Pak Anto.”
“Pak Anto siapa?” kembali Ify yang bertanya. “Supir aku, KakFy.” Ify mengangguk dan hanya menjawab ‘Oh’.
Mereka sesaat sama-sama diam. Ify kembali memainkan ponselnya, Rio bersandar pada sofa seraya melepas penat sementara Dea diam dengan terus menatap Ify. “KakFy?” panggilnya kemudian.
Ify berdehem menyahut tanpa melepas pandangannya ke layar ponsel. “Kalo misalnya aku minta maaf, apa KakFy mau maafin aku?” tanyanya dengan nada serius.
Ify memalingkan wajahnya menatap Dea sambil mengernyit. Rio pun langsung menegapkan badannya mendengar ucapan gadis itu. Ify melihat ke arah Rio yang menatap Dea aneh.
“Emang kamu kenapa?”  tanyanya.  “Aku tau KakYo gak ngebolehin aku ngomong soal ini sama KakFy, tapi—“
“De!” sela Rio tiba-tiba. Dea hanya meliriknya sekilas dan kembali bicara tanpa memedulikan ‘alarm’ darinya. “Aku gak bisa nyimpen ini terus-terusan. Aku selalu dihantui rasa berdosa dan bersalah sama KakFy. Makanya sekarang aku mau jujur sama KakFy. Aku mau jujur soal perpus.”
“Fy, sebaiknya lo balik ke kamar. Sekarang.” Perintah Rio tegas. Ify menoleh ke arahnya makin tidak mengerti. “KakFy jangan pergi! Aku mohon dengerin apa yang mau aku bilang ke KakFy!” tahan Dea cepat.
“Fy, lo gak denger gue bilang apa?!” kata Rio dengan nada suara meninggi. “KakYo, please?!”
“Kalian kenapa, sih? Kamu sebenernya mau ngomong apa, De? Jangan bikin Kakak pusing.”
Dea meraih kedua tangannya dan menatapnya penuh rasa bersalah. Bahkan hampir menangis. “Aku..aku yang udah sms KakFy waktu itu. Aku yang udah minjem hape KakYo waktu itu dan nyuruh KakFy datang ke perpus.”
Saat itu juga rasanya seperti ada petir yang menyambar jantungnya. Ia merasa sedang bermimpi buruk.
“De, udah!” Rio kembali menyuruh Dea berhenti melihat Ify bergeming. Namun kemudian, Ify bersuara yang membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia hanya bisa menghela napas dan berdoa semoga saja hal ini tidak berakhir buruk.
“Lanjutin..” lirih Ify. Dea menarik napas dalam lalu melanjutkan ucapannya seperti yang Ify minta. “Kak Debo yang sms KakYo buat dateng ke perpus. Aku dan Kak Debo pelakunya. Termasuk yang nempel foto di mading.”
Ify termangu tanpa bisa berkata apa-apa. Disaat ia sudah mulai percaya, dalam sekejab kepercayaannya tersebut kembali terbuang sia-sia. Dan yang lebih menyakitkan, Rio juga tega menyembunyikan kebenaran ini darinya. Jadi inikah alasan sebenarnya Rio melarangnya mencari tahu? Pemuda itu hanya ingin melindungi Dea?
“Aku minta maaf, KakFy. Aku bener-bener minta maaf. Aku nyesel udah melakukan itu semua sama KakFy.”
Ify masih diam menatap Dea tak percaya. Air matanya satu persatu mulai turun. Lalu kemudian pandangannya beralih pada Rio. Ia benar-benar kecewa pada pemuda itu. Ia tidak habis pikir kenapa pemuda itu tega membohonginya. Ia menarik tangannya dari genggaman Dea. Ia berdiri dan berlari pergi masuk ke dalam kamar tanpa mengatakan apapun. 
Rio mendengus frustasi. Ia membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu tapi tidak jadi dan terulang sampai dua kali. Hingga akhirnya ia mengerang kesal sendiri.
“KakYo, aku minta maaf. Aku gak maksud bikin kakak sama Kakfy—“
“Pulang..kamu pulang sekarang..pulang!” potong Rio sambil menutup mata.
“Tapi—“
“Kamu gak mau kan Kakak makin marah sama kamu?”
Dea terdiam tak bisa apa-apa lagi. Mau tidak mau ia menuruti kata-kata Rio untuk pulang saat ini juga. Ia membereskan buku-bukunya yang ada di meja dan berdiri mengucap pamit sekaligus memohon maaf kembali untuk yang terakhir kali.
“Sekali lagi aku minta maaf, KakYo. Aku pulang dulu.”
Rio memalingkan wajahnya dan hanya diam. Ia membiarkan Dea pergi hingga kemudian terdengar suara pintu di tutup. Ia menghela napas berat. Matanya beralih pada pintu kamarnya yang tertutup rapat. Lalu sekarang bagaimana?

***

Ify duduk menekuk lutut dengan menyangga dagunya sambil terus menatap lekat-lekat pintu kamar Rio. Menunggu seseorang segera membukanya dari luar. Hatinya sedaritadi memanggil-manggil nama orang tersebut dan berharap suara hatinya itu bisa terdengar. Tapi rupanya, sampai sekarang pintu itu masih bergeming tak bergerak sedikitpun. Ia masih saja meringkuk sendiri di dalam kamar tanpa ada seseorang yang datang menenangkan atau bahkan sekedar menemani.
Saat ini Ify hanya berharap Rio segera datang dan memberinya penjelasan. Ia sendiri tidak tahu kenapa ia malah menginginkan kehadiran pemuda itu setelah kebohongan pemuda itu terbongkar. Padahal ia tahu kalau ia sudah begitu kecewa padanya. Tapi memikirkan Rio yang tidak salah paham padanya ketika melihat ia dan Debo di perpustakaan, hatinya langsung melunak. Mungkin tak ada salahnya juga kalau ia terlebih dahulu mendengar penjelasan pemuda itu baru memutuskan sikap mana yang harus ia ambil.
Yang jadi masalah sekarang, kenapa Rio tidak juga menampakkan batang hidungnya di hadapannya? Ini bahkan sudah lebih dari satu jam setelah ia meninggalkannya dengan Dea di ruang tengah. Apa pemuda itu benar-benar menginginkan kemarahannya?
Sementara itu, di luar Rio berdiri dengan bimbang apa ia harus masuk menemui Ify atau tidak. Ada dua kemungkinan yang ada dalam benaknya. Yang pertama, saat ini Ify sedang menenangkan diri setelah mengetahui fakta yang berusaha ia sembunyikan. Karena itu, Ify mungkin tidak akan menerima kehadirannya dan tidak akan mengacuhkannya. Bahkan bisa saja gadis itu malah memaki-makinya habis-habisan karena merasa sudah dibohongi. Yang kedua, Ify ingin ia masuk dan menjelaskan semuanya, apa yang sudah terjadi sekarang. Tapi, ia tidak yakin akan kemungkinan kedua ini. Yang ia tahu, saat ini Ify begitu kecewa padanya.
Rio mendesah pelan sambil memijit-mijit keningnya yang terasa merenyut-renyut. Ia menyandarkan lengan dan kepalanya pada dinding sambil memandang nanar pintu kamarnya. Ia menyentuh permukaan benda tersebut dan mengusapnya pelan. Seolah-olah sekarang ia sedang mengusap kepala dan punggung Ify.

“Jangan marah sama gue ya, Fy.”

***

Haaaaaaaaaiiiii! *cling*ceritanyangilang*

Matchmaking Part 29 (Siviel)

Siviel

I don’t wanna be the other girl, the one who never the only one the world, your mistress, your mattress, your selfish, your secret.

***

Via berjalan sendiri melewati koridor rumah sakit menuju kamar mamanya dirawat. Ia berbelok ketika sampai di penghujung. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti manakala melihat sesosok laki-laki cukup tinggi berjas hitam yang tengah berjalan tidak begitu jauh di depannya. Matanya sangat tidak asing akan laki-laki tersebut. Laki-laki yang ia pergoki beberapa hari lalu sedang hendak makan siang bersama perempuan lain yang tidak ia kenal. Laki-laki yang begitu melarangnya berdekatan dengan Gabriel. Siapa lagi kalau bukan Papanya.
Perlahan, kaki Via mulai melangkah kembali namun dengan lebih hati-hati. Ia ingin mencari tahu apa yang sedang papanya lakukan disini. Apa papanya ingin menjenguk mama? Atau ingin bertemu selingkuhannya lagi? Apa wanita yang kemarin itu keracunan atau terkena serangan jantung setelah mendengar ucapannya sehingga harus dilarikan ke rumah sakit? Amin deh kalo iya. Batinnya seraya tersenyum sinis.
Via lumayan kaget mengetahui papanya masuk ke dalam kamar inap mamanya. Itu artinya, papanya kemari bukan untuk bertemu selingkuhan, tapi benar-benar ingin menjenguk mamanya. Ia tanpa sadar menghela napas. Setelah pintu di tutup, Via berjalan cepat menyusul tapi tidak ikut masuk. Ia membuka pintu dengan sangat-sangat pelan agar tidak ada yang menyadari keberadaannya. Ia ingin tahu, apa yang orangtuanya bicarakan di dalam sana.

***

“Gimana kondisi kamu?” tanya Riza, papa Via. Nada suaranya datar sekali. Hampir tidak tertangkat sirat-sirat kepedulian di dalamnya. Hanya terdengar seperti basa-basi. Bahkan untuk sekedar basa-basi pun masih harus diuji kebenarannya.
Fira menghela napas lalu menoleh ke arah suaminya itu. “Apa ada masalah di rumah makanya mas sampe mau datang ke sini?”
Riza diam sesaat lalu menjawab dengan kembali bertanya. “Kapan kamu bisa keluar dari rumah sakit?”
“Mas gak perlu nanya hal yang mas gak pengen tau. Langsung aja bilang sama aku, apa yang ngebuat mas dateng ke sini?”
Riza diam lagi lalu mengalihkan pandangan seraya mendesah pelan. “Via udah ketemu sama Merry, dua hari yang lalu, di kantorku.”
Wajah Fira seketika menegang kaget dan panik. Ia tidak sanggup berkata apapun. Seperti ada yang baru saja memaku lidah dan mengunci bibirnya dengan sangat kuat. Riza lantas melanjutkan berbicara. “Kalian berdua ini...ck. Sejak dulu aku selalu bilang sama Via agar jangan pernah datang ke kantor. Tapi, dia tetap datang dan malah bikin kekacauan. Dia juga maki-maki Merry dan bilang yang enggak-enggak soal aku. Sampai-sampai Merry gak mau kutemui seminggu ini. Kalau saat itu sabarku habis, aku pasti akan..”
“Jangan coba-coba nyentuh anakku, atau aku akan membalas dua kali lipat dengan Merry dan anak kamu.” Sela Fira dengan nada dingin tanpa menatap Riza. Riza menatapnya aneh sambil menaikkan alis lalu mendesah. Keduanya sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing.
“Kamu yang menciptakan lembah kesakitan kamu sendiri. Jangan pernah menyalahkanku atas semua yang sudah terjadi. Kalau saja dulu—”
“Jika gak ada lagi hal penting yang mau kamu sampaikan, kamu bisa pergi. Aku perlu istirahat.” Fira kembali menyela. Riza sekali lagi mendesah lalu memasang tampang datarnya seperti biasa. Ia berbalik dan memutuskan pergi tanpa mengucapkan apapun. Karena memang begitulah yang biasanya ia lakukan ketika hanya ada mereka berdua. Tapi tiba-tiba ia teringat satu hal lagi yang belum ia sampaikan. Ia berhenti sebentar tanpa berbalik badan.
“Via udah dua hari gak pulang. Aku gatau dia dimana, hapenya gak aktif.”
***
Via berdiri terpekur memandang pintu kamar rumah sakit di hadapannya. Kamar yang di tempati mamanya hingga sembuh nanti. Rasanya ia ingin menangis tapi entah kenapa air mata itu tak kunjung menangis. Hanya dadanya saja yang sesak menahan segala perasaan yang berkecamuk di dalamnya. Baru dua hari lalu ia mengetahui papanya berselingkuh lalu sekarang ia kembali mendengar sesuatu yang mungkin coba disembunyikan oleh papa bahkan mamanya.
Jadi nama selingkuhan papa itu Merry? Dan mama udah tau? Kenapa mama gak pernah bilang apa-apa? Kenapa mama gak ngelakuin apa-apa? Terus, maksud mama bilang ‘merry dan anak kamu’ itu apa? Apa ‘anak kamu’ itu gue? Tapi, gak mungkin. Di awal mama juga nyebut ‘anakku’. Apa jangan-jangan itu anak papa sama si merry-merry itu? Ck..sebenernya ‘anakku’ dan ‘anak kamu’ itu siapa, sih?
Tuk..tuk..
Suara ketukan sepatu pada lantai sejenak merenggut Via dari lamunannya. Via terkesiap tahu Papanya berjalan mendekat ke arah pintu. Ia langsung berlari menjauh dan bersembunyi hingga raga papanya keluar dan pergi. Ia menatap lekat-lekat papanya hingga sosoknya menghilang di penghujung koridor. Ia lantas berjalan kembali ke depan pintu kamar inap mamanya dan berdiri bimbang. Pasti mamanya sekarang lelah sekali setelah bertemu papanya. Tidak ada gunanya kalau ia masuk. Mamanya pasti butuh istirahat yang banyak. Apalagi mamanya juga sedang sakit. Mana gue ga bawa apa-apa lagi. Besok aja kali ya gue jenguk mama? Pikirnya.
Via menggigit jarinya sambil menimang-nimang. Memikirkan ia pulang saja sekarang mendadak membuat hatinya tak tenang. Entah kenapa ia merasa mamanya membutuhkannya. Lagipula, saat mamanya stres begini, tidak mungkin ia meninggalkannya begitu saja, kan? Ia harusnya datang menenangkan bukan malah membiarkan mamanya seorang diri.
“Perasaan tiap gue dateng lo lagi bengooong mulu,”
Via yang agak merunduk menatap sepasang kaki berbalut jeans dan sepatu yang tiba-tiba sudah ada di sampingnya. Hingga kemudian ia berjengkit kaget mengetahui wajah orang tersebut mirip dengan Gabriel alias memang itu adalah Gabriel. Matanya menjadi lebih lebar meski tidak lebar-lebar benar.
“Lo?!” katanya dengan suara tertahan. Kenapa harus bertemu dengan pemuda ini sekarang, sih? Via mendesah frustasi sambil memalingkan wajah. “Ngapain lo kesini?”
Gabriel mengeryit lalu mengangkat bungkusan plastik di tangannya. “Mau jenguk mama lo. Sekalian pengen ketemu sama lo. Hehe.”
“Mau apa lo jenguk mama gue? Naksir lo?” balas Via judes.
“Naksir? Naksir..kalo sama lo sih iya.”
Via langsung menoleh ke arah Gabriel seraya mendelik lalu mendengus. Kenapa ni orang masih berani gombalin gue? Makin jadi malah. Jelas-jelas kemaren dia udah ketauan jalan berdua sama prissy. Atau jangan-jangan dia beneran gak ngeliat gue?
Via merasa tubuhnya tertarik maju. Ia baru sadar kalau Gabriel sudah menggandengnya dan membawanya masuk ke dalam kamar inap mamanya. Ia lantas menyentak tangannya hingga terlepas dari genggaman Gabriel dan menatap pemuda itu meminta penjelasan mengenai apa yang baru saja dilakukannya. Gabriel balas nyengir tanpa rasa takut ataupun bersalah. “Lo ngelamun mulu, sih. Yaudah, gue ajak masuk aja.”
“Via?” Via yang ingin membalas langsung mengatup mulutnya ketika mendengar suara Fira. Ia berjalan mendekati ranjang dan duduk di tepian sementara Gabriel berdiri sekitar satu meter di sampingnya.
“Mama apa kabar?” tanya Via sambil menepuk-nepuk kaki Fira yang terbungkus selimut. Bukannya menjawab, Fira malah menatapnya khawatir. “Papa bilang kamu udah gak pulang dua hari. Hape kamu juga mati pas coba di telfon. Kamu kemana aja, Via? Kamu gak pergi ke tempat yang ‘macem-macem’ kan? Atau jangan-jangan kamu diculik?!”
Via sontak tertawa geli melihat Fira yang panik setengah mati. “Via nginep di rumah Ify kok, Ma. Gak kemana-mana.”
Fira mendesah lega  mendengar jawabannya lalu kemudian mengelus-ngelus kepalanya dengan lembut. “Kamu tuh, bikin mama khawatir aja. Mama gak tenang mikirin kamu terus tau!”
“Yee..siapa suruh mikirin Via? Orang Via gak kenapa-kenapa.” cibir Via lalu tersenyum.
“Ini Gabriel yang pernah dateng ke rumah itu, kan?” alih Fira seraya memandang Gabriel. Gabriel tersenyum sambil menganggukkan kepala.
“Iya, Ma.”
“Iya, Tan.” Jawab Gabriel dan Via bersamaan. Keduanya, atau mungkin ketiganya sontak berpandangan. Via mendelik sementara Gabriel mengerutkan kening bingung.
“Kalian udah pacaran ya?” tanya Fira polos.
“Enggak, kok!” ujar Via dan Gabriel kembali. Fira lantas tertawa geli. “Belum aja sih sebenernya, Tan. Tapi Tante ngerestuin, kan?” Sambung Gabriel yang sukses membuat Via gondok. Apa-apaan berkata seperti itu di depan mamanya? Pikirnya.
“Dia tuh orang gila, Ma. Dia gak lagi nanya mama kok. Dia emang suka ngomong sendiri. Jangan diladenin.” Dumel Via asal sambil mengibas tangannya di depan wajahnya.
“Iel orangnya penyabar kok, Tan. Tenang aja.” balas Gabriel dengan santai. Via langsung melakukan gerakan seperti orang yang ingin muntah.
Fira tertawa lagi sambil geleng-geleng kepala. “Tante ngerestuin, kok. Asal kamu bisa jaga anak Tante aja.”
“Apaan, sih, Ma?! Lo juga!” sela Via galak. Ia kemudian turun dari ranjang dan duduk di kursi. “Nah! Sekarang waktunya mama tidur!”
“Tapi mama kan gak ngantuk, Vi?”
“Mama tuh lagi butuh banyak istirahat. Daripada ngomongnya makin ngaco gara-gara dia. Via nyanyiin lagu boyband jadul kesukaan mama, deh. Haha. Udah lama juga Via gak nyanyiin mama, kan? Terakhir kapan ya?”
Fira tersenyum hangat pada Via sambil mengelus kepalanya untuk terakhir kali sebelum ia menutup matanya untuk tidur sesuai permintaan anaknya itu. “Yaudah, mama tidur nih ya?”
“Nah, gitu dong!” seru Via semangat. Ia menarik napas lalu mulai bernyanyi sambil menggenggam tangan Fira dan tersenyum memandang wajah cantik yang belum termakan usia milik mamanya itu.

Hello, let me know if you hear me
Hello, if you want to be near
Let me now and I’ll never let you go
Hey love, when you ask what I feel I say love
When you ask how i know I say trust
And if that’s not enough
It’s every little thing you do
That makes me fall in love with you
There isn’t a way that I can show you
Ever since I’ve come to know you
It’s every little thing you say
That makes me wanna feel this way
There’s not a thing that I can point to
‘Cause it’s every little thing you do

(Westlife – Every Little Thing You Do) *miminnya jadul abissss! Tadinya mau masukin lagu ost zorro malah huahaha.-. Meski emang cocok kan kalo ceritanya lagu paporit emak2(?) Tapi dua lagu itu enak bgt suer deh. Liriknya itu looooh-.-*

***

Via berdiri diam sambil menunggu Gabriel menutup pintu lalu menatap pemuda itu. Gabriel ikut-ikutan diam menunggunya bicara. “Ngapain lo kesini?”
“Tadi kan udah gue bilang mau jenguk mama lo sama ketemu sama lo.”
“Buat apa ketemu sama gue?”
“Kangen.” Jawab Gabriel sambil tersenyum polos. Via melongo dengan mulut menganga. Ia terkesiap lalu segera mengatup mulutnya. “Lo serius sekali aja bisa gak?” serahnya seraya geleng-geleng kepala.
Gabriel tiba-tiba mendekatkan wajahnya sehingga Via harus berjengit mundur. “Emang mata gue gak bilang sama lo kalo gue serius?”
Via mengernyit lalu mendorong tubuh Gabriel menjauh darinya dengan kesal. “Ya mana gue tau. Mata kan buat ngeliat bukan buat ngomong.”
Gabriel mengelus-ngelus dagunya dengan telunjuk dengan tampang berpikir. “Tapi katanya ‘mata bisa bicara’? Berarti itu bohong ya?”
Via melongo sekali lagi lalu mencibir tak habis pikir. “Gak penting banget sih lo.” Ia hendak melengos pergi tapi kemudian Gabriel menahan tangannya. Ia lantas menyentak tangannya ia terlepas dari genggaman pemuda itu lalu menatapnya sebal. “Gak usah pake pegang-pegang.” Ujarnya tanpa menatap Gabriel.
Gabriel mengernyit heran kenapa Via seperti bersikap memusuhinya. “Lo kenapa, sih? Lagi dapet ya?”
Via diam berpikir. Masa harus gue bilang ‘gue kesel karena lo jalan berduaan sama Pricilla!’? Dia pasti nyangkanya gue cemburu. Padahal kan...iya. Aiss!!
“Kan, lo bengong lagi kan? Lo kenapa, Vi? Sakit? Gak enak badan?” tanya Gabriel yang sedikit cemas sambil meraba kening Via. Via berjengit lalu menangkis tangan Gabriel dari keningnya.
“Gak usah pegang-pegang kan gue bilang tadi?” ulang Via. Ia mendengus pelan lalu menatap Gabriel serius. Gabriel pun menatapnya sama seriusnya, lebih ke mencari tahu sesuatu dalam matanya, mencari tahu apa yang terjadi padanya dan apa yang sedang ia rasakan saat ini. Via lantas memalingkan wajahnya takut. Pikiran dan perasaannya begitu kacau karena perdebatan orangtuanya. Dan ia tidak ingin Gabriel semakin mengacaukan hari ini untuknya. Ia lantas mendesah lelah lalu menunduk sambil menulis-nulis di lantai dengan satu kakinya mencari kegiatan agar ia tidak terlihat begitu gugup.
“Ini hari terakhir kita berdua kek gini..”
Gabriel diam sesaat lalu bertanya tak mengerti. “Maksud lo?”
Kaki Via berhenti lalu kembali bergerak ke kanan kiri. “Gue rasa kita ga perlu deh ketemu berdua lagi, ngobrol atau apapun yang dilakuin cuma berdua. Lo pasti ngerti maksud gue, kan? Jadi, kalo ada yang pengen lo omongin, omongin sekarang. Ada yang belum lo selesein, selesein sekarang. Gue juga berhenti jadi pacar pura-pura lo karena lo udah gabutuh itu lagi, iya kan? Dan mulai besok serta seterusnya, gue gak mau ada kontak apapun lagi antara kita berdua kalo emang ga dibutuhkan.” Via tanpa sadar menghela napas setelah selesai berbicara.
Rasanya sangat tidak rela membuat jarak antara dirinya dan Gabriel. Apalagi akhir-akhir ini sikap Gabriel mulai berubah padanya. Gabriel juga sudah menjadi orang yang benar-benar ia butuhkan di tengah permasalahannya dengan mama apalagi papanya. Tapi, memang ia harus melakukan apa yang ia lakukan saat ini. Melihat Gabriel dan Pricilla kemarin sudah sangat menjelaskan padanya kalau Gabriel tidak benar-benar berubah. Gabriel tetaplah Gabriel. Playboy, perayu ulung, tidak pernah serius, dan hanya memikirkan kesenangannya sendiri. Dan ia tidak ingin menjadi bagian ‘kesenangan’ pemuda itu selagi perasaannya juga belum tumbuh-tumbuh benar.
Atau mungkin semua ini hanyalah kesalahannya. Kesalahannya menganggap semua perlakuan Gabriel itu berlebihan. Jelas-jelas Gabriel bilang kemarin kalau pemuda itu menganggapnya sebagai adiknya, kan? Ya, berarti memang salahnya. Bukan Gabriel.
“Alasannya?” tanya Gabriel setelah cukup lama diam dan membiarkan Via termenung memikirkannya. Via terkesiap kebingungan. Ini adalah pertanyaan yang paling ia benci karena ia tidak tahu harus menjawab apa.
“Ya..hh..” Via mendesah frustasi. Apa ia bilang yang sejujurnya saja? Lagipula, setelah ini mereka kan tidak akan ‘bertemu’ dan berbicara seperti ini lagi. “Ga masalah kalo lo bakal ngetawain gue atau nganggep gue gimana. Tapi..”
Gabriel menatapnya lekat menanti kelanjutan bicaranya. Via lantas meringis. “Gue takut jatuh cinta sama lo. Gue...” gantungnya sambil menarik napas. Sementara Gabriel diam dengan pandangan menerka-nerka.
“Gue lagi banyak masalah akhir-akhir ini..it’s a bad big problem, you know? Dan gue gak mau..nambah masalah dengan perasaan gue nantinya sama lo. Biar gimanapun gue ini tetep cewek, Yel. Yang pastilah akan ngerasa tersanjung kalo lo terus-terusan baik dan ehm..perhatian sama gue. Meskipun lo udah bilang kalo elo cuma nganggep gue kayak adek lo sendiri. Gue tetep takut kalo sampe menyalah-artikan itu semua. Gue juga gamau bikin gak nyaman baik itu untuk lo ataupun gue sendiri. Gue gamau stres mikirin perasaan yang bertepuk sebelah tangan. Udah terlalu banyak hal yang bikin gue stres dan....OMG, I’m just sixteen! Gue....gue gak mau gila, Yel! Gue gak mau gila! Hhh...” Via mendengus sambil memijat-mijat keningnya dengan satu tangan yang lagi memegang pinggangnya. Jangan-jangan ia bahkan sudah gila sekarang, ckck.
“Kalo gue bilang gue bisa bales perasaan lo, gimana?” tanya Gabriel tersenyum sambil menaikkan sebelah alisnya. Via meliriknya dengan pandangan ‘Pilih cobek atau blender?’.
“Gue bahkan baru ngeluh soal lo yang gak pernah serius, Yel. Ckck...seharusnya gue langsung pulang aja daritadi.” Balasnya seraya geleng-geleng kepala. Ia hendak melengos lagi namun Gabriel kembali menahannya dengan menghalau jalannya tanpa menyentuhnya. Yah, setidaknya pemuda itu mendengarkan ucapannya yang satu itu.
“Yang kemaren di lift itu lo ya? Lo kayak gini karena itu, kan?” tanya Gabriel yang kembali memandangnya serius.
“Iya...enggak..hah tuh kan, gue udah mulai ngaco..” ringis Via sambil menutup mukanya lalu mengusap kepalanya.
Gabriel menghela napas lalu kemudian memegang bahu Via. Via mendelik protes tapi ia seperti tidak peduli. Matanya mendesak Via untuk diam dan mendengarkannya saja dengan baik. “Jadi gini ya Vi, gue mohon lo jangan salah paham soal gue dan Pricilla. Gue cuma lagi punya urusan yang penting banget sama dia. Gue gak bisa cerita sekarang karena gue belum punya apa-apa buat diceritain. Gue juga yakin lo pun belum siap dengernya sekarang, apalagi ceritanya belum lengkap. Nanti kalo semuanya udah kebuka, gue pasti bakal bilang sejujurnya, selengkap-lengkapnya tanpa disingkat-singkat. Tapi percaya deh, nantinya lo bakal seneng.”
Tapi gue juga gatau Vi lo bakal seneng atau enggak. Tapi setidaknya...lo bakal tau apa yang sebenarnya terjadi.
“Kok gue?” tanya Via bingung. Gabriel diam lalu tersenyum miris. “Karena emang yang gue lakuin berkaitan sama lo.”

***

Setelah tiba-tiba muncul di depan rumah Ify untuk mengajaknya berangkat sekolah bersama, Gabriel juga menawarkan diri untuk mengantarkan Via pulang. Meski sudah mencoba menolak dengan alasan ingin menemani mamanya di rumah sakit, Gabriel tetap memaksa malah bilang ingin ikut menemani mamanya. Jadi mau tak mau Via pun akhirnya mengiyakan permintaan pemuda itu.
Tapi masalahnya sekarang, Gabriel bukan langsung mengantarnya pulang malah mengajaknya ke pantai. Katanya ia butuh refreshing makanya dibawanya kemari. Iya, sih, tapi bisa tidak jangan dengan pakaian seragam sekolah lengkap dengan kaos kaki dan sepatu seperti ini juga. Tahu tidak kalau di pantai itu panas. Kakinya bisa matang karena dibungkus dan dipanggang oleh sinar matahari.
“Ah, dimasukin pasir kan?!” pekik Via sambil memandang sepatu dan pasir yang diinjaknnya dengan kesal. Gabriel yang melihatnya hanya tertawa geli. Ia lalu berjongkok di depan Via sambil memegang sepatu gadis itu lalu menatapnya.
“Angkat!” katanya sambil menepuk kaki kanan Via. Via mengernyit bingung tapi tetap melakukan apa yang pemuda itu perintahkan. Gabriel lantas membuka sepatu Via berikut kaos kakinya setelah menggoyang-goyangkan sepatu tersebut agar pasirnya keluar. Via membelalak tak percaya tapi kemudian meringis sambil menggigit bibirnya. “Kaos kaki gue kan jorok, Yel. Bau lagi!”
Namun sepertinya, Gabriel tidak mendengarnya malah menyuruhnya diam. Pemuda itu juga memasukkan kaos kakinya ke dalam sepatunya tanpa ada tampang jijik sedikitpun. Tidak hanya satu, tapi juga untuk yang satunya lagi. Gabriel kemudian berdiri sambil menenteng kedua sepatunya.
“Kalo kek gini sepatu lo gabakal dimasukin pasir lagi. Nah, lo tunggu disini, gue mau narok ini di situ dulu. Sekalian sepatu gue juga.” Ujarnya sambil menunjuk pohon kelapa yang ada beberapa meter di belakang mereka. Tanpa menunggu Via menjawab bahkan sekedar mengangguk, Gabriel langsung pergi begitu saja menaruh sepatu. Via lantas tersenyum tanpa bisa ditahan lalu geleng-geleng kepala. Ia lantas memilih duduk sambil memandang lautan berombak di hadapannya tanpa peduli seragamnya akan kotor.
Gabriel tak lama kembali dan ikut duduk di sampingnya sambil menekuk dan memeluk lutut. Via tiba-tiba menengadahkan tangan ke arahnya. “Sini tangan lo!” pinta gadis itu tanpa memandang ke arahnya. Ia mengernyit bingung. Via lantas menoleh ke arahnya lalu meraih tangannya tanpa meminta izin lagi. Sesaat gadis itu mendekatkan tangannya ke wajahnya lalu mengendus-ngendus. Tapi kemudian Via berjengit dengan tampang jijik.
“Tuh, kan, kaos kaki gue bau.” Gumamnya. Via lalu mengelap telapak tangan Gabriel menggunakan sisi roknya yang terjuntai. Kebetulan ia memakai rok panjang. “Hah, hah!” Via menghembus uap mulutnya ke telapak Gabriel layaknya telapak tangan tersebut adalah kacamata lalu mengelapnya lagi. Gabriel untuk kedua kalinya tertawa.
“Napas lo emangnya gak bau?” tanyanya seraya tersenyum geli. Via berjengit seolah baru sadar. Ia lantas mengecek aroma napasnya lalu tersenyum ke arah Gabriel. “Enggak, kok.” Katanya lalu mengembalikan tangan Gabriel ke posisi semula setelah selesai dilap. Ia kemudian mendesah sambil memandang laut kembali. Gabriel meluruskan kakinya lalu menumpu tubuh dengan tangannya.
“Yel, orang yang dingin sama orang terdekatnya, misalnya keluarganya gitu, itu kenapa sih? Apa karena efek introver seseorang itu?”
“Gue gak terlalu tau juga. Tapi, menurut gue sih, antara bersikap dingin sama introver itu beda. Orang yang bersikap dingin biasanya punya semacam traumatik yang akhirnya ngebuat dia jadi dingin. Kalo introver itu gue rasa emang sifat alami orang. Bukan disebabkan ini itu, tapi emang dia nyamannya kayak gitu. Sama kayak selera. Cewek suka musik lembut sementara cowok suka musik keras. Gaada hal pasti yang bikin kita suka atau gak suka, tapi kita suka atau gak suka aja. Menurut pandangan gue loh ya!”
“Oh..gitu..” gumam Via sambil mengangguk-anggukkan kepala pelan. Gabriel lantas menoleh ke arahnya. “Is there something you want to share?” Gabriel menegakkan tubuhnya sambil menepuk-nepuk tangannya membersihkan dari pasir yang menempel lalu bersedekap.
“Lo pernah gak ngerasa pengen benci seseorang tapi gak bisa? Tapi pengen suka juga gak bisa?”
“Belum, sih. Emangnya lo gak bisa benci dan gak bisa suka sama siapa?”
“Papa gue.” Sesaat Gabriel terdiam, sedikit kaget lalu kemudian menetralisir ekspresi di wajahnya menjadi normal kembali. “I’ve been wondering how the feeling of having a father, the real father.” Sambung Via.
“Maksudnya?”
“Bokap benci sama gue, kayaknya. Makanya dingin. Bayangin, senyum yang bener-bener senyum aja ga pernah.”
Gabriel mengepal tangannya mengalirkan emosi yang hendak muncul di wajahnya. Dari sela-sela tangannya keluar pasir-pasir yang tak sengaja tergenggam. Ia menghela napas singkat lalu menatap lurus ke depan. “Lo pernah tau atau nanya alasan bokap lo bisa sampe kayak gitu?”
“Nanya? Sama papa? Gak, gue gak pernah berani. Kalo sama mama sih sering. Tapi mama selalu nyuruh gue sabar dan ngerti kalo papa emang kayak gitu sifatnya. Tapi, gue rasa bukan. Ada hal lain yang disembunyiin dari gue. Apalagi gue sekarang udah tau kalo papa udah lama selingkuh dan mama sebelumnya udah tau tapi gak ngasih tau gue tapi juga gak berbuat apa-apa. Hfff...gue bingung sama mama, papa dan semuanya!” Via mengacak-acak rambutnya lalu menumpu keningnya di atas lutut.
Gabriel merasa makin emosi sekaligus kasihan melihat Via seperti itu. dalam hatinya ingin sekali ia berteriak memberitahu semuanya pada Via. Tapi ia sadar sekarang bukanlah saat yang tepat.
Sabar ya, Vi. Kalo udah waktunya nanti gue bakal bilang semuanya sama lo dan semoga lo bakal lega.
“Mungkin mama lo gamau nyakitin elo dan gamau nyakitin dirinya sendiri makanya dia ga ngasih tau lo. Saran gue, lo jangan pernah nanya. Lo harus sabar nunggu dan ngerti sampe dia siap ngomong. Karena ngomong masalah penghianatan itu bukan hal gampang, Vi. Tau aja pasti udah sakit banget, apalagi ngomonginnya. Lo boleh brengsek, asal lo belum jadi laki orang. Kita menikah tandanya kita udah bener-bener memilih seseorang yang akan mendampingi kita seumur hidup dan gaboleh ada yang lain lagi. Kita berjanji di depan Tuhan. Karena itu, Tuhan juga bakal marah kalo kita ngejalaninnya asal-asalan. Termasuk mengisinya dengan perselingkuhan. Menurut gue, sih.” *jadikanakuistrimuyel(?????)*
Via menyimak baik-baik sambil menatap Gabriel tanpa berkedip. Aura Gabriel terlihat begitu tenang ketika berbicara, begitu dewasa, dan begitu bijaksana. Tetap terasa serius meskipun Gabriel berbicara dengan santai. Via lantas mendecak kagum sekaligus bingung di dalam hati.
“Jadi sekarang...lo brengsek dong, Yel?” tanyanya polos. Gabriel melongo takjub memandangnya. “Sepanjang itu gue ngomong lo cuma merhatiin yang itu, Vi?”
Via tertawa lalu mendadak terdiam. Ia menarik napas lalu menghembusnya pelan. “Lo jangan bikin gue benci laki-laki ya, Yel?” pintanya sambil menunduk dan menulis-nulis di atas pasir. Gabriel mengernyit tak mengerti. “Maksudnya?”
“Dengan lo yang kekeuh deket-deket sama gue, tandanya lo udah siap nerima dan ngebales perasaan gue kalo sampe gue jatuh cinta sama lo. Tapi, kalo kemaren itu lo cuma khilaf, yaudah gue ulang sekali lagi sama lo. Kalo lo ga siap, lo boleh tinggalin gue sekarang dan jangan pernah nolehin kepala lo lagi ke gue. Tapi, kalo lo tetep ga berubah pikiran, jangan nyesel. Dan inget ya, gue gak nerima penolakan.” Via menatap Gabriel sekilas lalu menatap pasir di dekat kakinya.
Gabriel tersenyum seraya terkekeh kecil. “Pertanyaan lo dari dulu itu mulu. Takut jatuh cinta sama gue mulu. Jangan-jangan lo udah jatuh cinta ya sama gue?” todong Gabriel seraya mendekatkan wajahnya ke samping wajah Via yang menunduk. Via hanya mendengus malas. Meski dalam hati ia menjawab dengan lantang. Daridulu kali, Yel! Modus doang gue mah hahaha!
“Serah lo, deh.”
Gabriel lalu mengacak-acak rambut Via pelan masih dengan senyum menawannya. “Tenang aja kali, Vi. Gue jamin lo gak akan pernah nangis karena gue. I’ll make you happy!”
Tangan Via berhenti sesaat. Ia mengernyit memikirkan kata-kata Gabriel itu. Itu maksudnya apa ya?

***

Via memandang isi di dalam rumah yang baru dimasukinya. Sebuah rumah bergaya jepang yang merupakan rumah kedua orangtua ibunya alias nenek dan kakeknya dulu, tapi sudah lama tidak ditempati meski tetap terawat dan sekarang akan ditempati olehnya dan mamanya, dan mungkin juga papanya. Ia berdiri bingung di depan pintu masih bertanya-tanya alasan kenapa mereka harus pindah kemari. Rumah mereka kan tidak terkena banjir ataupun gempa. Masih sangat-sangat bagus dan layak huni. Kenapa harus pindah?
Tiba-tiba ia merasakan sentuhan pada bahunya. Ia sontak menoleh dan mendapati Fira tengah tersenyum kepadanya. Wanita itu sehabis keluar dari rumah sakit keesokan harinya langsung membawanya kemari. Ia lantas mendengus sebal. “Senyum mama itu gak menjawab pertanyaan Via soal kenapa kita pindah kesini.”
Fira tertawa kecil lalu mengajak Via duduk di sofa. Via yang meski enggan namun pada akhirnya menurut. Mereka lantas duduk berhadapan satu sama lain.
“Jadi?” tanya Via sudah tidak sabar. Fira menarik napas singkat lalu menghembusnya cepat. “Kebetulan mama ada kerjaan di daerah sini. Jadi biar mama ga ribet bolak-balik, apalagi mama belum fit banget, makanya untuk sementara kita pindah ke sini. Kenapa mama ajak kamu? Karena mama ga tega tinggal di sini sendiri dan ninggalin kamu di sana sendiri juga. Mungkin kita di sini bakal lama. Papa gabisa ikut alasannya sama kayak mama. Dia di sana juga punya kerjaan. Tapi, seminggu sekali papa bakal nginep di sini.”
Mendengar kata ‘papa’ meluncur dari mulut Fira lantas membuat Via jengkel sendiri. Ia spontan menyeletuk. “Papa ada atau enggak juga gak ada bedanya.”
Fira sesaat tertegun tapi kemudian berusaha bersikap normal dan pura-pura tidak mendengar jelas apa yang baru saja anaknya itu katakan. “Kamu ngomong apa?”
Via terkesiap lalu cepat-cepat menggelengkan kepala. “Enggak, gak ada.” Elaknya. Setelah itu, mereka sama-sama diam. Entah berapa lama kemudian Via akhirnya buka suara kembali.
“Ma?” Fira memandangnya bingung sambil bertanya. “Kenapa, Sayang?”
Via mengulum bibir seraya menimang-nimang lalu kemudian memutuskan balik bertanya. “Apa selama ini ada yang mama atau papa atau mama-papa sembunyiin dari Via?”
Sekali lagi Fira tampak tertegun. Ia langsung memalingkan pandangan dan berubah menjadi agak gugup. “Kenapa kamu tiba-tiba nanya gitu? Ya jelas ga ada lah, Sayang. Emang keliatannya kayak ada yang disembunyiin?”
Via menatap Fira curiga. Ia ingin bertanya kenapa mamanya tidak juga memberitahu soal selingkuhan papanya. Tapi tiba-tiba, wajah dan ucapan Gabriel kemarin terngiang-ngiang di kepalanya. Membuatnya menjadi tidak tega untuk melanjutkan bertanya. Ia mendesah pelan sambil memandang Fira lama dan dibalas tatapan bingung atau mungkin was-was dari Fira padanya. Ia berdiri lalu berjalan hingga sampai dan duduk tepat di sebelah wanita itu. Ia lantas memeluk Fira erat.
“Kamu kenapa, Sayang? Ada masalah di sekolah? Nilai kamu turun? Ga usah khawatir, Via. Mama ga akan pernah marah soal itu.” ujar Fira dengan nada cemas sekali. Via menggeleng pelan di dalam lekukan leher dan bahunya.
“Ma...kita kayaknya udah sama-sama lupa deh...kalo kita masing-masing saling punya, mama punya aku, aku punya mama...” Ujar Via lembut seraya menutup mata. Jantung Fira mencelos dan hatinya nyilu mendengar apa yang barusan Via ucapkan. Dadanya terasa sesak dan ia mungkin sudah hampir tidak akan sanggup menahan air matanya agar tidak keluar sedikit apalagi banyak.
“Bagi sakitnya sama Via, Ma. Via mau kok. Gak cuma sakit, apapun yang kerasa di hati mama bagi semuanya sama Via. Kita udah telalu lama nutup mata, telinga, hati..semuanya. Berpura-pura ga tau apa yang terjadi padahal kita tau. Via udah capek Ma nyimpen semuanya sendiri. Dan Via tau kalo mama juga udah capek, kan? Toh masalahnya sama, kenapa ga kita coba atasin sama-sama.”
Lidah Fira terasa kelu. Hatinya semakin terasa disayat-sayat. Mungkin ini memang puncak kesabaran mereka berdua dan mereka sudah benar-benar sampai di titik paling akhir, yaitu titik lelah. Dan mereka harus mulai beranjak pergi jika mereka tidak ingin terus-terusan lelah hingga mati. Sudah saatnya mereka berpaling dan pergi meninggalkan hal-hal yang hanya akan membuat mereka makin sakit. Mencapai puncak lain, yakni kedamaian. Tidak perlu terburu-buru mencari bahagia. Bahagia itu masih muluk-muluk. Cukup damai saja. Seperti saat ini ketika mereka sedang mencoba berdamai dengan sikap masing-masing.
“Iya, Sayang. Makasih banyak ya. Mama sayang Via.” Balas Fira setelah cukup lama diam. Pipinya sudah lebih dulu kebanjiran tanpa bisa dibendung lagi. Dinding penghalang sudah benar-benar runtuh berikut dinding penahan perasaannya. Via meregangkan sedikit jarak antara dirinya dan Fira. Ia tersenyum geli.
“Mama cengengnya dari dulu gak pernah berubah. Langsung banjiiirrr...” ledeknya tanpa sadar diri kalau ia juga menitikkan air mata. Meski memang tidak sebanyak Fira.
Fira tersenyum kecut sambil memandang Via. “Mama gak tau apa jadinya kalo gaada kamu, Sayang.” Katanya seraya menangis lagi. Via mengusap kedua pipinya dari rembesan air mata lalu menciumnya kilat.
“Udah, ah! Liat tuh, kantong mata mama udah item-item karena celaknya keusep trus kena air mata!” Saat itu juga Fira terlonjak dan kembali menjadi ‘dirinya’ yang biasanya. Wanita itu terkesiap panik dan langsung mengambil kaca untuk memeriksa mukanya. Lalu kemudian, ia mengomel panik.
Melihat itu, Via lantas hanya geleng-geleng kepala heran. Selain cengeng, kebiasaan mamanya yang lain adalah paling heboh kalau make upnya berantakan. Bukan karena Fira tipe wanita centil atau terlalu peduli pada penampilan, tapi justru karena Fira tidak pandai merias wajah. Butuh waktu lama kalau ia yang mengerjakan sendiri hingga selesai. Makanya, ia selalu menjaga agar riasannya awet. Akan repot sekali kalau make upnya berantakan. Apalagi kalau dia harus bertemu banyak tamu penting. Dan itulah yang kini terjadi.
Via lagi-lagi tersenyum geli. Mungkin sedikit banyak, ia mirip dengan mamanya. Dan ia sangat mensyukuri hal itu. I love her.
***
Jadwal Gabriel hari ini adalah jadwal yang sangat ia benci. Dimana ia harus menghabiskan waktu bersama keluarga Pricilla, gadis yang menjabat entah sebagai siapanya itu. Mungkin bisa dibilang pacar pura-pura. Pricilla pasti merasa di atas angin karena dirinya yang beberapa hari lalu mengajak gadis itu untuk memulai hubungan kembali. Kalau saja bukan untuk Via, ia tidak akan mau mengemisi gadis sombong dan pendusta seperti Pricilla. Ya, memang sama persis lah seperti papanya.
Dan di sinilah ia sekarang. Terjebak di tengah-tengah Pricilla dan kedua orangtuanya. Ia makan dalam diam sambil sesekali memandangi keluarga tersebut dengan beribu-ribu rasa dongkol di dalam hati. Rasanya ia ingin meninju wajah tak tahu malu dari laki-laki yang duduk persis di depannya. Wajah Papa Pricilla..wajah Riza..wajah Papa Via.
Melihat Pricilla yang begitu bahagia bisa bermanja-manja dengan sang Papa tanpa tersirat sedikitpun bekas kesedihan dalam binar matanya, lalu melihat Riza dengan tatapan begitu mencintai dua sosok perempuan di kanan dan kirinya, semakin membuat hatinya panas. Mungkin kalau ada yang memanggang daging di atas dadanya maka daging itu akan langsung gosong. Bagaimana mungkin Riza bisa bersikap dingin pada Via sementara ia begitu hangat pada Pricilla? Bagaimana mungkin Riza bisa lebih menyayangi selingkuhan daripada keluarga sah nya sendiri? Ia benar-benar tidak habis pikir mengapa sampai Tuhan mau menciptakan laki-laki seperti ini.
Inilah yang dulu membuatnya selalu tidak percaya cinta. Semua perselingkuhan membutakan hati dan pikirannya kalau cinta sejati itu cuma salah satu kata-kata manis dalam puisi, novel ataupun karya tulis yang lain. Cuma sekedar hiburan dalam film. Karena memang menahan godaan itu teramat susah. Apalagi dengan fakta jumlah perempuan melebihi laki-laki. Semakin menanamkan prinsipnya itu dalam-dalam.
Tapi kemudian, seseorang berhasil menemukan kunci hatinya kembali dan akhirnya mampu membuatnya bisa percaya pada cinta lagi. Seorang gadis yang memotivasinya agar tidak ikut menjadi orang seperti Riza dan berubah menjadi laki-laki yang baik untuk bisa membuatnya bahagia. Perselingkuhan yang dilakukan Riza pun justru ikut melunturkan ketidakpercayaan dalam hatinya. Derita tertahan oleh wanita-wanita akibat perbuatan itu membuatnya terenyuh. Sekali lagi memotivasi dirinya agar tidak ikut menjadikannya sama dengan para ‘Shitty Man’ kalau ia menyebutnya.
“Kamu kok diem aja, Yel?” suara Merry tiba-tiba merasuki jaringan dalam kepala dan telinganya. Gabriel berjengit lalu berusaha bersikap sebiasa mungkin. “Gakpapa, Tante.” Jawabnya seraya memaksakan senyum.
“Pa, aku ditunangin sama Gabriel nya kapan, sih?” celetuk Pricilla.
Uhuk!
Gabriel menyedot minumannya sekali banyak. Pricilla benar-benar mengambil kesempatan. Baru saja balikan beberapa hari langsung menanyakan perihal pertunangan. Jangan sampai Riza membicarakan ini pada kedua orangtuanya apalagi Mamanya.
“Kalian kan masih sekolah, Sayang.” Jawab Riza. Gabriel langsung mencibir dalam hati. Cih! Lo bahkan ga pernah nyebut nama Via kalo lagi ngomong sama dia.
“Gapapa, dong. Kan cuma tunangan bukan lamaran. Untuk ngiket kita berdua aja biar ga ‘macem-macem’ di luar sana.” Balas Pricilla dengan nada menyindir. Gabriel diam-diam melengos.
“Ehm..ya, Om Riza bener, kita kan masih sekolah. Buat apa tunangan-tunangan segala. Lagian, ikatan itu ga penting. Karena udah banyak kok contohnya, orang yang udah nikah aja masih suka selingkuh..” gantung Gabriel sambil melirik Riza sekilas. Air muka Riza langsung berubah sinis meski berusaha laki-laki itu tutupi. Sementara Merry mendadak gugup mendengar Gabriel berbicara soal ‘selingkuh’. Berbeda dengan Pricilla yang memasang tampang biasa-biasa saja karena tidak tahu menahu perihal kedua orangtuanya. Gabriel tersenyum menang lalu memandang Prissy dengan manis yang dibuat-buat. “Tapi, aku setia kok sama kamu.”
“Awas aja kalo kamu kayak kemaren lagi! Aku gak akan ngampunin kamu kayak gini lagi.” rengek Pricilla. Gabriel tersenyum lagi sambil menjawil ujung hidung Pricilla.
Gue gak akan pernah rela kalian semua bahagia setelah ngebuat Via dan tante Fira sakit sekian lama. Just wait and see until the party started, my babies!

***

Semenjak ke pantai kemarin itu, Via merasa Gabriel berubah. Dia tidak setengil dan seflamboyan biasanya. Dia menjadi lebih perhatian, kalau ia tidak kepedean. Apalagi semenjak ia pindah rumah, setiap hari Gabriel bahkan datang untuk mengantar-jemputnya ke sekolah, kecuali jika Riza menginap. Tak jarang juga ikut sarapan ataupun makan siang. Dalam satu minggu, pasti ada satu hari Gabriel meneleponnya. Tak lupa setiap ingin menjemputnya, pemuda itu selalu memberikan pesan singkat sekaligus mengucapkan selamat pagi untuknya. Bahkan pernah sekali waktu malam minggu, Gabriel mengajaknya nonton berdua. Dan waktu itu, Gabriel tidak pernah absen menggandeng tangannya.
Cara Gabriel memperlakukannya juga terasa berbeda. Caranya berbicara tidak seculas dulu, meski tidak bisa dibilang lembut juga. Dalam menanggapi pun Gabriel sekarang jauh lebih bijaksana, lebih mengademkan hati, lebih...pokoknya lebih gentle, deh. Meski tidak selalu kemana-mana berdua, Gabriel selalu menyempatkan waktu untuk bersamanya di sekolah. Gabriel tidak pernah lagi mengganggunya dan membuatnya merasa dijadikan olok-olokan atau mainan. Gabriel begitu menjaga perasaannya dan memperlakukannya benar-benar seperti cewek pada umumnya. Meski memang Gabriel masih kerab menjahilinya, tapi tetap terasa berbeda. Yang sekarang terasa lebih tulus. Ia bahkan merasa seperti ehm..kekasih pemuda itu sungguhan.
Dan untuk sekarang, ia tidak takut berandai-andai yang tinggi terhadap pemuda itu. Toh, pemuda itu sudah bersedia kan menerima sekaligus membalas semua perasaannya. Pemuda itu juga berjanji akan membuatnya bahagia.
“Udah lama ya gue gak ketemu Zaza,” gumam Gabriel yang langsung menghempas benak Via kembali ke buminya berpijak. Via mengernyit curiga. Kenapa Gabriel tiba-tiba saja membahas Zaza?
“Gue kangen deh sama dia,” gumam Gabriel lagi sambil memandang ke arah Via lalu memilih memperhatikan pondok lesehan mereka dan yang lainnya di sekitar mereka. Malam minggu kali ini ceritanya Gabriel mengajak Via makan malam.
Via merasa ada yang memalu jantungnya. Ia terkejut setengah mati mendengar kata ‘kangen’ dalam ucapan Gabriel. Jangan bilang kalau Gabriel selama ini masih menyukai sosok penyamarannya itu. Lalu, yang selama ini ia dan Gabriel lakukan artinya apa? Semua perlakuan pemuda itu?
“Terus?” tanyanya tertahan. Ia menggenggam gelas minumannya begitu kuat. Tidak peduli hawa dingin yang terasa dipinggiran gelas yang bisa mengebaskan tangannya.
“Menurut lo, kapan waktu yang pas buat gue nembak dia?” tanya Gabriel seolah tidak menyadari atau mungkin tidak peduli pada perubahan sikapnya. Saat itu juga Via rasanya ingin muntah. Mana tadi kebetulan ia makan banyak. Beruntung emosinya masih cukup bisa dikendalikan sehingga ia tidak akan bereaksi yang diluar dugaan, terlebih memalukan.
“Apa?” Via tidak dapat berpikir lagi bagaimana ia harus menanggapi ucapan Gabriel. Dapat keluar sepatah kata saja pun sudah sangat bersyukur. Kalau tadi ia kaget sudah setengah mati, sekarang ia harus menyebutnya apa ya? Gabriel bilang apa, mau nembak?
“Iya, soalnya Zaza ga juga percaya sama gue, apalagi sama perasaan gue. Ya kayak lo lah. Nah makanya sekarang gue mau minta petuah dari lo, gimana gue bisa dia buat percaya sama kayak lo bisa percaya sama gue.” Gabriel menepuk karpet yang mengalas lantai pondok dan merubah duduknya menghadap Via serta menatapnya penuh harap.
Via hanya bisa terdiam tak tahu harus bicara apalagi. Minta petuah katanya?!! Dasar...dasar...hhh..sampe dalam hati gue juga speechless? Luar biasa!
Via menarik napas panjang lalu menghembusnya pelan. Setidaknya sekarang ia tidak sampai gila seperti yang pernah ia perkirakan. Ia sudah tidak dipusingkan soal papanya ataupun selingkuhannya. Yang penting ia bisa tenang bersama Mamanya dan itu sudah cukup. Mamanya juga sudah berangsur pulih dan menjadi sangat terbuka kepadanya, begitu pula sebaliknya. Tadinya ia pikir masalah percintaannya juga akan selesai seperti masalah keluarganya. Tapi, rupanya soal itu semuanya masih sama saja. Tidak pernah ada kemajuan. Gabriel tidak pernah punya perasaan spesial untuknya, seperti yang ia peruntukkan bagi pemuda itu. Gabriel tetap hanya menyukai Zaza. Orang yang merubah Gabriel bukan dirinya, tapi Zaza.
Tapi...bagaimana ya kalau Gabriel tahu, Zaza itu tidak pernah ada? Maksudnya, Zaza itu hanyalah sosok penyamaran dirinya? Zaza itu dirinya? Zaza itu..gue? Apa lo bakal berubah jadi cinta sama gue? Atau lo malah kecewa kalau yang ada dibalik Zaza itu gue? Tapi yang gue tau, lo pasti sedih banget. Zaza kan cinta pertama lo, yang pertama yang bener-bener lo cinta maksudnya.
“Trus misalnya nanti Zaza nerima lo, gue gimana dong, Yel?” tanya Via dengan pandangan nanar, tak ingin bertatapan langsung dengan Gabriel. Ia mengetuk-ngetukkan telunjuk ke meja sebagai upaya menyabarkan dirinya. Heran, saat ini ia sangat ingin menangis. Tapi, kenapa matanya tidak panas-panas juga? Tapi bagus sih, jadi ia tidak akan terlihat merana-merana sekali.
Gabriel tampak terkejut dan pada akhirnya menyadari kalau sikapnya sudah berubah. Tapi pemuda itu tidak kunjung terdengar suaranya dan membuatnya gerah sendiri, meski angin malam berhembus di sekitarnya. Hingga tiba-tiba terasa sentuhan di wajahnya. Seseorang menggeser pandangannya ke arah samping, ke arah Gabriel. Ia melihat tangan Gabriel tengah memegang pipinya. Pemuda itu juga menatapnya tajam. Menilik matanya dalam-dalam seperti sedang mencari harta karun terpendam di sana.
“You love me?” tanya Gabriel polos. Nadanya berbicara seolah-olah ia baru saja mendengar kabar ayahnya hamil.
Dengan kesal Via langsung menangkis tangan Gabriel dari wajahnya sekaligus mendorong tubuhnya menjauh. “Enggak!”
“Kalo enggak kenapa lo malah marah-marah?”
Napas Via terasa naik turun dan membuatnya terlihat seperti ngos-ngosan. Ia melengos tanpa menjawab apapun. “’I’ll make you happy..cih, iya lo udah berhasil bikin gue happy. Apalagi sekarang. Berhasil banget!” ujar Via menggebu-gebu seraya tertawa hambar dan sesekali menggelengkan kepala. ia berbicara sekali lagi tanpa memandang ke arah Gabriel.
“Kenapa tiba-tiba bahas itu?”
“Apa maksudnya kemaren ngotot-ngototan mau stay kalo konsekuensinya gak dijalanin? Gue percaya aja, siiiih?! Bego gue! Bego banget!” ujar Via lagi tanpa menghiraukan Gabriel. Ia seperti sedang berbicara sendiri.
“Vi, lo lagi ngomongin siapa, sih?” tanya Gabriel tak mengerti.
Via menoleh pada Gabriel lalu mendengus keras. “Gue gak mau lagi kenal sama lo!”
Gabriel berjengit kaget lalu menggaruk-garuk kepalanya frustasi. Via kenapa, sih?
“Gausah antar-jemput gue lagi, gak usah nelfon atau sms buat tujuan apapun lagi, di sekolah jangan negur apalagi ngajak ngomong gue lagi, kalo bisa hindari kegiatan apapun yang memungkinkan bertemunya lo sama gue. Kali ini gue gak ngasih choice buat lo. Sekarang murni permintaan gue. Gue mau jauh sejauh-jauhnya dari lo dan lo jauh sejauh-jauhnya dari gue. Dan..” Via berhenti sejenak untuk mengambil selembar uang lima puluh ribu dari dompetnya lalu meletakkannya di atas meja.
“Buat makanan gue. Thanks udah nemenin gue makan. Gak perlu nganter gue pulang, gue bisa naik taksi.” Sambungnya. Ia hendak berdiri namun tangannya tiba-tiba ditahan Gabriel sehingga membuatnya tetap duduk.
“Kenapa sih, Vi? Kenapa lo selalu mau kita jauh-jauhan? Lo pikir semuanya bakal normal kalo kita jauh-jauhan? Lo pikir mudah bersikap gak kenal sama orang yang deket banget sama gue? Gue udah nyaman sama lo, Vi.”
“Nyaman..nyaman apaan sih! Lo pikir gue kasur? Mentang-mentang badan gue bulet gitu?”
Gabriel melengos. “Lo bilang gue gak serius taunya lo sendiri pun gak serius, Vi. Aishh..lo gak pernah ngerti gue.” Ia melepas genggamannya dengan kesal. Ia tiba-tiba berdiri dan Via lantas menatapnya bingung. “Yaudah, kalo emang itu mau lo. Gue gak akan ganggu lo lagi. Tapi biarin gue nganter lo pulang. Karena nanti gue gak bisa ngecek lo udah sampe dirumah dengan selamat atau belum kalo lo pulang sendiri naik taksi.”
Via mengernyit tak mengerti. “Kenapa gak bisa?” Gabriel menoleh dan mencibir ke arahnya. “Lo bilang jangan nelfon atau sms apalagi nemuin lo. Gimana gue bisa ngecek?” sewotnya. Via balas mencibir. “Yee..biasa aja lagi! Kenapa lo jadi marah-marah?”
“Peduli apa lo gue mau marah apa enggak?”
Via menggeram dalam hati. Lidahnya sudah gatal ingin membalas tapi segera ia tahan. Ia ingin cepat-cepat menyudahi masalahnya dengan Gabriel. “Yaudah, anterin gue pulang sekarang.” Katanya dan sebelum ia sempat berdiri, Gabriel sudah lebih dulu melangkah pergi meninggalkannya tanpa menunggunya lagi.
Seketika Via merasa miris di dalam hati. Kok perasaan gue gak enak ya? Apa gue nyesel? Secepat ini?

***

Terimakasih masih setia menunggu dan membaca :*